Lampu-lampu menyala. Aku mengambil napas dalam-dalam dan bangkit. Aku meletakkan tanganku di bahunya dan memanggil namanya. Ia menggerak-gerakkan kepalanya beberapa kali, seakan-akan bicara sendiri. Aku secara sopan menerangkan bahwa filmnya sudah selesai dan kami harus pergi. Ia menghela diri ke arah depan tempat duduknya sedikit. Ia menurunkan kaki lalu bangkit. Secara keseluruhan, ia tampak lelah dan letih, tetapi matanya bersinar. Ketika kami keluar bioskop dari jalan samping, ia menutupi wajahnya dengan tangan sehingga cahaya yang cerah tak menyilaukannya. Lalu ia celingukan beberapa kali, seakan-akan lupa kami ada di mana. Hari itu termasuk hari kala matahari bersinar dan segalanya tampak meluap-luap oleh semangat. Bertiup angin sepoi yang sejuk menyenangkan. Siswa-siswi dari sekolah-sekolah Hadaf[1] melewati kami. Burung gereja berciap dan berkicau sambil bermain-main di atara cabang-cabang pepohonan. Aku mendadak diliputi perasaan yang teramat riang. Aku merangkul bahu Agha Baji dan dengan gembira bertanya, “Nah, Agha Baji, suka filmnya?”
Ia tersenyum lemah dan menganggukkan kepala untuk menandakan ya.
Kutanya, “Paham ceritanya?”
Baru beberapa jenak kemudian ia menjawab.
“Ya, tapi aku belum memahami cara
kerja dunia ini.”
***
Waktu yang padat sebelum ujian akhir. Tiap pagi-pagi sekali, aku melangkah
mondar-mandir di pinggir jalan belakang Kedutaan Besar Swiss di Jalan Pasteur.
Aku merutuki buku-buku dan aku merutuki diriku. Kapan pun nenekku melihatku,
dengan gusar ia berkata, “Nanti kamu kena diare! Batuk-batuk! Lihat dia! Kurus
kayak garu! Makan apalah! Tidur sebentar! Nanti kamu sakit!”
Aku tak bisa tahan dengan ocehan macam ini sekarang. Bibirku
bergerak-gerak sepanjang waktu bagai orang mengomat-ngamitkan jampi-jampi, atau
seperti kakek-kakek dengan gigi palsu. Aku meninjau lagi pelajaran-pelajaranku.
Fisika, Kimia, Aljabar, Biologi Hewan, Biologi Tumbuhan, Evolusi, Bahasa
Inggris …. Oh … oh! Apa rumusnya gesekan benda di permukaan datar? …. Pengaruh
asam klorida pada metana sialan …. Bagaimana cara menggambar elips pada sumbu
koordinat? …. Protein jenis apa yang dapat ditemukan dalam hemosianin
invertebrata? …. Apa maksudnya suberifikasi pada tumbuhan? …. Archaean,
Alconican, Cambrian, Silurian, Devonian adalah era Prakambrium dan era pertama
dalam geologi. . . Hamlet, yang ayahnya telah meninggal, adalah tokoh utama
dalam drama tersebut. . . Semuanya bercampur aduk dalam pikiranku.
Suatu pagi pukul setengah delapan, aku melihat Siavosh di Alun-alun
Pasteur. Aku tidak sedang hendak menyapa, tetapi kami berpapasan, sehingga
tidak mungkin aku menghindarinya. Berkali-kali, bolak-balik, kami bertanya,
“Apa kabar?” dan berkali-kali, bolak-balik, kami berterima kasih kepada satu
sama lain.
Mendadak aku ingat Agha Baji. Aku merasa cukup karib dengan sesama
peminat-bioskop itu sehingga menanyakan kabarnya. Dengan nada muram, Siavosh
bergumam bahwa Agha Baji sedang di rumah sakit. Sakit apa? Ia cuma berkata,
“Usia tua.”
Malam itu, ketika nenekku mendengar kabar ini, ia memaksaku berjanji agar
menjenguk Agha Baji di rumah sakit. Ia sendiri menderita sakit kaki sehingga
tidak bisa melangkah. Aku mengerang dan merintih
sedikit, tetapi menyetujui.
