Laman

20170627

An Evening of Long Goodbyes, Bab 9 (3/3) (Paul Murray, 2003)

Sepanjang waktu Pak Appleseed memerhatikan kami, tanpa lelah berpatroli melewati panas yang tak tertahankan di Zona Pengolahan B, atau mengintai ke bawah dari bilik akrilik mandornya bak monster laba-laba bercelana jengki. Bila berdiri tegak, tingginya mesti hampir tiga meter, namun ia tidak pernah berdiri tegak. Ia suka membungkuk hingga kedua bahunya mengitari leher, sambil terus-terusan menggerutu penuh laknat dengan suara serak parau. Badannya kerempeng, kacamatanya tebal, bibirnya berkeluk ke bawah, dan kami semua takut padanya. Pada hari-hari pertama, ketika aku masih menggenggam asa untuk memberontak, lari, atau membebaskan diri bagaimanapun caranya, selalu saja bayangan akan Pak Appleseed yang mencegahku.

Kuduga karena bahasa Inggrisku paling baik maka ia membedakanku sebagai orang kepercayaannya. Bukan berarti ia ada perhatian pribadi padaku, begitulah katanya blakblakan.

“Aku benci haram jadah seperti kamu, tahu itu, Goblok?” katanya.


20170620

An Evening of Long Goodbyes, Bab 9 (2/3) (Paul Murray, 2003)

Hari-hari berikutnya amatlah berat. Aku tercengkeram oleh kejemuan nan melumpuhkan. Sekali aku kembali ke alun-alun, namun aku tidak sanggup melanjutkan pencarian kerja. Yang mampu kulakukan cuma menyeret diri dari lantai kamar ke sofa. Seiring dengan berlalunya hari, masalah keuanganku kian binasa. Bahkan semakin sulit saja membayangkan cara yang memungkinkan bagi diriku supaya bisa keluar dari masalah ini, yang hanya memperparah kejemuanku berikut keenggananku mengatasinya. Alih-alih aku menyibukkan diri dengan proyek Gene Tierney. Kusaluti diriku dengan film-filmnya, terserap ke dalam film-filmnya, sebagaimana dahulu ia berusaha untuk mencurahkan dirinya. Aku bernafsu menonton tiap-tiap film, berhati-hati merujuk silang masing-masingnya dengan biografi Gene, dan memetakan yang terlintas.

Jika mengamati kehidupan Gene dari awal sampai akhir, terlihat jelas bahwa pernikahannya dengan Oleg Cassini merupakan peristiwa yang menyebabkan segala bencana lain yang menimpanya—pelanggaran mula yang membangkitkan Murka, yang hingga saat itu bergeming di tubir-tubir kehidupannya. Malah, menikahi Oleg Cassini merupakan satu-satunya pemberontakan yang pernah diperbuat Gene. Gene dibesarkan supaya menjadi gadis baik-baik, dan ia selalu penurut—hidup bersahaja bersama ibunya di Hollywood, menyerahkan cek bayaran ke perusahaan yang didirikan ayahnya, kena marah jika bermewah-mewah. Kemudian muncullah Cassini.


20170613

An Evening of Long Goodbyes, Bab 9 (1/3) (Paul Murray, 2003)

Aku menganggap perjumpaanku dengan Hoyland jelas merupakan peringatan dari dewa-dewa, sehingga hari itu aku tidak mencoba agen pencari kerja lain. Hujan mencurah dan begitu sampai kembali di Bonetown suasana hatiku kacau-balau. Makin parah lagi sejak dari halte bis aku mesti berurusan dengan pemuda setempat, yang tampaknya sedang pada mengamuk. Langit menyala oleh ledakan. Jalan dipenuhi bocah-bocah nakal yang saling meneriaki sambil menyeret kayu, ban mobil, dan sasaran mudah terbakar lain ke onggokan di depan blok flat.

“Halloween,” Droyd menerangkan, saat aku menyampaikan ini.

“Halloween masih berminggu-minggu lagi,” tukasku masam, seraya melepas syal sementara di luar rentetan rintih dan gerit logam disusul sorak-sorai serta suara tubrukan yang kedengarannya akan makan biaya besar. “Mereka enggak bakal begini terus semalaman, kan? Maksudku sepertinya sebagian dari bocah-bocah itu punya orang tua, yang mungkin nantinya mulai bertanya-tanya—“


20170606

Pertunjukan (Khan Mohammad Sind, 2007)


Sudah larut malam saat ia pulang. Istrinya duduk di serambi di depan rumah. Ia mendekati anak lelaki mereka yang berusia lima tahun dan sedang terbaring sakit di tempat tidur. Ia melepaskan syalnya. Sambil menyeka kepala dan jenggotnya yang pendek, ia menanyakan keadaan Bari pada istrinya.

Hampir menangis, istrinya menjawab, “Demamnya masih tinggi. Ia sangat lemah dan berbaring saja seharian. Ia juga tidak berselera makan. Aku sudah memberinya sup berkali-kali, tapi ia tidak mau memakannya.”

Sang ayah bersandar pada tempat tidur, dan berkata pada anak lelakinya, “Bari, putraku. Bari, anakku. Bagaimana keadaanmu? Mana yang sakit?”

Bari membuka matanya pelan-pelan, menatap kedua orangtuanya, dan berkata dengan suara lemah, “Seluruh badanku sakit.”

Sang ayah berlutut, menimang kepala bocah itu, dan berkata, “Tidak apa-apa. Kau akan sembuh, dengan doa…. Sekarang duduklah, ayo, dan cobalah makan sedikit saja. Ayah membawakan pisang untukmu.”