“Kalau sudah tahu begitu,
kenapa kamu pakai mereka?”
“Oh, yang benar saja. Siapa
lagi yang bisa mengantarkan koper remeh-temeh ke tempat antah-berantah?”
ujarnya diiringi senyum mengejek.
“Mereka memonopoli?”
“Benar.”
“Berengsek!” Kuhantamkan
bogemku ke meja. Jantungku segera saja mulai berdebar. Cepat-cepat aku
mengeluarkan botol obat dan menenggak dua tablet. Sekarang yang tersisa tinggal
tiga.
Beberapa saat, istriku tampak
melamun. Lantas ia memandang kepadaku. “Mungkin saja mereka sengaja menunda
koper itu, untuk balas dendam.”
“Ke—kenapa?” kutatap ia. “Apa
yang kamu rahasiakan?”
Ia menjawab dengan ekspresi serius, seakan-akan mau menyulut kecemasanku.“Yah, aku ada sedikit seteru sama sopir Daitsu. Ia datang sendirian untuk menjemput koper itu, dan memintaku membantunya mengangkat barang itu. Aku bilang salahnya sendiri tidak bawa teman, angkat saja sendiri, itu kan sudah tugas dia. Lantas ia memandangku dengan jahat sekali.”