Firasatku ternyata benar.
Seperti yang sudah kuduga,
firasat itu memberitahuku akan adanya “dinas pulau” sampai-sampai Manajer
Departemen tergesa memanggilku ke Ruang Rapat.
Biasanya, “dinas pulau”
diberikan kepada peneliti yang belum kawin. Sedangkan aku punya istri dan
seorang anak berumur tiga tahun.
Mengapa pula mesti Manajer
Departemen sendiri yang memberitahuku. Karena Kepala Bagian tidak bisa. Inilah
gelagat dari kebencian Kepala Bagian kepadaku. Dia lah orangnya yang merancang “dinas
pulau” ini. Aku yakin itu.
Aku akan ditempatkan di Pulau
Delima, sebuah pulau kecil di tengah-tengah Laut Jepang. Jaraknya kira-kira 30
meter dari pesisir yang paling terpencil di Prefektur Shimane.
“Apa ada telepon di pulau itu?” tanyaku kepada Manajer Departemen sembari memindai petanya.