“Tapi istri saya suka bikin
saya marah. Saya tidak tahan.”
“Apa istri Anda akan menemani
ke pulau?”
“Tentu.”
“Nah, ini kesempatan sempurna
untuk pemulihan kesehatan secara penuh.” Ia mengerutkan wajah. “Apa tidak
mungkin Anda pergi sendirian?”
“Bercanda, ya! Mana mungkin
saya tinggalkan wanita perisau macam itu sendirian. Entah apa yang bakal dia
perbuat.”
“Saling tidak percaya dengan
pasangan, curiga akan berbuat serong, hal-hal beginilah yang dapat secara
langsung memperburuk kondisi Anda.”
Aku jadi kalut. “Apa maksud Anda saya cemburu?” kataku keras-keras. “Bagaimana tidak? Ia wanita yang tak senonoh, asal tahu saja ya!”
“Baiklah, baiklah. Tenang.”
Dokter itu buru-buru berusaha menenangkanku. “Itulah tepatnya maksud saya.
Jangan biarkan diri Anda rusuh!”
“Bisa saya dapat obatnya?”
“Baiklah, kalau Anda janji
tak akan menghamburkannya, saya berikan persediaan untuk delapan bulan. Tapi
nanti jangan datang bilang semua sudah dihabiskan terus minta lagi. Sudah ini
saja. Mengerti?”
“Saya mengerti.”
“Serpentina alkaloid,” ia
berkata kepada perawat sebelum berbalik kepadaku. “Apa pun yang terjadi, jangan
terlalu banyak minum obatnya. Tekanan darah Anda tidak begitu tinggi, jadi
kalau Anda melewati dosis bisa mengancam nyawa.”
“Ya, saya mengerti.”
Huh, dia cuma mau
menakut-nakutiku saja, batinku.
Begitu aku dapat pilnya, terserah aku dong!
Aturan di perusahaanku, yang
bergerak dalam pengembangan sumber daya kimia kelautan, yaitu sekali keputusan
dibuat untuk mengirim seorang pegawai ke pulau atau titik pengamatan pantai,
pekerjaan itu harus dimulai dalam satu minggu. Namun ini hanya berlaku bagi
pegawai yang bujang. Aku diberikan dispensasi khusus dua minggu utuk persiapan
karena aku telah berkeluarga. Dan pada sore terakhir dari dua minggu itu, aku
naik feri uap kecil ke Pulau Delima dari Tanjung Ichizen bersama istri dan
anakku. Feri itu menyeberang ke pulau dan kembali satu kali sehari.
“Apa? APA?! Pulau macam apa
itu?!” istriku berteriak sekencang-kencangnya begitu kami mendekati Pulau
Delima. Sekarang kami dapat melihat seluruh pulau itu di hadapan kami. “Bentuk
macam apa itu?!”
Di tengah-tengah pulau itu
terdapat gunung yang bentuknya seperti helm terbalik. Puncak gunung itu
terbelah membuka lebar bagaikan delima menyingkapkan bagian dalamnya yang merah
mesum.
“Becanda ya! Mana bisa aku
hidup di pulau yang penampakannya serupa itu!” istriku menjerit kepadaku dalam
keadaan syok. “Dari segala tempat yang ada kenapa kita harus tinggal di pulau
yang puncaknya belah begitu?”
“Mana aku tahu?!” aku balas
teriak. “Aku juga baru lihat di peta. Tak ada yang kasih tahu Pulau Delima itu
puncaknya belah begitu!”
“Aha, ahaha, ahahahaha!”
Putra kami menunjuk-nunjuk pulau itu dan tertawa riang.
“Itu gunung berapi, makanya
bentuknya begitu! Kita mau bagaimana kalau itu meletus? Seluruh pulau itu
bakalan tersapu habis!”
“Gunung berapi bentuknya
seperti itu?!”
“Itu gunung berapi sialan,
dibilang juga! Sudah pasti gunung berapi!” Ia mulai terisak. “Bisa apa aku?
Kuharap aku tidak pernah kawin dengan kamu. Aku dilamar orang lain setelah kita
bertunangan, asal kamu tahu saja ya. Sekarang ia ditugaskan ke Eropa bersama
keluarga. Memilih kamu itu kesalahan!”
“Karena omonganmu seperti itu
dan membuatku marah makanya kondisiku bertambah parah,” kataku perlahan-lahan,
berhati-hati, bernapas dalam-dalam untuk mengendalikan kegusaranku. “Dokter
Kawashita sudah mengatakannya berkali-kali. Perselisihan rumah tangga, dan
terutama sekali pertengkaran, sangat buruk untuk jantungku. Sebagian pasiennya
malah meninggal karena gagal jantung ketika ribut sama istri.”
“Heh, kalau kamu begitu
takutnya mati, ya sudah segera saja ceraikan aku kalau begitu! Kamu cuma bisa
bilang Dokter Kawashita begini, Dokter Kawashita begitu. Dia itu cuma tukang
obat!”
“Dia bukan tukang obat!”
raungku. “Kamu mau aku marah dan mati?”
“Kalau begitu sekarang kamu
sedang sekarat? IYA?” ia balas menjerit. “Mati sana! Baru aku percaya!”
“B-betapa … b-b-betapa—“
logikanya begitu absurd hingga aku tak dapat menyahut sepatah kata pun. “Betapa
teganya dirimu berkata—“ aku hampir-hampir tak dapat bernapas. Nyeri yang tajam
menusuki jantungku.
“Perusahaan itulah yang mau
membunuh kamu dengan mengirim kamu ke pulau ini! Mereka ingin kamu mati. Mereka
tidak ada maksud mempromosikan kamu. Pasti begitu.” Ia mengentak-entakkan tumit
sepatunya dengan gaduh di dek.
“Berhenti … tolong
ber-berhenti.” Aku mencengkeram dadaku dan duduk di bangku. “P-pilku, tolong,
p-pilku. Di k-kabin. Di tasku. Di t-tasku.”
Ia berdecak, dan menatapku
tajam dengan sorot jijik pada wajahnya.
“Ayah sakit lagi,” kata
putraku.
“Mari, tinggalkan dia. Ayo,”
ujar istriku dingin, tanpa ekspresi. Ia menggamit tangan putra kami dan
bergegas ke buritan.
Aku merana dalam kemarahan.
Jantungku mulai bedebar dan aku berhenti bernapas sama sekali.
“Uhhh … uhhh … uhhh ….”
Sembari mengerang,
mencakar-cakar udara dengan jemari tertekuk kaku, aku berguling-guling sampai,
akhirnya, aku mencapai kabin. Aku membuka tas dengan kedua tangan yang resah,
mengeluarkan botol obatku dan meneguk tiga tablet tanpa air. Dokter telah
menyuruh untuk minum dua saja sekali waktu, tetapi itu tidak lagi cukup.
Begitu aku kembali tenang,
aku menatap ke bagian dasar botolku. Tinggal empat atau lima tablet tersisa.
Sekonyong-konyong tersambar
oleh perasaan gelisah, aku merogoh-rogoh ke dalam tas. Aku ingin memastikan
kotak yang berisi persediaan delapan bulan itu masih ada di situ.
Tidak ada.
Tergesa-gesa aku melemparkan
koper itu ke samping lalu mengosongkan isi tas istriku ke mana-mana di seluruh
kabin. Namun tidak ada tanda-tanda obatku.
“Di mana obatku?” Jantungku
mulai berdentam seperti drum.
“Apa-apaan kamu ini?” istriku
bertanya, seraya memandangku dingin. Aku berpacu keluar dari kabin dengan
rambut berantakan.
“Obatku!” teriakku. “Kotak
besar yang ada obatku di dalamnya. Kamu apakan itu?”
“Mana aku tahu?” Ia memandang
ke seberang lautan. “Di tasmu, bukan?”
“Tidak ada di tasku. Tidak
ada di tasmu juga. Kamu apakan itu?” jeritku. “KAMU APAKAN?”
Ngeri dengan pembawaanku yang
mendadak ganas, putraku melekat erat-erat kepada ibunya.
