Laman

20160427

The Perks of Being Wallflower Bagian I, Surat 4 (Stephen Chbosky, 1999)

16 September 1991

Temanku yang baik,

Aku sudah menamatkan To Kill a Mockingbird. Sekarang itu jadi buku favoritku sepanjang masa, tetapi dipikir-pikir lagi, aku selalu berpikir begitu sampai aku membaca buku yang lainnya. Guru di kelas bahasa Inggris lanjutan memintaku memanggilnya “Bill” saat tidak sedang pelajaran, dan dia memberiku buku bacaan lainnya. Ia bilang aku punya kemampuan hebat dalam membaca dan memahami bahasa, dan ia ingin supaya aku menulis esai tentang To Kill a Mockingbird.

Aku menyampaikan ini pada ibuku, dan ia bertanya kenapa Bill tidak menganjurkan supaya aku langsung mengambil kelas bahasa Inggris untuk tingkat dua atau tiga. Dan aku memberitahunya bahwa Bill mengatakan bahwa pada dasarnya pelajarannya sama saja hanya buku-bukunya lebih rumit, jadi tidak akan ada bedanya untukku. Ibuku bilang bahwa ia belum yakin dan ingin bicara padanya saat pertemuan sekolah. Lalu, ia memintaku untuk membantunya mencuci piring, dan aku melakukannya.


20160418

The Perks of Being Wallflower Bagian I, Surat 3 (Stephen Chbosky, 1999)

11 September 1991

Temanku yang baik

Aku tidak punya banyak waktu sebab guru di kelas bahasa Inggris lanjutan menugaskan kami untuk membaca buku, dan aku suka membaca buku sampai dua kali. Kebetulan, buku itu judulnya To Kill a Mockingird. Menurutku sebaiknya kau membacanya kalau belum pernah, karena buku itu sangat menarik. Guru itu menugasi kami membaca beberapa bab dalam satu waktu, tapi aku tidak suka membaca buku dengan cara begitu. Sekali membaca, aku langsung sampai setengah buku.

Bagamanapun juga, alasanku menulis ini karena aku melihat abangku di televisi.  Biasanya aku tidak terlalu suka olah raga, tapi ini kejadian istimewa. Ibuku mulai menangis, dan ayahku merangkulnya, dan kakak perempuanku tersenyum, rasanya lucu karena saat abangku ada mereka selalu bertengkar.

Tapi abangku ada di televisi, dan sejauh ini, itu kejadian penting selama dua minggu aku bersekolah di SMA. Aku sangat merindukan dia, dan rasanya aneh, sebab kami tidak sering mengobrol saat dia di rumah. Sejujurnya, kami masih belum saling bicara.

Aku ingin memberitahumu posisinya di tim, tapi seperti yang sudah kubilang, aku tidak ingin namaku diketahui olehmu. Kuharap kau mengerti.

Salam sayang,


Charlie



Terima kasih kepada Fairynee dan Raysa Prima yang telah memberi inspirasi dalam perbaikan hasil terjemahan ini.


20160409

The Story of Pongo (Vina Maria Agustina, 2016)

Pongo is a Sumatran orangutan. He is just five years old. In a year, Pongo will be self-sufficient. Now Pongo is still living with his mother.

“Hoa-hem,” yawns Pongo, stretching his arms. “It feels so good to wake up after tired of playing. Well, where’s Mother? Isn’t she coming home yet of foraging? I should go along with her some time ago so I can learn how to forage. I was too busy playing, hence I fell asleep.”

After a while, Pongo’s mother comes. “Hello Pongo. I bring you banana. You must be hungry.” 

Pongo nods. “But, why are you so long from foraging?” asks Pongo, his mouth is full of banana.

“Oh, I had to walk rather far than usual,” says Pongo’s mother.

*

The next morning, Pongo faintly hears a roaring noise. What is it? Pongo hasn’t heard any noise like that before. Suddenly Mother shakes him.

“Pongo, get up! We have to get out of here quickly!” cries Mother.