Laman

20200426

Penggalan: Salam (Shirin Nezammafi, 2018)

Ketika seorang pengacara dan interpreternya mengunjungi seorang perempuan Hazara di penjara Jepang, mereka mendapati ada beberapa pertanyaan yang tidak dapat—atau tidak hendak—dijawab oleh perempuan itu.

Tuan Tanaka mengisi dua salinan formulir permohonan kunjungan lalu menyerahkannya kepada pria di sisi seberang jendela resepsionis yang kecil. Beberapa menit kemudian, sebuah pintu besi yang berat terbuka di hadapan kami, dan muncullah seorang polisi berbadan kekar lagi jangkung. Tubuhnya hampir terlalu tegap untuk ukuran orang Jepang. Otot bertonjol-tonjol dari seragamnya.

“Silakan lewat sini,” ucapnya. Ia menunjukkan kami jalan ke pintu, baru dirinya masuk dan mengunci pintu di belakang kami. Kami mendapati koridor panjang yang sempit. Pintu-pintu besi berbaris di kedua sisi, dan sesekali ada jendela kecil, sehingga keadaannya sangat gelap. Meskipun hari masih pagi, sedikit cahaya matahari yag menjangkau ke sini. Namun beberapa lampu kecil menyediakan cukup cahaya untuk melihat jalan di depan. Koridor itu mestilah cukup menyeramkan bila malam, seperti yang ada di film horor.


20200419

Rich Without Money - Selanjutnya: Makanan, Air, dan Kebersihan (Tomi Astikainen, 2016)

Bagaimana caramu mendapatkan makanan? Di mana kamu mandi? Bagaimana caramu mencuci baju? Dari mana kamu mendapatkan pakaian? Di mana kamu tidur saat malam? Apakah kamu tidak takut? Apakah kamu pernah mendapatkan masalah? Memangnya kamu tidak memiliki polis asuransi? Bagaimana kalau ada apa-apa? Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang paling sering saya dapatkan hingga 10.000 kali.
Makanan, air, sanitasi, pakaian, naungan, perlindungan, dan keamanan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Ketidakpastian dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut membuat kita tidak nyaman, kalau bukan ketakutan. Inilah sebabnya orang di seluruh dunia mengajukan pertanyaan yang sama. Terlepas dari warna kulit, penampilan, ukuran, bau badan, gender, latar budaya, kepercayaan, ataupun ketebalan dompet kita, kita disatukan oleh kebutuhan tertentu yang sama bagi setiap orang.


20200412

Rich Without Money - Berakhir di Bawah Jembatan (Tomi Astikainen, 2016)

Pada Juli 2010, setelah setahun pertimbangan dan penyangkalan, saya memutuskan untuk mulai hidup tanpa uang. Kok bisa saya mencapai keputusan itu?
Masyarakat serta latar belakang kewirausahaan telah mengguratkan pentingnya menghasilkan uang dalam otak saya. Saya bekerja dengan giat untuk memajukan studi maupun riwayat hidup saya. Saya bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi sebagaimana setiap orang lainnya, seperti yang diharapkan dari saya.
Setelah SMA dan Gelar Diploma dalam jurusan bisnis, saya mulai kuliah di Lappeenranta University of Technology pada 2001. Saya kembali mempelajari Ekonomi dan Administrasi Bisnis. Jurusan saya Manajemen dan Organisasi. Bidang ini kurang berfokus pada keuangan dan lebih kepada meningkatkan komunikasi interpersonal.
Tadinya saya hendak lulus cepat-cepat lalu mendapat pekerjaan dengan gaji bagus. Namun segalanya berubah kemudian. Saya bergabung dengan AIESEC[1]—organisasi mahasiswa global yang mengkhususkan pada pengembangan kepemimpinan pemuda. Melalui berbagai pengalaman lintas budaya yang praktis, AIESEC membantu pemuda berkembang menjadi pemimpin yang aktif, warga global, serta agen perubahan positif.


20200405

Rich Without Money - SUP AIR MATA PEMBUKA (Tomi Astikainen, 2016)

Sekarang tengah malam. Aku duduk di tanah, di suatu jalan besar di Yunani, di bawah jembatan. Sakuku kosong melompong. Tidak ada dompet, tidak ada kunci, tidak ada ponsel. Aku menyanyikan keras-keras lagu klasik dari Red Hot Chili Peppers, “Sometimes I feel like I don’t have a partner ….” Kucela diri ini. “Fiuh, klise banget sih! Gelandangan di bawah jembatan.”
Tidak ada mobil yang melintasi jalan. Napasku beruap dalam keremangan cahaya lampu jalan. Aku telah berjalan berjam-jam tanpa henti, dan belum makan apa-apa selain sepotong roti kering. Tampaknya malam ini akan di luar lagi, sendirian.
Tiba-tiba, aku melihat ada yang berkilauan di horizon. Lampu sorot mobil! Sebuah mobil melewatiku, melambatkan kecepatan, dan berhenti di area peristirahatan terdekat. Aku menyambar bawaanku lalu berjalan mendekat sambil memendam harapan tinggi. Mobil itu penuh penumpang namun aku sudah bisa membayangkan diriku menjejal di antara mereka di jok belakang, dengan memeluk ransel merah kecilku, aman dari bekunya musim dingin. Aku maju dengan langkah tergesa-gesa, namun berhati-hati. Aku tidak mau menakuti mereka.