“Bisa kamu pelankan suaramu?
Lihat, kamu menakuti dia. Para penumpang lain juga jadi terganggu.” Sebetulnya,
penumpang lain cuma seorang wanita tua penyendiri di dek belakang.
“Biar saja. Kamu sendiri
teriak-teriak sekarang, bukan? Jawab pertanyaanku. Di mana kamu taruh kotak
yang ada obatku itu? Kalau aku tidak ada obat itu, kesempatan hidupku jadi
terhambat!”
“Ke-sempat-an hidup-nya ja-di
ter-hambat, katanya,” ulangnya kepada bocah itu diiringi kikik.
“Berlebih-lebihan benar ucapannya itu. Jawab pertanyaannya, katanya.” Ia
berpaling menatapku dengan sorot sebal. “Kamu pikir lagi bicara dengan siapa?”
“Maafkan aku. Aku minta
ampun,” kataku lebih tenang, berusaha untuk tidak menerima hasutannya. “Bisa
kamu tolong kasih tahu aku kamu apakan kotak itu?”
“Kotak apa.”
“Besarnya segini, dibungkus
dengan kertas cokelat. Ada persediaan obat untuk delapan bulan di dalamnya.
Tinggal ada empat atau lima tablet di botol. Aku perlu mengisinya ulang,
mengertilah.”
“Nah. Kenapa tidak dari tadi
bicaranya begitu,” ucapnya bagaikan guru sekolah. “Kotak itu. Ya. Aku
memasukkannya di koper bersama pakaian musim dingin dan mengirimnya pakai
Daitsu.”
Karena Daitsu adalah kurir
paling andal di negara ini, aku agak lega. Namun akankah koper itu tiba sebelum
obatku habis?
“Mestinya kamu tanya
dulu sama aku sebelum melakukan itu,”
kataku sayu. “Obatku tinggal sisa empat-lima tablet lagi.”
“Kalau itu memang begitu
penting buatmu, kenapa tidak kamu urus sendiri?!”
“Jadi kapan Daitsu mengirim
koper itu ke pulau?”
“Katanya bisa empat sampai
lima hari. Itu empat hari lalu, jadi mestinya besok sudah sampai.”
Aku harus memastikan tidak
bakal kena serangan jantung sampai esok hari.
Begitu kami tiba di pulau
itu, seorang lelaki tua menghampiri kami di tempat pendaratan feri. Katanya ia
kepala desa, lalu membawa kami ke titik pengamatan, di mana aku akan tinggal
dan bekerja selama delapan bulan ke depan. Dekat pantai sekitar satu mil di
luar desa, tempat itu berdiri dengan alas berpasir di bawah tebing curam.
Bangunannya terbuat dari kayu, berukuran sekitar tiga puluh kali tiga puluh
kaki, dan tentunya baru. Bangunan itu kemungkinan akan bobrok di akhir periode
observasi. Walaupun penampakannya sederhana, di belakang ada ruangan besar
berkarpet dan terlihat jauh lebih nyaman daripada yang aku prakirakan.
“Yah, semestinya bisa cukup
dengan begini saja,” kataku.
Istriku yang sedang berdiri
di depan kepala desa diam saja.
Peralatan observasinya sudah
sampai. Aku mulai membongkar dan memasangnya segera setelah kepala desa pergi
sementara istriku mulai bersih-bersih. Sudah malam benar ketika aku selesai.
Malam itu istriku membujuk
rayu.
Karena masih gamang dengan
lingkungan baru, mungkin ia perlu menenggelamkan diri dalam aktivitas yang
melibatkan perulangan monoton, suatu hal yang familier. Aku pun merasakan itu,
tetapi tentu aku tidak bercinta dengan dia. Bisa-bisa nanti aku kejang-kejang.
Aku mengingatkan dia bahwa tabletku tinggal empat atau lima. Namun ia terus
saja mengulang keluhan basi seperti biasa.
Keesokan hari, aku membawa
alat-alat observasi ke pantai yang berbatu dan memasangnya di enam titik.
Pekerjaan itu makan seharian.
