Laman

20170527

An Evening of Long Goodbyes, Bab 8 (2/2) (Paul Murray, 2003)

“Era baru jahanam,” suara Hoyland melalui sesuap selada kepiting. Ia menatap mulas pada kawanan orang keuangan yang sedang makan sajian siang penuh selera di ruangan panjang dengan banyak hiasan itu. Kami berada di salah satu kafe baru. Ruangannya lega, berpenyangga kayu, dan dilapisi poster-poster dari 1920-an. Aku baru saja menanyai Hoyland sebabnya ia mengenakan setelan yang menyesalkan itu.

“Kamu tahu, seharusnya aku enggak berada di sini sama sekali,” ujarnya. “Aku telah mengundurkan diri dari kehidupan ramai. Pindah kembali ke Inggris, berpikir untuk memancing barang beberapa bulan sebelum memulai lagi malapetaka—yah, tahulah. Rencana paling sempurna belum tentu menjamin keberhasilan, Hythers. Balik ke Kerry sedang ada perang habis-habisan antara si babe dan dewan kota.”

“Perang? Eh, kamu benar soal roti lapis ini ….”


20170520

An Evening of Long Goodbyes, Bab 8 (1/2) (Paul Murray, 2003)

Kolese Trinity, tempat aku bersilang pedang sejenak dengan pendidikan tinggi, terletak tepat di jantung Dublin. Karena sebagian besar waktuku di sana kuhabiskan dengan membolos kuliah untuk bermain croquet[1] bersama Hoyland, atau kelayapan bareng dia di jalan, aku jadi mengenal baik kota itu. Tempatnya mengasyikkan, agak terseok-seok, menyerupai sepatu tua, yang sebagian besarnya mencakup restoran kecil cepat saji, pusat perbelanjaan kelas kambing, serta pub-pub kumuh yang dilanggani orang-orang tua penyakitan. Pada waktu itu teman-teman sebayaku biasa mengobrolkan tempat tujuan emigrasi setelah lulus—pada masa itu Dublin bukanlah jenis kota yang dipertimbangkan orang sebagai tempat menetap, jika ia punya semangat dan ambisi. Kukatakan “pada masa itu”, walaupun baru beberapa tahun lalu. Itu bukti begitu aku melangkah ke luar dari bis bahwa segalanya telah berubah.

Frank benar. Ke mana pun melihat ada saja yang sedang digali, dibangun ulang, atau dibongkar. Hostel-hostel dan toko-toko bobrok telah tiada, di tempatnya kini berdiri kafe-kafe mewah, toko-toko mungil nan elok penuh furnitur kromium bergaya minimalis, serta modiste-modiste mempertunjukkan mode terkini dari Paris dan London. Suasana mendedas oleh uang dan potensi. Papan tanda Lowongan Kerja digantung di jendela-jendela. Jalan dipadati orang dan klakson mobil. Rasanya seperti berada di balik layar pertunjukan musikal—semua orang bergegas menuju posisinya, dekor dinaik-turunkan—atau salah satu film komedi Ealing[2] lawas di mana ada kapal karam dan kargonya yang berisi wiski terdampar di pantai suatu pulau teramat kecil di Skotlandia, kecuali di sini alih-alih wiski petinya penuh setelan produksi Italia serta ponsel, dan alih-alih mabuk para pribumi berlari mondar-mandir mengepas celana serta menelepon satu sama lain.


20170513

Bayangan (Isaac Bashevis Singer, 1965)


Sejak pindah ke desa, aku merasa diriku mulai mengantuk pada pukul sepuluh malam. Aku pergi tidur bersamaan dengan burung-burung betet dan ayam-ayamku di kandang. Di tempat tidur, dengan saksama aku membaca Phantasm of the Living[1], meskipun semestinya aku segera mematikan lampu. Hingga pukul dua pagi aku dicengkam oleh tidur tanpa mimpi—atau pernah juga dengan mimpi yang tak dapat kuingat. Pada pukul dua, aku bangun dalam keadaan segar sepenuhnya. Kepalaku berdengung dengan banyaknya rencana dan kemungkinan. Pada malam musim dingin yang hendak kukisahkan, muncul ilham padaku untuk menulis tentang seorang Komunis—sebetulnya, teoritikus Komunis—yang menghadiri sebuah konferensi sayap kiri mengenai perdamaian dunia dan melihat hantu. Aku melihat semuanya dengan jelas: ruang pertemuannya, potret Marx dan Engels, mejanya yang dilapisi selembar kain hijau, serta si Komunis, Morris Krakower, seorang pria gemuk pendek berambut cepak dan sepasang mata laksana baja di balik pince-nez[2] berlensa tebal. Konferensi itu berlangsung di Warsawa pada tahun tiga puluhan, pada era terjadinya teror oleh para pengikut Stalin dan Pengadilan Mokswa. Morris Krakower menyembunyikan pembelaannya terhadap Stalin dalam jargon teori Marxis, tapi semua orang dapat menangkap maksudnya. Dalam pidatonya, ia menyatakan bahwa hanya kediktatoran proletariat yang dapat menjamin kedamaian, dan, oleh karena itu, tidak ada penyelewengan baik ke kanan maupun ke kiri yang boleh dibiarkan. Perdamaian dunia ada di tangan NKVD[3].


20170506

An Evening of Long Goodbyes, Bab 7 (2/2) (Paul Murray, 2003)

Apartemen Frank merupakan bagian dari bangunan tinggi berbata merah—dari era Georgia[1], menurut penampakan jendela berbentuk busur di atas pintu—yang dulu mestilah pernah menjadi rumah bandar terhormat, bahkan dimuliakan. Di mana-mana terdapat jejak masa lalu yang lebih mulia lagi, berupa fragmen-fragmen ukiran halus dari karya plester asli. Namun fragmen ukiran itu tidak lebih daripada sekadar jejak, bak potongan tembikar di lumpur. Bagian depan bangunan telah menghitam dan rusak akibat debu puluhan tahun, dan sebagian besar perabotnya yang asli pecah sewaktu bagian dalamnya dibagi menjadi rumah-rumah petak yang teramat kecil. Induk semangnya kini mantan Garda[2] yang memiliki beberapa properti di kawasan itu dan, menurut Frank, “bajingan biar Garda juga”.

Hampir seluruh bagian dari Apt C berupa pojok, seakan-akan siapa pun yang membangun tempat itu menambal ruang tambahan dari sudut dan ceruk yang tersisa. Ruangan-ruangannya bergoyang secara tidak lazim, dan dinding tertentu tidak bisa disandari karena, begini yang kukutip, “menyangga langit-langit”. Bahkan cahaya matahari pun agaknya sulit mengatasi kenyentrikan flat tersebut. Bisa dibilang, cahaya datang melalui jendela, dan seketika terhenti, sambil menautkan jari ke bibir. Akibatnya di dalam selalu agak gelap—atau lembap, mungkin lembap kata yang lebih tepat. Tidak ayal lagi inilah apartemen terlembap yang pernah kutinggali.