Tersebutlah Nyi Usni di
rumahnya sebentar-sebentar turun naik ke rumah seperti ayam sedang bertelur,
lantaran khawatir sudah begitu lama Karnadi belum datang saja. Apalagi Si Arba,
anak kedua dari bawah, mendadak sakit. Badannya panas meruap. Tidurnya
tergeletak di lantai rumah panggung itu, bersandarkan bantal tipis lantaran
terlalu sering dipakai atau sedikit kapuknya, lagi kotor, sama sekali tanpa
selimut.
“Emak!” ucap Si Arba menahan
tangis. “Bapa sudah datang?”
“Belum, Ujang, kan sedang
mencari rezeki, berjuang untuk Emak, Ujang, dan saudara-saudaramu,” sahut Nyi
Usni dan duduklah ia di pinggir Si Arba sembari menyusui bungsunya yang
digendong.
Tidak sampai lama datanglah
anak yang sulung habis bermain, berjalan timpang sembari menangis keras.
Telapak kakinya mengeluarkan darah.
“Aduh, Emak, kakiku tertusuk beling!”