Hari itu tidak ada kiriman
dari Daitsu.
“Obatnya belum datang!”
keluhku kepada istri.
“Mungkin datangnya besok,” jawabnya
acuh tak acuh seperti biasa.
“Bonnya masih ada, kan.”
“Mungkin. Terbawa tidak, ya?
Carilah di tas tanganku. Kalau tidak ada di sana, ya ketinggalan di rumah.”
Tidak bertanggung jawab seperti biasanya.
Segeralah aku mengosongkan
isi tas tangannya ke meja, dan berburu bon itu. Aku lega menemukannya, sudah
renyuk jadi bola.
Namun keesokan harinya tidak
ada juga kiriman Daitsu. Setelah menunaikan pengamatan, aku turun ke pelabuhan feri
untuk memeriksa. Ferinya sudah pergi, dan tidak ada tanda membawakan muatan
macam apa pun. Aku pun jadi gusar. Cepat-cepat aku ke titik pengamatan dan
mengangkat telepon.
“Halo?”
“Halo, ya? Ada yang bisa
dibantu?” suara nenek-nenek di seberang.
Aku sudah diberi tahu bahwa
istri kepala desa lah yang menjalankan persambungan telepon. Kepala desa
sendiri usianya sedikitnya sudah tujuh puluh tahun. Jadi wanita di seberang
pastilah istrinya.
Aku berusaha berbicara
sesopannya. “Maaf sudah mengganggu, tetapi bisakah saya membuat panggilan ke
daratan utama?”
“Daratan utama, ya? Oh! Ya,
daratan utama.” Entah kenapa, dia kedengaran sungguh bergairah. “Ya, tentu.
Nomornya?”
Dengan membaca dari secarik
kertas bon itu, aku mengulang-ulang nomor Cabang Kota Daitsu ke wanita tolol
itu berkali-kali.
“Oh ya, ya. Nomornya sudah
lengkap,” katanya gembira sekali. “Tolong tutup dulu teleponnya dan tunggu saya
menelepon balik.”
Aku menunggu dalam
kejengkelan yang memuncak selama kira-kira seperempat jam, hingga telepon itu akhirnya
berdering.
“Halo? Ya. Nah, akhirnya bisa
tersambung,” kata wanita tua itu riang.
“Daitsu.” Terdengar suara
gadis yang sepertinya dari jauh sekali.
“Ya, halo? Nama saya Suda.
Saya mengirimkan koper pada tanggal enam, tapi belum sampai.”
“Sebentar. Saya sambungkan
Anda dengan Kantor Pengiriman.”
Berikutnya, yang bicara
seorang pemuda. Malah suaranya kedengaran lebih jauh lagi. “Halo?”
“Halo?”
“Er, halo? Sambungannya buruk
di sini. Halo?”
“Halo? Ya, nama saya Suda.
Saya kirim koper tanggal enam, tapi belum sampai.”
“Ah. Tunggu sebentar. Saya
sambungkan ke pegawai yang bertugas.”
Berikutnya , pria paruh baya
yang berbicara. Kuulang kata-kata yang sama kepadanya.
“Begitu ya. Yah, saya akan
mencarinya,” kata pria itu, seperti yang merasa berkeberatan. Jelas-jelas ia
tidak ada hasrat sama sekali untuk mencarinya.
“Tolong bisakah mencarinya
sekarang?”
“Apa, sekarang?” kata pria
itu nadanya masam, disusul keheningan.
“Koper itu isinya barang
penting yang kebutuhan mendesak. Sebenarnya, itu obat. Tanpa obat itu,
bisa-bisa ada yang meninggal.”
“Begitu ya. Sebentar.”
Tampaknya ia sedang mencari, walaupun sungkan. “Er, siapa namanya tadi?”
“Suda?”
“Kuda?”
“Bukan, Suda.”
“Bukan kuda?”
“Er, Suda.”
“Er kuda?”
“K untuk Kaki. U untuk Unta.
D untuk Delta. A untuk Alfa.”
“… Eh?”
“K untuk Kaki—“
“Bapak Kaki?”
“K untuk Kaki. U untuk Unta—“
“Bapak Unta?”
