Laman

20190920

The Moneyless Manifesto: Ekonomi 100% lokal (Mark Boyle, 2012)

Ekonomi dunia dibangun menurut prinsip bahwa satu tempat dapat dieksploitasi, bahkan dihancurkan, demi tempat lainnya.
– Wendell Berry

Ekonomi 100% lokal merupakan model di mana seluruh kebutuhan kita dicukupkan dengan menggunakan material setempat, yang dihasilkan dalam jangkauan berjalan kaki dari tempat tinggal kita (atau dengan kuda atau pedati, misalnya saja, jika pedati tersebut dibuat dengan menggunakan material setempat). Ini termasuk segala hal mulai dari sol sepatu sampai alat pemotong yang mungkin kita gunakan untuk membuat busur penggerek penyala api.
Pendukung hidup tanpa uang paling berapi-api sekalipun, yang menghendaki ekonomi berbasiskan sumber daya, menganggap pandangan ini berada di ujung terujung spektrum hidup tanpa uang. Padahal, demikianlah cara hidup manusia selama sebagian besar sejarah kita, dan nyatanya ada masyarakat yang masih hidup dengan cara begini. Kehati-hatian ini bisa dimaklumi—sekarang ini, benar-benar secara harfiah, kita berada ribuan mil jauhnya dari taraf lokalisasi ini. Hidup dengan cara demikian secara serempak mensyaratkan perombakan besar-besaran yang menyeluruhi masyarakat berikut sistem pemilikan tanah. Sebagian orang akan mengatakan perombakan keduanya memerlukan revolusi, atau keruntuhan hampir seluruh model ekonomi yang sekarang ini kita ikuti (yang mana, mengingat ketergantungannya akan pertumbuhan tidak terbatas pada planet yang terbatas, sangatlah mungkin). Jika pun ada kemauan publik dan politik, perombakan sosial demikian tetap saja merupakan pekerjaan berat bagi populasi sebesar Kerajaan Britania, walau bukannya tidak mungkin. Tanpa kemauan publik dan politik, Alam berikut kerusakan sistem yang inherenlah yang akan berkomplot menciptakan keadaan baru sehingga model lokalisasi dapat berkembang baik. Mana pun jalan yang terbuka, secara pribadi cara hidupnyalah yang saya tuju. Pada bab ini nantinya saya akan mulai mengurai sebabnya ekonomi nonmoneter berbasis globalisasi itu mustahil.


20190913

The Moneyless Manifesto: Ekonomi kasih (Mark Boyle, 2012)

Bahkan setelah sekian lama, matahari tidak pernah berkata pada Bumi, “Kau berutang padaku.” Lihatlah yang terjadi dengan kasih serupa itu. Kasihnya menyinari Segenap Langit.
– Hafiz

Saya kadang menyebutnya ekonomi alam, karena ini merupakan dasar dari petak besar tempat Alam selebihnya bekerja. Ini merupakan pendapat yang hangat diperdebatkan, karena banyak yang berargumen bahwa Alam berdasarkan pertukaran. Toh, lebah madu mengumpulkan nektar sambil menyebarkan serbuk sari di sekitar bunga—itu pertukaran, bukan? Dan di dalam tanah di bawah kaki Anda, dalam satu inci terdapat lebih banyak bentuk kehidupan daripada manusia di seluruh planet, tarian rumit tanpa henti yang berlangsung antara tanaman dan mikrob, masing-masing memberi makan satu sama lain, memelihara satu sama lain dan saling menyokong, menjamin bahwa keduanya selalu memperoleh yang mereka butuhkan. Sekali lagi, di permukaan, ini memang terlihat seperti semacam pertukaran.


20190906

The Red-haired Fake Prince (Widya Suwarna, 1997)

In a kingdom there was a very beautiful princess named Princess Helena. Too bad, this princess had disdainful nature. Therefore there was no prince dare to approach her.

One day King held a party notably for young people. Princes and princesses from any other kingdoms were invited, so were sons and daughters of noblemen.

One of the guests, Prince Jack, got prepared. He had a red-haired male servant. His name was Otto. Before going to the party, Prince Jack said, “Otto, come with me to the party. Wear my dress and behave as a prince does. Importantly, don’t be away from me!”

“Alright, sir!” said Otto obediently.

Then the two departed. Dressed up, nobody supposed that Otto was a servant. To be understood, he was pretty good looking.

In a big ballroom many guests had come. Men spruced up and princesses were beautiful, sweet smelling. Princess Helena was the most striking one, wearing pink dress with blue eyes and blond hair.