Laman

20210725

Hantu yang Ikut Sarapan (Alan Gratz, 2012)

Suatu pagi yang hangat di bulan Juli, ada hantu ikut sarapan bersama kami.

            Hantu itu berwujud seorang gadis, usianya sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Hanya sedikit lebih muda daripada aku. Rambutnya hitam panjang seperti sabut, wajahnya bundar, dan ia mengenakan kimono biru bergambar bunga krisan putih besar. Ayah dan ibuku mematung saat ia keluar dari kamarku. Di pojok, orang-orang di televisi terus mengoceh tentang cuaca dan politik, namun ayah dan ibuku hening sementara si gadis hantu berjingkat-jingkat melintasi ruangan, seolah-olah mereka tidak hendak menakut-nakuti dia.

            Ha. Berusaha tidak menakuti yang menakutkan.

            Aku menahan napas sementara si gadis hantu berlutut di sampingku di meja. Kami semua mengamati dia namun pura-puranya tidak, sebagaimana lazimnya dengan orang di kereta. Si gadis hantu duduk dan menatap ruang kosong pada meja hingga ayahku menyenggol ibuku.



20210718

Welcome to the N. H. K. Bab 08 Penyusupan Bagian 3 (Tatsuhiko Takimoto, 2007)

Besoknya, aku dan Misaki berjalan-jalan melintasi jalanan kota. Langit biru tanpa awan. Karena hari itu Sabtu, ada banyak orang di dekat stasiun, dan aku jadi agak pusing.
Seperti yang dijanjikan, aku bertemu dia di taman dekat rumah pada pukul satu siang, dan kami langsung pergi ke stasiun. Sekitar dua jam berlalu, dan kami masih berjalan. Kami terus saja berjalan. Walaupun Misaki berjalan di depanku, seperti yang memimpin, aku merasa bahwa kami telah berjalan berputar-putar di jalanan yang sama selama beberapa waktu.
Meski begitu, langkah kaki Misaki tetap mantap.
Akhirnya, aku tidak tahan lagi. “Mmm, kita mau ke mana sih?”
Misaki menoleh. “Apa?”
“Maksudku, tujuan kita ke mana?”
“Memang kenapa kalau sekadar jalan-jalan begini saja?”


20210711

Welcome to the N. H. K. Bab 08 Penyusupan Bagian 2 (Tatsuhiko Takimoto, 2007)

Semalam, ketika kami hendak berpisah, Misaki berbisik, “Besok, giliranku hadir di sekolah misionaris, tapi aku enggak mau.”
“Apa itu?” tanyaku, dan terbata-bata Misaki menjelaskannya.
Sekolah misionaris tampaknya semacam pertemuan tempat “siswa kajian” dapat menyempurnakan kecakapannya dalam “aktivitas pelayanan”. Besok, Misaki harus memberikan pidato di depan semua orang.
Dia menggunakan begitu banyak istilah teknis keagamaan sehingga orang luar seperti aku tidak bisa betul-betul mengerti ucapannya. Ketika aku mencoba meminta dia untuk menjelaskan secara lebih lengkap, Misaki serta-merta bangkit dari bangkunya untuk pulang. Dia pergi dengan hanya mengatakan, “Omong-omong, karena aku ada urusan ini besok, baru lusa kita bisa pergi ke kota. Jangan lupa sama janjimu.”


20210704

Welcome to the N. H. K. Bab 08 Penyusupan Bagian 1 (Tatsuhiko Takimoto, 2007)

Mungkin sebenarnya ini ada hubungannya dengan ketidakseimbangan hormon di otakku. Seperti ombak yang mengempas dan menyurut, mania dan depresi silih berganti, dan begitulah setiap hari berjalan. Ketika aku mengira telah membaik, besoknya juga aku sangat ingin mati hingga merasa aku ini tidak ada bagus-bagusnya.
Walaupun menggunakan narkoba untuk memaksa diri lebih bersemangat, aku tidak bisa meneruskannya sekali lagi begitu efeknya mereda. Rasa malu akan masa laluku serta cemas akan masa depan, begitu pula banyak ketakutan lainnya, menyerangku bersamaan. Depresi yang menyusul merupakan pantulan dari periode-periode super-bersemangat dan dengan begitu benar-benar parah sekali.
Bahkan konseling malam bersama Misaki, yang mestinya aku menjadi terbiasa, tetaplah mengerikan. Kecemasan yang entah dari masa asalnya melingkupiku, dan ketidakpastian yang berasal dari situ kian mengipasi ketakutanku.