Tulis Ulang Karya Orang
Selamat Datang
Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.
Pengarang/Penerjemah
20260820
Juru Mandi (1/2) (Ángela Pradelli, 2011)
20260806
Rasiah Nu Goreng Patut (3 - 4) (Soekria/Joehana, 1927)
Tersebutlah Nyi Usni di
rumahnya sebentar-sebentar turun naik ke rumah seperti ayam sedang bertelur,
lantaran khawatir sudah begitu lama Karnadi belum datang saja. Apalagi Si Arba,
anak kedua dari bawah, mendadak sakit. Badannya panas meruap. Tidurnya
tergeletak di lantai rumah panggung itu, bersandarkan bantal tipis lantaran
terlalu sering dipakai atau sedikit kapuknya, lagi kotor, sama sekali tanpa
selimut.
“Emak!” ucap Si Arba menahan
tangis. “Bapa sudah datang?”
“Belum, Ujang, kan sedang
mencari rezeki, berjuang untuk Emak, Ujang, dan saudara-saudaramu,” sahut Nyi
Usni dan duduklah ia di pinggir Si Arba sembari menyusui bungsunya yang
digendong.
Tidak sampai lama datanglah
anak yang sulung habis bermain, berjalan timpang sembari menangis keras.
Telapak kakinya mengeluarkan darah.
“Aduh, Emak, kakiku tertusuk beling!”
20260720
Rasiah Nu Goreng Patut (1 - 2) (Soekria/Joehana, 1927)
Pada suatu pagi, gunung-gunung di sekeliling Kota Bandung tampak diselimuti kabut hingga keputih-putihan, sungguh membuat haru, membangkitkan perasaan permai penduduk desa yang sedang bertani, pertanda akan musim hujan.
Esoknya kebetulan Jumat.
Sinar mentari meredup suram, bagai kalah nyali oleh mega yang digdaya sakti
tiada tara.
Makin lama mega makin mendung
hingga membentang hitam. Bianglala yang sedang turun ke lubuk bagaikan sutra
merah kekuningan. Kata orang bohong, itu tangga bidadari yang sedang mandi. Tak
sampai lama, hujan angin begitu lebat. Halilintar menyambar-nyambar. Makin lama
hujan makin besar, seakan-akan hendak menumpahkan air dari langit.
Tukang tani bersukacita lantaran setelah musim kemarau yang begitu mengkhawatirkan panas teriknya, sekarang turun hujan teramat lebatnya. Terlebih Jumat katanya memang banyak turun hujan. Akibatnya yang bersawah merasa tenteram, yang bertani jadi kaya.
20260706
RASIAH NU GORENG PATUT KARYA JOEHANA (Ajip Rosidi, 1983)
Karya sastra berbahasa Sunda umumnya hanya dibaca dan dikenal oleh orang Sunda saja, dan selainnya yang bisa berbahasa Sunda. Ada pula yang melampaui lingkungan orang Sunda, hanya tidak seberapa. Yang lumrah adalah dengan menyalinnya ke bahasa lain (bahasa daerah atau bahasa Indonesia). Umpama Wawacan Panji Wulung karya H. Muhammad Musa (1822 – 1886) disalin ke bahasa Jawa oleh Mangkunegara IV lalu disalin ke bahasa Madura; Pangeran Kornel Memed Sastrahadiprawira (1897 – 1932) disalin oleh Abdul Muis ke bahasa Melayu (Indonesia). Bagaimana tanggapan pembacanya (dalam bahasa Jawa, Madura, dan Indonesia), wallahualam.
Yang istimewa adalah karangan Joehana (= Yuhana, sandi asma Ahmad Bassach, meninggal 1930). Karyanya menyebar menyeberangi tapal batas kesundaan tanpa disalin terlebih dahulu ke bahasa lain. Atau tanpa disalin sebagai karya sastra. Media dunia modern, film, jadi titian untuk menyebarnya beberapa karangan Joehana menyeberangi tapal batas kesundaan. Di antaranya yang sampai difilmkan adalah Carios Eulis Acih (1926) dan Rasiah nu Goreng Patut (1927). Walaupun saya tidak sampai menyaksikan filmnya, hanya demikianlah hasil studi Tim Peneliti mengenai Yuhana Sastrawan Sunda (1979: 5-6). Tidak ada keterangan mengenai percakapan dalam film tersebut apakah menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Melayu.
20260620
Jagoan Cilik
Teng
… teng … teng … jam bandul yang ada di kamar
tengah telah berbunyi tujuh kali, tandanya sudah jam tujuh malam. Bapak dan Ibu
sudah bersiap-siap akan pergi ke resepsi.
“Agam,
cepat selesaikan PR-mu lalu tidur, ya,” Ibu memperingati Agam.
“Siap,
Komandan!” jawab Agam menirukan pak polisi bila menjawab perintah komandannya.
“Yu,
jangan lupa kunci pintu gerbang,” Bapak memperingati Yu Watik.
