Laman

20160618

The Perks of Being Wallflower Bagian I, Surat 7 (Stephen Chbosky, 1999)

6 Oktober 1991

Temanku yang baik,

Aku merasa sangat malu. Belum lama ini aku ke pertandingan rugbi SMA, dan entah kenapa aku ke sana. Sewaktu SMP, aku dan Michael kadang ke pertandingan meskipun kami sama-sama tidak begitu populer untuk pergi ke sana. Kami ke sana cuma tiap Jumat ketika sedang tidak ingin menonton televisi. Kadang kami bertemu Susan, lalu Michael dan dia pun bergandengan tangan.

Tapi kali ini, aku pergi sendirian sebab Michael sudah tiada, dan sekarang ini Susan bergaul dengan cowok-cowok lain, Bridget masih jadi orang aneh, Carl disekolahkan oleh ibunya di sekolah Katolik, dan Dave si kacamata kikuk sudah pindah. Di situ aku cuma mengamati orang-orang, melihat-lihat yang sedang pacaran dan yang sekadar nongkrong, dan aku melihat anak yang dulu pernah kuceritakan padamu itu. Ingat si Bukan Apa-apa? Bukan Apa-apa ada di pertandingan rugbi itu, dan dia satu dari sedikit penonton yang bukan orang dewasa yang benar-benar menonton pertandingan. Maksudku sungguh-sungguh memerhatikan pertandingan. Dia suka berteriak-teriak.

“Ayolah, Brad!” Itu nama gelandang tim kami.

Nah, biasanya aku sangat pemalu, tapi Bukan Apa-apa itu tampaknya sejenis orang yang bisa didekati saat pertandingan rugbi meskipun kita berusia tiga tahun lebih muda dan tidak populer.  

“Hei, kamu kan yang di kelas pertukangan!” Dia sangat ramah.

“Namaku Charlie,” kataku, tidak begitu malu-malu.

“Dan aku Patrick. Dan ini Sam.” Ia menunjuk gadis yang sangat cantik di sampingnya. Dan gadis itu melambai padaku.

“Hei, Charlie.” Senyum Sam sangat ramah.

Mereka menyuruhku duduk, dan keduanya tampak bersungguh-sungguh, jadi aku pun duduk. Aku mendengarkan Bukan Apa-apa berteriak-teriak ke lapangan. Dan aku mendengarkan analisisnya tentang pertandingan itu. Dan aku menyadari bahwa orang ini sangat memahami rugbi. Pengetahuannya tentang rugbi sebaik abangku. Mungkin mulai sekarang sebaiknya aku menyebut Bukan Apa-apa “Patrick” saja karena begitulah dia mengenalkan dirinya, dan begitu pula Sam menyebut dia.

Kebetulan, Sam berambut cokelat dan matanya yang hijau sangat indah sekali. Warna hijaunya tidak begitu mencolok. Seharusnya aku menceritakan tentang ini lebih awal, hanya saja di bawah cahaya stadion, segalanya tampak menyilaukan. Baru ketika kami membicarakan si Big Boy, dan Sam serta Patrick mulai mengepulkan asap rokok terus-terusan, aku memerhatikannya benar-benar. Untungnya berkat si Big Boy Patrick dan Sam tidak hanya melontarkan candaan yang cuma dimengerti mereka sendiri sehingga aku berusaha keras mengikutinya. Tidak sama sekali. Mereka bertanya macam-macam padaku.

“Berapa usiamu, Charlie?”

“Lima belas tahun.”

“Kau ingin berbuat apa saat sudah besar?”

“Aku belum tahu.”

“Apa band favoritmu?”

“Kurasa sepertinya The Smiths soalnya aku suka lagu mereka yang ‘Asleep’, tapi toh aku tidak begitu yakin soalnya aku tidak begitu tahu lagu-lagu mereka yang lainnya.”

“Apa film favoritmu?”

“Entah juga. Semua sama saja bagiku.”

“Kalau buku favoritmu?”

The Side of Paradise karya F. Scott Fitzgerald.”

“Kenapa?”

“Karena itu buku yang terakhir kali kubaca.”

Mereka pun tertawa sebab mereka menyadari bahwa aku berkata yang sejujur-jujurnya, bukan mau pamer. Lantas mereka memberi tahu apa saja kesukaan mereka, dan kami pun jadi kalem. Aku mengudap pai labu sebab wanita itu bilang ini sedang musimnya, sementara Patrick dan Sam terus merokok.

Aku memerhatikan mereka, dan keduanya sama-sama tampak sangat bahagia. Bahagia yang sewajarnya. Dan meskipun menurutku Sam sangat cantik dan ramah, dan cewek pertama yang ingin kuajak berkencan suatu saat ketika aku sudah bisa menyetir, aku tidak berkeberatan dia sudah punya pacar, apalagi jika cowoknya sebaik Patrick.

“Sudah berapa lama kalian ‘pacaran’?” aku bertanya.

Lalu, mereka mulai tertawa. Sampai terbahak-bahak.

“Apanya yang lucu?” kataku.

“Kami bersaudara lo,” sahut Patrick sambil tertawa.

“Tapi kalian kok tidak mirip,” ujarku.

Saat itulah Sam menjelaskan bahwa mereka itu sebenarnya bersaudara tiri sejak ayahnya Patrick menikahi ibunya Sam. Aku sangat senang mengetahuinya sebab aku benar-benar ingin mengajak Sam berkencan suatu saat. Aku benar-benar ingin. Dia baik sekali.

Meski begitu, aku merasa malu, sebab malamnya, aku bermimpi aneh. Aku bersama Sam. Dan kami sama-sama telanjang. Dan kakinya mengangkang di sepanjang sofa. Dan aku pun terbangun. Dan seumur-umur belum pernah aku merasa sesegar itu. Kurasa sebaiknya aku memberitahukan ini pada Sam, dan aku benar-benar berharap itu tidak menghalangi kami untuk barangkali membuat lelucon yang cuma dimengerti oleh kami. Akan sangat menyenangkan jika bisa punya teman lagi. Andai saja itu bisa lebih dari sekadar kencan.

Salam sayang,


Charlie

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar