Sudah sebulan ini keluargaku pindah ke Perumahan
Griya Asri. Seperti perumahan-perumahan lainnya, banyak rumah yang bentuknya
sama serta pepohonan yang belum besar ditanam di pinggir jalan. Jadi, bila
siang masih terasa panas.
Di perumahan itu hanya ada satu pohon yang besar,
yaitu pohon asem yang ada di sebelah kiri pos kamling depan perumahan. Pohon
asem tadi sudah ada sebelum perumahan dibangun, dan sengaja tidak dipangkas.
Karena adanya pohon asem itu, pos kamling kelihatan teduh dan enak untuk
duduk-duduk.
Aku dan adikku masih bersekolah di SD. Aku kelas
lima, adikku, Wati, kelas satu. Berbarengan dengan pindah rumah, sekolahku juga
pindah. Sekarang aku bersekolah di SD Teladan 2. Kebetulan sekolah tersebut ada
di seberang Perumahan Griya Asri. Jadi, kalau pergi dan pulang sekolah, aku dan
adikku cukup berjalan kaki saja.
Hari pertama berangkat sekolah lewat pos kamling, aku kaget sekali. Di lincak (bangku panjang dari bambu) pos kamling ada seorang lelaki yang aneh sedang duduk. Perawakannya ceking tinggi, rambut jabrik disemir kuning seperti rambut bule, celana jin usang hingga sudah pudar warnanya, sepatu bot hitam, kaus oblong putih penuh tulisan, jaket kulit, dan tangan kiri-kanan mengenakan gelang kulit berbesi lancip-lancip. Gayanya persis penyanyi rok.