Setelah
Bapak dan Ibu pergi, Yu Watik cepat-cepat menutup pagar dan mengunci gerbang
depan. Yu Watik lalu ke ruang tengah menyetel TV.
TV
menyala. Yu Watik lalu duduk di karpet. Ceklik … ceklik, Yu Wati memijat remote
control mencari stasiun TV yang
memutar acara kesenangannya.
“Asyik … film hantu.” Yu Watik senang sekali lalu mengambil bantal yang ada di atas sofa. Bantal didekapnya erat untuk berjaga-jaga bila hantunya keluar.
20260606
Bi Empat (Wahyu Wibisana, 1956) (2/2)
Pa
Camat mengangguk-angguk sambil mengusap-usap kumisnya. Pa Lurah, memelototi Bah
Emuh, berkata: “Betul! Abah sudah memenangkan urusan ini, tapi Abah bisanya
berkata-kata saja. Itu saya mengerti, karena Abah memang ahlinya. Tapi, di
samping itu, Abah tidak membaca perasaan yang Abah juga tentu mempunyai ….”
Abah
Emuh yang mengenakan ikat kepala itu agak melotot. Hidungnya merah seperti
tomat masak karena kepanasan. Jawabnya gigih: “Ah, Pa Lurah suka begitu. Kalau
begini kan mengubah putusan yang tadi? Soal rasa memang adakalanya harus
dibuang, kalau kebenaran lebih penting daripada rasa.”
Pa Lurah melotot lagi. Sembari merogoh handuk kecil “good morning” dari saku celananya, lalu dipakai mengelap keringatnya, ia menambahkan tak kurang lincahnya dari perkataan Abah Emuh tadi: “Manusia yang tak punya rasa, miskin hidupnya. Di antaranya Abah (sembari menunjuk ke dada Bah Emuh seperti akan memistol) tandas sekali menyatakan, bahwa rasa harus dibuang pada urusan ini.”
20260520
Bi Empat (Wahyu Wibisana, 1956) (1/2)
Kepada ibuku di gunung, yang dahulu sempat tak boleh disebut ibu.
Siang
sedang terang-terangnya. Jalan Ciawang—Singaparna yang tak rata karena batu di sisi-sisinya, diteduhi pepohonan.
Selang-selang sawah yang akan dipaculi, dipanen, disiangi, terlewati,
pemandangan yang menggambarkan “eloknya” rupa desa. Dahulu, sekarang, sama
saja. Hanya saja sudah lain yang memeliharanya. Dan tentu makin melebar,
menandakan bahwa zaman tak bisa beristirahat. Terus berjalan.
Dahulu
jalan itu kerap ditengok para menak dari kota. Setiap orang yang dilewati pada
berjongkok sembari berulang-ulang menyembah, takutnya lebih daripada ke
malaikat maut. Juragan opsiner sengaja datang tanpa pemberitahuan. Datang ke
sekolah desa, juragan guru kedapatan lagi mengantuk, malah sampai mendengkur.
Tapi anak-anak pada diam, lantaran “berabe” jika juragan guru marah.
Setelah itu tiba zaman Jepang. Suara kentungan sekali dua kali dan tiga kali atau berkali-kali, sempat menjadi refleks badan warga desa, berlarian ke dalam lubang persembunyian atau keluar sembari bersorak, kalau dunia belum lebur kiamat oleh bom yang telah menakuti mereka.
20260506
The Moneyless Manifesto: Tenaga Kerja (2/2) (Mark Boyle, 2012)
Local Exchange Trading Schemes (LETS/Skema Niaga Pertukaran Lokal) dan Timebanks
(Bank Waktu)
Menambahkan
kedua skema ini ke buku mengenai hidup tanpa uang sudah sewajarnya
dipertanyakan, tetapi, sebagaimana yang telah saya sebutkan di bab dua, cara ini dapat menjadi batu loncatan bagi siapa saja
yang saat ini masih terbelit dalam ekonomi moneter, memungkinkan mereka untuk
nantinya membuka jalan ke ekonomi kasih jika mereka menghendakinya.
LETS adalah jaringan orang-orang yang bersepakat menggunakan mata uang lokal (contohnya paun LETS) untuk berbagi keterampilan mereka. Para anggotanya menciptakan dan menukarkan kredit yang mana, seperti dikemukakan oleh Peter North[1], “mereka sokong dengan komitmen untuk melakukan cukup pekerjaan untuk membayar ‘komitmen’ ini (bukan ‘utang’) dalam waktu yang sepatutnya di masa depan … kita tidak memerlukan uang lokal sebelum memulai—kita hanya membuat komitmen kerja untuk orang lain yang meminta kita nantinya.” Sedikit menyerupai Freeconomy, tetapi tanpa semangat tanpa pamrih yang hanya sungguh-sungguh diciptakan oleh ekonomi kasih, juga tanpa ikatan kesalingbergantungan yang hanya dapat secara efisien dirusak oleh uang serta perkreditan langsung-dan-tepat (immediate-and-exact crediting).