Laman

20200223

Welcome to the N. H. K. Pembuka (Tatsuhiko Takimoto, 2007)

Di dunia ini ada konspirasi.
Tetapi, ada sembilan puluh sembilan persen lebih kemungkinan bahwa konspirasi yang kedengarannya masuk akal, yang kau dengar dari orang lain, adalah khayalan belaka atau kebohongan yang disengaja. Ketika kau mengunjungi toko buku, buku-buku dengan judul seperti Konspirasi Agung Yahudi untuk Menghancurkan Ekonomi Jepang! atau Konspirasi Super CIA yang Menyembunyikan Perjanjian Rahasia dengan Alien! semuanya hanyalah khayalan remeh.
Meski begitu … orang suka konspirasi.
Konspirasi. Kita terpesona tanpa daya oleh bunyi kata itu berikut gemanya yang terasa manis sekaligus pahit.
Bayangkan, misalnya saja, proses kemunculan teori Konspirasi Yahudi: Si pengarang mengalami berbagai rasa dan kesulitan yang terlalu, seperti, “Kenapa aku miskin?”; “Kenapa hidupku kurang enak?”; “Kenapa aku enggak bisa punya cewek?” Jiwa dan raganya terus-terusan tertekan, baik dari dalam maupun luar.


20200216

An Evening of Long Goodbyes, Bab 14 (7/7) (Paul Murray, 2003)

“Ini fiasko!” jeritku. “Anjing-anjing lainnya itu bahkan tidak berusaha! Buat apa balapan kalau mereka terlalu takut untuk mengalahkan dia?”

Baru saja aku mengatakan begitu, desir kekhawatiran menyapu tribune. Tahu-tahu salah seekor anjing terlepas dari kumpulan itu dan dengan segera hampir menyusul—yang tidaklah sulit mengingat Macan Keltik memiliki segenap kekuatan tank Panzer.

“Anjing yang nekat,” salah seorang petaruh di samping kami berucap segan.

“Nekat apanya,” sahut temannya. “Lebih seperti ia lupa apa yang mestinya ia lakukan.”

“Itu dia!” Frank berbisik padaku.

Aku segera mendapati yang terjadi. Seorang bujang di baris depan ujung tribune telah membuka sebungkus roti lapis, dan Malam Perpisahan yang Panjang menangkap pemandangan itu. Para penonton boleh mengolok dan merutuk dia semau mereka sekarang. Aku tahu bahwa yang dipikirkan anjing tersebut hanyalah roti lapis itu, dan ia tidak akan teralihkan, tidak oleh para penonton, tidak pula oleh garis finis yang tampak di depan, ataupun tatapan menakut-nakuti yang dilontarkan si anjing yang lebih besar yang diiringinya—


20200209

An Evening of Long Goodbyes, Bab 14 (6/7) (Paul Murray, 2003)

Terus terang, pada awalnya ide ini tidak terasa meyakinkan, apalagi ketika kami membalik saku dan mendapati hanya ada empat paun tujuh puluh delapan sen dalam bentuk receh (dari Frank) serta sebutir koral berwarna aneh dari Pantai Killiney (dariku) sebagai jaminan. Namun setelah kami membawa Droyd kembali ke flat dan meletakkannya di kasur kamar Frank serta memblokade pintu dengan sofa, lemari, dan satu set barbel yang terus saja lepas dari batangnya, lalu memberi tahu Laura supaya jangan membolehkan dia keluar apa pun yang terjadi, aku menggiring Frank ke van di luar untuk membahas ide tersebut. Bisa dimengerti Frank masih terguncang oleh rangkaian peristiwa ini dan supaya bisa berkonsentrasi mendengarkan ia bersikeras hendak merokok hasyis dulu supaya tenang, sementara aku sendiri merasa rada butuh menenangkan diri juga, sedang aku tidak punya tembakau, sehingga aku meminta punya Frank dan menaruhnya di pipaku. Kemudian, setelah kami berdua sama-sama lebih tenang, aku menguraikan rencanaku.


20200202

An Evening of Long Goodbyes, Bab 14 (5/7) (Paul Murray, 2003)

Kalau dilihat di peta, rute yang kami ambil tidak jauh berbeda dari pencarian awalku yang melelahkan tadi. Tetapi kali ini rasanya seperti berada di kota lain, yang terletak bersisian dengan kota gemerlap yang kukenal. Bagian kota yang ini tersusun dari jalan buntu, impase, serta jalan belakang yang penuh oleh kantung sampah, dan memiliki penghuninya tersendiri, yang hidup dengan bau urin serta pembusukan yang permanen, dan harus disenggol bangun dengan kaki sebelum bisa ditanyai tentang keberadaan Droyd. Adakalanya mereka terlalu mabuk untuk bicara. Adakalanya mereka mencoba mengarang cerita dengan harapan mendapat receh. Adakalanya mereka tidak merespons ketika disenggol dengan kaki, sehingga kami harus membalikkan badan mereka dan menyipitkan mata pada wajah mereka yang kotor hingga kami yakin mereka bukan Droyd. Luar biasa banyaknya jumlah orang-orang mengenaskan ini. Ketika kami hendak pulang melewati Grafton Street, aku menyadari bahwa orang-orang semacam itu ada di sini juga, sepanjang waktu berada di sini, menjalani kehidupan berheroin mereka, terkulai di samping kotak ATM, mengintai dalam kelompok-kelompok yang tampak mencurigakan di sekitar tempat sampah, meracau pada para pekerja kantor yang berjalan tergesa-gesa sambil pura-pura tidak mendengar, atau sekadar bergentayangan dengan mata putih semua menembus keramaian, sambil memegang gelas McDonald dan papan kardus yang tulisannya salah eja.