Karya sastra berbahasa Sunda umumnya hanya dibaca dan dikenal oleh orang Sunda saja, dan selainnya yang bisa berbahasa Sunda. Ada pula yang melampaui lingkungan orang Sunda, hanya tidak seberapa. Yang lumrah adalah dengan menyalinnya ke bahasa lain (bahasa daerah atau bahasa Indonesia). Umpama Wawacan Panji Wulung karya H. Muhammad Musa (1822 – 1886) disalin ke bahasa Jawa oleh Mangkunegara IV lalu disalin ke bahasa Madura; Pangeran Kornel Memed Sastrahadiprawira (1897 – 1932) disalin oleh Abdul Muis ke bahasa Melayu (Indonesia). Bagaimana tanggapan pembacanya (dalam bahasa Jawa, Madura, dan Indonesia), wallahualam.
Yang istimewa adalah karangan Joehana (= Yuhana, sandi asma Ahmad Bassach, meninggal 1930). Karyanya menyebar menyeberangi tapal batas kesundaan tanpa disalin terlebih dahulu ke bahasa lain. Atau tanpa disalin sebagai karya sastra. Media dunia modern, film, jadi titian untuk menyebarnya beberapa karangan Joehana menyeberangi tapal batas kesundaan. Di antaranya yang sampai difilmkan adalah Carios Eulis Acih (1926) dan Rasiah nu Goreng Patut (1927). Walaupun saya tidak sampai menyaksikan filmnya, hanya demikianlah hasil studi Tim Peneliti mengenai Yuhana Sastrawan Sunda (1979: 5-6). Tidak ada keterangan mengenai percakapan dalam film tersebut apakah menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Melayu.