Kepada ibuku di gunung, yang dahulu sempat tak boleh disebut ibu.
Siang
sedang terang-terangnya. Jalan Ciawang—Singaparna yang tak rata karena batu di sisi-sisinya, diteduhi pepohonan.
Selang-selang sawah yang akan dipaculi, dipanen, disiangi, terlewati,
pemandangan yang menggambarkan “eloknya” rupa desa. Dahulu, sekarang, sama
saja. Hanya saja sudah lain yang memeliharanya. Dan tentu makin melebar,
menandakan bahwa zaman tak bisa beristirahat. Terus berjalan.
Dahulu
jalan itu kerap ditengok para menak dari kota. Setiap orang yang dilewati pada
berjongkok sembari berulang-ulang menyembah, takutnya lebih daripada ke
malaikat maut. Juragan opsiner sengaja datang tanpa pemberitahuan. Datang ke
sekolah desa, juragan guru kedapatan lagi mengantuk, malah sampai mendengkur.
Tapi anak-anak pada diam, lantaran “berabe” jika juragan guru marah.
Setelah itu tiba zaman Jepang. Suara kentungan sekali dua kali dan tiga kali atau berkali-kali, sempat menjadi refleks badan warga desa, berlarian ke dalam lubang persembunyian atau keluar sembari bersorak, kalau dunia belum lebur kiamat oleh bom yang telah menakuti mereka.