Laman

20150827

Sandi (Ed Park, 2013)


Kau terus mengutak-atik sandimu. Mereka menyampaikan rahasia. Apa yang paling penting bagimu, hal-hal yang menurutmu tak dapat diurai. Kata-kata dan angka-angka yang tersimpan dalam lapisan kalbu.

Nama anak perempuanmu.

Nama anak perempuanmu dibalik.

Nama anak perempuanmu dibalik plus tahun kelahiranmu.

Nama anak perempuanmu dibalik plus dua digit terakhir tahun kelahirannya.

Nama anak perempuanmu dibalik plus tahun sekarang ini.

Mereka terus berganti. Mereka mengabur dalam otak. Setiap hari kau memasukkan tiga atau empat untaian memori ini untuk mengakses laptop rumah, laptop kerja. E-mail, Facebook, surat suara. Akun frequent-flyer. Setiap hari, kau diminta untuk menggantinya sekurang-kurangnya sekali, untuk meningkatkan keamanan. Kau merasa suci saat pengukur tingkat keamanan berubah warna dari merah ke hijau.


20150818

Selendang (Cynthia Ozick, 1980)


Stella, dingin, dingin sedingin neraka. Betapapun mereka melangkahi jalan bersama-sama, Rosa dengan Magda bergelung di antara payudaranya yang nyeri, Magda dalam balutan selendang. Kadang Stella yang membawa Magda. Namun ia iri pada Magda. Seorang gadis kurus berusia empat belas tahun, tubuhnya begitu kecil, dengan sepasang payudara yang tipis, Stella pun ingin dibungkus dalam selendang, tersembunyi, tertidur, terguncang-guncang oleh barisan, menjadi seorang bayi dalam gendongan. Magda meraih puting susu Rosa, sementara Rosa tak henti-henti berjalan, buaian berjalan. Susunya tak cukup; kadang Magda mengisap udara; lalu ia menjerit. Stella begitu kelaparan. Lututnya tumor yang menyembul pada batang kayu, sikunya tulang ayam.

Rosa tak merasa kelaparan; ia merasa ringan, tak seperti orang yang sedang berjalan melainkan seperti orang yang sedang pingsan, tak sadarkan diri, tertawan dalam serangan yang mendadak, orang yang telah menjelma malaikat yang melayang-melayang, siaga dan mengawasi segalanya, namun di udara, tidak di situ, tidak menyentuh jalan. Seakan tengah meniti jalan dengan ujung-ujung kuku jarinya. Ia mengintip wajah Magda melalui sela-sela selendang: seekor bajing dalam sarangnya, aman, tak seorangpun dapat menjangkaunya dalam belitan selendang yang serupa rumah kecil itu. Wajahnya, begitu bundar, bagaikan cermin saku: namun cahaya wajahnya itu tidaklah segelap Rosa, yang sekelam kolera, wajahnya itu sepenuhnya lain, matanya sebiru udara, rambutnya yang lembut hampir sekuning Matahari tersemat dalam mantel Rosa. Bisa saja ia dikira sebagai salah seorang dari bayi mereka.


20150809

Cerita yang Ada Burungnya (Kevin Canty, 2014)


Entah sejak kapan, ia memutuskan bahwa persoalannya adalah kebiasaan minum-minum. Maka kami pun tidak lagi kena masuk angin pada pertengahan Februari. Pada musim dingin itu langit membayangi kota bagaikan atap kelabu yang tak pernah berganti-ganti. Selokan terisi oleh es yang sudah lama dan salju yang menghitam. Barangkali itu suatu kesalahan.

Barangkali itu suatu kesalahan, tapi mungkin juga ia benar. Aku berhenti minum-minum sejak itu karena ada pertimbangan tersendiri. Tapi pada suatu waktu itu menjadi suatu ujian—segalanya memang ujian—seberapa kuat ketahanan kami untuk tetap bersama.

Dan sepanjang musim dingin itu kami berhasil tidak mabuk. Sedikit banyak itu menarik. Awal dari kebiasaan yang baru bagi kami, sejak malam-malam panjang yang diisi dengan minum-minum, tertawa-tawa, bergelut, dan seks. Kami akan makan malam yang sederhana saja dan menyehatkan, lalu menonton film, dan setelahnya seakan tidak ada lagi yang hendak dilakukan. Ia akan bekerja di kantornya yang kecil di lantai bawah, sementara aku ke tempat tidur dan mendengarkan angin di atap, ranting-ranting yang menggaruki kaca jendela. Tentunya keseharian pun jadi lebih baik: tidak pengar, punya banyak energi. Aku akan bangun pukul enam, sebelum fajar, dan ada banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan kami berdua. Ya, sesekali terasa ada penyesalan, tapi lain waktu rasanya seakan kami telah memecahkan suatu persoalan, menjalankan gaya hidup yang baru, menuntaskan suatu hal penting bersama-sama.