Keesokan siang, nenek telah membungkuskan hadiah dalam sebuntel kain
supaya aku membawakannya untuk Agha Baji. Aku mengangkat lapisan-lapisan kain
itu dan mengintip. Ada satu kantong penuh manisan plum, beberapa potong permen
batu dengan aroma safron yang memusingkan, satu set tasbih biru halus, serta pipa
rokok cair berikut toples kristalnya dan sekantong tembakau. Aku tidak tahu
Agha Baji juga merokok dengan pipa. Nenekku bilang, “Dia sudah berhenti, tetapi
sekarang bukan soal lagi.”
Di kamar rumah sakit itu ada dua ranjang. Ranjang yang dekat pintu kosong.
Agha Baji sedang berbaring di ranjang sebelah jendela, memandang langit.
Siavosh sedang duduk di satu-satunya kursi yang ada di ruangan itu, membaca
surat kabar. Aku masuk dan mengucap halo. Aku cukup cerdik untuk membeli tiga
tangkai anyelir. Kedua orang itu terkejut dan senang melihatku. Siavosh
berjalan di seputar ruangan dengan gugup. Akhirnya ia menemukan sebuah gelas
dan menaruh bunga-bunga itu di situ. Aku meletakkan buntel di pangkuan Agha
Baji dan menyampaikan salam nenekku. Penuh minat, ia membuka buntel itu. Penuh
penghargaan, ia mengeluarkan satu per satu hadiah dari dalamnya. Ketika
mendapati pipa rokok cair, ia berseri-seri gembira. Siavosh melontar tatapan
tak senang ke arahku, dan memperingatkan neneknya agar tidak mengisap pipa rokok
cair itu. Ia mau membuang kantong tembakaunya ke keranjang sampah di bawah
ranjang. Namun ia tidak jadi melakukannya. Mungkin dikiranya aku bakal
tersinggung. Ia menerangkan bahwa mengisap pipa rokok cair akan berbahaya bagi
Agha Baji. Ia melengkapi penjelasannya dengan beberapa istilah medis untuk
menekankan maksudnya. Kemudian ia memusatkan perhatian untuk melayaniku dengan
camilan. Aku berterima kasih kepadanya dan berkata aku harus pergi. Ia
memaksaku duduk, tetap di sana barang sebentar, dan makan sesuatu. Lalu ia
melirik jam tangannya dan mengatakan ia sudah terlambat masuk kelas. Ia
memberiku anjuran-anjuran yang penting juga yang ringan mengenai neneknya. Ia
menjabat tanganku lantas pergi. Sunyi beberapa saat. Aku melirik Agha Baji. Ia
menunjuk ke pipa rokok cair itu dengan alisnya. Ia mengedip memberikan dorongan
ke arahku, mengundangku ambil bagian dalam aksi terlarang itu. Senang bisa
bergabung, aku bangkit dan mengingatkan dia akan segala yang dikatakan Siavosh
tadi. Acuh tak acuh, ia menggeleng dan berkata, “Orang harus bisa menjadi
dokter bagi dirinya sendiri.”
Aku mengisi toples pipa rokok cair itu separuhnya dan memberikannya kepada
Agha Baji. Aku memasang pipa dari kayu itu di atas toples kristal tersebut.
Agha Baji membasahi corong pipa dengan mulutnya lalu memasangkan ke lubangnya.
Ia mengembus dan mulailah muncul gelembung-gelembung. Tampaknya ada terlalu
banyak air di toples itu. Ia meniupnya dan sekitar setengah cangkir air tumpah
dari pipa ke lantai. Ia mengembus lagi, dan kali ini, airnya tepat. Sembari
diawasinya, aku mengambil segenggam tembakau. Aku membasahinya di wastafel
kamar beberapa kali, kemudian meremas tembakau itu supaya menyerap air dengan
baik. Lalu aku menatanya di atas pipa. Mendadak kami berdua menyadari bahwa
kami telah melupakan hal yang paling penting: arang, di mana kami bisa
mendapatkan arang? Terusik oleh kekhilafan yang nyata ini, ia mengedarkan
pandang beberapa kali. Ia memikirkan suatu cara, dan bertanya, “tidak adakah
kedai kopi di sekitar sini?”
Aku mengambil kepala pipa rokok cair itu dan meninggalkan rumah sakit.
Tebakannya benar. Di sisi jalan sebelah rumah sakit, beberapa orang sedang
duduk di bawah naungan pohon dedalu yang rindang dan minum teh di depan sebuah
kedai kopi. Aku masuk dan minta arang panas. Pelayan kedai kopi itu dengan
lembut menempatkan beberapa potong arang panas ke kepala pipa. Aku mau
membayarnya, tetapi ia tidak mau. Dalam perjalanan kembali, aku terus meniup
arang itu supaya tetap membara. Aku masuk dan memberikan kepala pipa itu kepada
Agha Baji. Ia meletakkan pipa di lutut dan duduk tegak. Ia meneguk ludah, lalu
menggembungkan dadanya. Ia menaruh corong pipa di satu sudut mulutnya lalu
mulai mengisap. Berdiri tepat di depan dia, mengawasinya, aku terpikat. Saat
asap mulai keluar dari pipa, kelopak matanya menjadi sangat berat. Ia menutup
matanya dan melengkung ke kiri ke kanan bagaikan pendulum. Lirih ia
menyenandungkan lagu yang aku tak paham. Barangkali itu lagu dalam dialek
Lori. Walau aku tak memahami kata-katanya,
kedengarannya sedih.
Tiba-tiba pintu membuka dan seorang perawat pendek gemuk menggelinding
masuk kamar. Matanya membelalak menatap Agha Baji dan berkata, “Apa-apaan ini?!
Baiknya kita panggil juga Samia
Jamal[2] untuk meramaikan pesta!”
Agak tak acuh sedikit mengolok, Agha Baji menatap balik perawat itu. Lalu
tahu-tahu ia memulai lagu, “Andai kau katakan hendak mengunjungiku di
ranjang pesakitan, aku tak akan berpantang nikmatnya sakit, selama di dunia
ataupun di akhirat ….”
Perawat itu menyipitkan mata dan menggelengkan kepala berkali-kali. Lalu
dengan kemarahan yang dibuat-buat ia merampas pipa rokok cair itu dari kedua
tangan Agha Baji dan berkata, “Ketika air mengalir ke atas, kodok menyanyi lagu
abu-ata.”
Ia mengosongkan kepala pipa ke tempat sampah di bawah tempat tidur dan
menuangkan air dari toples. Sesudah itu, ia mendorong masuk sebuah kereta
beroda dari balik pintu ke dalam ruangan kemudian mengisi alat suntik dengan
obat berwarna merah dan air yang sudah disuling. Untuk pertama kalinya, ia
melirik ke arahku. Aku beranjak ke jendela dan memandang keluar. Tak begitu jauh, sekawanan merpati
sedang terbang. Salah satu dari kawanan itu
berwarna putih bersih dan terbang lebih tinggi daripada yang lain-lain. Tadinya
aku bermaksud mengalihkan pandangan hanya sampai perawat itu selesai menyuntik,
tetapi aku jadi sepenuhnya terpikat oleh merpati-merpati itu dan lupa waktu.
Bersendiri atau berkelompok, merpati-merpati itu bertengger di atap rumah dua
lantai di seberang jalan, kecuali si putih, yang masih saja terbang. Aku merasa
harus mengamati burung tersebut sampai nanti diam. Seakan-akan si merpati
mengetahui maksudku, ia menukik turun, hanya untuk terbang lebih tinggi lagi.
Kukatakan pada diriku bahwa jika merpati itu hinggap setelah aku menghitung
sampai tiga ratus, maka Agha Baji akan sembuh dan pulang. Aku mulai menghitung.
Namun di tengah-tengah, aku lupa apakah tadi aku mengatakan bahwa Agha Baji
akan pulang dengan sehat walafiat jika merpati itu hinggap sebelum aku
menghitung sampai tiga ratus atau setelah aku menghitung sampai tiga
ratus. Sekarang entahkah aku harus menghitung lambat atau cepat. Takutnya hidup
Agha Baji malah jadi bergantung pada hitunganku. Mendadak aku panik dan
jantungnya berdetak lebih cepat. Aku menyesal sudah membuat perjanjian ini
dengan diriku sendiri. Aku jadi khawatir dengan merpati itu. Makin mendekati
tiga ratus, makin aku khawatir. Aku memejamkan mata dan berhenti menghitung.
Aku membayangkan Agha Baji semasa mudanya. Aku belum pernah melihatnya sendiri
tetapi … rambut yang panjang mengikal, bagaikan sulaman bunga pada permadani
dinding, menjulur hingga lekuk pinggangnya. Keningnya semulus pualam. Mata
secokelat mata kijang. Alisnya berbentuk busur panah. Hidung bak sebutir kacang
chickpea. Bibir membelah jadi senyuman yang bagaikan kulit pistachio,
serta lesung di daguya adalah jurang bagi sejoli untuk meloncat. Aku membuka
mata. Setelah beberapa kali melakukan jungkir balik yang spektakuler sebagai
pemungkas dari penerbangannya, merpati itu akhirnya hinggap di antara
merpati-merpati lain dan lenyap dari pandangan. Aku berbalik dan mendapati mata
Agha Baji yang lelah dan berkaca-kaca. Aku tersenyum dan untuk memecah
keheningan aku berkata, “Agha Baji, ingat kan kita ke bioskop bareng?”
Ia menyipitkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala saat mengingatnya. Ia
bertanya, “Menurutmu kenapa si anak laki-laki itu menyimpan kerangka ibunya?”
Belum pernah aku memikirkan film Psycho dari sudut pandang itu. Aku
ingin menjelaskan bahwa setiap film punya perangkat untuk mengusik pemirsa.
Kerangka si ibu adalah perangkat pengusik itu dalam Psycho. Namun aku
kira penjelasan ini akan terlalu panjang dan ruwet. Maka kugunakan istilah yang
digunakan Hitchcock sendiri dan kukatakan, “Agha Baji, kerangka si ibu itu
istilahnya MacGuffin[3].”
Seketika aku menyesal mengatakan itu, karena sudah memamerkan
pengetahuanku, kepada Agha Baji di antara sekian orang. Diliputi malu, kutatap
dia. Wajahnya, yang berkerenyut kentara sekali tidak mengerti akan yang
kukatakan tadi, tahu-tahu mengembang. Ia tersenyum pahit dan menganggukkan kepala
seperti yang memahami. Ia memandang langit melalui jendela dan berkata, “Ya. Kamu benar sekali! Paku terakhir di
peti matiku … batu ujianku yang penghabisan!” Kulihat sekarang persoalannya
malah jadi makin rumit. Ketika aku mengatakan “MacGuffin”, yang Agha Baji
dengar malah “peti mati”. Aku biarkan saja, sembari diam-diam memikirkan apakah
yang menjadi MacGuffin bagi Agha Baji.
Agha Baji tidak
selamat dari rumah sakit itu. Satu setengah bulan kemudian, saat nenekku
kembali dari penguburan, suasana hatinya buruk akibat panas dan marah. Aku
meletakkan seguci air beserta es dan kipas angin dekat nenekku dan meninggalkan
rumah untuk menghindarinya. Ketika aku kembali malamnya, aku melihat dari
matanya yang merah bahwa nenekku sudah puas menangis. Makan malam dari
sisa-sisa. Kami duduk hening di lantai sekitar taplak meja. Aku
berlambat-lambat, menyuap sedikit-sedikit supaya Nenek memulai bicara. Akhirnya
Nenek melepas desahan panjang, dan berkata, “Apakah manusia itu? Keluh kesah
dan darah …. Semoga ia tenang dalam kuburnya—tak seorang pun menghargai
keinginannya—begitu pula sewaktu ia hidup, atau setelah ia meninggal. Kuharap
setidaknya keinginannya akan dihargai di akhirat.”
Penasaran,
kupandang Nenek. Ia bercerita bahwa menurut wasiat Agha Baji, mestinya mereka
menguburkannya bersama sebuah kotak, tetapi para penggali kubur menolak untuk
menurutinya. Perkara itu pun dirujuk ke wewenang yang lebih tinggi. Mereka juga
menentang, menyatakan bahwa itu melanggar peraturan. Akhirnya, mereka berembuk,
dan perkara itu dipecahkan dengan membeli tempat lain di samping kuburan Agha
Baji dan menguburkan kotak itu di situ. Heran, aku bertanya, “Kotak? Kotak
apa?”
Nenek bilang kotak
itu terbuat dari logam, sedikit lebih besar daripada kotak permen; ada
kuncinya, dan ketiga sisinya disegel. Tapi apakah yang ada di kota itu? Nenek
berpikir beberapa jenak dan berkata, “Hanya Tuhan yang tahu.”
Aku merasakan bulu
kudukku berdiri. Aku berdiri dan mulai berpacu mondar-mandir. Kataku,
“MacGuffin, ada MacGuffin di kotak itu!”
Seakan-akan yang
didengarnya itu hinaan, ia memberengutkan wajahnya dan berkata, “Apa
memangnya yang ada di kotak itu?”
Kataku, “Batu
ujian yang penghabisan … tangan Jeff … tidakkah Nenek ingat?”
Ia membeku. Tanpa
mengejap, ia kerlingkan matanya ke sana kemari, barangkali mengubrak-abrik
dalam ingatannya detail-detail dari masa lalu. Ia tampak seakan-akan mencurigai
sesuau. Namun ia lalu menggeleng beberapa kali, seperti menghapus hal tak enak
dari lempengan benaknya. Ia melambai-lambaikan tangannya ke arahku tanpa acuh
dan berkata, “Oh, pergi sana, pergilah dan jangan aneh-aneh! Itu omong kosong
tak berguna ….”
Ia tak dapat
terima perkataanku tadi, atau mungkin, ia cuma tak ingin.
Malam itu di tempat tidur, aku putuskan untuk pergi mengunjungi Siavosh besoknya. Tapi lalu aku berubah pikiran. Apa yang mau kukatakan kepadanya? Memberi dia kabar baik? Dan lagi pula, bagaimana aku bisa tahu spekulasiku itu benar? Kotak itu mungkin berisikan apa saja. Apa saja, termasuk tangan Jeff. Omong-omong, “Kenapa si anak laki-laki dalam film itu menyimpan kerangka ibunya?” Aku tak tahu, tapi aku pikir dalam dunia yang seluas ini, di antara tiga miliar orang yang hidup di dalamnya, hanya Agha Baji, dan mungkin juga Hitchcock, yang dapat mengetahui jawabannya.
Catatan Penerjemah: Cerita ini berlangsung pada pertengahan 1960-an, semasa pemerintahan Mohammad Reza Shah Pahlavi. Banyak subteks politis dan alusi ke Front Nasional Ketiga (faksi dari oposisi nasionalis terhadap Shah) merujuk kepada atmosfer persekusi politis dan ketakutan yang menyertai kediktatoran kerajaan. Informan polisi rahasia ada di antara para siswa dan administrasi sekolah. Saya berutang rasa terima kasih yang teristimewa kepada Safdar Taghizadeh dan Asghar Elahi yang telah mengabulkan perizinan untuk menerjemahkan cerita ini, yang terbit dalam antologi Cerita Pendek Penulis Kotemporer Iran dan Dunia (Teheran, 1973).
Terjemahan dari bahasa Persia ke bahasa Inggris oleh Nahid Mozzaffari, “Hitchcock and Agha Baji”, dalam Words Without Borders edisi Juli 2003 “Literary Border-Crossings in Iran”.
Behnam Dayani
Behnam Dayani adalah pengarang kumpulan cerita pendek, Hitchcock va Agha Baji.
Nahid Mozaffari
Nahid Mozaffari saat ini menjadi profesor tamu di Departemen Studi Timur Tengah dan Islam di Universitas New York. Sebelumnya, ia pernah mengajar di NYU di New York dan Paris serta di New School for Social Research. Ia meraih gelar doktor dalam bidang sejarah dan studi Timur Tengah dari Universitas Harvard.
Karyanya yang telah diterbitkan meliputi Strange Times, My Dear: The PEN Anthology of Contemporary Iranian Literature (Arcade Publishing 2005, 2013), “Culture and Resistance: Writing Back to Power” dalam Targeting Iran, David Barsamian, ed. (City Lights, 2007), dan sejumlah artikel tentang sejarah Iran awal abad kedua puluh. Saat ini ia berkontribusi dan menyunting The History of Slavery in Qajar Iran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar