Sudah sebulan ini keluargaku pindah ke Perumahan
Griya Asri. Seperti perumahan-perumahan lainnya, banyak rumah yang bentuknya
sama serta pepohonan yang belum besar ditanam di pinggir jalan. Jadi, bila
siang masih terasa panas.
Di perumahan itu hanya ada satu pohon yang besar,
yaitu pohon asem yang ada di sebelah kiri pos kamling depan perumahan. Pohon
asem tadi sudah ada sebelum perumahan dibangun, dan sengaja tidak dipangkas.
Karena adanya pohon asem itu, pos kamling kelihatan teduh dan enak untuk
duduk-duduk.
Aku dan adikku masih bersekolah di SD. Aku kelas
lima, adikku, Wati, kelas satu. Berbarengan dengan pindah rumah, sekolahku juga
pindah. Sekarang aku bersekolah di SD Teladan 2. Kebetulan sekolah tersebut ada
di seberang Perumahan Griya Asri. Jadi, kalau pergi dan pulang sekolah, aku dan
adikku cukup berjalan kaki saja.
Hari pertama berangkat sekolah lewat pos kamling, aku kaget sekali. Di lincak (bangku panjang dari bambu) pos kamling ada seorang lelaki yang aneh sedang duduk. Perawakannya ceking tinggi, rambut jabrik disemir kuning seperti rambut bule, celana jin usang hingga sudah pudar warnanya, sepatu bot hitam, kaus oblong putih penuh tulisan, jaket kulit, dan tangan kiri-kanan mengenakan gelang kulit berbesi lancip-lancip. Gayanya persis penyanyi rok.
Aku dan Wati tidak berani melihat orang tadi.
Kami berjalan menunduk sampai pinggir jalan raya. Ketika kami akan menyeberang
jalan, orang aneh tadi mendekati. Aku merasa takut, jangan-jangan orang itu
salah seorang penculik anak seperti di berita TV.
Makin didekati orang tadi, aku makin takut, malah
Wati mau menangis. Setelah orang itu dekat, Wati sudah tidak bisa menahan
tangisnya. Air matanya mengalir, tangannya menggondeli tanganku kencang sekali.
Aku jadi takut, kaki jadi terasa sangat berat. Seperti tidak menyadari kalau
aku dan adikku takut, orang aneh itu lantas berjalan melewati aku dan adikku
sampai tengah jalan lalu merentangkan tangannya untuk mencegat kendaraan yang
lewat.
Wah, ternyata orang tadi mau membantu aku dan
adikku menyeberang jalan yang lagi ramai. Mengerti begitu, aku dan adikku
lantas menyeberang. Sampai di seberang jalan, aku sudah tidak takut lagi
seperti tadi.
Usai kejadian tadi, aku jadi mengerti dan
mengenal orang aneh yang pekerjaannya membantu menyeberangkan jalan. Ternyata
bukan hanya aku yang diseberangkannya. Anak-anak lainnya juga diseberangkan
olehnya. Dari teman-teman di perumahan, aku jadi mengerti orang aneh itu
bernama Mas Johny. Kata orang-orang perumahan, Mas Johny pernah mengikuti lomba
menyanyi di TV, tapi tidak menang. Lah, sekeluarnya dari TV itu gaya Mas Johny
yang menyerupai penyanyi rok keterusan sampai terbawa dalam kesehariannya.
Karena gayanya yang aneh lagi senang membantu
menyeberangkan jalan, anak-anak perumahan senang kepada Mas Johny, begitu juga
aku. Sebetulnya bukan hanya karena itu anak-anak menyenanginya, tapi juga Mas
Johny pintar sekali mendongeng. Dongeng-dongengnya aneh dan lucu, seperti
dongeng sapi yang tidak mau makan rumput, tapi minta makan permen cokelat. Maka
ketika diperas susunya, yang keluar bukan susu, tapi es krim! Dongeng kambing
yang suara embiknya seperti suara klakson mobil, sehingga tiap kali mengembik
orang-orang pada kaget mengira ada mobil lewat. Supaya pada percaya dengan
dongengnya, Mas Johny berjanji akan membawa kambing itu ke perumahan besok
Minggu.
Horeee …. Horeee … aku dan teman-teman senang
sekali membayangkan Mas Johny membawa kambing yang suara embiknya seperti
klakson mobil.
Minggu sore anak-anak sudah pada berkumpul di
lincak pos kamling menunggu Mas Johny. Ditunggu sampai satu jam, Mas Johny
tidak muncul. Anak-anak sudah pada tidak sabar. Sampai azan magrib, Mas Johny
tetap tidak muncul. Akhirnya anak-anak pada pulang dengan kecewa berat.
Besoknya Mas Johny tetap tidak terlihat di pos
kamling. Besoknya lagi juga tetap tidak kelihatan. Banyak anak yang tetap
menunggu Mas Johny, begitu pula aku. Saban lewat pos kamling, aku celingukan
dulu siapa tahu Mas Johny ada di dalamnya. Tapi Mas Johny tetap tidak ada.
Sampai seminggu, tetap tidak kelihatan di pos kamling.
Sudah dua minggu, Mas Johny tidak kelihatan. Bila
sore, Pos Kamling jadi sepi tidak ada lagi suara bocah-bocah tertawa meriah.
Sampai sebulan Mas Johny tetap tidak kelihatan. Akhirnya anak-anak sudah lupa
kepada Mas Johny.
Seperti hari biasanya, berangkat sekolah aku
melewati pos kamling. Hari ini Pos Kamling agak lain. Di lincak ada lelaki yang
perawakannya menyerupai Mas Johny. Yang berbeda hanya caranya berpakaian. Kalau
Mas Johny kayak penyanyi rok, yang ini kayak artis dangdut.
Karena penasaran, aku memberanikan diri
mendekati. “Mas Johny, bukan?” Orang tadi menoleh. Orang itu lantas
memperkenalkan namanya: Jecky Irama, baru saja pulang dari Jakarta karena tidak
lolos audisi penyanyi dangdut di stasiun TV.
Sekarang pos kamling perumahan jadi ramai lagi.
Saban berangkat dan bubaran sekolah, anak-anak diseberangkan oleh laki-laki
yang mirip artis dangdut. Juga saban sore pos kamling penuh suara anak-anak.
Seperti Mas Johny, Mas Jecky Irama pintar mendongeng. Dongengnya lucu dan aneh,
seperti dongeng kambing yang lagi diperbaiki di bengkel karena suara embiknya kayak
suara mobil rusak.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar