Selamat Datang

Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.

Pengarang/Penerjemah

Agus Kurniawan (1) Aimee Bender (2) Alan Gratz (1) Alberto Manguel (1) Alejandro Zambra (1) Alex Patterson (1) Alexa Firat (1) Alexandre Najjar (1) Alice Guthrie (1) Alice Walker (1) Aliza Shevrin (1) Ambika Rao (1) Ambrose Bierce (1) Amelia Gray (1) Amy Hempel (1) Anders Widmark (2) Andrea G. Labinger (1) Andrew Driver (7) Ann Beattie (1) Anna Sophie Gross (1) Anne McLean (1) Aoi Matsushima (1) Ariel Urquiza (1) Behnam Dayani (3) Bel Kaufman (1) Brandon Geist (5) Catherine Rose Torres (1) César Aira (1) Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato (1) Chiba Mikio (1) Chikako Kobayashi (1) Chimamanda Ngozi Adichie (1) Chris Andrews (1) Christopher Moseley (1) Clark M. Zlotchew (6) Cynthia Ozick (1) David Herbert Lawrence (2) David Karashima (1) Dayeuh (2) Donald A. Yates (1) Dorothy Parker (1) Dorthe Nors (1) Ed Park (1) Elizabeth Harris (1) Estelle Gilson (1) Fernando Sorrentino (15) FiFadila (1) Fiona Barton (1) Francis Marion Crawford (2) Fumiko Enchi (1) Gabriel Gárcia Márquez (1) Giulio Mozzi (1) Grace Paley (1) Gregory Conti (1) Gregory Rabassa (1) Guillermo Fadanelli (1) Guillermo Martínez (1) Hari Kumar Nair (1) Haruki Murakami (24) Hector Hugh Munro (Saki) (2) Helena Maria Viramontes (1) Herbert Ernest Bates (1) Hitomi Yoshio (1) Ian MacDonald (1) Iris Maria Mielonen (1) Isaac Bashevis Singer (1) Italo Calvino (1) Jack Kerouac (2) Jacob dan Wilhelm Grimm (1) James Patterson (1) James Thurber (5) Jay Rubin (13) Jean Rhys (1) John Cheever (1) John Clare (1) John Updike (1) Jonas Karlsson (1) Jonathan Safran Foer (1) Jonathan Wright (1) Jorge Luis Borges (1) Juan José Millás (1) Julia Sherwood (1) K. S. Sivakumaran (1) Kader Abdolah (1) Kalaivaathy Kaleel (1) Karunia Sylviany Sambas (1) Kate Chopin (1) Katherine Mansfield (1) Keiichiro Hirano (5) Kevin Canty (1) Khaled Hosseini (1) Khan Mohammad Sind (1) Kurahashi Yumiko (1) László Krasznahorkai (1) Laura Wyrick (27) Laurie Thompson (1) Laurie Wilson (1) Lawrence Venuti (1) Liliana Heker (1) Lindsey Akashi (27) Liza Dalby (1) Lorrie Moore (5) Louise George Kittaka (1) Lynne E. Riggs (1) Mahmud Marhun (1) Malika Moustadraf (1) Marek Vadas (1) Marina Harss (1) Mark Boyle (30) Mark Sundeen (1) Mark Twain (2) Marshall Karp (1) Martin Aitken (1) Massimo Bontempelli (1) Megan McDowell (1) Megumi Fujino (1) Mehis Heinsaar (1) Michael Emmerich (1) Michele Aynesworth (3) Mieko Kawakami (1) Mihkel Mutt (1) Mildred Hernández (1) Mitsuyo Kakuta (1) Morgan Giles (1) Na’am al-Baz (1) Nahid Mozaffari (3) Naoko Awa (1) Naomi Lindstrom (1) Norman Thomas di Giovanni (1) Novianita (1) O. Henry (1) Ottilie Mulzet (1) Pamela Taylor (1) Paul Murray (54) Paul O'Neill (1) Pere Calders (1) Peter Matthiessen (1) Peter Sherwood (1) Philip Gabriel (11) Polly Barton (1) Ralph McCarthy (3) Ramona Ausubel (1) Ray Bradbury (3) Raymond Carver (2) Raymond Chandler (2) Rhett A. Butler (1) Robert Coover (3) Rokelle Lerner (359) Ruqayyah Kareem (1) Ryu Murakami (3) Ryuichiro Utsumi (1) S. Yumiko Hulvey (1) Sam Garrett (1) Sam Malissa (1) Samantha Schnee (1) Saud Alsanousi (1) Sebastiano Vassalli (1) Selina Hossain (1) Sergey Terentyevich Semyonov (1) Shabnam Nadiya (1) Sherwood Anderson (1) Shirin Nezammafi (1) Shun Medoruma (1) Sophie Lewis (1) Stephen Chbosky (10) Stephen Leacock (1) Susan Wilson (1) Suzumo Sakurai (1) Tatsuhiko Takimoto (27) Thomas C. Meehan (2) Tobias Hecht (1) Tobias Wolff (1) Tomi Astikainen (40) Toni Morisson (1) Toshiya Kamei (2) Ursula K. Le Guin (1) Vina Maria Agustina (2) Virginia Woolf (1) W. H. Hudson (1) Wahyu Wibisana (1) Wajahat Ali (1) Widya Suwarna (1) William Saroyan (1) William Somerset Maugham (1) Yasutaka Tsutsui (7) Yu Miri (1)

