Laman

20170227

Referensial (Loorie Moore, 2012)


Untuk ketiga kalinya dalam tiga tahun ini, mereka membicarakan hadiah ulang tahun apa yang pantas untuk putra perempuan itu, yang mengidap kelainan jiwa. Begitu sedikit barang yang boleh dibawa ke dalam ruangannya. Hampir semuanya dapat dijadikan senjata. Maka sering kali barang harus diserahkan di meja depan. Kalau ada permohonan, barulah barang itu dibawa ke dalam oleh petugas—yang akan terlebih dulu memeriksanya kalau-kalau dapat melukai. Pete membawa sekeranjang selai. Namun karena wadahnya berupa toples kaca, barang itu tidak diperbolehkan untuk dibawa masuk. “Aku lupa,” kata Pete. Toples-toples itu disusun berdasarkan warna, dari yang paling terang yaitu selai jeruk, beri, lalu ara, seakan-seakan isinya berupa urine milik orang yang sakitnya bertambah-tambah parah. Memang sebaiknya disita saja, pikir perempuan itu. Mereka akan mencari hadiah lainnya.

Pete sudah hadir dalam kehidupan mereka selama enam tahun, sewaktu putra perempuan itu berusia dua belas tahun dan baru mulai linglung, berkomat-kamit diam-diam, dan berhenti menyikat gigi. Kini empat tahun telah berlalu sejak itu. Cinta mereka pada Pete panjang dan berlika-liku, dengan kelok-kelok tersembunyi tanpa benar-benar ada pemberhentian. Putra perempuan itu menganggap Pete semacam ayah tiri. Perempuan itu dan Pete menua bersama, walau tanda-tandanya lebih tampak pada si perempuan. Ia mengenakan blus terusan berwarna hitam supaya terlihat ramping. Rambutnya yang mulai kelabu tak disemir, sering kali dijepit dengan helai-helai menjuntai bak lumut Spanyol. Segera setelah putranya ditelanjangi, dipakaikan baju pasien, dan menetap di rumah sakit, ia juga melepaskan kalung, anting, syal—segala perangkat artifisial untuk mengganti anggota tubuhnya yang rusak atau hilang, begitu katanya mencoba menghibur Pete—dan menaruh semuanya itu di dalam map berkantong banyak di bawah tempat tidur. Ia tidak diperbolehkan mengenakan perhiasan selama kunjungan ke rumah sakit, maka ia tidak mengenakannya lagi sama sekali, semacam tenggang rasa pada anaknya, seperti menjanda kembali kendati ia memang sudah menjanda. Tidak seperti wanita lain pada usianya (yang cenderung berusaha terlalu keras, dengan pakaian dalam mengerikan dan perhiasan berkilauan), kini ia merasa bahwa upaya semacam itu menggelikan. Maka sewaktu bepergian penampilannya pun menyerupai wanita Amish, atau, bisa jadi lebih buruk bila cahaya musim semi yang tanpa ampun menyambar wajahnya, seperti pria Amish. “Buatku, kamu selalu kelihatan cantik,” Pete tidak pernah bilang begitu lagi.


20170220

An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (6/6) (Paul Murray, 2003)

“Eh, kamu,” sahut gadis itu.

“Ya,” ujarku, merasa agak terlampaui.

“Kemarilah,” ucapnya sopan, sambil meletakkan buku ke sampingnya.

“Terima kasih.” Bergeming saja ia menatapku menghela diri melewati pintu kolong. “Aku tahu kamu akan kemari cepat atau lambat,” ucapnya. “Ada apa?”

“Oh, ada sedikit cekcok di rumah. Saudara, ah, saudaramu baik juga mau membantu ….”

Bahkan dengan penerangan remang-remang aku bisa menilai dia ini gadis yang menarik, dengan rambut hitam sebagus saudara-saudaranya serta raut tegas memesona. Warna biru matanya tajam menyetrum, dengan tatapan yang seolah-olah membenamkan dirinya dalam-dalam di mata orang yang ia lihat tanpa menjurus langsung. Terasa agak melegakan saat ia mengejap.

“Mungkin itu yang terbaik,” ucapnya enteng, dengan nada yang sama-sama lunak lagi samar; lantas mengangguk, seakan-akan bersepakat dengan dirinya sendiri. Aksennya lebih halus ketimbang ibunya sehingga suaranya terkesan bak beledu, menghipnotis. Mendadak aku merasa tidak lagi terburu-buru harus pergi. Ia mulai bersenandung sendiri, sambil jarinya memilin-milin rambut, lantas tahu-tahu ia terdiam, seakan-akan ada yang terpikir olehnya. “Kamu mau minum? Rupanya tahu-tahu kami punya anggur pilihan.”


20170213

An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (5/6) (Paul Murray, 2003)

“Apa, apa?” ia berkomat-kamit, sambil membuka separuh mata yang disebutnya penerawang-segala. “Aku sudah bangun kok.”

“Enggak lah, kamu ini gampang ketiduran, tahu.”

Sambil mengerang ia mengangkat dirinya dari tanah. “Lo, sampean belum mati?”

“Belum—sialan kamu, MacGillycuddy, enggak bisa, ya, kamu ini berjaga barang sejam saja?”

“Videonya berhasil, kan?” jawabnya bersungut-sungut, sambil menariki ranting-ranting kecil dari punggungnya.

“Yah, ada yang tertangkap,” sahutku. “Tetapi ini tuh enggak masuk akal banget. Menurut rekaman ini Frank sama sekali enggak bersalah dan malah Mbok P yang ada di balik segalanya, dengan bantuan semacam makhluk, boleh jadi makhluk halus.” Aku menyodorkan kamera ke tangannya. “Lihat sendiri deh.”


20170206

An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (4/6) (Paul Murray, 2003)

“Sekarang memang sudah larut,” ucapku rancu, sambil mengitari ruangan memasang lilin-lilin pada kandil. Diiringi goyangan yang hampir tak kentara, ia mengikuti jalanku, sembari menganugerahiku senyuman ganjil penuh kasih.

“Sepertinya aku harus memanggil taksi.” Nada suaranya merendah jadi berat dan datar yang memanggil-manggil sisi tersembunyi dari diriku.

“Sepertinya,” sahutku. Ia bergeming. Aku terus memasang lilin-lilin. Seiring dengan api yang berturut-turut menyala pandanganku mengabur dan gairahku meningkat sedikit demi sedikit; hingga aku serasa dikelilingi api dalam pesta pora, yang melaluinya wajah Laura berlenggak-lenggok bak jarum kompas. Aku merasa seperti Nero, yang memimpin Roma melalui tarian wals Laura yang penghabisan. “Pasti menyenangkan, ya, mengobrol lagi dengan abang Frank seperti tadi,” ucapku begitu saja.