Selamat Datang

Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.

Pengarang/Penerjemah

Agus Kurniawan (1) Aimee Bender (2) Alan Gratz (1) Alberto Manguel (1) Alejandro Zambra (1) Alex Patterson (1) Alexa Firat (1) Alexandre Najjar (1) Alice Guthrie (1) Alice Walker (1) Aliza Shevrin (1) Ambika Rao (1) Ambrose Bierce (1) Amelia Gray (1) Amy Hempel (1) Anders Widmark (2) Andrea G. Labinger (1) Andrew Driver (10) Ann Beattie (1) Anna Sophie Gross (1) Anne McLean (1) Aoi Matsushima (1) Ariel Urquiza (1) Behnam Dayani (3) Bel Kaufman (1) Brandon Geist (5) Catherine Rose Torres (1) César Aira (1) Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato (1) Chiba Mikio (1) Chikako Kobayashi (1) Chimamanda Ngozi Adichie (1) Chris Andrews (1) Christopher Moseley (1) Clark M. Zlotchew (6) Cynthia Ozick (1) David Herbert Lawrence (2) David Karashima (1) Dayeuh (2) Donald A. Yates (1) Dorothy Parker (1) Dorthe Nors (1) Ed Park (1) Elizabeth Harris (1) Estelle Gilson (1) Fernando Sorrentino (15) FiFadila (1) Fiona Barton (1) Francis Marion Crawford (2) Fumiko Enchi (1) Gabriel Gárcia Márquez (1) Giulio Mozzi (1) Grace Paley (1) Gregory Conti (1) Gregory Rabassa (1) Guillermo Fadanelli (1) Guillermo Martínez (1) Hari Kumar Nair (1) Haruki Murakami (24) Hector Hugh Munro (Saki) (2) Helena Maria Viramontes (1) Herbert Ernest Bates (1) Hitomi Yoshio (1) Ian MacDonald (1) Iris Maria Mielonen (1) Isaac Bashevis Singer (1) Italo Calvino (1) Jack Kerouac (2) Jacob dan Wilhelm Grimm (1) James Patterson (1) James Thurber (5) Jay Rubin (13) Jean Rhys (1) John Cheever (1) John Clare (1) John Updike (1) Jonas Karlsson (1) Jonathan Safran Foer (1) Jonathan Wright (1) Jorge Luis Borges (1) Juan José Millás (1) Julia Sherwood (1) K. S. Sivakumaran (1) Kader Abdolah (1) Kalaivaathy Kaleel (1) Karunia Sylviany Sambas (1) Kate Chopin (1) Katherine Mansfield (1) Keiichiro Hirano (5) Kevin Canty (1) Khaled Hosseini (1) Khan Mohammad Sind (1) Kurahashi Yumiko (1) László Krasznahorkai (1) Laura Wyrick (27) Laurie Thompson (1) Laurie Wilson (1) Lawrence Venuti (1) Liliana Heker (1) Lindsey Akashi (27) Liza Dalby (1) Lorrie Moore (5) Louise George Kittaka (1) Lynne E. Riggs (1) Mahmud Marhun (1) Malika Moustadraf (1) Marek Vadas (1) Marina Harss (1) Mark Boyle (30) Mark Sundeen (1) Mark Twain (2) Marshall Karp (1) Martin Aitken (1) Massimo Bontempelli (1) Megan McDowell (1) Megumi Fujino (1) Mehis Heinsaar (1) Michael Emmerich (1) Michele Aynesworth (3) Mieko Kawakami (1) Mihkel Mutt (1) Mildred Hernández (1) Mitsuyo Kakuta (1) Morgan Giles (1) Na’am al-Baz (1) Nahid Mozaffari (3) Naoko Awa (1) Naomi Lindstrom (1) Norman Thomas di Giovanni (1) Novianita (1) O. Henry (1) Ottilie Mulzet (1) Pamela Taylor (1) Paul Murray (54) Paul O'Neill (1) Pere Calders (1) Peter Matthiessen (1) Peter Sherwood (1) Philip Gabriel (11) Polly Barton (1) Ralph McCarthy (3) Ramona Ausubel (1) Ray Bradbury (3) Raymond Carver (2) Raymond Chandler (2) Rhett A. Butler (1) Robert Coover (3) Rokelle Lerner (359) Ruqayyah Kareem (1) Ryu Murakami (3) Ryuichiro Utsumi (1) S. Yumiko Hulvey (1) Sam Garrett (1) Sam Malissa (1) Samantha Schnee (1) Saud Alsanousi (1) Sebastiano Vassalli (1) Selina Hossain (1) Sergey Terentyevich Semyonov (1) Shabnam Nadiya (1) Sherwood Anderson (1) Shirin Nezammafi (1) Shun Medoruma (1) Sophie Lewis (1) Stephen Chbosky (10) Stephen Leacock (1) Susan Wilson (1) Suzumo Sakurai (1) Tatsuhiko Takimoto (27) Thomas C. Meehan (2) Tobias Hecht (1) Tobias Wolff (1) Tomi Astikainen (40) Toni Morisson (1) Toshiya Kamei (2) Ursula K. Le Guin (1) Vina Maria Agustina (2) Virginia Woolf (1) W. H. Hudson (1) Wahyu Wibisana (1) Wajahat Ali (1) Widya Suwarna (1) William Saroyan (1) William Somerset Maugham (1) Yasutaka Tsutsui (10) Yu Miri (1)

Bongkar Arsip

An Evening of Long Goodbyes, Bab 4 (4/6) (Paul Murray, 2003)

“Sekarang memang sudah larut,” ucapku rancu, sambil mengitari ruangan memasang lilin-lilin pada kandil. Diiringi goyangan yang hampir tak ...

20260320

Buruk untuk Jantung (3/3) (Yasutaka Tsutsui, 1979)

“Kalau sudah tahu begitu, kenapa kamu pakai mereka?”

“Oh, yang benar saja. Siapa lagi yang bisa mengantarkan koper remeh-temeh ke tempat antah-berantah?” ujarnya diiringi senyum mengejek.

“Mereka memonopoli?”

“Benar.”

“Berengsek!” Kuhantamkan bogemku ke meja. Jantungku segera saja mulai berdebar. Cepat-cepat aku mengeluarkan botol obat dan menenggak dua tablet. Sekarang yang tersisa tinggal tiga.

Beberapa saat, istriku tampak melamun. Lantas ia memandang kepadaku. “Mungkin saja mereka sengaja menunda koper itu, untuk balas dendam.”

“Ke—kenapa?” kutatap ia. “Apa yang kamu rahasiakan?”

Ia menjawab dengan ekspresi serius, seakan-akan mau menyulut kecemasanku.“Yah, aku ada sedikit seteru sama sopir Daitsu. Ia datang sendirian untuk menjemput koper itu, dan memintaku membantunya mengangkat barang itu. Aku bilang salahnya sendiri tidak bawa teman, angkat saja sendiri, itu kan sudah tugas dia. Lantas ia memandangku dengan jahat sekali.”

“Namanya siapa?”

“Mestinya ada di bon,” katanya disertai seringai.

Keesokan harinya juga tidak ada kiriman dari Daitsu. Aku pergi ke pelabuhan feri bersama istriku. Yang turun dari kapal hanyalah satu kelompok terdiri dari lima mahasiswa hendak berlibur di pulau. Mereka semua laki-laki. Istriku segera saja mulai bercakap-cakap dengan mereka seakan-akan sudah kenal dengan mereka seumur hidupnya.

Istriku bilang mau beli sesuatu di koperasi setempat, maka aku kembali ke titik pengamatan sendirian. Putra kami, yang sedang tidur siang, bangun dan mulai berteriak-teriak. Aku berhasil menidurkan dia kembali, lalu menelepon Daitsu. Sampai setengah jam barulah Murai, yang sebelumnya berbicara denganku itu, mengangkat telepon.

“Yep.”

“Ini Pak Suda dari Pulau Delima. Yang kemarin menelepon?”

“Ya.”

“Kopernya masih belum tiba.”

“Aneh. Mestinya sudah.”

“Tentu, Anda sudah mengeceknya, bukan.”

“Yah, benar. Koper Anda mestinya berakhir di Cabang Shimizu. Anda bisa menelepon ke sana kalau-kalau sudah ada.”

“Ya ampun! Mestinya Anda yang melakukan itu! Lupakan saja. Entah kenapa mesti aku yang melakukannya, tapi aku akan menelepon mereka. Aku tidak ada waktu untuk bermain-main. Bisakah minta nomor teleponnya.” Aku mencatat nomor yang diberikannya kepadaku. “Omong-omong, Pak Murai. Saya paham istri saya ada sedikit kesalahpahaman dengan sopir yang datang menjemput koper itu. Mungkin saja dia sengaja menahan koper itu, untuk balas dendam.”

“Tidak, tidak, itu tidak mungkin!” ia tertawa.

“Saya yakin, itu mungkin. Bisakah tolong tanyakan. Nanti saya yang mengontak Cabang Shimizu.”

Murai menjawab dengan sopan santun berlebihan. “Ya, Pak. Saya akan menanyakannya.” Tentu ia tidak akan melakukannya.

Aku menaruh kembali gagang telepon, dan baru saja meminta istri kepala desa agar menyambungkanku dengan Cabang Shimizu ketika istriku pulang.

“Masih menelepon? Nanti biayanya membengkak.”

“Peduli amat. Biar perusahaan yang bayar.” Aku kedatangan ilham. “Kamu pakai pembayaran apa dengan Daitsu? Bayar waktu datang?”

“Uh-uh. Di muka.”

“Harusnya kamu pilih bayar waktu datang. Jadinya aku bisa manfaatkan itu untuk tawar-menawar dengan mereka.”

“Jangan kekanak-kanakkan ah. Mana mau mereka bersusah-susah soal pembayaran?!”

“Bisa tidak ngomongnya jangan begitu?”

Seperti ada pegas dalam langkahnya.

Aku disambungkan ke Cabang Shimizu.

“Ya, halo, ini Pak Suda bicara dari Pulau Delima. Apa ada koper yang sudah datang untuk saya?”

Suara di seberang parau, seperti suara nelayan. “Tunggu sebentar. Saya lihat dulu.” Lima menit kemudian, ia kembali ke telepon dan lanjut bicara dengan suara paraunya: “Tidak, tidak ada.” Setidaknya karyawan di daerah ini sedikit lebih sopan.

“Begini, saya mengirimkannya dari Cabang Kota. Katanya semestinya sekarang sudah sampai.”

“Yah, kalau belum ada ya, belum ada. Kami harus segera mengantarkan semuanya begitu datang, kalau tidak, kami akan kebanjiran paket. Kami mengantarkannya segera begitu datang. Jadi barangnya tidak mungkin kami simpan, kan.”

“Ya, harusnya tidak.”

Tiba-tiba saja pria bersuara parau itu menutup sambungan. Tak syak lagi kopernya belum tiba.

Aku menunggu disambungkan ke Cabang Kota untuk kali ketiga, saat istriku muncul dari ruang belakang dengan baju renang yang kekecilan.

“Kenapa pakaianmu begitu, ingat usia, tidak?” tanyaku. “Kamu mau renang sendirian?”

“Uh-huh. Mahasiswa-mahasiswa yang datang tadi sedang berkemah di pantai. Mereka mengundangku, jadi aku bilang akan datang.”

“Tidak boleh!” seruku. “Apaan kamu ini berjingkrak-jingkrak setengah bugil bersama segerombol pemuda padahal suamimu sedang menghadapi krisis antara hidup dan mati!”

“Ah, sayang. Aku yakin kamu cemburu, ya.”

“Aku tidak cemburu! Hanya saja syak wasangka di antara pasangan atau kecurigaan akan perselingkuhan itu bakal sangat memperparah kondisiku. Kamu tidak boleh pergi!”

“Sudah kukira. Kamu cemburu,” ia tertawa. “Kamu menyeretku ke pulau jahanam ini, lantas berani-beraninya memerintah dan melarangku? Enyahlah!”

“Kalau kamu pergi, bawa anak itu.”

“Tentu saja tidak! Bikin malu saja,” katanya seraya mengeloyor.

Seluruh tubuhku berguncang oleh amarah, ketika panggilanku tersambung.

Murai yang menjawab, sehingga aku tumpahkan kepadanya. “Cabang Shimizu bilang kopernya belum sampai. Apa-apaan ini?!”

“Begitu ya. Meresahkan,” ucapnya dengan suara yang sama sekali tidak resah. “Tentu, sebaiknya kita terlebih dahulu mencari tahu pengirimannya pakai kereta atau jalan umum. Kalau pakai kereta, sampainya di Cabang Yabuki. Kalau lewat jalan umum, tibanya di Cabang Itagaki. Saya ada ide! Bagaimana kalau Bapak coba hubungi bagian kedatangan di Itagaki? Kalau mereka belum dapat kopernya, berarti pakai kereta, sehingga kemungkinan ada di Yabuki. Eh, nomor telepon Cabang Itagaki—”

“Bukannya itu pekerjaanmu?!” aku meraung. “Tanggung jawab dong, demi Tuhan!”

“Tak perlu teriak-teriak begitu. Hahaha!”

“Tidak lucu! Kalau kamu tidak cari koperku, aku minta polisi mengusutnya!”

“Begitu ya. Tapi mestilah koper itu sedang menuju suatu tempat, bukan.”

“Dan saya minta kamu cari tahu di mana!”

“Halo?” Tahu-tahu, suara kasar istri kepala desa menyela panggilan kami. “Maaf, tapi apa Bapak masih lama meneleponnya? Ada beberapa orang lainnya mau menelepon juga.”

“Diam! Aku masih bicara!” jeritku.

“Bisakah dipersingkat?”

Aku bisa dengar Murai tertawa.

“Diam! DIAM!” aku menjerit keras-keras. “Aku masih bicara, kataku! Aku masih bicara! Aku masih b—b—b—b—“ tahu-tahu aku rasakan susah bernapas, dan mencengkam dadaku.

“Ada masalah?” tanya wanita tua itu gugup. “Halo? Ada masalah?”

Aku meletakkan pesawat telepon dan lekas-lekas mencari botol obatku. Napasku sudah putus sama sekali. Mataku membelalak, badanku terpuntir dan melengkung ke belakang. Aku buka botol obat itu dengan kedua tangan yang gemetar dan menelan tiga tablet terakhir tanpa air.

“Obatku habis,” keluhku kepada istri dengan suara mengibakan malam itu. “Aku harus bagaimana? Aku bilang ke orang Daitsu itu bahwa aku bakal menyuruh polisi mengusutnya, tapi sepertinya dia tidak peduli!”

“Yah, mana mungkin dia peduli,” ujar istriku terkikih. “Lagi pula itu perusahaan korup dari atas sampai bawah.”

“Ya ….” Aku ingat suatu insiden beberapa tahun lalu.

Istriku menginginkannya lagi malam itu. Malahan, ia tampak lebih berahi daripada biasanya. Mungkin karena dia habis bergenit-genit dengan para mahasiswa itu.

“Jangan, jangan, jangan,” tangisku. “Obatku tiada bersisa. Bagaimana kalau aku sampai kena serangan? Aku bakal mati.

“Baiklah kalau begitu!” ia menjerit histeris. “Karena besok aku bakal serong dengan salah seorang dari bocah manis itu!”

“Kenapa kamu siksa aku dengan perkataan begitu?” aku memohon dalam falseto. “Jangan bilang begitu, tolonglah! Kamu perlu paham bahwa aktivitas seksual itu tidak baik bagi orang sakit jantung. Kamu mau bunuh aku ya?!”

“Ya tidak usah juga tidak apa-apa!”

“Tapi nanti kamu melakukannya dengan orang lain!”

“Huh, kamu ini laki-laki bukan sih.”

“Baiklah. Kalau katamu begitu, aku akan lakukan.” Aku letakkan tanganku padanya.

Ia menggusah tanganku. “Jangan terpaksa.”

“Aku tidak merasa terpaksa. Aku benar-benar mau bercinta dengan kamu. Jujur deh.” Kurang lebih bersiap untuk mati, aku paksa diri merangkul dia.

Mungkin karena sudah lama sekali, segera saja aku selesai.

“Apa?! Apa-apaan ini!” istriku jelas-jelas tidak puas. “Kamu sengaja, ya, selesai cepat demi jantungmu. Aku tidak tahan lagi. Aku bakal serong besok. Aku bakal nganu dengan kelima-limanya, biar tahu rasa kamu!”

“Jangan dong! Jangan!” Aku menarik selimut ke atas kepalaku dan terisak dalam kenelangsaan luar biasa. Jantungku sudah mulai berdebar-debar setelah segala gangguan dan olahraga berat barusan. Aku bahkan tidak bisa berteriak kepada istriku seperti biasanya. “Sepertinya aku bakal mati. Aku sekarat. Sepertinya aku sekarat. Ya, aku sekarat.”

Kopernya masih belum tiba juga besok. Kerja tidak mungkin.

Aku menelepon Murai di Cabang Kota lagi. “Ini Pak Suda dari Pulau Delima.”

“Wah, halo! Hahaha. Kopernya sudah sampai?”

“Tentu belum. Itu sebabnya saya menelepon lagi.”

“Yah. Yah, tentu.”

“Obatku akhirnya sudah habis.”

“Obat? Obat apa?”

“Obat untuk masalah jantungku.”

“Begitu ya.”

“Kalau nanti saya kena serangan, obatnya tidak ada.”

“Sayang sekali.”

“Tahu di mana koper saya?”

“Tidak tahu.”

“Sudah cari belum?”

“Begitu ya.”

“Sudah cari belum?”

“Cari apa?”

“Di mana koper itu.”

“Siapa?”

Aku mendesah keras. “Baiklah, saya lakukan sendiri. Tolong kasih nomor Cabang Yabuki dan Itagaki.”

Aku mencatat nomornya lalu menelepon kedua cabang itu. Tak satu pun yang tahu koperku.

Aku meminta sambungan jarak jauh lagi, kali ini ke Klinik Kawashita.

Seorang perawat menjawab, “Klinik Kawashita?”

“Halo, nama saya Suda. Saya pasien di sini.”

“Maaf? Sambungannya bermasalah.”

“Bisa bicara dengan Dokter Kawashita?”

“Sayangnya beliau tidak ada.”

“Ya ampun. Bisa kasih tahu di mana beliau?”

“Sedang di konferensi.”

“Oh. Konferensi. Tahukah di mana?”

“Sapporo.”

“Sapporo?”

“Benar.”

“Yah, sebenarnya, begini, Dokter Kawashita kasih saya obat, tapi hilang, mengerti, dan kalau-kalau saja barangkali Anda bisa segera mengirimi saya obat lagi?”

“Sambungannya terputus-putus. Suara Bapak tidak kedengaran. Halo? Halo?”

“Halo? Ya. Saya harap Anda mengirimi saya serpentina alkaloid segera, tolong.”

“Seluloid?”

“Bukan, bukan. Serpentina alkaloid. Itu nama obatnya.”

“Obat? Kenapa obatnya?”

“Saya minta obatnya segera dikirimkan.”

“Saya tidak dapat mengeluarkan obat tanpa instruksi dari dokter.”

“Ya. Tentu.”

“Maaf? Bapak bilang apa?”

“Er, halo? Bisakah Anda kasih tahu di mana Dokter Kawashita menginap di Sapporo?”

“Mengenakan apa?”

“Hotel tempat beliau menginap?”

“Wartel?”

“Bukan, hotel apa?”

“Ini bukan hotel. Ini Klinik Kawashita. Rumah sakit.”

“Ya, ya. Saya tahu itu. Tapi Dokter Kawashita, di mana menginapnya di Sapporo?”

“Ah, begitu. Ya. Sebentar. Anu, di Queen Hotel.”

“Ada nomor teleponnya?”

Aku mencatat nomor itu, lalu meminta sambungan jarak jauh lagi ke Sapporo. Sedari tadi aku bersuara keras-keras sampai kurang napas dan berkeringat banyak.

Aku terhubung ke Queen Hotel di Sapporo. Sambungannya terdengar makin jauh, sehingga aku harus berteriak sekencang-kencangnya. Akhirnya, aku terhubung dengan resepsionis.

“Oh, maksud Bapak, Dokter Kawashima yang itu?” sahut suara sayup-sayup seorang pria di ujung sana, ketika akhirnya memahami kata-kataku. “Dokter Kawashita yang dokter itu? Ya, beliau bersama polisi sekarang.”

“Polisi? Kenapa beliau bersama polisi?”

“Bapak belum baca surat kabar? Ada wanita yang terbunuh secara mengerikan di sini semalam. Tiga dokter yang sedang menghadiri konferensi, termasuk Dokter Kawashita, sedang membantu polisi sebagai saksi kunci. Jadi, sayang sekali saya belum bisa mengatakan kapan mereka akan kembali.”

Tanpa akses ke televisi ataupun surat kabar, aku betul-betul tak tahu peristiwa itu terjadi. Jika dokter sedang ditanyai polisi, artinya mana sempat membicarakan obat, meskipun aku berhasil menghubunginya. Aku mengenyahkan ide tersebut dan meletakkan kembali gagang telepon.

Keesokan harinya juga tak ada tanda kedatangan koperku. Ataupun esoknya lagi. Sepuluh hari berlalu sejak koper itu dikirim. Hari itu, istri kepala desa menelepon untuk memberitahuku, secara berbelit-belit, bahwa seluruh desa mulai memperhatikan kelakukan tak senonoh istriku dengan para mahasiswa.

Lima hari berlalu. Aku sepenuhnya mengabaikan pekerjaanku, menghabiskan seluruh hari-hari menelepon dengan sambungan jarak jauh ke sana kemari. Akhirnya habis kesabaran dengan aku beserta keluhanku, seraya mendengking dan mengerang, istriku membawa anak kami kembali ke daratan utama. Bersama kelima mahasiswa itu. Dengan feri.

Tiap kali aku beradu sengit dengan orang ini atau orang itu di telepon, kukira aku bakalan mati. Delapan kali jantungku jadi berdebar kencang dan empat kali aku berhenti bernapas. Tiga kali aku diserang nyeri jantung yang intens sampai aku tak sadarkan diri. Tiap kalinya, aku terjatuh dan menggeliat di lantai takut akan ajal yang menjelang.

Akhirnya, pada hari ketujuh belas, ada telepon dari Cabang Shimizu yag mengatakan bahwa kopernya telah tiba. Aku meminta mereka segera menelepon bila kopernya sudah ditemukan.

“Jadi, kopernya sampai sini hari ini?”

“Feri hari ini sudah pergi, bukan. Jadi kopernya akan dikirim dengan feri besok,” sahut suara yang kasar itu.

“Kenapa lama sekali?”

“Karena lewat jalur darat.”

“Kenapa tidak dikirim menggunakan kereta?”

“Mana tahu,” katanya, tahu-tahu menutup telepon.

Keesokan harinya, aku menunggu di tempat pendaratan feri satu jam sebelum feri itu dijadwalkan tiba. Taifun telah melintas dari Kyushu ke Semenanjung Korea, lautan ganas. Tidak hujan, tetapi angin makin garang sementara aku menunggu.

Akhirnya, sekitar tiga puluh menit melewati jadwal, tampaklah feri.

“Kopernya tiba!” aku menari kegirangan di ujung dermaga. “Itu dia! Itu perahu yang membawa obatku!”

“Tapi mana mungkin merapat ke sini!” kata kepala desa, yang datang berdiri di belakangku bersama beberapa penduduk desa lainnya yang khawatir akan cuaca berbadai.

“Ke—kenapa?” tanyaku kaget.

“Karena taifun,” sahut salah seorang penduduk desa.

“Benar. Dengan ombak begini tinggi, kalau ia coba merapat, bisa-bisa menghantam dermaga dan terbalik,” kepala desa menerangkan.

“Jangan gila!” jeritku. “Sudah habis kesabaranku, tahu! Sudah tidak bisa tunggu lagi! Baik—kalau perahunya tak bisa merapat, aku yang akan berenang ke sana!” Aku copot jaketku.

“Mustahil!” tergesa kepala desa dan para penduduk berusaha menahanku. “Jangan lakukan! Nanti tenggelam! Bukan, belum tenggelam saja Bapak bisa menabrak dermaga lalu mati gagal jantung!”

“Peduli amat?! Suka-suka jantungku dong! Aku perlu obat itu!” aku melepaskan diri dari cengkaman mereka dan mencebur jatuh ke dalam amukan ombak besar.

.

Dan itulah awal dari petualangan gilaku. Aku telantarkan keluarga, terjepit dalam kerjaku, mengarungi tujuh samudera melintasi lima benua demi mengejar sebuah paket obat. Aku merenangi Terusan Inggris tanpa busana, berlari-lari di Gurun Sahara tanpa alas kaki, memerangi pribumi yang meniupkan anak-anak panah beracun dalam rimba tropika yang lebat, bergelut dengan beruang kutub di atas es Arktik, dan terjebak dalam pertarungan senjata api antar agen internasional ketika berusaha merenggut obatku di jalur kereta Trans-Siberia. Mengertilah, sebab itu satu-satunya cara bagiku untuk tetap hidup.

.

Masih belum kutemukan obatku.[]

 

“Bad for the Heart” dalam kumpulan cerpen Yasutaka Tsutsui Salmonella men on Planet Porno, terjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Andrew Driver, Vintage Books, 2010.

Tidak ada komentar: