Laman

20160327

NYPD Red 4, Prolog I (James Patterson & Marshall Karp, 2016)

Prolog | Karpet Merah Manyala

Satu

LEOPOLD BASSETT melintasi ruangan dengan lincah ke tempat saudaranya, Maxwell, tengah menyesap segelas anggur dalam diam.

“Max, aku baru saja mendengar dari mata-mataku di lobi,” Leo separuh berbisik, kegirangan. “Lavinia sedang naik kemari. Bisakah kau berhenti merengut sebentar saja?”

“Aku tidak sedang merengut. Aku sedang menikmati anggur Sancerre yang sangat lezat ini dan mencoba menghitung seberapa besar pengeluaran kita untuk pestamu yang terakhir itu.”

“Berhentilah menghitung-hitung,” sahut Leo, “sebab setelah aku tahu Lavinia akan kemari, pesta ini sepadan dengan setiap sen yang dikeluarkan. Ia satu-satunya yang kita pedulikan.”


20160318

The Perks of Being Wallflower Bagian I, Surat 2 (Stephen Chbosky, 1999)

7 September 1991

Temanku yang baik,

Aku tidak suka SMA. Kafetarianya disebut “Pusat Gizi”, yang kedengarannya aneh. Ada seorang cewek di kelas bahasa Inggris lanjutan namanya Susan. Di SMP, Susan sangat menyenangkan. Dia suka menonton film, dan abangnya, Frank, membuatkan kaset rekaman berisi lagu-lagu bagus yang dia perdengarkan pada kami. Tapi saat musim panas behelnya dicopot, dan dia jadi lebih tinggi, lebih cantik, dan dadanya tumbuh. Sekarang sikapnya jadi makin tolol di koridor, terutama saat ada cowok-cowok. Dan rasanya menyedihkan sebab Susan kelihatannya tidak bahagia. Sejujurnya, dia tidak suka mengakui dirinya mengikuti kelas bahasa Inggris lanjutan, dan dia tidak suka menyapaku lagi di koridor.

Sewaktu di pertemuan konseling tentang Michael, Susan bilang Michael pernah memberitahunya bawa dia cewek paling cantik di seluruh dunia, begitu juga behelnya dan segala-galanya. Lalu, Michael meminta Susan untuk “jalan bareng”, yang di sekolah mana pun merupakan persoalan sangat penting. Di SMA itu disebut “pacaran”. Dan mereka berciuman dan membicarakan film, dan Susan sangat merindukan Michael sebab dia sahabatnya.


20160309

Jug in the Front Yard (Novianita, 2016)

“Bima, have you filled the jug?” asks Eyang[1] in front of Bima’s bedroom door.

Bima puts his novel, then moves slowly from the bed. “I haven’t filled the jug yet, Eyang. I guess there’s still some water in it.”

“If the jug is empty, poor those who are thirsty.”

And then Bima carries a tiny jug out of kitchen. Every time the jug swings, a splash of water spills from its mouth.

“Oh, Bima. What a waste. Many people can’t afford drink,” grumbles Eyang.

Eyang provides a big jug of water, completed with some glasses in front of her gate in Klaten, Central Java. Peddler or anyone who happens to pass and feels thirsty can drink water in it.

Before and after school, Bima has to make sure that the jug is always filled. When the sun is very hot, the jug is quickly empty since many peddlers drink the water.