Laman

20150727

Sekarang Kamu Bisa Menemukan Cinta (Ramona Ausubel, 2014)

 
Kamu kesepian, tapi tidak semestinya kamu merasa begitu. Kamu punya banyak kualitas yang hebat! Bayangkan saja semua wanita lajang di luar sana yang menanti kabar darimu. Apakah kamu mencari cinta abadi atau kesenangan saja, ini satu-satunya panduan kencan daring yang kamu butuhkan. Dalam sejam, kamu akan menuju kebahagiaan abadi.

Mari kita mulai. Ketika membuat nama pengguna, ingatlah bahwa itu harus singkat dan gampang diingat. Sesuaikan dengan pribadimu. Kalau kamu penari, bisa coba: hipdancer21.

Temukan aku di cypclops15. Cyclops 1-14 sudah ada yang pakai.

Sekarang pilihlah kata-kata perkenalan yang akan memikat wanita yang kamu inginkan. Rahasianya: Jadilah yang lain daripada yang lain.

Tinggiku enam meter dan aku punya satu mata yang sangat besar.

Apa saja minatmu? Yang jujur tapi menarik, ya.


20150718

Labirin (Amelia Gray, 2015)


Dale telah membaca banyak tentang mitologi Yunani. Jadi sewaktu ia bilang kalau ada kejutan untuk kami di Jambore Labu yang diadakannya, kami tahu ia tidak main-main. Jambore itu dilangsungkan pada akhir minggu di lahan miliknya dalam rangka mengumpulkan warga kota dan menggalang dana untuk dinas damkar. Acaranya menampilkan hayride[1], melukis wajah, dan cakewalk[2] yang menempati seluruh sisi pelataran, namun labirin jagungnyalah yang paling menjadi sorotan. 

Belum juga ia selesai bersiap-siap, para penggila susur labirin sudah mengantre. Kumasukkan lima dolar ke dalam ember seperti yang lainnya.

“Cuma kali ini labirinnya bukan labirin biasa,” ucap Dale sambil menata bal jerami terakhir di dekat labu-labu yang diambil dari persil. “Labirin yang satu ini benar-benar labirin.”

Bisik-bisik bermunculan. Wanita yang memegang arumanis ingin mengetahui perbedaannya.


20150709

Penggalan: Idle Days in Patagonia (W. H. Hudson, 1893)



[Kesunyian Gurun Pasir]

. . . Jika ada suatu hal serupa ingatan bersejarah dalam diri kita, maka tidaklah aneh bahwa momen terindah dalam hidup—baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan—ialah ketika Alam menghampiri dan mengambil alat musiknya yang terabaikan, lalu memainkan sepenggal melodi purba yang lama tak terdengar di muka bumi.

Barangkali timbul pertanyaan: Jika sewaktu-waktu Alam memberikan pengaruh yang ganjil ini kepada kita, sekonyong-konyong memulihkan harmoni yang telah lama hilang di antara organisme dan lingkungan, mengapa pengalaman itu lebih terasakan di gurun Patagonia ketimbang di tempat-tempat terpencil lainnya—sebuah gurun tanpa air, tempat suara-suara hewan jarang terdengar, dan vegetasinya berwarna kelabu alih-alih hijau? Saya dapat mengajukan satu alasan sehubungan dengan keadaan saya sendiri yang begitu terpengaruh olehnya. Di hutan dan belukar subtropis, begitupula di rimba di wilayah beriklim sedang—apabila kita telah terbiasa mengamatinya—perhatian terpikat oleh vegetasi hijau yang elok, bebungaan dan serangga berwarna cerah, serta nyanyian dan hiruknya kehidupan burung. Ada pergerakan dan kecerahan. Wujud-wujud baru hewan dan tumbuhan terus-menerus bermunculan, membangkitkan rasa ingin tahu dan terkaan. Saking sibuknya pikiran oleh objek-objek baru sampai-sampai keseluruhan pengaruh alam liar tidak begitu terasa. Di Patagonia, monotonnya daratan, luasnya bebukitan rendah, kelabunya semesta yang tak ada habisnya, serta tiadanya wujud-wujud hewan dan objek yang baru bagi mata, membukakan pikiran dan membebaskannya untuk menyambut kesan penampakan alam secara menyeluruh. Pemandangannya menyerupai lautan, sebab terbentang sedemikian jauhnya tanpa peralihan, tanpa batas; namun tanpa kemilau air, corak akibat bayangan dan sinar mentari maupun jauh-dekatnya jarak, serta gerakan ombak dan putihnya buih. Pemandangan itu tampak purba, tandus, damai senantiasa, seakan sudah berupa gurun sejak dahulu kala dan akan tetap gurun selamanya. Kita tahu penghuni manusianya hanyalah segelintir pengembara liar, yang hidup dengan berburu sebagaimana yang dilakukan oleh leluhur mereka selama ribuan tahun. Selain itu, boleh jadi tidak ada tanda-tanda pendudukan manusia di savana dan pampa yang subur, namun seorang pengelana tahu bahwa pada akhirnya laju pertumbuhan umat manusia akan menyebabkan kedatangan mereka disertai gerombolan dan gembalaan, sehingga tidak akan ada lagi ketandusan dan kesunyiannya yang bahari. Pemikiran ini selayaknya hubungan antar manusia, mengurangi pengaruh dari nuansa alam liar. Di Patagonia, pikiran tidak dapat dipengaruhi oleh gagasan ataupun khayalan untuk mengadakan perubahan-perubahan melalui tangan manusia. Di sana tidak ada air, tanahnya yang kersang berupa pasir dan kerikil—bebatuan koral yang dibentuk oleh tenaga lautan purba, sebelum Eropa ada. Tidak ada yang tumbuh selain benda-benda tandus yang dikasihi alam—onak, semak-semak berkayu, serta berkas-berkas rumput liar yang berpencaran.