“Kalau sudah tahu begitu,
kenapa kamu pakai mereka?”
“Oh, yang benar saja. Siapa
lagi yang bisa mengantarkan koper remeh-temeh ke tempat antah-berantah?”
ujarnya diiringi senyum mengejek.
“Mereka memonopoli?”
“Benar.”
“Berengsek!” Kuhantamkan
bogemku ke meja. Jantungku segera saja mulai berdebar. Cepat-cepat aku
mengeluarkan botol obat dan menenggak dua tablet. Sekarang yang tersisa tinggal
tiga.
Beberapa saat, istriku tampak
melamun. Lantas ia memandang kepadaku. “Mungkin saja mereka sengaja menunda
koper itu, untuk balas dendam.”
“Ke—kenapa?” kutatap ia. “Apa
yang kamu rahasiakan?”
Ia menjawab dengan ekspresi serius, seakan-akan mau menyulut kecemasanku.“Yah, aku ada sedikit seteru sama sopir Daitsu. Ia datang sendirian untuk menjemput koper itu, dan memintaku membantunya mengangkat barang itu. Aku bilang salahnya sendiri tidak bawa teman, angkat saja sendiri, itu kan sudah tugas dia. Lantas ia memandangku dengan jahat sekali.”
“Namanya siapa?”
“Mestinya ada di bon,”
katanya disertai seringai.
Keesokan harinya juga tidak
ada kiriman dari Daitsu. Aku pergi ke pelabuhan feri bersama istriku. Yang
turun dari kapal hanyalah satu kelompok terdiri dari lima mahasiswa hendak
berlibur di pulau. Mereka semua laki-laki. Istriku segera saja mulai
bercakap-cakap dengan mereka seakan-akan sudah kenal dengan mereka seumur
hidupnya.
Istriku bilang mau beli
sesuatu di koperasi setempat, maka aku kembali ke titik pengamatan sendirian.
Putra kami, yang sedang tidur siang, bangun dan mulai berteriak-teriak. Aku
berhasil menidurkan dia kembali, lalu menelepon Daitsu. Sampai setengah jam
barulah Murai, yang sebelumnya berbicara denganku itu, mengangkat telepon.
“Yep.”
“Ini Pak Suda dari Pulau
Delima. Yang kemarin menelepon?”
“Ya.”
“Kopernya masih belum tiba.”
“Aneh. Mestinya sudah.”
“Tentu, Anda sudah
mengeceknya, bukan.”
“Yah, benar. Koper Anda
mestinya berakhir di Cabang Shimizu. Anda bisa menelepon ke sana kalau-kalau
sudah ada.”
“Ya ampun! Mestinya Anda
yang melakukan itu! Lupakan saja. Entah kenapa mesti aku yang melakukannya,
tapi aku akan menelepon mereka. Aku tidak ada waktu untuk bermain-main. Bisakah
minta nomor teleponnya.” Aku mencatat nomor yang diberikannya kepadaku.
“Omong-omong, Pak Murai. Saya paham istri saya ada sedikit kesalahpahaman
dengan sopir yang datang menjemput koper itu. Mungkin saja dia sengaja menahan
koper itu, untuk balas dendam.”
“Tidak, tidak, itu tidak
mungkin!” ia tertawa.
“Saya yakin, itu mungkin.
Bisakah tolong tanyakan. Nanti saya yang mengontak Cabang Shimizu.”
Murai menjawab dengan sopan
santun berlebihan. “Ya, Pak. Saya akan menanyakannya.” Tentu ia tidak akan
melakukannya.
Aku menaruh kembali gagang
telepon, dan baru saja meminta istri kepala desa agar menyambungkanku dengan
Cabang Shimizu ketika istriku pulang.
“Masih menelepon? Nanti
biayanya membengkak.”
“Peduli amat. Biar perusahaan
yang bayar.” Aku kedatangan ilham. “Kamu pakai pembayaran apa dengan Daitsu?
Bayar waktu datang?”
“Uh-uh. Di muka.”
“Harusnya kamu pilih bayar
waktu datang. Jadinya aku bisa manfaatkan itu untuk tawar-menawar dengan
mereka.”
“Jangan kekanak-kanakkan ah. Mana
mau mereka bersusah-susah soal pembayaran?!”
“Bisa tidak ngomongnya jangan
begitu?”
Seperti ada pegas dalam
langkahnya.
Aku disambungkan ke Cabang
Shimizu.
“Ya, halo, ini Pak Suda
bicara dari Pulau Delima. Apa ada koper yang sudah datang untuk saya?”
Suara di seberang parau,
seperti suara nelayan. “Tunggu sebentar. Saya lihat dulu.” Lima menit kemudian,
ia kembali ke telepon dan lanjut bicara dengan suara paraunya: “Tidak, tidak
ada.” Setidaknya karyawan di daerah ini sedikit lebih sopan.
“Begini, saya mengirimkannya
dari Cabang Kota. Katanya semestinya sekarang sudah sampai.”
“Yah, kalau belum ada ya,
belum ada. Kami harus segera mengantarkan semuanya begitu datang, kalau tidak,
kami akan kebanjiran paket. Kami mengantarkannya segera begitu datang. Jadi
barangnya tidak mungkin kami simpan, kan.”
“Ya, harusnya tidak.”
Tiba-tiba saja pria bersuara
parau itu menutup sambungan. Tak syak lagi kopernya belum tiba.
Aku menunggu disambungkan ke
Cabang Kota untuk kali ketiga, saat istriku muncul dari ruang belakang dengan
baju renang yang kekecilan.
“Kenapa pakaianmu begitu,
ingat usia, tidak?” tanyaku. “Kamu mau renang sendirian?”
“Uh-huh. Mahasiswa-mahasiswa yang
datang tadi sedang berkemah di pantai. Mereka mengundangku, jadi aku bilang
akan datang.”
“Tidak boleh!” seruku. “Apaan
kamu ini berjingkrak-jingkrak setengah bugil bersama segerombol pemuda padahal
suamimu sedang menghadapi krisis antara hidup dan mati!”
“Ah, sayang. Aku yakin kamu
cemburu, ya.”
“Aku tidak cemburu! Hanya
saja syak wasangka di antara pasangan atau kecurigaan akan perselingkuhan itu
bakal sangat memperparah kondisiku. Kamu tidak boleh pergi!”
“Sudah kukira. Kamu cemburu,”
ia tertawa. “Kamu menyeretku ke pulau jahanam ini, lantas berani-beraninya
memerintah dan melarangku? Enyahlah!”
“Kalau kamu pergi, bawa anak
itu.”
“Tentu saja tidak! Bikin malu
saja,” katanya seraya mengeloyor.
Seluruh tubuhku berguncang
oleh amarah, ketika panggilanku tersambung.
Murai yang menjawab, sehingga
aku tumpahkan kepadanya. “Cabang Shimizu bilang kopernya belum sampai.
Apa-apaan ini?!”
“Begitu ya. Meresahkan,”
ucapnya dengan suara yang sama sekali tidak resah. “Tentu, sebaiknya kita
terlebih dahulu mencari tahu pengirimannya pakai kereta atau jalan umum. Kalau
pakai kereta, sampainya di Cabang Yabuki. Kalau lewat jalan umum, tibanya di
Cabang Itagaki. Saya ada ide! Bagaimana kalau Bapak coba hubungi bagian
kedatangan di Itagaki? Kalau mereka belum dapat kopernya, berarti pakai kereta,
sehingga kemungkinan ada di Yabuki. Eh, nomor telepon Cabang Itagaki—”
“Bukannya itu pekerjaanmu?!”
aku meraung. “Tanggung jawab dong, demi Tuhan!”
“Tak perlu teriak-teriak
begitu. Hahaha!”
“Tidak lucu! Kalau kamu tidak
cari koperku, aku minta polisi mengusutnya!”
“Begitu ya. Tapi mestilah
koper itu sedang menuju suatu tempat, bukan.”
“Dan saya minta kamu cari
tahu di mana!”
“Halo?” Tahu-tahu, suara
kasar istri kepala desa menyela panggilan kami. “Maaf, tapi apa Bapak masih
lama meneleponnya? Ada beberapa orang lainnya mau menelepon juga.”
