Pada suatu pagi, gunung-gunung di sekeliling Kota Bandung tampak diselimuti kabut hingga keputih-putihan, sungguh membuat haru, membangkitkan perasaan permai penduduk desa yang sedang bertani, pertanda akan musim hujan.
Esoknya kebetulan Jumat.
Sinar mentari meredup suram, bagai kalah nyali oleh mega yang digdaya sakti
tiada tara.
Makin lama mega makin mendung
hingga membentang hitam. Bianglala yang sedang turun ke lubuk bagaikan sutra
merah kekuningan. Kata orang bohong, itu tangga bidadari yang sedang mandi. Tak
sampai lama, hujan angin begitu lebat. Halilintar menyambar-nyambar. Makin lama
hujan makin besar, seakan-akan hendak menumpahkan air dari langit.
Tukang tani bersukacita lantaran setelah musim kemarau yang begitu mengkhawatirkan panas teriknya, sekarang turun hujan teramat lebatnya. Terlebih Jumat katanya memang banyak turun hujan. Akibatnya yang bersawah merasa tenteram, yang bertani jadi kaya.