Laman

20150627

The Wind-Up Bird Chronicle Buku 1 Bab 5 (Haruki Murakami, 1994)



5

Kecanduan Permen Lemon
*
Burung yang Tidak Bisa Terbang 
dan Sumur yang Tidak Ada Airnya



Sehabis sarapan, aku bersepeda ke binatu dekat stasiun. Pemiliknya seorang lelaki kurus berusia empat puluhan akhir. Ada kerutan yang dalam di dahinya. Ia sedang mendengarkan kaset orkestra Percy Faith dari boom box yang terletak di sebuah rak. Mereknya JVC dan ukurannya besar, dengan pengeras suara tambahan dan setumpuk kaset di sisinya. Orkestra tersebut sedang memainkan “Tara’s Theme”, bagian alat musik geseknya terdengar amat menggairahkan. Pemiliknya itu sendiri sedang berada di belakang toko, sambil bersiul mengiringi musik sementara menyetrika sehelai pakaian. Gerakannya tangkas dan bersemangat. Aku mendekati meja pajangan dan meminta maaf dengan sepatutnya bahwa akhir tahun lalu aku membawa sebuah dasi dan lupa mengambilnya. Dalam dunia kecilnya yang damai pada pukul setengah sepuluh pagi, pemberitahuan itu pasti menyerupai kedatangan seorang kurir pesan yang membawa kabar buruk dalam lakon tragedi Yunani.

“Tiketnya juga tidak ada, ya,” ucapnya, yang entah kenapa terdengar tidak ramah. Bicaranya tidak tertuju padaku, melainkan pada kalender di dinding dekat meja pajangan. Gambar pada bulan Juni menampilkan pegunungan Alpen—lembah yang hijau, sapi-sapi merumput, awan putih bertepi tajam melayang di atas Mont Blanc, atau Materhorn, atau sesuatunya. Lalu ia menatapku dengan raut yang kurang lebih menyatakan, Kalau kamu mau melupakan barang sialan itu, sebaiknya kamu melupakannya sedari dulu! Tatapannya menyentak dan penuh perasaan.


20150618

Pikirili (Fernando Sorrentino, 1982)



Selama beberapa waktu, rak bukuku telah terisi penuh dan sesak. Seharusnya aku memperbesar ukurannya, tapi biaya kayu dan pekerjanya itu mahal, jadi aku menangguhkannya dulu hingga nanti waktunya mendesak. Sementara itu, aku terpaksa mengambil solusi seadanya. Aku menaruh buku-bukuku itu di rumah, karenanya aku berusaha sebaik mungkin supaya ruangan yang sempit ini dapat memuatnya.

Barulah kemudian kusadari kalau buku-buku itu—entahkah disusun secara vertikal ataupun horisontal—menampung debu, serangga, dan sarang laba-laba. Aku tidak ada waktu, kesabaran, ataupun dedikasi untuk membersihkannya secara rutin.

Pada suatu Sabtu yang mendung berbulan-bulan lalu, akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan bukuku satu per satu, membersihkan debunya, dan mengelap rak dengan kain basah.

Di salah satu rak bagian bawah, aku menemukan Pikirili. Meskipun pojok tempat tinggalnya itu berdebu, penampilannya, seperti biasanya, tanpa cela. Namun baru nanti aku menyadarinya. Pada awalnya, bagiku ia terlihat seperti seutas tali sepatu atau secarik kain. Tapi aku salah. Memang seperti itulah Pikirili, dari kepala sampai kaki. Dengan kata lain, seorang pria kecil utuh setinggi lima sentimeter.


20150609

Yang Punya Kuasa (James Thurber, 1942)

Mr. Martin membeli satu pak rokok pada Senin malam di toko paling ramai di Broadway. Pada waktu itu sedang ada pertunjukan teater dan ada sekitar tujuh-delapan orang yang sedang membeli rokok. Karyawannya bahkan tidak menatap Mr. Martin, yang menaruh pak itu di dalam kantong mantelnya dan pergi. Sekiranya ada staf F & S yang melihatnya membeli rokok, mereka akan kaget, sebab biasanya Mr. Martin tidak merokok, dan memang tidak pernah. Tidak ada yang pernah melihatnya merokok.

Saat itu persis seminggu sejak Mr. Martin memutuskan untuk menyingkirkan Mrs. Ulgine Barrows. Ia menyebutnya “menghapus” Mrs. Barrows. Ia suka dengan istilah tersebut sebab tidak menyiratkan sesuatu pun selain memperbaiki suatu kesalahan—dalam hal ini ialah kesalahan Mr. Fitweiler. Mr. Martin telah menghabiskan setiap malam selama seminggu itu untuk menyusun rencananya dan mengkajinya. Sekarang sekembalinya ke rumah ia meninjaunya lagi. Ratusan kali sudah ia merasa gusar karena tidak dapat memperkirakan usahanya itu secara terperinci. Rencana yang disusunnya itu terasa serampangan dan nekat, risikonya sangat besar. Bisa saja terjadi kesalahan. Dan justru di situlah letak kecerdikannya. Tidak seorang pun yang akan melihat adanya peran yang dimainkan Erwin Martin dengan cermat, kepala sebuah departemen di F & S, yang pernah dibicarakan oleh Mr. Fitweiler sebagai demikian, “Orang bisa saja berbuat kesalahan, tapi Martin tidak pernah.” Tidak seorang pun yang akan mendapati perannya, kecuali kalau ia tertangkap basah.