Laman

20260120

Hitchcock dan Agha Baji (2/3) (Behnam Dayani, 1973)

Namun sikap Agha Baji seketika berubah. Tatapannya membuatku merasa goyah. Aku merasa ia mau memburaikan isi perutku. Tanpa bangkit dari lantai, ia menggeser kakinya ke arahku seperti belalang lalu duduk di sampingku. Ia memintaku untuk menceritainya keseluruhan film itu. Aku pun membeberkan cerita itu, tidak dari A ke Z, tapi ringkasannya saja. Terpukau, ia memancangkan tatapannya pada mulutku tanpa berkedip. Ketika ceritanya selesai, nenekku memberi kami masing-masing secangkir teh. Ruangan pun anehnya hening. Agha Baji tampak menarik diri sementara tatapannya terpaku pada motif bunga di karpet. Aku tak berani berkata apa pun lagi. Aku takut ia berubah jadi wanita tua di film Psycho itu lagi. Memecah keheningan, nenekku batuk-batuk lalu bertanya diiringi tawa, “Jadi siapa operator film itu?”

Nenek telah mengetahui dari aku bahwa setiap film ada sutradaranya. Namun, seperti “bisoskop”, ia mengacaukan kata ini juga, dan selalu menyebutnya “operator” alih-alih sutradara. Sebelum aku menjawab Nenek, aku melirik Agha Baji, dan bibirnya bergetar. Ia menangis diam-diam. Bingung, aku memandang nenekku meminta penjelasan. Ia memberikan isyarat dengan alisnya, menyuruhku keluar ruangan. Aku pun bangkit dan kembali mempelajari Fisika Mekanika.



20260106

Hitchcock dan Agha Baji (1/3) (Behnam Dayani, 1973)

Kisah pendewasaan yang didedikasikan untuk para nenek ini menyoroti pembicaraan subversif dan kecintaan pada film.

 

Kepada nenekku, dan semua nenek lain yang tak pernah kita hargai sepantasnya.

 

Pada Kamis sore di musim gugur yang cerah itu, antara pukul dua dan tujuh, terjadi tiga peristiwa tak biasa. Dari pukul tiga sampai lima, aku dan teman-temanku pergi ke Bioskop Mahtab untuk menonton film Hitchcock, Psycho. Pada pukul setengah tujuh, Agha Baji mampir ke rumah kami untuk mengunjungi nenekku. Lima belas menit kemudian, lantai ubin di kamar mandi runtuh dan aku nyaris jatuh menerobos ke lubang galian di bawahnya. Tampaknya, ketiga peristiwa remeh ini tidak ada hubungannya dengan satu sama lain. Namun di balik keremehan itu, terdapat sejumlah keruwetan.

Pada sore hari itu, ada dua jam mata pelajaran bahasa. Kami sedang duduk di ruang kelas, suasananya diliputi konspirasi dan intrik. Kami mau memberontak melawan guru kami. Namun luar biasanya yang memprakarsai pemberontakan kami itu sesungguhnya kepala sekolah. Ia mau mendepak Pak Chabok. Pak Chabok, guru bahasa kami, mestilah pegawai honorer, itulah sebabnya bisa saja memecat dia dengan mudah. Ia mahasiswa berpostur kekar. Wajahnya tirus dan rahangnya menonjol. Ia selalu menggemeretakkan gigi.