Laman

20160927

Waham (Malika Moustadraf, 2004)


Ia keluar dari rumah sambil menyerapahi segala sesuatu sekeras-kerasnya—mulai dari kedua orang tua yang membawanya ke dunia busuk ini hingga kakaknya yang telah menikah dengan orang Perancis, ikut ke negara suaminya, dan ingkar janji. Ia ingat ucapan kakaknya sewaktu di bandara:

“Aku kawin dengan orang Kristen ini demi kau. Satu bulan, dan kau akan memiliki semua dokumen yang diperlukan untuk menyusulku ke sana. Jangan khawatir!”

Ia memercayai kakaknya. Sekarang sebulan telah berlalu, dengan menyeret bulan-bulan lainnya yang menjemukan lagi membosankan, semuanya sama memuakkan, dan kakaknya ingkar janji. Ia capek melihat ibunya pulang sore-sore dengan membawa pakaian bekas serta sisa makanan dari majikan. Ia capek melihat ayahnya merana di pojok kamar sambil mengisap rokok, penampilan lelaki bangkot itu sudah menyerupai orang-orangan sawah saja. Lebih-lebih lagi capeknya karena berdiri di ujung jalan dengan sekeranjang dus rokok di depannya, berjualan eceran. Ia mengisap rokok lebih banyak daripada yang ia jual.


20160918

An Evening of Long Goodbyes, Bab 1 (4/4) (Paul Murray, 2003)

“Perjanjian.” Ia menggosok-gosok mata dengan pinggiran tangannya. “Kalau kamu biarkan hubunganku dengan Frank berjalan, tanpa keluhan ataupun kiasan dari mitologi Yahudi, dengan ini aku berjanji bahwa kalau—kalau—aku dan Frank terus putus, aku akan—aku akan berdiam di rumah selama tiga bulan sebelum mengencani orang yang lain lagi. Bagaimana?”

“Kedengarannya sinis sekali, Bel,” sahutku, terkejut. “Maksudku, aku cuma ingin kamu bahagia.”

“Charles, katakan saja caranya supaya kamu tidak menggangguku lagi.”

“Hmm,” gumamku. Barangkali terasa sinis, tapi aku tertarik dengan rencana baru ini. Biasanya perselisihan antara aku dan Bel diakhiri dengan ia melempar barang pecah belah padaku. Yang menyedihkan, ia bakal mengencani orang ini entah aku senang atau tidak. Sedikitnya dengan begini aku diberi semacam imbalan—sesuatu yang, katakanlah, dalam keadaan biasa tidak akan pernah diterimanya ….

“Baiklah,” ucapku pelan. “Tiga bulan, dan ….”


20160909

An Evening of Long Goodbyes, Bab 1 (3/4) (Paul Murray, 2003)

Awalnya bahan makanan yang tersedia tampak menyulitkan. Ikan mesti dikeluarkan isi perutnya, daging dipotong, sayuran dikupas, diiris, ditumis. Tapi kemudian tahu-tahu aku melihat stoples berisi kacang-kacangan. Sambil memikirkan apa salahnya makan kacang, aku menaruhnya dalam panci beserta secangkir beras. Kutunggu sampai airnya mulai mendidih, lalu kutiriskan dan kuletakkan di piring. Kubawa makananku ke ruang makan. Hasilnya cukup layak dimakan kalau dilahap cepat-cepat diselingi beberapa teguk anggur, dan aku cukup bangga pada diriku sendiri. Aku makan sendirian, diawasi jam yang berdetak jemu serta seekor ngengat yang menggelepar dengan eloknya dalam naungan lampu di dekat meja panjang dari kayu mahoni. Setelah itu aku meracik gimlet lalu balik ke ruang duduk serta kursi malas yang kini telah pulih.

Film pertama yang ditayangkan yaitu Heaven Can Wait yang tidak begitu penting. Di situ Tierney hanya mendapat peran kecil sebagai istri-Don-Ameche[1] yang suci bak malaikat. Tapi tayangan sesudahnya yaitu film Whirlpool yang cemerlang karya sutradara Otto Preminger. Di situ gabungan yang memikat antara daya tarik dan kehampaan pada diri Tierney dieksploitasi habis-habisan. Perpaduan itu sangatlah sesuai dengan tujuan-tujuan Hollywood yang barangkali telah digemblengnya di kaveling Burbank[2]. Pemirsa pun tersedot seiring dengan surutnya Tierney dari jalan cerita, sayup-sayup memudar bagai sirene hingga kau terenggut ke dalam film tepat ketika ia menghilang. Kau pun mendapati dirimu berada sendirian dalam ruang tempat ia semestinya berada, dalam bayang-bayang dan jeratan efek panggung Preminger yang minta ampun.