Laman

20260406

Artis Kampung (Nur Laili M., 2011)

Sudah sebulan ini keluargaku pindah ke Perumahan Griya Asri. Seperti perumahan-perumahan lainnya, banyak rumah yang bentuknya sama serta pepohonan yang belum besar ditanam di pinggir jalan. Jadi, bila siang masih terasa panas.

Di perumahan itu hanya ada satu pohon yang besar, yaitu pohon asem yang ada di sebelah kiri pos kamling depan perumahan. Pohon asem tadi sudah ada sebelum perumahan dibangun, dan sengaja tidak dipangkas. Karena adanya pohon asem itu, pos kamling kelihatan teduh dan enak untuk duduk-duduk.

Aku dan adikku masih bersekolah di SD. Aku kelas lima, adikku, Wati, kelas satu. Berbarengan dengan pindah rumah, sekolahku juga pindah. Sekarang aku bersekolah di SD Teladan 2. Kebetulan sekolah tersebut ada di seberang Perumahan Griya Asri. Jadi, kalau pergi dan pulang sekolah, aku dan adikku cukup berjalan kaki saja.

Hari pertama berangkat sekolah lewat pos kamling, aku kaget sekali. Di lincak (bangku panjang dari bambu) pos kamling ada seorang lelaki yang aneh sedang duduk. Perawakannya ceking tinggi, rambut jabrik disemir kuning seperti rambut bule, celana jin usang hingga sudah pudar warnanya, sepatu bot hitam, kaus oblong putih penuh tulisan, jaket kulit, dan tangan kiri-kanan mengenakan gelang kulit berbesi lancip-lancip. Gayanya persis penyanyi rok.

Aku dan Wati tidak berani melihat orang tadi. Kami berjalan menunduk sampai pinggir jalan raya. Ketika kami akan menyeberang jalan, orang aneh tadi mendekati. Aku merasa takut, jangan-jangan orang itu salah seorang penculik anak seperti di berita TV.

Makin didekati orang tadi, aku makin takut, malah Wati mau menangis. Setelah orang itu dekat, Wati sudah tidak bisa menahan tangisnya. Air matanya mengalir, tangannya menggondeli tanganku kencang sekali. Aku jadi takut, kaki jadi terasa sangat berat. Seperti tidak menyadari kalau aku dan adikku takut, orang aneh itu lantas berjalan melewati aku dan adikku sampai tengah jalan lalu merentangkan tangannya untuk mencegat kendaraan yang lewat.

Wah, ternyata orang tadi mau membantu aku dan adikku menyeberang jalan yang lagi ramai. Mengerti begitu, aku dan adikku lantas menyeberang. Sampai di seberang jalan, aku sudah tidak takut lagi seperti tadi.

Usai kejadian tadi, aku jadi mengerti dan mengenal orang aneh yang pekerjaannya membantu menyeberangkan jalan. Ternyata bukan hanya aku yang diseberangkannya. Anak-anak lainnya juga diseberangkan olehnya. Dari teman-teman di perumahan, aku jadi mengerti orang aneh itu bernama Mas Johny. Kata orang-orang perumahan, Mas Johny pernah mengikuti lomba menyanyi di TV, tapi tidak menang. Lah, sekeluarnya dari TV itu gaya Mas Johny yang menyerupai penyanyi rok keterusan sampai terbawa dalam kesehariannya.

Karena gayanya yang aneh lagi senang membantu menyeberangkan jalan, anak-anak perumahan senang kepada Mas Johny, begitu juga aku. Sebetulnya bukan hanya karena itu anak-anak menyenanginya, tapi juga Mas Johny pintar sekali mendongeng. Dongeng-dongengnya aneh dan lucu, seperti dongeng sapi yang tidak mau makan rumput, tapi minta makan permen cokelat. Maka ketika diperas susunya, yang keluar bukan susu, tapi es krim! Dongeng kambing yang suara embiknya seperti suara klakson mobil, sehingga tiap kali mengembik orang-orang pada kaget mengira ada mobil lewat. Supaya pada percaya dengan dongengnya, Mas Johny berjanji akan membawa kambing itu ke perumahan besok Minggu.

Horeee …. Horeee … aku dan teman-teman senang sekali membayangkan Mas Johny membawa kambing yang suara embiknya seperti klakson mobil.

Minggu sore anak-anak sudah pada berkumpul di lincak pos kamling menunggu Mas Johny. Ditunggu sampai satu jam, Mas Johny tidak muncul. Anak-anak sudah pada tidak sabar. Sampai azan magrib, Mas Johny tetap tidak muncul. Akhirnya anak-anak pada pulang dengan kecewa berat.

Besoknya Mas Johny tetap tidak terlihat di pos kamling. Besoknya lagi juga tetap tidak kelihatan. Banyak anak yang tetap menunggu Mas Johny, begitu pula aku. Saban lewat pos kamling, aku celingukan dulu siapa tahu Mas Johny ada di dalamnya. Tapi Mas Johny tetap tidak ada. Sampai seminggu, tetap tidak kelihatan di pos kamling.

Sudah dua minggu, Mas Johny tidak kelihatan. Bila sore, Pos Kamling jadi sepi tidak ada lagi suara bocah-bocah tertawa meriah. Sampai sebulan Mas Johny tetap tidak kelihatan. Akhirnya anak-anak sudah lupa kepada Mas Johny.

Seperti hari biasanya, berangkat sekolah aku melewati pos kamling. Hari ini Pos Kamling agak lain. Di lincak ada lelaki yang perawakannya menyerupai Mas Johny. Yang berbeda hanya caranya berpakaian. Kalau Mas Johny kayak penyanyi rok, yang ini kayak artis dangdut.

Karena penasaran, aku memberanikan diri mendekati. “Mas Johny, bukan?” Orang tadi menoleh. Orang itu lantas memperkenalkan namanya: Jecky Irama, baru saja pulang dari Jakarta karena tidak lolos audisi penyanyi dangdut di stasiun TV.

Sekarang pos kamling perumahan jadi ramai lagi. Saban berangkat dan bubaran sekolah, anak-anak diseberangkan oleh laki-laki yang mirip artis dangdut. Juga saban sore pos kamling penuh suara anak-anak. Seperti Mas Johny, Mas Jecky Irama pintar mendongeng. Dongengnya lucu dan aneh, seperti dongeng kambing yang lagi diperbaiki di bengkel karena suara embiknya kayak suara mobil rusak.

***

 

“Artis Kampung” dalam Jagoan Cilik: Kumpulan Cerita Anak Basa Jawa penyusun Nur Laili M., penerbit Javalitera, cetakan pertama, 2011, dapat dibaca di Ipusnas dan https://agussiswoyo.com/artis-kampung-sebuah-cerpen-dari-kumpulan-cerita-anak-basa-jawa/.

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar