Kepada ibuku di gunung, yang dahulu sempat tak boleh disebut ibu.
Siang
sedang terang-terangnya. Jalan Ciawang—Singaparna yang tak rata karena batu di sisi-sisinya, diteduhi pepohonan.
Selang-selang sawah yang akan dipaculi, dipanen, disiangi, terlewati,
pemandangan yang menggambarkan “eloknya” rupa desa. Dahulu, sekarang, sama
saja. Hanya saja sudah lain yang memeliharanya. Dan tentu makin melebar,
menandakan bahwa zaman tak bisa beristirahat. Terus berjalan.
Dahulu
jalan itu kerap ditengok para menak dari kota. Setiap orang yang dilewati pada
berjongkok sembari berulang-ulang menyembah, takutnya lebih daripada ke
malaikat maut. Juragan opsiner sengaja datang tanpa pemberitahuan. Datang ke
sekolah desa, juragan guru kedapatan lagi mengantuk, malah sampai mendengkur.
Tapi anak-anak pada diam, lantaran “berabe” jika juragan guru marah.
Setelah itu tiba zaman Jepang. Suara kentungan sekali dua kali dan tiga kali atau berkali-kali, sempat menjadi refleks badan warga desa, berlarian ke dalam lubang persembunyian atau keluar sembari bersorak, kalau dunia belum lebur kiamat oleh bom yang telah menakuti mereka.
Digantikan
lagi oleh zaman pemberontakan. Pejuang-pejuang yang jabrik rambutnya, lebat
kumis dan jenggotnya setelah kembali dari front kemudian berbual bahwa banyak
orang Belanda telah dibedilnya, bahwa banyak bedil telah direbutnya; bicara
demikian sembari sudut matanya melirik mojang desa yang bercita-cita menjadi asywi,
tetapi tidak diizinkan oleh orang tuanya, sebab ia anak haji, juga ajengan.
Yang
mengungsi dari kota meramaikan pedesaan waktu itu. Desa ujug-ujug jadi kota.
Bangsa Indonesia yang tidak mengungsi dianggap sebagai
“pengkhianat” negara.
Datang
pula zaman kampanye. Datangnya bersamaan dengan longsor kekacauan dari Gunung
Galunggung, sekarang pemimpin NU, yang berpidato di pesantren yang ajengannya
pro NU, besoknya bapak Masyumi di masjid berdagang partainya, lusanya bapak PNI
di balai desa, terus ahli biantara (dari PKI pidatonya penuh nafsu akan membela
rakyat, sembari menunjuk-nunjuk padi panenan terdengar janji yang tentu banyak
orang tertarik). Malamnya dibakar.
Memang
sekarang rakyat desa sudah banyak pengalaman; ada sukanya, banyak susahnya. Ke
depannya masih banyak pula zaman-zaman yang harus dijalani. Mereka percaya pada suatu masa keselamatan menanti, meskipun bisa jadi masih jauh.
Itu
gambaran kasar sepintas.
Tapi
Bi Empat hafal sekali akan kejadian-kejadian penting di desanya. Malah apabila
pengalamannya dibukukan, tentu lebih tebal daripada Qur’an.
Untuk
kesekian kalinya Bi Empat menapaki lagi jalan Ciawang—Singaparna. Bagian yang
bekas diinjak orang di sisi jalan berbelok-belok lenyap di pengkolan.
Sesekali
ia mengerling ke laki-laki yang berjalan di depannya. Tapi lengannya tidak
lepas dari memegangi pergelangan tangan anak laki-laki umur tujuh tahun.
Roman
Bi Empat terlihat suram. Tapi bukan karena matahari memanaskan jagat. Kalau
begitu, tentu ada satu hal yang menyebabkan Bi Empat merasakan kesedihan.
Hati
yang retak makin belah oleh omongan anak yang dituntunnya. Ketika ada alap-alap
terbang merendah lalu mengepak-ngepakkan sayapnya di atas saung, anak itu
berteriak: “Tuh, alap-alap, Ma! Endang suruh menari, ya: Alap-alap menarilah,
nanti dikasih kadal buntung, kadal buntung sisi saung ….” Anak itu bertepuk
tangan.
Bi
Empat memandang teramat dalam. Dua titik air terasakan di sudut mata. Tak lama
keluar, turun membasahi pipinya, dan menguap tinggal bekasnya. Karena mendengar
omongan anak tadi, terdengar lagi oleh telinga hatinya pertanyaan-pertanyaan
dari mulut itu juga yang tidak akan bisa ditiadakan oleh yang kepengin tahu:
“Ma, kenapa setelah siang ada malam? Kenapa setelah malam jadi siang? Di mana
malaikat yang menyembunyikan matahari? Di langit? Kenapa tidak jatuh? Bisa
terbang? Seperti alap-alap? Kenapa bukan tikus? Tidak makan apa-apa? Seperti
burung-burungan?”
Samar-samar
di tengah sawah ada perempuan. Ia mengepit bakul yang diisi padi
bertangkai-tangkai.
“Itu
Ma Anah?”
Berdebar-debar,
hati Bi Empat makin pecah. Bisa jadi karena mendengar kata “Ma Anah” yang
sampai mengejutkan hatinya. Di hatinya pun terdengar cakap-cakap, suara anak
itu dahulu, begitu jelas: “Ma, kenapa Endang jadi anak Ema? Kalau tidak ada
Ema, Endang tidak bakal ada? Si Tisna, si Ucu juga bukan anak Ema? Kenapa
ibunya bukan Ema? Kenapa ya Ma …, kata Ma Anah, Endang bukan anak Ema? Bohong?
Kenapa dulu tidak diajari oleh ibunya? Padahal Ma Anah suka menasihati
anaknya?”
.
Matahari
lurus di atas ubun-ubun yang lagi pada berjalan. Rombongan itu tidak seberapa
banyak mengobrol, hanya sesekali seorang lelaki di antara mereka menunjuki
tempat-tempat yang dahulu sempat dialaminya, sembari diceritakannya lagi kepada
kawan-kawan seperjalanannya. Namun dalam hatinya lelaki yang bercelana wol itu
bicara sendirian. Delapan tahun yang lalu ia mengenal jalan itu.
Tahun
1947. Di sana ia menderita kesengsaraan hidup. Masih terbayang sewaktu ia
datang ke situ hanya dengan badan, nyawa, dan pakaian yang menempel di badan. Begitu
pula dengan istrinya. Tentara Belanda makin menyerbu, yang mengungsi pun makin
bersembunyi ke tempat-tempat yang sebelumnya tak nyana bakal didatangi.
Ketika
ia menginjak lagi padang rumput Empang, hatinya terusik oleh pinang yang
tinggal tunggulnya, begitu pula kepahitan waktu itu tinggal bekasnya yang sudah
terpulihkan oleh mulusnya kelahiran. Masih terdengar tatkala istrinya bertanya
kepadanya sembari duduk selonjor bersandar pada pohon pinang serta memijak pada
batu yang sekarang sudah tidak ada: Masih jauhkah, Kang, perjalanan ini?
Sebentar, tak lama lagi, sepertinya di sana ada kampung. Ayo, kuatkan, Nyi!
Perut ini sudah terasa. Heh? Sudah terasa? Ia gesit mendekati istrinya sembari merabai
perut perempuan itu. Satu perjuangan perempuan yang ada di antara hidup dan
mati, disaksikanlah oleh matanya sendiri. Pinang itu pun menyaksikan. Alam tak berkata-kata,
sementara ia berteriak dalam hatinya menyambut yang keluar.
Cacah
jiwa dunia bertambah lagi seorang. Di sana banyak yang mati, di sini ada yang
lahir. Ia bersukacita. Dari sewaktu baru menikah, sudah dilamunkan kegembiraan
apabila memiliki anak laki-laki. Kebetulan dikabulkan punya anak laki-laki.
Keunggulan bagi mereka. Sudah dibayangkan pula kesenangan membesarkan anaknya.
Akan disekolahkan sampai tinggi. Kalau sudah pintar tentu bisa mencari rezeki
untuk dirinya sendiri beserta orang tuanya.
Tapi
begitu insaf akan kenyataan waktu itu, segala harapan lenyap habis, lantaran
kenyataan jauh beda daripada yang dicita-citakan. Kesenangan sebab memiliki
anak ditaklukkan oleh kesusahan yang sedang diderita, sekarang jadi ada tiga
perut yang harus diisi. Sekarang ada tiga badan yang harus diberi pakaian. Tapi
dari mana? Sanggupkah? Melirik ke istrinya yang sedang berbaring lemah,
pakaiannya tinggal yang menempel di badan. Begitu pula ia. Orok masih telanjang. Dari mana bajunya? Makanannya? Ah, ini
semua jadi pikiran yang tidak bisa terabaikan, sebab karang keputusasaan sudah
tersenggol oleh sampan kehidupannya. Galunggung di sebelah kulon yang agung tak
kuasa menolong. Langit biru tak bisa menghibur. Mereka sendiri yang harus
menghadapi dunia yang ada kalanya pada satu waktu bisa membahayakan nyawa.
Elang
kelak-kelik di atas kampung di tengah sawah. Tak lama turun dengan kepalanya ke
bawah, disambung oleh teriakan anak-anak karena anak ayamnya akan jadi korban
si elang. Mereka yang sedang berjalan melirik sejenak. Setelah itu anteng lagi
oleh lamunannya masing-masing. Bi Empat berhenti sebentar waktu terdengar ada
anak menangis tengah hari itu karena anak ayamnya
disambar elang, ingatannya melayang ke anak yang disayangi olehnya. Tapi kenapa
Bi Empat ingat kepada anak itu? Padahal anak yang sedang diingatnya itu sedang
dituntunnya? Kenapa ada rasa khawatir? Kenapa suara elang itu malah menambahkan
kenangan? Kenangannya bertambah kuat tatkala anak itu berkata kepadanya:
“Kenapa ayam tidak bisa terbang seperti elang, Ma?”
Bi
Empat tak menyahut. Tapi segera melengos seakan-akan tidak kuat mendengar suara
anak yang bertanya itu.
“Kenapa,
Ma?”
“Karena
dikutuk bidadari.”
“Bidadari?
Apa itu bidadari?”
“Bidadari,
putri cantik di surga.”
“Ma,
dongengkan bidadari, Ma!”
“Nanti
saja.”
“Nanti, ya, Ma, malam kalau sudah mengaji, ya, Ma?”
Sembari
mengiyakan Bi Empat melengos lagi, suaranya terisak keras, masih adakah waktu
untuk mendongengkan bidadari? Bisakah malam nanti? Melirik lagi ke elang yang
sudah hilang. Hatinya berkata-kata: “Itu elang tidak tahu belas kasihan.
Mencengkeram anak burung lain dibawa terbang entah ke mana. Yang pasti si
korban tetap jadi korban.”
Induk
ayam berkotek-kotek, mondar-mandir ke sana kemari. Anaknya hilang satu. Mau
terbang tidak bisa, mau menyusul tidak ada tenaga. Walaupun ia mau berjuang,
walaupun ia sayang pada anak, tapi takdir lebih kejam mencekiknya. Dua makhluk
berjauhan. Tak akan bisa berkumpul lagi. Ah, benar elang tak tahu kesusahan
yang lain. Tidak peduli yang lainnya itu
jadi berduka, asal sendirinya kenyang. Melarikan milik
yang lain tanpa izin. Tak menghargai, bahwa itu sudah dipelihara oleh induknya
dari masih dierami sampai menetas, sampai waktu ini. Nasibku ….
Pucuk
bambu bergerak diterjang angin.
Bayang-bayangnya pun terusik serupa jalan yang sedang mereka pijak. Banyak
burung berteduh di pepohonan karena panas yang
sebegitu terik. Melihat tanda-tandanya, pasti nanti akan hujan. Hujan besar
yang bagaikan penyeimbang kejamnya panas waktu ini.
Mega
di belah timur telah berjalan perlahan-lahan ke barat. Tak lama lagi sampai ke
puncak atau lereng gunung. Di sana mereka akan berhenti. Kedinginan jadi air.
Lalu hujan. Memang puncak Gunung Galunggung sudah dibungkus mega. Gurat lurus
yang membedakan warna biru di kaki gunung dengan warna putih di puncaknya yang
tadinya sudah tak terlihat kini kentara.
Lamunan
Bi Empat terhalau oleh omongan si anak: “Mau hujan, ya, Ma?”
“Iya,
mau hujan.”
“Air
hujan datangnya dari mana?”
“Dari
langit.”
“Dari
laut, Ndang,” si lelaki bercelana wol menyambung.
Anak
itu menoleh, lalu melirik lagi kepada Bi Empat sembari bertanya, “Kenapa air
hujan tidak asin seperti air mata, bukannya air laut itu asin, Ma?”
Yang
ditanya tak menjawab. Romannya kian bermuram durja. Bisa jadi karena anak itu
tahu air mata telah meleleh lagi ke pipinya, tapi segera diseka supaya tidak
terlihat oleh yang lain-lain. Terasakan air mata makin meruap bagaikan hujan
yang sudah kelihatan tanda-tandanya akan jatuh menyiram jagat.
“Dari
sini sudah dekat ke Singaparna, ya, Ma?”
Kata
dekat, tajam lebih daripada pisau yang tajam mengenai telinga Bi Empat. Bi
Empat menjerit sembari merangkul si anak dan menangis.
“Ini
anakku …! Ini anakku! Sungguh teganya …! Pa Lurah,
bagaimana saya?”
Lelaki
itu berhenti. Segera menghampiri Bi Empat yang sudah roboh. Anak yang
dirangkulnya tercengang tak berkata-kata dan memang ia tak mengetahui apa-apa.
Mega lewat ke atasnya. Bayang-bayang meneduhinya selagi maju ke belah barat.
Matahari bagaikan redup.
Laki-laki yang mengenakan kopiah itu berkata kepada laki-laki lainnya:
“Begini, Pa Camat (sembari melirik kepada lelaki yang mengenakan topi), Pa Maskur
(melirik kepada laki-laki yang bercelana wol itu). Saya merasa iba ….”
Agak
lama tiada yang memberikan jawaban. Semuanya bungkam.
“Bagaimana, Bah Emuh?” laki-laki yang disebut Pa Maskur bertanya kepada
kawannya.
“Menurut
Abah, sebagaimana yang sudah disampaikan tadi saja,” jawab Bah Emuh seraya
memberikan isyarat. “Bukankah Pa Lurah, Pa Camat juga sudah pada memaklumi?”
sembari melirik kepada lelaki yang mengenakan kopiah serta yang mengenakan topi
di hadapannya.
(Bersambung)
Cerpen “Bi Empat” karya Wahyu Wibisana mula-mula dimuat dalam Warga nomor 178, 30 April 1956, kemudian diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen Hiji Tanggal nu Dipasinikeun (PT. Dunia Pustaka Jaya bekerja sama dengan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda, cetakan kesatu, Oktober 2017, edisi elektronik, 2018, tersedia di Ipusnas).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar