Namun sikap Agha Baji seketika berubah. Tatapannya membuatku merasa goyah.
Aku merasa ia mau memburaikan isi perutku. Tanpa bangkit dari lantai, ia
menggeser kakinya ke arahku seperti belalang lalu duduk di sampingku. Ia memintaku untuk
menceritainya keseluruhan film itu. Aku pun membeberkan cerita itu, tidak dari
A ke Z, tapi ringkasannya saja. Terpukau, ia memancangkan tatapannya pada mulutku
tanpa berkedip. Ketika ceritanya selesai, nenekku memberi kami masing-masing
secangkir teh. Ruangan pun anehnya hening. Agha Baji tampak menarik diri
sementara tatapannya terpaku pada motif bunga di karpet. Aku tak berani berkata
apa pun lagi. Aku takut ia berubah jadi wanita tua di film Psycho itu
lagi. Memecah keheningan, nenekku batuk-batuk lalu bertanya diiringi tawa,
“Jadi siapa operator film itu?”
Nenek telah mengetahui dari aku bahwa setiap film ada sutradaranya. Namun, seperti “bisoskop”, ia mengacaukan kata ini juga, dan selalu menyebutnya “operator” alih-alih sutradara. Sebelum aku menjawab Nenek, aku melirik Agha Baji, dan bibirnya bergetar. Ia menangis diam-diam. Bingung, aku memandang nenekku meminta penjelasan. Ia memberikan isyarat dengan alisnya, menyuruhku keluar ruangan. Aku pun bangkit dan kembali mempelajari Fisika Mekanika.