Laman

20180106

Sang Ratu (Massimo Bontempelli, 2007)


Suatu pagi, saat sedang membereskan tempat tidur bersama ibunya, Cecila menampakkan gejala kegilaan. Sekonyong-konyong dia berkata, “Tanahnya bergerak. Akan ada bencana.”
Ibunya memandang dia dengan sangsi. “Apa katamu?”
Cecila menjawab, “Apa?” Jelas dia tidak ingat perkataannya barusan.
Ibunya mengulang kalimat itu. “Tanahnya bergerak. Akan ada bencana.” Namun, karena melihat tatapan putrinya yang sungguh-sungguh tak mengerti, intuisi si ibu memperingatkan agar tidak melanjutkan. Akan tetapi, seharian kalimat itu terus terngiang dalam benak si ibu. Malam itu di pembaringan, kala Cecilia sudah tertidur di ranjangnya sendiri, ibunya masih saja menggumam, “Tanahnya bergerak.”
Hari-hari pun berlalu. Setiap hari sama saja dengan hari lainnya pada tahun itu. Cecilia membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah, menisik pakaian, dan kadang dia menangis. (Dua tahun lalu, pada hari Minggu, mereka menonton sebuah film). Malam-malam, setelah si ibu membersihkan meja, sementara Cecilia menutup jendela-jendela serta mengeluarkan baju tidur mereka, keduanya pergi tidur meski hari belum gelap benar.