“Diam! Aku masih bicara!”
jeritku.
“Bisakah dipersingkat?”
Aku bisa dengar Murai
tertawa.
“Diam! DIAM!” aku menjerit
keras-keras. “Aku masih bicara, kataku! Aku masih bicara! Aku masih b—b—b—b—“
tahu-tahu aku rasakan susah bernapas, dan mencengkam dadaku.
“Ada masalah?” tanya wanita
tua itu gugup. “Halo? Ada masalah?”
Aku meletakkan pesawat
telepon dan lekas-lekas mencari botol obatku. Napasku sudah putus sama sekali.
Mataku membelalak, badanku terpuntir dan melengkung ke belakang. Aku buka botol
obat itu dengan kedua tangan yang gemetar dan menelan tiga tablet terakhir
tanpa air.
“Obatku habis,” keluhku
kepada istri dengan suara mengibakan malam itu. “Aku harus bagaimana? Aku
bilang ke orang Daitsu itu bahwa aku bakal menyuruh polisi mengusutnya, tapi
sepertinya dia tidak peduli!”
“Yah, mana mungkin dia
peduli,” ujar istriku terkikih. “Lagi pula itu perusahaan korup dari atas
sampai bawah.”
“Ya ….” Aku ingat suatu
insiden beberapa tahun lalu.
Istriku menginginkannya lagi
malam itu. Malahan, ia tampak lebih berahi daripada biasanya. Mungkin karena
dia habis bergenit-genit dengan para mahasiswa itu.
“Jangan, jangan, jangan,”
tangisku. “Obatku tiada bersisa. Bagaimana kalau aku sampai kena serangan? Aku
bakal mati.
“Baiklah kalau begitu!” ia
menjerit histeris. “Karena besok aku bakal serong dengan salah seorang dari bocah
manis itu!”
“Kenapa kamu siksa aku dengan
perkataan begitu?” aku memohon dalam falseto. “Jangan bilang begitu, tolonglah!
Kamu perlu paham bahwa aktivitas seksual itu tidak baik bagi orang sakit
jantung. Kamu mau bunuh aku ya?!”
“Ya tidak usah juga tidak
apa-apa!”
“Tapi nanti kamu melakukannya
dengan orang lain!”
“Huh, kamu ini laki-laki
bukan sih.”
“Baiklah. Kalau katamu
begitu, aku akan lakukan.” Aku letakkan tanganku padanya.
Ia menggusah tanganku.
“Jangan terpaksa.”
“Aku tidak merasa terpaksa.
Aku benar-benar mau bercinta dengan kamu. Jujur deh.” Kurang lebih bersiap
untuk mati, aku paksa diri merangkul dia.
Mungkin karena sudah lama
sekali, segera saja aku selesai.
“Apa?! Apa-apaan ini!”
istriku jelas-jelas tidak puas. “Kamu sengaja, ya, selesai cepat demi
jantungmu. Aku tidak tahan lagi. Aku bakal serong besok. Aku bakal nganu dengan
kelima-limanya, biar tahu rasa kamu!”
“Jangan dong! Jangan!” Aku
menarik selimut ke atas kepalaku dan terisak dalam kenelangsaan luar biasa.
Jantungku sudah mulai berdebar-debar setelah segala gangguan dan olahraga berat
barusan. Aku bahkan tidak bisa berteriak kepada istriku seperti biasanya.
“Sepertinya aku bakal mati. Aku sekarat. Sepertinya aku sekarat. Ya, aku
sekarat.”
Kopernya masih belum tiba
juga besok. Kerja tidak mungkin.
Aku menelepon Murai di Cabang
Kota lagi. “Ini Pak Suda dari Pulau Delima.”
“Wah, halo! Hahaha. Kopernya
sudah sampai?”
“Tentu belum. Itu sebabnya
saya menelepon lagi.”
“Yah. Yah, tentu.”
“Obatku akhirnya sudah
habis.”
“Obat? Obat apa?”
“Obat untuk masalah
jantungku.”
“Begitu ya.”
“Kalau nanti saya kena
serangan, obatnya tidak ada.”
“Sayang sekali.”
“Tahu di mana koper saya?”
“Tidak tahu.”
“Sudah cari belum?”