Bongkar Arsip

An Evening of Long Goodbyes, Bab 7 (2/2) (Paul Murray, 2003)

Apartemen Frank merupakan bagian dari bangunan tinggi berbata merah—dari era Georgia [1] , menurut penampakan jendela berbentuk busur di at...

20260206

Hitchcock dan Agha Baji (3/3) (Behnam Dayani, 1973)

Lampu-lampu menyala. Aku mengambil napas dalam-dalam dan bangkit. Aku meletakkan tanganku di bahunya dan memanggil namanya. Ia menggerak-gerakkan kepalanya beberapa kali, seakan-akan bicara sendiri. Aku secara sopan menerangkan bahwa filmnya sudah selesai dan kami harus pergi. Ia menghela diri ke arah depan tempat duduknya sedikit. Ia menurunkan kaki lalu bangkit. Secara keseluruhan, ia tampak lelah dan letih, tetapi matanya bersinar. Ketika kami keluar bioskop dari jalan samping, ia menutupi wajahnya dengan tangan sehingga cahaya yang cerah tak menyilaukannya. Lalu ia celingukan beberapa kali, seakan-akan lupa kami ada di mana. Hari itu termasuk hari kala matahari bersinar dan segalanya tampak meluap-luap oleh semangat. Bertiup angin sepoi yang sejuk menyenangkan. Siswa-siswi dari sekolah-sekolah Hadaf[1] melewati kami. Burung gereja berciap dan berkicau sambil bermain-main di atara cabang-cabang pepohonan. Aku mendadak diliputi perasaan yang teramat riang. Aku merangkul bahu Agha Baji dan dengan gembira bertanya, “Nah, Agha Baji, suka filmnya?”

Ia tersenyum lemah dan menganggukkan kepala untuk menandakan ya.

Kutanya, “Paham ceritanya?”

Baru beberapa jenak kemudian ia menjawab.

 “Ya, tapi aku belum memahami cara kerja dunia ini.”

***

Waktu yang padat sebelum ujian akhir. Tiap pagi-pagi sekali, aku melangkah mondar-mandir di pinggir jalan belakang Kedutaan Besar Swiss di Jalan Pasteur. Aku merutuki buku-buku dan aku merutuki diriku. Kapan pun nenekku melihatku, dengan gusar ia berkata, “Nanti kamu kena diare! Batuk-batuk! Lihat dia! Kurus kayak garu! Makan apalah! Tidur sebentar! Nanti kamu sakit!”

Aku tak bisa tahan dengan ocehan macam ini sekarang. Bibirku bergerak-gerak sepanjang waktu bagai orang mengomat-ngamitkan jampi-jampi, atau seperti kakek-kakek dengan gigi palsu. Aku meninjau lagi pelajaran-pelajaranku. Fisika, Kimia, Aljabar, Biologi Hewan, Biologi Tumbuhan, Evolusi, Bahasa Inggris …. Oh … oh! Apa rumusnya gesekan benda di permukaan datar? …. Pengaruh asam klorida pada metana sialan …. Bagaimana cara menggambar elips pada sumbu koordinat? …. Protein jenis apa yang dapat ditemukan dalam hemosianin invertebrata? …. Apa maksudnya suberifikasi pada tumbuhan? …. Archaean, Alconican, Cambrian, Silurian, Devonian adalah era Prakambrium dan era pertama dalam geologi. . . Hamlet, yang ayahnya telah meninggal, adalah tokoh utama dalam drama tersebut. . . Semuanya bercampur aduk dalam pikiranku.

