Laman

20200531

Rich Without Money - Selanjutnya: Barang-barang pokok (Tomi Astikainen, 2016)

Perut kenyang dan dahaga lenyap, namun masih merasa kedinginan? Bagaimanakah mungkin, misalnya saja, memperoleh pakaian gratis supaya tetap hangat? Bagaimana dengan barang-barang pokok lainnya? Di manakah menemukannya tanpa mengeluarkan sepeser uang pun? Sebenarnya berapa banyakkah yang kita perlukan untuk merasa puas?
Anda mungkin pernah mendengar istilah-istilah seperti pindah karier, ekonomi berbagi, barter, dan konsumsi bersama. Banyak blog, artikel, majalah, dan buku yang khusus membahas tentang ini. Semuanya keren! Pergeseran nilai sedang terjadi, benar kan?
Sistem yang mengharuskan pertumbuhan konstan, dikompori oleh konsumerisme tanpa tujuan, telah menghasilkan begitu banyak barang sampai-sampai kami yang di barat tidak tahu hendak di mana menyimpannya. Musafir tanpa uang satu ini, yang hanya menyimpan barang yang dapat dibawanya, merasa ngeri mendapati bahwa ada suatu industri bernama “persewaan gudang”—orang membayar ruang lebih sekadar untuk mengurung sampah yang tidak diperlukannya.


20200524

Rich Without Money - Sebanyak-banyaknya: Selamatkan yang Tersisa (Tomi Astikainen, 2016)


Di dunia ini kita menghabiskan makanan dalam jumlah gila-gilaan. Barangkali bak sampah supermarket merupakan peti harta karun terbesar bagi orang yang berharap dapat makan tanpa uang. Singkirkan bayangan bak sampah yang penuh tikus. Biasanya yang disebut “makanan sampah” ini di dunia barat bersih dan dibungkus plastik.
Kalau di toko ada satu kantung berisi sepuluh jeruk yang salah satunya telah jelek, mereka membuang seluruh kantung itu. Memulung bak sampah merupakan cara bagus untuk mengurangi penghamburan makanan dan memberi makan bukan hanya diri kita sendiri melainkan lebih banyak orang.

Temanku memarkir mobilnya di halaman belakang supermarket. Kami duduk di mobil mengamati petugas toko yang sedang bekerja keras: membawa keluar banyak makanan layak konsumsi sampai berkeringat bak atlet.


20200517

Rich Without Money - Sejumput: Berbagi Kelimpahan (Tomi Astikainen, 2016)


Sekarang Minggu di Friedrichshain, Berlin, Jerman. Lautan manusia terapung-apung dalam flat seluas 52 meter persegi. Sekitar tiga puluh mulut yang lapar berliur saat para tamu menanti-nanti makanan gratis yang kami janjikan pada mereka.
Toko bahan makanan hanya berjarak 200 meter dan tempat sampahnya diluapi oleh makanan kemasan, sayuran bersih, buah-buahan, makanan yang tinggal dipanaskan, daging, roti, dan produk susu-susuan—setiap hari. Malah tamu harian kami, sekitar 10 sampai 15 musafir, tidak cukup untuk menghabiskan semua yang kami temukan secara cuma-cuma. Inilah sebabnya kami mengundang sekelompok orang dari komunitas Couchsurfing untuk berbagi cinta.
Walaupun sebagian besar orang asing dengan satu sama lain, obrolan riang bersemangat hadir di sekitar. Dapur dikabuti aroma yang memikat. Lima pemuda tengah menyiapkan pesta malam ini. Kami mengenal sebagian dari mereka. Sebagian lagi baru mampir. Tidak ada pembagian tugas di sini. Yang bisa masak, masak. Yang ingin bantu-bantu, membersihkan.


20200510

Rich Without Money - Secuil: Eliksir Kehidupan (Tomi Astikainen, 2016)


Aku berada di kota Lausanne, Swiss, yang permai—kota suci bagi para bankir kapitalis. Aku memanjat bukit cepat-cepat. Kerongkonganku terasa kering sementara botolku kosong.
Seperti biasanya, aku segera memasuki bar terdekat—tanpa berharap bir gratis, melainkan cairan lain yang lebih penting. Aku menghampiri pelayan bar, seorang pria muda yang sedang mengeringkan gelas dengan selembar kain putih.
“Permisi, bolehkah saya minta sedikit air,” tanyaku seraya mengilaskan senyum.
“Soda atau biasa?” tanyanya sembari hendak membuka kulkas.
“Bukan, maksud saya air keran,” jelasku sambil menunjukkan botolku yang kosong.
“Di sini tidak ada yang gratis,” tukas si pelayan bar.


20200503

Rich Without Money - KEBUTUHAN-KEBUTUHAN ESENSIAL (Tomi Astikainen, 2016)

Aku dan teman-temanku mengadakan Hari Tanpa Belanja di Berlin. Ruang komunitas yang nyaman itu penuh sama sekali. Sekitar tujuh puluh orang berjejalan bak sarden di kaleng, menyantap makanan hasil memulung dari bak sampah, mendengarkan ceramah inspiratif, menonton Taste the Waste[1], serta membicarakan tentang pentingnya topik ini.
Salah seorang pembicara tamu menganjurkan cara belanja baru. Ia petani organik yang menjalankan sistem Pertanian Bersangga Komunitas (Community-Supported Agriculture/CSA). Jaringan sejawat ini menyediakan makanan bagi sekitar tiga ratus penduduk Berlin, semuanya bersumber dari satu pertanian. Ia membicarakan tentang realita pertanian dewasa ini yang mengejutkan. Di pertanian organik paling ketat sekalipun cukup beberapa orang saja yang bekerja untuk memberi makan ratusan orang. Bisa dimengerti, lingkaran CSA ini sangatlah populer. Sayuran dari pertanian organik lebih lezat dan lebih murah daripada yang ada di toko.