“SUDA. Namanya Suda. Suda.”
“Bapak Suda?”
“Yaaaa. Benar.”
“Oh yah. Ini dia. Barang
diterima tanggal 6. Satu koper, ya.”
“Ya, itu. Iya itu!”
“Dikirim ke … bagaimana
bacanya?”
“Pulau Delima.”
“Yah, Pulau Delima. Yah, yah.
Sudah dikirim.”
“… Apa?”
“Kami sudah mengirimnya.”
“Halo? Halo?”
“Ya. Halo.”
“Saya sekarang ini sebetulnya
sedang menelepon dari Pulau Delima.”
“Begitu ya.” Ia bahkan tidak
terkesan sedikit pun.
“Dan belum datang juga.”
“Aneh ya. Harusnya sudah.”
“Ya.”
“Harusnya sampai besok.”
“Dua hari ini juga saya
kiranya begitu.”
“Tapi barangnya akan sampai
besok. Tidak ada masalah.”
“Dan bagaimana kalau tidak?”
“Bagaimana kalau tidak?” ia
tertawa.
“Bisa tidak dilacak?”
“Lacak apa?”
Aku mulai kehilangan
kesabaran.”Saya ingin Anda melacak keberadaan koper saya.”
“Yah, begitu dikirim, sudah
tidak bisa dilacak.”
“Pastinya bisa. Mestinya Anda
tahu rute pengirimannya. Tolong, bisa tidak, ditelepon dan dicek?”
“Tolong siapa yang bisa telepon
dan cek?”
Aku menghardik, sesaat.
“Anda, tentunya! Tidak, tidak mesti Anda. Tidak soal siapa. Tolong bisakah ada
yang memeriksanya?”
“Yah, tidak, sebenarnya. Kami
di sini sangat sibuk dengan pengiriman lainnya.”
“Saya juga sibuk! Koper itu
penting buat saya!”
Ia tertawa lagi. “Dan
pengiriman kami juga penting bagi kami.”
“Ini soal hidup dan mati!”
“Begitu ya.” Dikiranya aku
membesar-besarkan, tentu.
“Halo?”
“Yah.”
“Bisa tolong kasih tahu nama
Anda.”
“Murai,” jawabnya
ogah-ogahan.
“Nah, Pak Murai,” kataku
dengan nada berwibawa, “bisakah tolong periksa semua titik sepanjang rute. Saya
telepon lagi nanti.”
“Baiklah kalau begitu. Yah,
baiklah, saya periksa. Mestilah serius kalau sudah soal hidup dan mati, eh?” ia
menahan tawa.
Aku membanting pesawat telepon
dengan teramat jengkel. “Gusti. Kasar amat sih.”
“Ada apa?” tanya istriku di
sebelahku.
“Orang Daitsu. Buruk sekali
sikapnya. Seakan-akan itu tidak lebih berharga daripada pekerjaan mereka!
Mereka pikir siapa mereka?!”
“Apa maumu? Mereka memang
yang terbaik seluruh negeri. Dan aku dengar ujian masuknya sangat berat. Mereka
hanya mempekerjakan lulusan universitas top, paham.” Ia melontarkan lirikan
tajam ke arahku. “Mereka orang-orang elite.”
Nadanya yang sarkastis makin
menjengkelkanku. “Karena itu mereka punya hak untuk arogan, begitu?”
“Yah, benar. Mereka tidak
bisa diganggu soal koper kecil yang tidak berharga. Mereka mengkhususkan diri
dalam mengangkut mesin berat, peralatan konstruksi, yang semacam itulah. Bisnis
utama mereka adalah mengirimkan balok-balok baja dalam urutan yang benar ketika
ada jembatan rel kereta api sedang dibangun. Mobilitas, itulah inti pekerjaan
mereka. Maka tak heran mereka mencibir masalah rumah tangga kita yang tidak
penting.”
(Bersambung)
“Bad for the Heart” dalam kumpulan cerpen Yasutaka Tsutsui Salmonella men on Planet Porno, terjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Andrew Driver, Vintage Books, 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar