Laman

20211231

Pengantar

Kita semua membutuhkan afirmasi positif sepanjang hayat. Sewaktu kita masih kecil, pesan-pesan ini manjur membantu kita mengetahui bahwa kita berharga, bahwa sudah selayaknya menginginkan makanan, sentuhan, dan bahwa keberadaan kita saja sudah merupakan karunia yang amat bernilai. Pesan-pesan yang kita terima dari orang tua membantu kita membuat keputusan yang menentukan perjalanan hidup kita.

Jika kita dibesarkan dengan orang tua yang penuh kasih sayang dan konsisten, kita memandang bahwa kehidupan itu berarti dan orang lain dapat dipercaya. Jika kita dibesarkan dengan orang tua yang sakit kompulsif atau pencandu, kita merasa yakin bahwa kehidupan itu penuh ancaman dan kacau, bahwa kita tidak berhak untuk bergembira. Kesimpulan-kesimpulan ini amat penting dalam memengaruhi kehidupan kita jauh setelah kita melupakannya.

Sayangnya, penilaian-penilaian pada masa kecil tidak menghilang, tetapi bertahan sebagai daya dinamis yang mencemari masa dewasa kita. Apabila kebutuhan-kebutuhan masa kecil tidak diperhatikan karena penganiayaan atau pengabaian, kita menghabiskan kehidupan dengan memandang dunia melalui persepsi yang terdistorsi dari bayi yang tidak terpenuhi kebutuhannya atau remaja yang marah. Makin kita mengenyahkan sisi kanak-kanak ini, makin besar kuasa mereka atas kita. Penyangkalan terhadap anak di dalam diri ini terejawantahkan dalam cara-cara yang destruktif: hubungan ketergantungan, kesuksesan yang tersabotase, penyakit somatis, serta gaya asuh disfungsional.

Untuk mengakhiri siklus penderitaan ini, kita mesti merangkul anak di dalam diri kita pada usia berapa saja dan tahapan mana pun yang ditampilkannya kepada kita. Bacaan harian di dalam buku ini ditujukan kepada bayi yang menjerit, balita yang terlalu cepat dewasa, juga anak-dua-tahun yang lincah yang masih menantikan orang tua yang akan membuat mereka merasa aman, dicintai dan diterima. Dengan menggunakan buku ini, kita belajar keterampilan mengasuh ulang. Pada akhirnya, kita bisa menjadi orang tua penyayang bagi anak di dalam diri kita dan mengambil kendali atas hidup kita.

Affirmation for the Inner Child didedikasikan kepada para orang dewasa yang siap menyembuhkan luka masa kecil mereka. Melalui upaya berani ini kita akan beranjak dari kehidupan yang penuh rasa sakit ke pemulihan.

ROKELLE LERNER



dari Affirmations for the Inner Child oleh Rokelle Lerner (Health Communications, Inc., Deerfield Beach, Florida, 1990)


20211226

Lagu untuk Benzaiten (Catherine Rose Torres, 2012)

Musim sakura berlalu lebih cepat daripada biasanya saat musim semi aku tiba di Tokyo, begitulah yang dikatakan oleh kakak asuhku, Hiro. Ia bilang akulah yang mesti disalahkan. “Parah sekali kalau sampai hujan pada musim begini,” katanya, seraya menggeleng-geleng padaku. “Kita mesti cari nama yang lebih ceria buat kamu.” Maka namaku pun menjadi “Aya”, yang artinya “cerah” dalam bahasa Jepang. Bapak dan Ibu Nojima, orang tua asuhku, pasti lega dapat memanggilku dengan nama yang tidak semengusik nama asliku, “Rain”—hujan.

            Tiga hari setelah aku datang, Hiro terbang kembali ke California, di mana dia sedang belajar arsitektur di UCLA. Seolah-olah dia ada di sini sekadar untuk membaptisku dengan nama panggilan Jepang. “Jangan terlalu baik, ya?” katanya ketika naik ke mobil bersama ayahnya, yang akan mengantarkan dia ke Bandara Narita. “Bisa-bisa orang tuaku memutuskan untuk mengadopsimu dan mendepakku.”



20211219

Welcome to the N. H. K. Bab 10 Terjun Bagian 3 (Tatsuhiko Takimoto, 2007)

Amarah menggelegak hebat di dalam diriku. Aku merasa seolah-olah dia sudah membodohiku. Dengan menekan perasaan itu dalam-dalam, aku berucap dengan nada selembut mungkin, “Nah, pulang, yuk! Di sini dingin!”

 “Aku enggak mau.”

Apa-apaan tuh enggak mau?! Dasar, ah sialan, berhentilah mengolok-olokku. Aku hampir saja mulai mencerca dia sekerasku; tapi entah bagaimana, aku bisa mengendalikan dorongan itu.

Aku berusaha mengingat-ingat buku yang pernah aku baca dulu sekali berjudul Psikologi Pencederaan Diri. Buku ini punya teori, “Mereka yang mencoba bunuh diri sebenarnya ingin diselamatkan. Mereka ingin ada orang yang mendengarkan apa yang mereka ingin katakan, maka berusahalah dan dengarkan mereka dengan sikap yang baik, sehalus mungkin, tanpa menyuarakan komentar negatif apa pun.”



20211212

Welcome to the N. H. K. Bab 10 Terjun Bagian 2 (Tatsuhiko Takimoto, 2007)

Saat itu hampir Malam Tahun Baru. Suatu siang, aku berkeluyuran di depan rumah sakit besar di pinggir kota. Ke sinilah Misaki dibawa.

Sebelumnya pada pagi itu aku menuju ke kafe manga dekat stasiun dan mendapatkan informasi dari pamannya yang kelelahan.

“Bagaimanapun juga, saya menyesal.” Entah kenapa pamannya minta maaf padaku. “Kami kira dia baik-baik saja. Dia jauh lebih tenang sejak berhenti bersekolah, dan kelihatannya betul-betul bahagia belakangan ini. Jangan-jangan itu karena dia sudah merencanakan. Omong-omong, kok masnya bisa kenal Misaki?”

“Kami kurang lebih kenalan,” jawabku. Aku pun undur diri dari kafe manga itu dan langsung menuju ke rumah sakit, tetapi ….

Aku sudah menongkrong di halamannya selama hampir dua jam. Di antara para pengunjung serta pasien yang keluar untuk berjalan-jalan, aku melangkah mondar-mandir di jalur dari gerbang utama ke pintu masuk.



20211205

Welcome to the N. H. K. Bab 10 Terjun Bagian 1 (Tatsuhiko Takimoto, 2007)

Musim panas berakhir. Aku telah menghabiskan biaya hidupku. Aku sudah tidak punya uang lagi untuk beli makanan, sehingga aku memutuskan untuk mencoba tidur saja untuk menghemat energi. Aku akan terjaga selama lima jam, kemudian aku tidur lagi selama lima belas jam. Aku mencoba hidup dengan jadwal begitu.

Selama tiga hari pertama, aku tidak ada masalah serius dengan berpuasa. Paling-paling, perutku sedikit sakit. Tapi, begitu hari keempat bergulir, yang bisa kupikirkan hanya makanan. Aku ingin makan ramen. Aku ingin makan kari dan nasi. Apa pun hasratku, tubuhku benar-benar menginginkan kalori. Kebutuhan ini mustahil diperangi.

Akhirnya, pada hari kelima berpuasa, aku keluar apartemen. Setelah menghabiskan beberapa ratus yenku yang terakhir untuk membeli kue serta majalah kerja paruh-waktu lagi, aku memutuskan untuk mulai mencari pekerjaan kasar hari itu juga.