Laman

20170327

An Evening of Long Goodbyes, Bab 6 (2/4) (Paul Murray, 2003)

Aku gelagapan saat bangun dari koma, seperti komuter yang terjaga dalam perjalanan pulang naik kereta. Di sampingku Bel sedang menekuri buku. Aku berdeham sopan.

“Charles!” Ia meletakkan bukunya sambil menjerit. “Oh ya ampun!” Ia melonjak dan mencondongkan badan padaku, seraya mengamati mataku. “Kamu mengenaliku? Ada berapa jari yang kuangkat? Bisakah kamu mengerti yang kukatakan? Mengediplah kalau kamu mengerti.”

“Tentu saja aku mengerti,” sahutku. “Berhentilah menjerit-jerit. Aku baik-baik saja kok.”

Sikapnya terasa berlebihan, sementara setiap detiknya satu per satu anggota tubuhku terasa bangkit dan merengek kesakitan. Sepelan mungkin aku menoleh dan memandang sekelilingku. Kami berada di ruangan sempit dengan dinding berwarna hijau kapri serta gorden jelek bercorak papan permainan dam menutupi jendela. Berbagai peralatan disusun di sekelilingku, memetakan keadaanku lewat layar serta cakra angka yang sulit dimengerti. Infus di lenganku menyalurkan tetesan dari botol di samping tempat tidur. Tepat di seberangku ada poster bergambar kilauan sinar matahari menembus pepohonan dengan tulisan di bawahnya Hari ini awal sisa hidup Anda. Entah mengapa aku jadi merinding.


20170320

An Evening of Long Goodbyes, Bab 6 (1/4) (Paul Murray, 2003)

“Kau! Kau! Kau!” Bel menghantam-hantam lantai pentas. Gelang-gelas emas bergemerincing di bawah lengannya. “Kaulah yang membuatku kecanduan putauw!”

“Aku?” ujar Mirela sangsi, seraya bangkit dari meja. “Bagaimana mungkin diriku?”

“Tidakkah kau mengerti?” Bel merengek. “Kecanduanku itu jeritan memohon pertolongan. Heroin menggantikan cinta yang kau, maupun masyarakat yang lebih luas, tidak berikan padaku.”

Mirela menjangkau punggung kursi untuk menopang diri. Gaun panjangnya menyapu lantai. “Bagaimana bisa kau mengatakan aku tidak mencintaimu?” ujarnya perlahan-lahan. “Bukankah aku yang memberimu makan dan pakaian selama ini? Bukankah aku yang menabung supaya kau bisa selalu membeli buku untuk sekolah?”

“Ma, kau masih tidak mengerti,” sahut Bel. “Kau tidak ubahnya pemerintah, tidak mengerti generasi yang lebih muda. Kami butuh lebih dari sekadar klinik metadon[1] dan rencana untuk kembali ke dunia kerja. Kami butuh menghormati diri kami sebagai manusia yang sesungguhnya, selayaknya orang-orang lainnya. Ya, kau telah berbuat segalanya untukku. Tetapi kau tidak pernah sanggup memberi kami tiga kata sederhana yang merupakan hal terpenting bagi setiap anak.”


20170313

Si Pramusaji (Robert Coover, 2014)


“Hei, manis, bokongmu bagus,” ucap si sopir taksi bermata sendu dari balik meja pemesanan kedai 24 jam itu. Sepotong donat menggeliat dalam rahangnya yang tak dicukur. Si pramusaji mendelik padanya. Ia muak dilirik-lirik, ataupun ditatap dengan jijik, kapanpun ia membungkuk untuk memungut lap. “Kalau ada kambing yang kesasar, mereka bakal lirak-lirik dan mengatakan kekonyolan serupa,” keluhnya pada wanita tua di dekat mesin kas. Sebelumnya ia telah memberi semangkuk gratis sup panas pada wanita itu. “Aku sudah muak. Kuharap tidak ada yang bisa melihatku.” Ternyata wanita itu adalah ibu peri yang sedang menyamar, dan sebagai rasa terima kasihnya atas sup gratis, ia mengangkat sendoknya seperti tongkat dan mengabulkan permintaan si pramusaji. Ketika pramusaji itu hendak menyerahkan tanda terima pembayaran pada si sopir taksi, kepala lelaki itu seketika berpaling. Apa lelaki itu menolaknya? Si pramusaji bergeser ke jangkauan pandang si sopir taksi dan kepala lelaki itu menyeruduk ke arah lain. “Ya Tuhan, sakit tahu,” sungutnya. Si pramusaji membelalak ke arah wanita tua, namun lansia baik hati itu telah raib.


20170306

An Evening of Long Goodbyes, Bab 5 (Paul Murray, 2003)

Hal pertama yang kuingat—setelah potongan batu yang memelesat itu—yaitu rencanaku telah terwujud, sebab selama beberapa waktu setelah terbakarnya Folly, aku mengalami kesan bahwa aku tengah berdiam di Cile, di suatu hacienda[1] dari masa yang memikat, bersama penyair dan pemenang Nobel, W. B. Yeats. Kedengarannya mustahil, ya, tetapi mimpi kan memang begitu, kita tidak tahu itu mimpi saat kita sedang mengalaminya. Lagi pula, aku dan Yeats bersenang-senang, dan aku tidak merasa seperti yang sedang berbuat onar. Kami tinggal dinaungi keteduhan Andes, di lereng Lembah Casablanca. Santiago berada di sebelah timur adapun Samudera Pasifik di barat. Aku bisa menyaksikan laut dari beranda, garis biru samar di seberang kebun anggur. 

Saat itu memasuki musim panas, sehingga siangnya panjang, dan segalanya di lembah terasa bergairah oleh warna-warni kehidupan. Adakalanya hawa begitu panas sehingga aku merasa sedang dibekap, seperti ada selimut tebal membungkus wajahku, sementara urat-uratku nyeri seolah-olah habis dilumatkan. Namun penderitaan itu tidak pernah berlangsung lama-lama. Ketika sudah tidak terasa panas lagi, aku biasa pergi ke kebun di belakang rumah dan berjalan-jalan dengan riang di antara lebah-lebah serta kembang-kembang sepatu yang mekar. Pepohonan limau yang tumbuh di sudut kebun merebakkan aromanya. Yeats suka memetiki buahnya untuk membuat gimlet yang rasanya lain daripada yang lain, begitu segar, kuat, dan dingin hingga aku termegap-megap meminumnya, seperti meloncat ke lautan es.