Laman

20201025

An Evening of Long Goodbyes, Bab 15 (08/10) (Paul Murray, 2003)


Aku tidak pernah menganggap Bonetown sebagai lebih daripada sekadar solusi sementara. Namun semakin lama aku tinggal di sana, bayangan berjauhan dari Frank semakin menggelisahkan aku. Bukan karena ia pernah mengatakan sesuatu, atau berbuat apalah. Lebih karena kenyataan mendasar soal dia yang menenteramkan hatiku. Entah bagaimana, ia terlihat dapat menopang berbagai hal, serupa dinding penyangga yang menahan dinding penting.
Hal itu terasa kian masuk akal kala berada di antara rongsokan, bagian-bagian yang dibuang dari kehidupan-kehidupan yang kandas. Maka aku membawa piano dari rumah dengan van milik Frank, dan menjejalkannya ke ruang tamu, dan malam-malam sepulang kerja—selagi Droyd, yang sedang diajari dasar-dasar Perbaikan Panel oleh Frank, memalu-malu kandang yang dibuatnya untuk Malam Perpisahan yang Panjang, sedang Laura menggantung gambar-gambar bunga dalam bingkai kayu dari Habitat, atau menyisir barang-barang hasil penyelamatan hari itu kalau-kalau ada yang cocok dengan skema warna yang direncanakannya untuk apartemen itu, sementara di bawah jendela para penjual narkoba menjajakan dagangannya dan para pencandu gemetar takluk, adapun Frank mengorok lembut, dengan kebapakan di hadapan tayangan berita televisi yang volumenya dimatikan—aku mengulik potongan-potongan melodi yang datang kepadaku, atau barangkali pernah kudengar dari sesuatu tempat: di pemutar pelat milik Bel, mungkin, si Dylan itu, atau si perempuan yang dengan nada lemah gemulai menyanyikan lagu tentang mesin pencuci piring atau cerek penyaring kopi. Hingga suatu hari aku berhenti di depan pintu depan dan, dengan lipstik yang tidak kunjung kukembalikan kepada Bel, menambahkan huruf C merah terang pada grafiti yang ada di situ.


20201018

An Evening of Long Goodbyes, Bab 15 (07/10) (Paul Murray, 2003)


“Kenapa orang mesti terperangkap dalam satu wajah saja?” Ayah suka berkata begitu. “Atau terjebak dalam satu kehidupan saja?”
Topeng, kata Ayah, adalah sesuatu yang kita kenakan namun berkebalikan dengan diri kita, sebab topeng itu tidak sepenuhnya nyata. Topeng dapat menahan sakit yang tak tertanggungkan oleh kita, sebab topeng itu tidak sepenuhnya bersifat manusiawi, keindahannya tak akan terlunturkan oleh usia ataupun perasaan. Kedua tangan Ayah aromanya selalu berbeda, dan wewangian melayang-layang di rumah bak serbuan nan menyenangkan, bagaikan untaian kenangan mewah yang tidak lagi menjadi milik siapa-siapa.
Kami bertemu model-model Ayah saat mereka sedang naik atau turun tangga, dengan keindahan bersahaja wajah sehari-hari mereka yang tanpa riasan. Selalu mengejutkan rasanya ketika beberapa bulan kemudian kami melihat mereka di majalah, dan mendapati hasil karya Ayah atas mereka. Gaya teduh, tomboi, santun, canggung; gaya dekadensi Berlin, Regency, Cleopatra; gaya gadis modern ala 1920-an, hippie, putri Arab—ia menambang wajah mereka demi membangkitkan kisah, mite, dan gairah setua sejarah, atau lebih tua lagi, bagaikan lapisan-lapisan bijih besi langka yang terpendam dalam bumi kemudaan mereka.


20201011

An Evening of Long Goodbyes, Bab 15 (06/10) (Paul Murray, 2003)


Ia melangkah ke arah rak perapian kemudian menyapukan jemarinya pada permukaan pualam. Aku mengangkat gelas ke bibirku dan mendapati isinya kosong. Aku menjangkau botol.

“Kalau saja aku enggak kasih tahu Bunda, segalanya bakal baik-baik saja. Baru setelahnya aku menyadari ia sudah tahu. Semua orang melakukannya. Itu bagian dari dunia fesyen. Mereka bawa gadis-gadis usia empat belas tahun jauh dari rumahnya, mereka mengubah gadis-gadis itu menjadi fantasi, mereka membuat gadis-gadis itu terkenal, kaya, dan sebagai imbalannya … yah, siapa juga yang bisa menolak, bercinta dengan karya seni sungguhan, dengan ciptaanmu sendiri? Kurasa itu semacam droit de seigneur[1]. Lantas mereka heran kenapa dua tahun setelah itu karya seni mereka jadi kena anoreksia atau menelan silet. Tetapi tentu saja Bunda sudah tahu soal itu. Aku kira sudah ada semacam kesepakatan di antara mereka. Atau mungkin Bunda enggak peduli dengan perbuatan Ayah, asalkan berhati-hati. Yang Bunda inginkan cuma kembali menguasai keadaan, semua orang memuja-muji dia seperti dulu. Seperti di pesta makan malam tadi, Bunda sangat bahagia. Bunda bahkan sempat berpikiran untuk kasih kamu kamar di sayap yang baru, Charles, kalau saja kamu enggak bikin kacau tadi. Tetapi Bunda enggak pernah memaafkan aku. Aku telah melanggar aturan. Semuanya baik-baik saja asalkan enggak ada yang tahu. Semua orang tahu dan semua orang berpura-pura enggak tahu dan begitulah caranya dunia tetap berjalan. Tetapi sekalinya kebenaran mulai terkuak, seluruh muslihat itu jadi hancur. Taruhannya terlalu besar kalau itu sampai terjadi. Itulah yang coba Bunda pahamkan padaku pada malam pementasan itu. Dan kamu tahu, Bunda memang selalu bilang kalau seorang aktris itu semestinya jangan terlalu mempersoalkan kebenaran.” Bel melekukkan kedua tangan mengitari gelas vodkanya sembari membungkukkan bahu. “Tetapi aku enggak sungguh-sungguh berbakat sebagai aktris.”


20201004

An Evening of Long Goodbyes, Bab 15 (05/10) (Paul Murray, 2003)


Bel menurunkan kipasnya, dan menatapku seperti yang tak sabar. “Masa itu enggak selalu menyenangkan,” katanya. “Ada juga yang mestinya dilupakan saja.”

“Maksudnya?”

Bel memutar bola mata. “Bukan apa-apa,” sahutnya. “Sudah larut, sudah. Kamu tidur saja.” Lantas, seraya berlagak mengabaikan tatapanku, ia mengulurkan tangannya. “Lempengannya mana?”

Aku merangkumnya dengan kepalan tangan lalu menurunkannya pelan-pelan ke samping badanku.

“Jangan kekanak-kanakkan, ah, Charles, sinikan.”

“Kasih tahu dulu apa maksudmu tadi.”

“Bukan apa-apa, aku enggak ada maksud apa-apa ….” Warna mukanya berubah jadi akar bit gula yang marah.

“Apanya yang bukan apa-apa. Kalau itu bukan apa-apa, kamu enggak akan menyinggung itu dari awal, dan kenapa juga kamu pengin barang zadul begini, padahal belum dikasih nama juga ….”