Lampu-lampu menyala. Aku mengambil napas dalam-dalam dan bangkit. Aku meletakkan tanganku di bahunya dan memanggil namanya. Ia menggerak-gerakkan kepalanya beberapa kali, seakan-akan bicara sendiri. Aku secara sopan menerangkan bahwa filmnya sudah selesai dan kami harus pergi. Ia menghela diri ke arah depan tempat duduknya sedikit. Ia menurunkan kaki lalu bangkit. Secara keseluruhan, ia tampak lelah dan letih, tetapi matanya bersinar. Ketika kami keluar bioskop dari jalan samping, ia menutupi wajahnya dengan tangan sehingga cahaya yang cerah tak menyilaukannya. Lalu ia celingukan beberapa kali, seakan-akan lupa kami ada di mana. Hari itu termasuk hari kala matahari bersinar dan segalanya tampak meluap-luap oleh semangat. Bertiup angin sepoi yang sejuk menyenangkan. Siswa-siswi dari sekolah-sekolah Hadaf[1] melewati kami. Burung gereja berciap dan berkicau sambil bermain-main di atara cabang-cabang pepohonan. Aku mendadak diliputi perasaan yang teramat riang. Aku merangkul bahu Agha Baji dan dengan gembira bertanya, “Nah, Agha Baji, suka filmnya?”
Selamat Datang
Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.
Pengarang/Penerjemah
Bongkar Arsip
An Evening of Long Goodbyes, Bab 7 (1/2) (Paul Murray, 2003)
“Kamu benar-benar sangat baik sekali.” “Enggak usah sungkan-sungkan, Charlie.” “Maksudku, ini cuma untuk sekitar seminggu, sampai ...
20260206
20260120
Hitchcock dan Agha Baji (2/3) (Behnam Dayani, 1973)
Namun sikap Agha Baji seketika berubah. Tatapannya membuatku merasa goyah.
Aku merasa ia mau memburaikan isi perutku. Tanpa bangkit dari lantai, ia
menggeser kakinya ke arahku seperti belalang lalu duduk di sampingku. Ia memintaku untuk
menceritainya keseluruhan film itu. Aku pun membeberkan cerita itu, tidak dari
A ke Z, tapi ringkasannya saja. Terpukau, ia memancangkan tatapannya pada mulutku
tanpa berkedip. Ketika ceritanya selesai, nenekku memberi kami masing-masing
secangkir teh. Ruangan pun anehnya hening. Agha Baji tampak menarik diri
sementara tatapannya terpaku pada motif bunga di karpet. Aku tak berani berkata
apa pun lagi. Aku takut ia berubah jadi wanita tua di film Psycho itu
lagi. Memecah keheningan, nenekku batuk-batuk lalu bertanya diiringi tawa,
“Jadi siapa operator film itu?”
Nenek telah mengetahui dari aku bahwa setiap film ada sutradaranya. Namun, seperti “bisoskop”, ia mengacaukan kata ini juga, dan selalu menyebutnya “operator” alih-alih sutradara. Sebelum aku menjawab Nenek, aku melirik Agha Baji, dan bibirnya bergetar. Ia menangis diam-diam. Bingung, aku memandang nenekku meminta penjelasan. Ia memberikan isyarat dengan alisnya, menyuruhku keluar ruangan. Aku pun bangkit dan kembali mempelajari Fisika Mekanika.
20260106
Hitchcock dan Agha Baji (1/3) (Behnam Dayani, 1973)
Kisah pendewasaan yang didedikasikan untuk para nenek ini menyoroti
pembicaraan subversif dan kecintaan pada film.
Kepada nenekku, dan semua nenek lain yang tak pernah kita hargai
sepantasnya.
Pada Kamis sore di musim gugur yang cerah itu, antara pukul dua dan tujuh,
terjadi tiga peristiwa tak biasa. Dari pukul tiga sampai lima, aku dan
teman-temanku pergi ke Bioskop Mahtab untuk menonton film Hitchcock, Psycho.
Pada pukul setengah tujuh, Agha Baji mampir ke rumah kami untuk mengunjungi
nenekku. Lima belas menit kemudian, lantai ubin di kamar mandi runtuh dan aku nyaris
jatuh menerobos ke lubang galian di bawahnya. Tampaknya, ketiga peristiwa remeh ini tidak ada hubungannya
dengan satu sama lain. Namun di balik keremehan itu, terdapat sejumlah
keruwetan.
Pada sore hari itu, ada dua jam mata pelajaran bahasa. Kami sedang duduk di ruang kelas, suasananya diliputi konspirasi dan intrik. Kami mau memberontak melawan guru kami. Namun luar biasanya yang memprakarsai pemberontakan kami itu sesungguhnya kepala sekolah. Ia mau mendepak Pak Chabok. Pak Chabok, guru bahasa kami, mestilah pegawai honorer, itulah sebabnya bisa saja memecat dia dengan mudah. Ia mahasiswa berpostur kekar. Wajahnya tirus dan rahangnya menonjol. Ia selalu menggemeretakkan gigi.