Laman

20161127

An Evening of Long Goodbyes, Bab 3 (1/4) (Paul Murray, 2003)

Hari-hari berikutnya cukup damai. Bel menghabiskan sebagian besar waktu di rumah dengan membawa serta Proyeknya. Saat di rumah mereka cenderung di kamar saja belajar membaca. Hari berikutnya lagi yaitu saat segala masalah dengan bank terwujud, dan berbagai hal benar-benar mulai runtuh, walaupun paginya dimulai dengan amat manis, karena Mbok P membangunkanku tepat sebelum siang dengan membawa baki berisi telepon.

“Halo?” ucapku, setelah memastikan bahwa ini bukanlah muslihat pembunuhan dari Mbok P.

“Halo,” terdengar suara asing. “Charles?”

Dengan jantung berdebar, cepat-cepat aku turun dari kasur dan berpijak. Suara itu terdengar parau, penuh gairah, sekaligus halus dan mengundang skandal. Suara itu bisa saja berasal dari ribuan film hitam putih--milik wanita kawakan yang meminta macis di bar, waris perempuan disertai detektif yang parkir di jalanan gelap, atau janda muda gemetar memohon pertolongan dari mantan pelaut yang sakit hati. Suara monokrom yang boleh jadi milik seorang saja.


20161118

Pangeran Katak (Robert Coover, 2014)


Pada mulanya terasa luar biasa. Sungguh. Sudah pasti begitu. Perempuan itu merengkuh seekor katak, mengharapkan yang lebih, dan—kejutan! Hadirlah seorang pangeran tampan yang tergila-gila akan dirinya. Jelaslah ini berarti akhir dari pernikahan perempuan itu. Namun mantannya dulu pun menyerupai katak, dengan kebiasaan jorok mengunyah sambil berbicara dan lidahnya sama sekali tak berguna selain untuk menjilati perangko.

Sambil menggeliat-geliut cemburu, kawan-kawan si perempuan di klub bridge pun mengakui bahwa sang pangeran menawan hati—kendati penampakan lelaki itu masih mencirikan habitatnya yang dulu. Matanya berkelopak tebal. Mulutnya selebar mulut boneka-tangan. Mukanya pucat. Kulitnya yang kendor tipis dan lembap. Maninya terasa berlumpur seperti kolam tempatnya berasal. Kemaluannya yang kecil pun mengecewakan. Namun lidahnya menakjubkan. Lidah itu mampu menjamah ceruk-ceruk terdalam, membangkitkan sensasi yang belum pernah dialami perempuan itu sebelumnya. Mahkotanya tak terpasang selayaknya topi melainkan mencuat dari kepalanya bagaikan tanduk, dan kadang-kadang mengganggu. Biarpun begitu, lidah itu cukup panjang untuk menggerayangi sekalian menggelitik bagian-bagian lain yang dilaluinya. Lidah itu tak lantas menjadikannya cadel sebagaimana suaranya yang terdengar bak bunyi seruput berkonsonan, pun mampu merepetkan cumbu rayu. Namun mereka tak begitu sering berbicara pada satu sama lain. 


20161109

An Evening of Long Goodbyes, Bab 2 (4/4) (Paul Murray, 2003)

“Ayo, Tanya Bool Gue, dasar jancuk sia-sia!” Frank berseru sekencang-kencangnya, sambil sesekali merogoh kantong berisi keripik bumbu. “Ayo, tolol, lari dong, jancuk!”

Aku terkikih-kikih sendirian. Anjingku, Jasper, ternyata bajingan tangguh, dan telah meninggalkan Tanya Bool Gue berserta gerombolan anjing balap lain dalam kepulan jejaknya. Sementara itu, anjing pilihan Bel, yang hambar betul namanya, Serpih Halilintar, tampaknya sudah benar-benar menyerah.

Tempat ini memang bukan Ascot[1], namun pemiliknya telah berani mengangkat lapangan balap anjing ini dari citra kumuh. Di situ terdapat bar berpenerangan baik dengan jendela panjang sehingga orang bisa melihat balapan dari atas. Di dalam bar bercampur baur antara para bajingan celaka yang mempertaruhkan kesejahteraan mereka dan beberapa golongan orang biasa. Tapi, Frank malah menjauhi bar karena di sana ada “orang-orang bejat”, dan menyeret kami keluar. Kami pun menggigil kedinginan di tribune bersama golongan orang-orang putus asa bermata merah. Orang-orang itu serupa anjing whippet kurus yang menjadi tempat mereka memercayakan keberuntungan. Tapi penampakan mereka tidak seseram Frank, dan anehnya aku jadi tenang karena ada dia. Lagi pula mereka semua kelihatannya mengenal Frank. Sepanjang balapan orang-orang seperti Micker, Anto, dan Farreller menghampiri untuk menyampaikan litani penghormatan—“Hei, Francy, gimana bujur lu?” kata mereka, atau “Pakabar Frankie, pergi lu taik.”