Laman

20260220

Buruk untuk Jantung (1/3) (Yasutaka Tsutsui, 1979)

Firasatku ternyata benar.

Seperti yang sudah kuduga, firasat itu memberitahuku akan adanya “dinas pulau” sampai-sampai Manajer Departemen tergesa memanggilku ke Ruang Rapat.

Biasanya, “dinas pulau” diberikan kepada peneliti yang belum kawin. Sedangkan aku punya istri dan seorang anak berumur tiga tahun.

Mengapa pula mesti Manajer Departemen sendiri yang memberitahuku. Karena Kepala Bagian tidak bisa. Inilah gelagat dari kebencian Kepala Bagian kepadaku. Dia lah orangnya yang merancang “dinas pulau” ini. Aku yakin itu.

Aku akan ditempatkan di Pulau Delima, sebuah pulau kecil di tengah-tengah Laut Jepang. Jaraknya kira-kira 30 meter dari pesisir yang paling terpencil di Prefektur Shimane.

“Apa ada telepon di pulau itu?” tanyaku kepada Manajer Departemen sembari memindai petanya.



20260206

Hitchcock dan Agha Baji (3/3) (Behnam Dayani, 1973)

Lampu-lampu menyala. Aku mengambil napas dalam-dalam dan bangkit. Aku meletakkan tanganku di bahunya dan memanggil namanya. Ia menggerak-gerakkan kepalanya beberapa kali, seakan-akan bicara sendiri. Aku secara sopan menerangkan bahwa filmnya sudah selesai dan kami harus pergi. Ia menghela diri ke arah depan tempat duduknya sedikit. Ia menurunkan kaki lalu bangkit. Secara keseluruhan, ia tampak lelah dan letih, tetapi matanya bersinar. Ketika kami keluar bioskop dari jalan samping, ia menutupi wajahnya dengan tangan sehingga cahaya yang cerah tak menyilaukannya. Lalu ia celingukan beberapa kali, seakan-akan lupa kami ada di mana. Hari itu termasuk hari kala matahari bersinar dan segalanya tampak meluap-luap oleh semangat. Bertiup angin sepoi yang sejuk menyenangkan. Siswa-siswi dari sekolah-sekolah Hadaf[1] melewati kami. Burung gereja berciap dan berkicau sambil bermain-main di atara cabang-cabang pepohonan. Aku mendadak diliputi perasaan yang teramat riang. Aku merangkul bahu Agha Baji dan dengan gembira bertanya, “Nah, Agha Baji, suka filmnya?”