Laman

20260320

Buruk untuk Jantung (3/3) (Yasutaka Tsutsui, 1979)

“Kalau sudah tahu begitu, kenapa kamu pakai mereka?”

“Oh, yang benar saja. Siapa lagi yang bisa mengantarkan koper remeh-temeh ke tempat antah-berantah?” ujarnya diiringi senyum mengejek.

“Mereka memonopoli?”

“Benar.”

“Berengsek!” Kuhantamkan bogemku ke meja. Jantungku segera saja mulai berdebar. Cepat-cepat aku mengeluarkan botol obat dan menenggak dua tablet. Sekarang yang tersisa tinggal tiga.

Beberapa saat, istriku tampak melamun. Lantas ia memandang kepadaku. “Mungkin saja mereka sengaja menunda koper itu, untuk balas dendam.”

“Ke—kenapa?” kutatap ia. “Apa yang kamu rahasiakan?”

Ia menjawab dengan ekspresi serius, seakan-akan mau menyulut kecemasanku.“Yah, aku ada sedikit seteru sama sopir Daitsu. Ia datang sendirian untuk menjemput koper itu, dan memintaku membantunya mengangkat barang itu. Aku bilang salahnya sendiri tidak bawa teman, angkat saja sendiri, itu kan sudah tugas dia. Lantas ia memandangku dengan jahat sekali.”



20260306

Buruk untuk Jantung (2/3) (Yasutaka Tsutsui, 1979)

“Tapi istri saya suka bikin saya marah. Saya tidak tahan.”

“Apa istri Anda akan menemani ke pulau?”

“Tentu.”

“Nah, ini kesempatan sempurna untuk pemulihan kesehatan secara penuh.” Ia mengerutkan wajah. “Apa tidak mungkin Anda pergi sendirian?”

“Bercanda, ya! Mana mungkin saya tinggalkan wanita perisau macam itu sendirian. Entah apa yang bakal dia perbuat.”

“Saling tidak percaya dengan pasangan, curiga akan berbuat serong, hal-hal beginilah yang dapat secara langsung memperburuk kondisi Anda.”

Aku jadi kalut. “Apa maksud Anda saya cemburu?” kataku keras-keras. “Bagaimana  tidak? Ia wanita yang tak senonoh, asal tahu saja ya!”