Laman

20260420

The Moneyless Manifesto: Tenaga Kerja (1/2) (Mark Boyle, 2012)

Mengingat sistem politik dan ekonomi yang kita jalani, berikut dongengan bahwa masyarakat sedemikianlah yang telah menyuapi kita sejak lahir, mudah untuk meyakini bahwa satu-satunya cara agar kita dapat mengelola tenaga kerja dalam perekonomian ini adalah dengan uang.

Sebagaimana dengan segala hal, sesungguhnya tidaklah mesti seperti ini. Itu hanyalah sebuah kisahan, satu di antara sekian, yang mana dapat kita ubah jika tidak lagi bermanfaat bagi kita. Cara hidup kita yang sekarang secara teoretis boleh jadi nyaman, tetapi jika kenyamanan itu ternyata merusak jiwa, masih bisakah disebut nyaman? Perekonomian modern tidak memberikan banyak manfaat bagi jiwa manusia; akibatnya banyak dari kita yang sengsara dan membenci pekerjaan kita sehari-hari. Berlawanan dengan keyakinan para pendukung uang yang paling antusias, uang sesungguhnya menghambat rasa kebebasan kita, dan melalui cara kerjanya menghentikan kita dari mengejar hal-hal yang benar-benar kita ingin lakukan dalam hidup. Amerika Serikat, negara yang memproklamasikan diri sebagai induk kebebasan, secara hukum tidak mewajibkan pemberi kerja agar memberikan cuti berbayar, dan hampir satu dari empat pekerja tidak mendapatkan cuti berbayar sama sekali.[1]



20260406

Artis Kampung (Nur Laili M., 2011)

Sudah sebulan ini keluargaku pindah ke Perumahan Griya Asri. Seperti perumahan-perumahan lainnya, banyak rumah yang bentuknya sama serta pepohonan yang belum besar ditanam di pinggir jalan. Jadi, bila siang masih terasa panas.

Di perumahan itu hanya ada satu pohon yang besar, yaitu pohon asem yang ada di sebelah kiri pos kamling depan perumahan. Pohon asem tadi sudah ada sebelum perumahan dibangun, dan sengaja tidak dipangkas. Karena adanya pohon asem itu, pos kamling kelihatan teduh dan enak untuk duduk-duduk.

Aku dan adikku masih bersekolah di SD. Aku kelas lima, adikku, Wati, kelas satu. Berbarengan dengan pindah rumah, sekolahku juga pindah. Sekarang aku bersekolah di SD Teladan 2. Kebetulan sekolah tersebut ada di seberang Perumahan Griya Asri. Jadi, kalau pergi dan pulang sekolah, aku dan adikku cukup berjalan kaki saja.

Hari pertama berangkat sekolah lewat pos kamling, aku kaget sekali. Di lincak (bangku panjang dari bambu) pos kamling ada seorang lelaki yang aneh sedang duduk. Perawakannya ceking tinggi, rambut jabrik disemir kuning seperti rambut bule, celana jin usang hingga sudah pudar warnanya, sepatu bot hitam, kaus oblong putih penuh tulisan, jaket kulit, dan tangan kiri-kanan mengenakan gelang kulit berbesi lancip-lancip. Gayanya persis penyanyi rok.