Orang sering kali mengatakan pada saya betapa yakinnya mereka bahwa membayar sesuatu sekadar merupakan cara lain untuk memberi. Sedikitnya ini memang benar, apalagi karena kita semua hidup menurut ekonomi moneter dengan tagihan-tagihan yang mesti dibayar. Namun ada perbedaan yang penting sekali, dan itu berkenaan dengan semangat untuk berbuat tindakan tersebut. Ketika kita bebas berbagi semua yang kita sendiri memperolehnya dari pemberian—entahkah itu berupa materi, waktu, pengetahuan, ataupun keterampilan—tanpa alasan apa pun selain untuk menolong orang, perbedaan efeknya sangat besar sekaligus positif. Kebaikan tanpa syarat menggembirakan orang, menciptakan ikatan dan menceriakan dengan cara yang tidak pernah ada dalam transaksi moneter bersyarat. Tentu saja, orang yang diberi bisa langsung balas memberi dengan menggunakan uang, tepatnya melunasi utangnya, namun sebagaimana yang telah saya kemukakan dengan memakai contoh dari Graeber dan Atwood tadi, ini berkesan mengatakan saya tidak lagi ingin merasa bahwa saya mesti terus-terusan berhubungan dengan Anda. Akan jauh lebih bermaslahat bagi masyarakat jika Anda sekadar memberi apa pun yang Anda beri pada dunia ketika Anda sempat, tanpa syarat.
Laman
▼
20190720
20190713
The Moneyless Manifesto: Ketimpangan bruto melalui penimbunan nilai (Mark Boyle, 2012)
Uang bukan sekadar alat tukar. Di antara berbagai fungsinya yang lain,
bentuknya yang mutakhir juga merupakan alat penyimpan nilai. Perkawinannya
dengan model ekonomi seperti kapitalisme hanya menggiring pada ketimpangan
bruto. Saya rasa ini tidak memerlukan banyak pembatasan. Kita semua tahu
ungkapan “yang kaya jadi kaya, yang miskin tambah miskin” merupakan kebenaran
yang tidak dapat disangkal lagi. Anda hanya perlu melihat laporan lembaga PBB
untuk kajian ekonomi pembangunan (World
Institute for Development Economics Research) pada 2006, yang menyatakan
bahwa sekarang ini 1% penduduk dewasa memiliki 40% kekayaan dunia.
Sebagian orang akan menyatakan bahwa berkat sistem kapitalis
moneter, semua orang jadi terangkat, sekalipun sedikit saja yang terangkat jauh
lebih tinggi daripada yang lain. Pernyataan ini tidak pernah berasal dari mulut
tiga juta orang yang hidup dalam kemiskinan mutlak, ataupun 25.000-50.000 orang
tua yang setiap harinya kehilangan anak akibat mati kelaparan. Di samping
kemiskinan absolut, banyak persoalan sosial dapat berakar dari kemiskinan
relatif, yang memahamkan ketidakadilan yang dirasakan orang-orang yang berjuang
menjalani hidup dari hari ke hari pada “kaum elite”, yaitu mereka yang menimbun
kekayaan yang diciptakan oleh kelas pekerja, dan yang kemudian menggunakan
kekayaan tersebut untuk mengetatkan cengkeraman kekuasaan pada kaum di
bawahnya. Laporan surat kabar Guardian dan London School of Economics (LSE)[1] menyoroti
bahwa ketimpangan yang dirasakan ini merupakan alasan utama di balik kerusuhan
di Tottenham dan Kerajaan Britania selebihnya pada 2011.
20190706
Parul Sang Ibu (Selina Hossain, 2005)
Parul menghitung sudah enam bulan sejak lelaki itu menghilang. Ada yang
bilang lelaki itu tenggelam di laut, ada yang bilang lelaki itu pergi mencari
kerja di Dhaka. Parul persetan dengan ke mana pun lelaki itu minggat, tetapi
kenapa lelaki itu pergi tanpa memberi tahu dia? Akankah Parul menghentikan
lelaki itu jika bilang padanya dulu? Akankah Parul menangis? Tidak, Parul tidak
akan melakukan apa-apa. Parul akan membiarkan siapa saja yang mau pergi,
pergilah. Kalaupun hatinya nyeri, itu masalah Parul sendiri. Lantas kenapa
lelaki itu pergi? Lelaki itu lari karena tidak dapat mengerti Parul, benarkah
begitu? Ataukah lelaki itu pikir sekiranya ia tidak kabur, akan terlalu sulit
untuk meninggalkan Parul?
Kepala Parul berpusing kapan pun memikirkan hal-hal begini. Ia tidak suka
diabaikan orang, apalagi dari orang yang begitu dekat—yang diakui orang-orang
sekitar sebagai suaminya. Nama lelaki itu Abbas Ali, dari desa Thanar Hat,
distrik Noakhali. Tidak banyak penghasilannya, ia seorang buruh harian, yang
menghabiskan hari-hari secara serabutan dengan apa pun yang dapat diperoleh.
Saat Parul memasuki rumah tangga Abbas Ali, kemiskinan lah yang terutama ia dapati di sekitarnya, sehingga ia
mengerahkan energinya untuk mencari nafkah, bekerja dari rumah ke rumah,
mengumpulkan beras, sayur, apa pun yang berhasil diperolehnya untuk makan. Ia
telah tahan oleh kemiskinan. Ia tidak mengeluhkan apa pun pada Abbas Ali.
Malah, ia sempat cukup menyukai pemuda yang tangguh itu. Ia baru tidur larut
malam setelah membicarakan tentang suka dukanya. Kenapa pria itu tidak betah di rumah ini? Kemarahan Parul
berpusat pada pertanyaan ini, namun tetap tak ada jawabnya. Ketika orang-orang
menanyainya, ia tidak pernah merasa malu. Malah darahnya akan mulai mendidih.