Laman

20170127

An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (3/6) (Paul Murray, 2003)

Enggak percaya aku,” Laura menempelkan sebelah tangan ke dadanya.

“Apa kabar, cuk?” Frank melenguh, sambil membentangkan kedua lengannya lebar-lebar.

Laura melambung ke dalam rengkuhan Frank disertai pekikan gembira. “Enggak percaya aku,” sahutnya lagi, agak teredam oleh pelukan Frank.

“Enggak percaya apa?” Bel menanyai Laura saat akhirnya muncul kembali.

Dengan wajah merah akibat kemujuran yang tak disangka-sangka, Laura mulai tak putus-putusnya menceritakan. Kepayahan aku duduk dan mulai meminum gelas anggurnya. Tampaknya Frank salah seorang penggembira-liburan yang jangak itu di Yunani: malah, ialah salah seorang penjambret-kaus kesayangan Laura.

“Aku enggak akan pernah melupakan malam itu,” tawa Laura, berulang-ulang.

“Aku juga,” Frank mengerling, seraya memandangi dada Laura yang molek.


20170120

An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (2/6) (Paul Murray, 2003)

Jam berdentang pukul tujuh. Untuk terakhir kali, aku meracikkan diriku gimlet yang menenangkan, dan bergegas ke kamar. Kupasang ban leher dan kuikat dasiku; kusematkan manset dan kusemir sepatuku. Di bawah tempat tidur menyembul tas kecil berisi barang yang telah kusediakan untuk kubawa serta: buku ungkapan bahasa Amerika Latin, secukupnya uang dalam dolar dan peso, celana dalam dan kaus kaki pilihan yang sama-sama bersahaja; potret keluarga; tiara plastik kesayangan Bel pada masa ia menjadi putri, bertahun-tahun lalu, sebagai ganti potret dirinya; cetakan pertama kumpulan syair W. B. Yeats milik Ayah; potret ukuran 8 x 10 Gene pada awal kariernya—sewaktu orang-orang menyebutnya the GET girl, kependekan dari Gene Eliza Tierney, sebab ia selalu memperoleh keinginannya, atau setidaknya begitulah yang terlihat di permukaan.

Foto-foto Laura di buku tahunan tersusun secara kronologis di alas tilam sedari aku mengamatinya awal malam itu. Sekarang ketika mataku menjatuhi mereka, aku menyadari bahwa dengan penataan seperti itu foto-foto tersebut hampir menyerupai rol film: tiap tahun terpahat dalam bingkai tersendiri, yang kalau diproyeksikan sesuai urutan akan mempertunjukkan kedatangannya—secara tersentak-sentak, remang-remang—menjelma hidup di depan bola matamu sendiri; berlalu dari masa kanak-kanak yang polos menjadi bintang film pujaan sungguhan yang berpendar-pendar dalam hitungan detik saja, muncul keluar dari eter bagaikan jin seluloid …. Sekarang, dengan sendirinya, benakku mulai memutar rol film terakhir yang hilang: adegan ketika bel pintu berdering dan, seraya menyapu rambutku dengan mantap untuk yang terakhir kali, aku berlari menuju tangga, dan tiba tepat ketika Mbok P mengantar masuk seorang wanita muda ramping dengan rambut panjang sewarna madu, yang mengangkat bahu melepaskan mantel musim dinginnya demi menampakkan bahu putih telanjang serta gaun hitam dan berkelok-kelok serupa lidah api; di tangga, tanpa terlihat olehnya, aku termegap-megap mengamati dirinya—hingga tahu-tahu kami bertatapan, dan saat itulah kami terhantar ke alam lain: tempat gairah terlepas dengan mudahnya dan mendalam serta tercetus lewat lelucon dan aksi berani, dengan ruang sesekali untuk mengutarakan monolog penuh emosi di akhir; ketika segalanya berada pada tempatnya tanpa ada orang-orang lain yang menanti di sisi panggung untuk mengalihkan dialog, atau menutup adegan dengan acara pelelangan.


20170113

An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (1/6) (Paul Murray, 2003)

“Rasanya sangat drastis ….”

“Enggak sama sekali. Sampean bakal terkejut betapa banyaknya orang yang berbuat itu akhir-akhir ini.”

MacGillycuddy tengah duduk di bangku seberang, sekarung kiriman bersandar di tumitnya. “Orang dari segala profesi, dari pengacara hebat sampai penjual sayur bersahaja. Jauh lebih lazim daripada yang sampean kira.”

Seekor jalak hitam melompat-lompat pada lis atap rapuh di atas kami. Suara MacGillycuddy serasa terdengar dari kejauhan. “Bagian matinya itulah yang mengusikmu. Itu respons alamiah, sampean mendengar kata itu lalu jadi cemas. Tetapi pokoknya, sampean enggak mati. Sampean pura-pura mati. Ah, itu langkah besar, aku enggak menyangkal. Tetapi sebetulnya itu enggak jauh lebih besar daripada, katakanlah, memperbaiki dapur, atau membeli mobil baru.”


20170106

Paman Si Tukang Cukur (William Saroyan, 1943)


Bu Gamma bilang aku perlu potong rambut. Ibuku bilang aku perlu potong rambut. Abangku Krikor bilang aku perlu potong rambut. Seluruh dunia ingin aku potong rambut. Kepalaku terlalu besar untuk dunia ini. Rambut hitam yang terlalu lebat, kata dunia.

Semua orang bilang, Kapan kamu mau potong rambut?

Ada pengusaha besar bernama Huntingdon di kota kami yang biasa membeli koran sore dariku setiap hari. Ia lelaki dengan berat seratus dua puluh kilo, punya dua mobil Cadillac, tanah seluas seribu lima ratus hektar, dan uang sebanyak lebih dari sejuta dolar di bank, begitu juga kepala yang kecil, tanpa rambut, tepat di bagian atas tubuhnya sehingga siapa pun dapat melihatnya. Ia suka membuat para pegawai kereta api yang datang dari luar kota berjalan jauh-jauh hanya untuk melihat kepalaku. Inilah California, begitu yang biasa diserukannya di jalan. Ada cuaca dan kesehatan yang baik. Ada kepala dengan rambut yang menarik, begitu teriaknya.