Laman

20141027

Sputnik Sweetheart, Bab I 02/10 (Haruki Murakami, 1999)

Sumire seorang romantis akut, sedikit saja tatanan dalam gayanya--apa ada­nya dalam menghadapi dunia dan senang menjadikannya bergejolak. Buatlah ia bi­ca­ra, ia akan meracau tak henti-henti. Tapi kalau bersama orang yang tidak cocok de­ngannya--dengan kata lain, kebanyakan orang di dunia ini--ia hampir tidak akan mem­buka mulut. Ia kecanduan merokok, dan hitung saja berapa kali ia kehilangan ti­ket tiap kali mau menaiki kereta. Kadang ia begitu asyik dengan pikirannya sendiri sam­pai-sampai lupa makan. Tubuhnya pun sekurus anak-anak yatim piatu korban pe­rang dalam sebuah film Italia lawas--mirip tongkat yang ditempeli mata. Aku mau sa­ja memperlihatkan fotonya, tapi tidak punya. Ia tidak suka difoto. Tak ada ke­ingin­an­nya menunjukkan pada anak-cucu potretnya sebagai seorang seniman muda. Ka­lau saja ada foto Sumire pada waktu itu. Fotonya akan menjadi bukti yang berharga bah­wa orang tertentu dapat menjadi begitu istimewa.
Urutan kejadiannya simpang-siur dalam kepalaku. Wanita yang dicintai Sumire itu bernama Miu. Setidaknya begitulah orang memanggilnya. Aku tidak tahu na­ma­nya yang sebenarnya, yang nantinya akan menjadi masalah, tapi sekali lagi aku ke­ja­uh­an menceritakannya. Miu berkebangsaan Korea. Tapi ia tidak bisa berbahasa Korea hing­ga memutuskan untuk mempelajarinya pada usia pertengahan duapuluh. Ia lahir dan dibesarkan di Jepang lalu melanjutkan studi di sebuah akademi musik di Prancis. Ja­di selain bahasa Jepang, ia juga fasih berbahasa Prancis dan Inggris. Pakaiannya se­la­lu bagus dan sopan, dengan perhiasan yang mahal namun tak mencolok. Selain itu ia mengendarai Jaguar 12 silinder warna biru laut.


20141020

Sputnik Sweetheart, Bab I 01/10 (Haruki Murakami, 1999)

Sputnik



Pada 4 Oktober 1957, Uni Soviet meluncurkan satelit buatan manusia per­ta­ma, Sputnik I, dari Baikanor Space Centre di Republik Kazakhstan. Sputnik yang ber­di­a­meter 58 cm dan berbobot 83,6 kilogram itu mengitari Bumi selama 96 menit 12 de­tik.
Pada 3 November tahun yang sama, Sputnik II berhasil diluncurkan dengan mem­bawa seekor anjing bernama Laika. Laika menjadi makhluk hidup pertama yang me­ninggalkan atmosfer Bumi. Namun satelit tersebut tidak pernah ditemukan kem­ba­li. Laika berakhir sebagai korban dari kepentingan penelitian biologi di luar ang­ka­sa.

dari The Complete Chronicle of World History





1



Pada musim semi ketika usianya duapuluh-dua tahun, Sumire jatuh cinta untuk per­ta­ma kalinya. Cinta yang bergelora, bagaikan tornado yang menyapu penjuru da­rat­an--meratakan apapun yang dilewatinya, melontarkan semuanya ke udara, men­ca­bik-cabiknya dan melumatnya hingga menjadi serpihan. Tak sedetikpun kekuatan tor­nado itu mereda kala menggerus samudera, memorak-porandakan Angkor Wat, meng­hanguskan hutan India beserta segala isinya, menjelma badai pasir di gurun Per­sia, hingga meluruhkan kota berbenteng nan eksotis menjadi lautan debu. Sing­kat­nya, cinta yang teramat besar. Orang yang dicintainya itu berusia tujuhbelas tahun le­bih tua. Dan sudah menikah. Dan, perlu kutambahkan juga, seorang wanita. Dari si­ni­lah semuanya bermula, dan berakhir. Hampir.


20141013

Hari Ini Akan Jadi Hari yang Tenang (Amy Hempel, 1986)

“Mestinya ada jalan lain di sekitar sini,” si anak lelaki berkata. “Kalau tahu-tahu ada gempa, jembatannya bakal runtuh. Tinggal jalan di ujung-ujung saja yang tersisa.”

Ia melirik kakaknya dengan puas.

“Kamu menakut-nakuti kakakmu saja,” kata si ayah. “Itu tidak benar.”

“Tidak, sungguh,” anak lelaki itu memaksa, “aku dengar burung-burung waktu tengah malam. Bukannya itu peringatan?”

Si anak perempuan melempar pandangan beracun pada adiknya, lalu meraup setangkup Raisinets. Ketiganya terkurung kemacetan di Jembatan Golden Gate.

Pagi itu, sebelum membangunkan anak-anaknya, si ayah membatalkan les musik mereka. Ia memutuskan untuk melewatkan seharian itu bersama-sama. Ia ingin tahu bagaimana anak-anaknya, itu saja. Hanya—bagaimana sih mereka. Ia pikir anak-anaknya sama mandiri dengan anjing-anjing yang dapat membawa tali kekangnya sendiri. Tapi bisa saja salah.


20141006

Katakan Ya (Tobias Wolff, 1985)

Mereka sedang mencuci piring bersama-sama. Istrinya yang mencuci sedangkan lelaki itu yang mengeringkan dengan lap. Lelaki itu yang mencuci pada malam sebelumnya. Tidak seperti kebanyakan lelaki lainnya yang dia kenal, dia benar-benar rela menyingsingkan lengan bajunya untuk pekerjaan rumah. Beberapa bulan sebelumnya dia mendengar seorang teman mengucapkan selamat kepada istrinya karena memiliki suami yang penuh perhatian. Pikirnya, aku berusaha. Membantu mencuci piring adalah cara yang dilakukannya untuk menunjukkan betapa penuh perhatian dirinya.

Mereka membicarakan berbagai hal. Entah bagaimana mereka sampai pada topik bagaimana bila orang kulit putih menikah dengan orang kulit hitam. Setelah mempertimbangkan banyak hal, menurutnya itu gagasan yang buruk.

“Kenapa?” istrinya bertanya.

Kening perempuan itu berkerut, bibir bawahnya digigit, sementara tatapannya terpaku ke suatu tempat. Dengan tampang seperti itu, lelaki itu tahu dia sebaiknya menutup mulut, tapi dia tidak pernah melakukannya. Sebenarnya itu membuatnya bicara lebih banyak. Istrinya menunjukkan tampang seperti itu sekarang.