“Begitu ya.”
“Sudah cari belum?”
“Cari apa?”
“Di mana koper itu.”
“Siapa?”
Aku mendesah keras. “Baiklah,
saya lakukan sendiri. Tolong kasih nomor Cabang Yabuki dan Itagaki.”
Aku mencatat nomornya lalu
menelepon kedua cabang itu. Tak satu pun yang tahu koperku.
Aku meminta sambungan jarak
jauh lagi, kali ini ke Klinik Kawashita.
Seorang perawat menjawab,
“Klinik Kawashita?”
“Halo, nama saya Suda. Saya
pasien di sini.”
“Maaf? Sambungannya
bermasalah.”
“Bisa bicara dengan Dokter
Kawashita?”
“Sayangnya beliau tidak ada.”
“Ya ampun. Bisa kasih tahu di
mana beliau?”
“Sedang di konferensi.”
“Oh. Konferensi. Tahukah di
mana?”
“Sapporo.”
“Sapporo?”
“Benar.”
“Yah, sebenarnya, begini,
Dokter Kawashita kasih saya obat, tapi hilang, mengerti, dan kalau-kalau saja
barangkali Anda bisa segera mengirimi saya obat lagi?”
“Sambungannya terputus-putus.
Suara Bapak tidak kedengaran. Halo? Halo?”
“Halo? Ya. Saya harap Anda
mengirimi saya serpentina alkaloid segera, tolong.”
“Seluloid?”
“Bukan, bukan. Serpentina
alkaloid. Itu nama obatnya.”
“Obat? Kenapa obatnya?”
“Saya minta obatnya segera
dikirimkan.”
“Saya tidak dapat
mengeluarkan obat tanpa instruksi dari dokter.”
“Ya. Tentu.”
“Maaf? Bapak bilang apa?”
“Er, halo? Bisakah Anda kasih
tahu di mana Dokter Kawashita menginap di Sapporo?”
“Mengenakan apa?”
“Hotel tempat beliau
menginap?”
“Wartel?”
“Bukan, hotel apa?”
“Ini bukan hotel. Ini Klinik
Kawashita. Rumah sakit.”
“Ya, ya. Saya tahu itu. Tapi
Dokter Kawashita, di mana menginapnya di Sapporo?”
“Ah, begitu. Ya. Sebentar.
Anu, di Queen Hotel.”
“Ada nomor teleponnya?”
Aku mencatat nomor itu, lalu meminta
sambungan jarak jauh lagi ke Sapporo. Sedari tadi aku bersuara keras-keras
sampai kurang napas dan berkeringat banyak.
Aku terhubung ke Queen Hotel
di Sapporo. Sambungannya terdengar makin jauh, sehingga aku harus berteriak
sekencang-kencangnya. Akhirnya, aku terhubung dengan resepsionis.
“Oh, maksud Bapak, Dokter
Kawashima yang itu?” sahut suara sayup-sayup seorang pria di ujung sana,
ketika akhirnya memahami kata-kataku. “Dokter Kawashita yang dokter itu? Ya,
beliau bersama polisi sekarang.”
“Polisi? Kenapa beliau
bersama polisi?”
“Bapak belum baca surat
kabar? Ada wanita yang terbunuh secara mengerikan di sini semalam. Tiga dokter
yang sedang menghadiri konferensi, termasuk Dokter Kawashita, sedang membantu
polisi sebagai saksi kunci. Jadi, sayang sekali saya belum bisa mengatakan
kapan mereka akan kembali.”
Tanpa akses ke televisi
ataupun surat kabar, aku betul-betul tak tahu peristiwa itu terjadi. Jika
dokter sedang ditanyai polisi, artinya mana sempat membicarakan obat, meskipun
aku berhasil menghubunginya. Aku mengenyahkan ide tersebut dan meletakkan
kembali gagang telepon.
Keesokan harinya juga tak ada
tanda kedatangan koperku. Ataupun esoknya lagi. Sepuluh hari berlalu sejak
koper itu dikirim. Hari itu, istri kepala desa menelepon untuk memberitahuku,
secara berbelit-belit, bahwa seluruh desa mulai memperhatikan kelakukan tak
senonoh istriku dengan para mahasiswa.
Lima hari berlalu. Aku
sepenuhnya mengabaikan pekerjaanku, menghabiskan seluruh hari-hari menelepon
dengan sambungan jarak jauh ke sana kemari. Akhirnya habis kesabaran dengan aku
beserta keluhanku, seraya mendengking dan mengerang, istriku membawa anak kami
kembali ke daratan utama. Bersama kelima mahasiswa itu. Dengan feri.
Tiap kali aku beradu sengit
dengan orang ini atau orang itu di telepon, kukira aku bakalan mati. Delapan
kali jantungku jadi berdebar kencang dan empat kali aku berhenti bernapas. Tiga
kali aku diserang nyeri jantung yang intens sampai aku tak sadarkan diri. Tiap
kalinya, aku terjatuh dan menggeliat di lantai takut akan ajal yang menjelang.
Akhirnya, pada hari ketujuh
belas, ada telepon dari Cabang Shimizu yag mengatakan bahwa kopernya telah
tiba. Aku meminta mereka segera menelepon bila kopernya sudah ditemukan.
“Jadi, kopernya sampai sini
hari ini?”
“Feri hari ini sudah pergi,
bukan. Jadi kopernya akan dikirim dengan feri besok,” sahut suara yang kasar
itu.
“Kenapa lama sekali?”
“Karena lewat jalur darat.”
“Kenapa tidak dikirim
menggunakan kereta?”
“Mana tahu,” katanya,
tahu-tahu menutup telepon.
Keesokan harinya, aku
menunggu di tempat pendaratan feri satu jam sebelum feri itu dijadwalkan tiba.
Taifun telah melintas dari Kyushu ke Semenanjung Korea, lautan ganas. Tidak
hujan, tetapi angin makin garang sementara aku menunggu.
Akhirnya, sekitar tiga puluh
menit melewati jadwal, tampaklah feri.
“Kopernya tiba!” aku menari
kegirangan di ujung dermaga. “Itu dia! Itu perahu yang membawa obatku!”
“Tapi mana mungkin merapat ke
sini!” kata kepala desa, yang datang berdiri di belakangku bersama beberapa
penduduk desa lainnya yang khawatir akan cuaca berbadai.
“Ke—kenapa?” tanyaku kaget.
“Karena taifun,” sahut salah
seorang penduduk desa.
“Benar. Dengan ombak begini
tinggi, kalau ia coba merapat, bisa-bisa menghantam dermaga dan terbalik,”
kepala desa menerangkan.
“Jangan gila!” jeritku.
“Sudah habis kesabaranku, tahu! Sudah tidak bisa tunggu lagi! Baik—kalau
perahunya tak bisa merapat, aku yang akan berenang ke sana!” Aku copot jaketku.
“Mustahil!” tergesa kepala
desa dan para penduduk berusaha menahanku. “Jangan lakukan! Nanti tenggelam!
Bukan, belum tenggelam saja Bapak bisa menabrak dermaga lalu mati gagal
jantung!”
“Peduli amat?! Suka-suka
jantungku dong! Aku perlu obat itu!” aku melepaskan diri dari cengkaman mereka
dan mencebur jatuh ke dalam amukan ombak besar.
.
Dan itulah awal dari
petualangan gilaku. Aku telantarkan keluarga, terjepit dalam kerjaku,
mengarungi tujuh samudera melintasi lima benua demi mengejar sebuah paket obat.
Aku merenangi Terusan Inggris tanpa busana, berlari-lari di Gurun Sahara tanpa
alas kaki, memerangi pribumi yang meniupkan anak-anak panah beracun dalam rimba
tropika yang lebat, bergelut dengan beruang kutub di atas es Arktik, dan
terjebak dalam pertarungan senjata api antar agen internasional ketika berusaha
merenggut obatku di jalur kereta Trans-Siberia. Mengertilah, sebab itu
satu-satunya cara bagiku untuk tetap hidup.
.
Masih belum kutemukan obatku.[]
“Bad for the Heart” dalam kumpulan cerpen Yasutaka Tsutsui Salmonella men on Planet Porno, terjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Andrew Driver,
Vintage Books, 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar