Laman

20150527

Lukas Temanku (Fernando Sorrentino, 2008)

Aku punya seorang teman yang mestilah orang paling baik sekaligus paling pemalu di dunia. Namanya rapuh dan kuno (Lukas), dan usianya tingkat menengah (empat puluh tahun). Badannya agak pendek dan ceking, kumisnya tipis, dan malah lebih tipis lagi rambut di kepalanya. Karena penglihatannya kurang bagus, ia memakai kacamata. Kacamatanya kecil, bundar, dan tanpa bingkai.

Ia selalu berjalan menyamping supaya tidak mengganggu orang di sekitarnya. Daripada mengucapkan “permisi”, ia lebih memilih berlalu lewat satu sisi. Apabila celahnya begitu sempit sehingga ia tidak bisa lewat, Lukas menunggu dengan sabarnya sampai penghalangnya bergerak dengan sendirinya. Anjing-anjing dan kucing-kucing yang tersasar membuatnya panik, dan supaya terhindar dari mereka ia terus-terusan menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya.

Ia berbicara dengan suara yang sangat lemah dan halus, saking tidak kedengarannya sampai-sampai sulit diketahui apa ia memang betul-betul sedang berbicara. Ia tidak pernah menyela siapapun. Di sisi lain, ia tidak pernah dapat berbicara lebih dari dua kata tanpa ada yang menyelanya. Sepertinya ini tidak membuatnya jengkel: malah, ia betul-betul terlihat senang dapat mengucapkan dua kata tersebut.


20150518

The Wind-Up Bird Chronicle Buku 1 Bab 4 (Haruki Murakami, 1994)



4

Menara yang Tinggi dan Sumur yang Dalam
(Atau, Jauh dari Nomonhan)

*

Begitu kembali ke rumah, aku mendapati Kumiko sedang ceria. Sangat ceria. Waktu menunjukkan hampir pukul enam saat aku sampai di rumah setelah menemui Malta Kano, yang artinya tidak ada cukup waktu untuk menyediakan makan malam yang pantas. Sebagai gantinya, kusiapkan masakan sederhana dari bahan-bahan yang kutemukan di kulkas, dan kami sama-sama minum bir. Ia membicarakan pekerjaannya, sebagaimana biasa diperbuatnya kalau suasana hatinya sedang bagus: siapa saja yang ditemuinya di kantor, apa saja yang dikerjakannya, mana saja koleganya yang berbakat dan yang tidak. Hal semacam itu.

Aku mendengarkan dan menanggapinya dengan sepantasnya. Tidak sampai separuh perkataannya itu yang kudengarkan. Bukannya aku tidak suka mendengarkannya bicara tentang berbagai hal. Terlepas dari isi pembicaraannya, aku suka melihatnya bersemangat menceritakan pekerjaannya pada waktu makan malam. Inilah, kucamkankan pada diriku, yang disebut dengan “rumah”. Kami lakukan dengan sepatutnya tanggung jawab yang telah dilimpahkan untuk ditampilkan di rumah. Ia menceritakan pekerjaannya, sementara aku, setelah menyiapkan makan malam, mendengarkan ceritanya. Sangat berbeda dari gambaran akan rumah yang samar-samar kubayangkan sendiri sebelum menikah. Tapi inilah rumah pilihanku. Tentu saja aku sudah punya rumah sedari aku masih kecil. Tapi bukan aku sendiri yang memilihnya. Aku terlahir ke dalamnya, mengenalinya sebagai kenyataan yang tidak bisa kuingkari. Bagaimanapun juga, sekarang aku hidup di dunia yang telah kupilih berdasarkan keinginanku sendiri. Inilah rumahku. Mungkin tidak sempurna, namun sudah pendirianku untuk menerima rumahku beserta segala masalahnya, sebab aku sendiri yang telah memilihnya. Kalau ada masalah, maka hampir pasti asalnya dari diriku sendiri.


20150509

Penggalan: The Wind Birds (Peter Matthiessen, 1973)


. . . Keresahan burung-burung pantai, pertalian mereka dengan jarak dan musim yang lekas berlalu, isyarat pilu dalam suara mereka di sepanjang garis pantai di dunia menjadikan mereka, bagiku, makhluk liar yang paling menggugah. Aku merasa mereka seperti terbuat dari angin, “burung angin”. Bagi pengembara yang bingung dengan burung-burung eksotis, di samping spesimen eksotis dari jenisnya sendiri, barangkali suara burung angin menjadi satu-satunya bebunyian yang dikenal di daratan yang asing, dan sudah berkali-kali aku dibuat senang saat mendapati mereka. Sewaktu menjumpai seekor burung gajahan penggala [Numenius phaeopus] pada suatu hari musim panas yang cerah pada Februari di Tierra del Fuego, aku heran apabila tidak melihat burung yang sama setengah tahun sebelumnya, di rumah. Burung kedidi berbokong putih dan berbintik-bintik serta burung plover emas berperut hitam terdapat di Sagaponack [New York, AS], namun aku dibuat senang pula oleh burung kedidi berbintik-bintik yang memamerkan gayanya berjalan di Amazon dan di tempat yang tinggi seperti Andes (dan begitupula rekan Eurasianya, burung kedidi biasa, di Nil Putih, Galway [Irlandia], dan pegunungan yang jauh sekali di Papua Nugini); lalu pada suatu siang yang terang di Selat Magellan, burung kedidi berbokong putih berlalu di sepanjang pantai secara berkelompok. Aku pernah melihat burung plover emas di tundra Alaska dan ladang tebu di Hawaii, dan mendengar kicauan ribut si perut hitam pada sore hari di pantai laut yang jernih dan berangin dari Yucatán hingga Karang Penghalang Besar.