Suatu pagi pukul setengah delapan, aku melihat Siavosh di Alun-alun Pasteur. Aku tidak sedang hendak menyapa, tetapi kami berpapasan, sehingga tidak mungkin aku menghindarinya. Berkali-kali, bolak-balik, kami bertanya, “Apa kabar?” dan berkali-kali, bolak-balik, kami berterima kasih kepada satu sama lain.

Mendadak aku ingat Agha Baji. Aku merasa cukup karib dengan sesama peminat-bioskop itu sehingga menanyakan kabarnya. Dengan nada muram, Siavosh bergumam bahwa Agha Baji sedang di rumah sakit. Sakit apa? Ia cuma berkata, “Usia tua.”

Malam itu, ketika nenekku mendengar kabar ini, ia memaksaku berjanji agar menjenguk Agha Baji di rumah sakit. Ia sendiri menderita sakit kaki sehingga tidak bisa melangkah. Aku mengerang dan merintih sedikit, tetapi menyetujui.

Keesokan siang, nenek telah membungkuskan hadiah dalam sebuntel kain supaya aku membawakannya untuk Agha Baji. Aku mengangkat lapisan-lapisan kain itu dan mengintip. Ada satu kantong penuh manisan plum, beberapa potong permen batu dengan aroma safron yang memusingkan, satu set tasbih biru halus, serta pipa rokok cair berikut toples kristalnya dan sekantong tembakau. Aku tidak tahu Agha Baji juga merokok dengan pipa. Nenekku bilang, “Dia sudah berhenti, tetapi sekarang bukan soal lagi.”

Di kamar rumah sakit itu ada dua ranjang. Ranjang yang dekat pintu kosong. Agha Baji sedang berbaring di ranjang sebelah jendela, memandang langit. Siavosh sedang duduk di satu-satunya kursi yang ada di ruangan itu, membaca surat kabar. Aku masuk dan mengucap halo. Aku cukup cerdik untuk membeli tiga tangkai anyelir. Kedua orang itu terkejut dan senang melihatku. Siavosh berjalan di seputar ruangan dengan gugup. Akhirnya ia menemukan sebuah gelas dan menaruh bunga-bunga itu di situ. Aku meletakkan buntel di pangkuan Agha Baji dan menyampaikan salam nenekku. Penuh minat, ia membuka buntel itu. Penuh penghargaan, ia mengeluarkan satu per satu hadiah dari dalamnya. Ketika mendapati pipa rokok cair, ia berseri-seri gembira. Siavosh melontar tatapan tak senang ke arahku, dan memperingatkan neneknya agar tidak mengisap pipa rokok cair itu. Ia mau membuang kantong tembakaunya ke keranjang sampah di bawah ranjang. Namun ia tidak jadi melakukannya. Mungkin dikiranya aku bakal tersinggung. Ia menerangkan bahwa mengisap pipa rokok cair akan berbahaya bagi Agha Baji. Ia melengkapi penjelasannya dengan beberapa istilah medis untuk menekankan maksudnya. Kemudian ia memusatkan perhatian untuk melayaniku dengan camilan. Aku berterima kasih kepadanya dan berkata aku harus pergi. Ia memaksaku duduk, tetap di sana barang sebentar, dan makan sesuatu. Lalu ia melirik jam tangannya dan mengatakan ia sudah terlambat masuk kelas. Ia memberiku anjuran-anjuran yang penting juga yang ringan mengenai neneknya. Ia menjabat tanganku lantas pergi. Sunyi beberapa saat. Aku melirik Agha Baji. Ia menunjuk ke pipa rokok cair itu dengan alisnya. Ia mengedip memberikan dorongan ke arahku, mengundangku ambil bagian dalam aksi terlarang itu. Senang bisa bergabung, aku bangkit dan mengingatkan dia akan segala yang dikatakan Siavosh tadi. Acuh tak acuh, ia menggeleng dan berkata, “Orang harus bisa menjadi dokter bagi dirinya sendiri.”

Aku mengisi toples pipa rokok cair itu separuhnya dan memberikannya kepada Agha Baji. Aku memasang pipa dari kayu itu di atas toples kristal tersebut. Agha Baji membasahi corong pipa dengan mulutnya lalu memasangkan ke lubangnya. Ia mengembus dan mulailah muncul gelembung-gelembung. Tampaknya ada terlalu banyak air di toples itu. Ia meniupnya dan sekitar setengah cangkir air tumpah dari pipa ke lantai. Ia mengembus lagi, dan kali ini, airnya tepat. Sembari diawasinya, aku mengambil segenggam tembakau. Aku membasahinya di wastafel kamar beberapa kali, kemudian meremas tembakau itu supaya menyerap air dengan baik. Lalu aku menatanya di atas pipa. Mendadak kami berdua menyadari bahwa kami telah melupakan hal yang paling penting: arang, di mana kami bisa mendapatkan arang? Terusik oleh kekhilafan yang nyata ini, ia mengedarkan pandang beberapa kali. Ia memikirkan suatu cara, dan bertanya, “tidak adakah kedai kopi di sekitar sini?” 

Aku mengambil kepala pipa rokok cair itu dan meninggalkan rumah sakit. Tebakannya benar. Di sisi jalan sebelah rumah sakit, beberapa orang sedang duduk di bawah naungan pohon dedalu yang rindang dan minum teh di depan sebuah kedai kopi. Aku masuk dan minta arang panas. Pelayan kedai kopi itu dengan lembut menempatkan beberapa potong arang panas ke kepala pipa. Aku mau membayarnya, tetapi ia tidak mau. Dalam perjalanan kembali, aku terus meniup arang itu supaya tetap membara. Aku masuk dan memberikan kepala pipa itu kepada Agha Baji. Ia meletakkan pipa di lutut dan duduk tegak. Ia meneguk ludah, lalu menggembungkan dadanya. Ia menaruh corong pipa di satu sudut mulutnya lalu mulai mengisap. Berdiri tepat di depan dia, mengawasinya, aku terpikat. Saat asap mulai keluar dari pipa, kelopak matanya menjadi sangat berat. Ia menutup matanya dan melengkung ke kiri ke kanan bagaikan pendulum. Lirih ia menyenandungkan lagu yang aku tak paham. Barangkali itu lagu dalam dialek Lori. Walau aku tak memahami kata-katanya, kedengarannya sedih.

Tiba-tiba pintu membuka dan seorang perawat pendek gemuk menggelinding masuk kamar. Matanya membelalak menatap Agha Baji dan berkata, “Apa-apaan ini?! Baiknya kita panggil juga Samia Jamal[2] untuk meramaikan pesta!”

Agak tak acuh sedikit mengolok, Agha Baji menatap balik perawat itu. Lalu tahu-tahu ia memulai lagu, “Andai kau katakan hendak mengunjungiku di ranjang pesakitan, aku tak akan berpantang nikmatnya sakit, selama di dunia ataupun di akhirat ….

Perawat itu menyipitkan mata dan menggelengkan kepala berkali-kali. Lalu dengan kemarahan yang dibuat-buat ia merampas pipa rokok cair itu dari kedua tangan Agha Baji dan berkata, “Ketika air mengalir ke atas, kodok menyanyi lagu abu-ata.

Ia mengosongkan kepala pipa ke tempat sampah di bawah tempat tidur dan menuangkan air dari toples. Sesudah itu, ia mendorong masuk sebuah kereta beroda dari balik pintu ke dalam ruangan kemudian mengisi alat suntik dengan obat berwarna merah dan air yang sudah disuling. Untuk pertama kalinya, ia melirik ke arahku. Aku beranjak ke jendela dan memandang keluar. Tak begitu jauh, sekawanan merpati sedang terbang. Salah satu dari kawanan itu berwarna putih bersih dan terbang lebih tinggi daripada yang lain-lain. Tadinya aku bermaksud mengalihkan pandangan hanya sampai perawat itu selesai menyuntik, tetapi aku jadi sepenuhnya terpikat oleh merpati-merpati itu dan lupa waktu. Bersendiri atau berkelompok, merpati-merpati itu bertengger di atap rumah dua lantai di seberang jalan, kecuali si putih, yang masih saja terbang. Aku merasa harus mengamati burung tersebut sampai nanti diam. Seakan-akan si merpati mengetahui maksudku, ia menukik turun, hanya untuk terbang lebih tinggi lagi. Kukatakan pada diriku bahwa jika merpati itu hinggap setelah aku menghitung sampai tiga ratus, maka Agha Baji akan sembuh dan pulang. Aku mulai menghitung. Namun di tengah-tengah, aku lupa apakah tadi aku mengatakan bahwa Agha Baji akan pulang dengan sehat walafiat jika merpati itu hinggap sebelum aku menghitung sampai tiga ratus atau setelah aku menghitung sampai tiga ratus. Sekarang entahkah aku harus menghitung lambat atau cepat. Takutnya hidup Agha Baji malah jadi bergantung pada hitunganku. Mendadak aku panik dan jantungnya berdetak lebih cepat. Aku menyesal sudah membuat perjanjian ini dengan diriku sendiri. Aku jadi khawatir dengan merpati itu. Makin mendekati tiga ratus, makin aku khawatir. Aku memejamkan mata dan berhenti menghitung. Aku membayangkan Agha Baji semasa mudanya. Aku belum pernah melihatnya sendiri tetapi … rambut yang panjang mengikal, bagaikan sulaman bunga pada permadani dinding, menjulur hingga lekuk pinggangnya. Keningnya semulus pualam. Mata secokelat mata kijang. Alisnya berbentuk busur panah. Hidung bak sebutir kacang chickpea. Bibir membelah jadi senyuman yang bagaikan kulit pistachio, serta lesung di daguya adalah jurang bagi sejoli untuk meloncat. Aku membuka mata. Setelah beberapa kali melakukan jungkir balik yang spektakuler sebagai pemungkas dari penerbangannya, merpati itu akhirnya hinggap di antara merpati-merpati lain dan lenyap dari pandangan. Aku berbalik dan mendapati mata Agha Baji yang lelah dan berkaca-kaca. Aku tersenyum dan untuk memecah keheningan aku berkata, “Agha Baji, ingat kan kita ke bioskop bareng?”

Ia menyipitkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala saat mengingatnya. Ia bertanya, “Menurutmu kenapa si anak laki-laki itu menyimpan kerangka ibunya?”

Belum pernah aku memikirkan film Psycho dari sudut pandang itu. Aku ingin menjelaskan bahwa setiap film punya perangkat untuk mengusik pemirsa. Kerangka si ibu adalah perangkat pengusik itu dalam Psycho. Namun aku kira penjelasan ini akan terlalu panjang dan ruwet. Maka kugunakan istilah yang digunakan Hitchcock sendiri dan kukatakan, “Agha Baji, kerangka si ibu itu istilahnya MacGuffin[3].”

Seketika aku menyesal mengatakan itu, karena sudah memamerkan pengetahuanku, kepada Agha Baji di antara sekian orang. Diliputi malu, kutatap dia. Wajahnya, yang berkerenyut kentara sekali tidak mengerti akan yang kukatakan tadi, tahu-tahu mengembang. Ia tersenyum pahit dan menganggukkan kepala seperti yang memahami. Ia memandang langit melalui jendela dan berkata, “Ya. Kamu benar sekali! Paku terakhir di peti matiku … batu ujianku yang penghabisan!” Kulihat sekarang persoalannya malah jadi makin rumit. Ketika aku mengatakan “MacGuffin”, yang Agha Baji dengar malah “peti mati”. Aku biarkan saja, sembari diam-diam memikirkan apakah yang menjadi MacGuffin bagi Agha Baji.

Agha Baji tidak selamat dari rumah sakit itu. Satu setengah bulan kemudian, saat nenekku kembali dari penguburan, suasana hatinya buruk akibat panas dan marah. Aku meletakkan seguci air beserta es dan kipas angin dekat nenekku dan meninggalkan rumah untuk menghindarinya. Ketika aku kembali malamnya, aku melihat dari matanya yang merah bahwa nenekku sudah puas menangis. Makan malam dari sisa-sisa. Kami duduk hening di lantai sekitar taplak meja. Aku berlambat-lambat, menyuap sedikit-sedikit supaya Nenek memulai bicara. Akhirnya Nenek melepas desahan panjang, dan berkata, “Apakah manusia itu? Keluh kesah dan darah …. Semoga ia tenang dalam kuburnya—tak seorang pun menghargai keinginannya—begitu pula sewaktu ia hidup, atau setelah ia meninggal. Kuharap setidaknya keinginannya akan dihargai di akhirat.”

Penasaran, kupandang Nenek. Ia bercerita bahwa menurut wasiat Agha Baji, mestinya mereka menguburkannya bersama sebuah kotak, tetapi para penggali kubur menolak untuk menurutinya. Perkara itu pun dirujuk ke wewenang yang lebih tinggi. Mereka juga menentang, menyatakan bahwa itu melanggar peraturan. Akhirnya, mereka berembuk, dan perkara itu dipecahkan dengan membeli tempat lain di samping kuburan Agha Baji dan menguburkan kotak itu di situ. Heran, aku bertanya, “Kotak? Kotak apa?”

Nenek bilang kotak itu terbuat dari logam, sedikit lebih besar daripada kotak permen; ada kuncinya, dan ketiga sisinya disegel. Tapi apakah yang ada di kota itu? Nenek berpikir beberapa jenak dan berkata, “Hanya Tuhan yang tahu.”

Aku merasakan bulu kudukku berdiri. Aku berdiri dan mulai berpacu mondar-mandir. Kataku, “MacGuffin, ada MacGuffin di kotak itu!”

Seakan-akan yang didengarnya itu hinaan, ia memberengutkan wajahnya dan berkata, “Apa memangnya yang ada di kotak itu?”

Kataku, “Batu ujian yang penghabisan … tangan Jeff … tidakkah Nenek ingat?”

Ia membeku. Tanpa mengejap, ia kerlingkan matanya ke sana kemari, barangkali mengubrak-abrik dalam ingatannya detail-detail dari masa lalu. Ia tampak seakan-akan mencurigai sesuau. Namun ia lalu menggeleng beberapa kali, seperti menghapus hal tak enak dari lempengan benaknya. Ia melambai-lambaikan tangannya ke arahku tanpa acuh dan berkata, “Oh, pergi sana, pergilah dan jangan aneh-aneh! Itu omong kosong tak berguna ….”

Ia tak dapat terima perkataanku tadi, atau mungkin, ia cuma tak ingin.

Malam itu di tempat tidur, aku putuskan untuk pergi mengunjungi Siavosh besoknya. Tapi lalu aku berubah pikiran. Apa yang mau kukatakan kepadanya? Memberi dia kabar baik? Dan lagi pula, bagaimana aku bisa tahu spekulasiku itu benar? Kotak itu mungkin berisikan apa saja. Apa saja, termasuk tangan Jeff. Omong-omong, “Kenapa si anak laki-laki dalam film itu menyimpan kerangka ibunya?” Aku tak tahu, tapi aku pikir dalam dunia yang seluas ini, di antara tiga miliar orang yang hidup di dalamnya, hanya Agha Baji, dan mungkin juga Hitchcock, yang dapat mengetahui jawabannya.


Catatan Penerjemah: Cerita ini berlangsung pada pertengahan 1960-an, semasa pemerintahan Mohammad Reza Shah Pahlavi. Banyak subteks politis dan alusi ke Front Nasional Ketiga (faksi dari oposisi nasionalis terhadap Shah) merujuk kepada atmosfer persekusi politis dan ketakutan yang menyertai kediktatoran kerajaan. Informan polisi rahasia ada di antara para siswa dan administrasi sekolah. Saya berutang rasa terima kasih yang teristimewa kepada Safdar Taghizadeh dan Asghar Elahi yang telah mengabulkan perizinan untuk menerjemahkan cerita ini, yang terbit dalam antologi Cerita Pendek Penulis Kotemporer Iran dan Dunia (Teheran, 1973).


Terjemahan dari bahasa Persia ke bahasa Inggris oleh Nahid Mozzaffari, “Hitchcock and Agha Baji”, dalam Words Without Borders edisi Juli 2003 Literary Border-Crossings in Iran.


Behnam Dayani

Behnam Dayani adalah pengarang kumpulan cerita pendek, Hitchcock va Agha Baji.


Nahid Mozaffari

Nahid Mozaffari saat ini menjadi profesor tamu di Departemen Studi Timur Tengah dan Islam di Universitas New York. Sebelumnya, ia pernah mengajar di NYU di New York dan Paris serta di New School for Social Research. Ia meraih gelar doktor dalam bidang sejarah dan studi Timur Tengah dari Universitas Harvard.

Karyanya yang telah diterbitkan meliputi Strange Times, My Dear: The PEN Anthology of Contemporary Iranian Literature (Arcade Publishing 2005, 2013), “Culture and Resistance: Writing Back to Power” dalam Targeting Iran, David Barsamian, ed. (City Lights, 2007), dan sejumlah artikel tentang sejarah Iran awal abad kedua puluh. Saat ini ia berkontribusi dan menyunting The History of Slavery in Qajar Iran.



[1] Kompleks sekolah swasta di Iran, aktif 1949 – 1979.

[2] Aktris dan penari perut asal Mesir (1924 – 1994).

[3] Pemicu yang menggerakkan plot cerita.

Tidak ada komentar: