Pa
Camat mengangguk-angguk sambil mengusap-usap kumisnya. Pa Lurah, memelototi Bah
Emuh, berkata: “Betul! Abah sudah memenangkan urusan ini, tapi Abah bisanya
berkata-kata saja. Itu saya mengerti, karena Abah memang ahlinya. Tapi, di
samping itu, Abah tidak membaca perasaan yang Abah juga tentu mempunyai ….”
Abah
Emuh yang mengenakan ikat kepala itu agak melotot. Hidungnya merah seperti
tomat masak karena kepanasan. Jawabnya gigih: “Ah, Pa Lurah suka begitu. Kalau
begini kan mengubah putusan yang tadi? Soal rasa memang adakalanya harus
dibuang, kalau kebenaran lebih penting daripada rasa.”
Pa Lurah melotot lagi. Sembari merogoh handuk kecil “good morning” dari saku celananya, lalu dipakai mengelap keringatnya, ia menambahkan tak kurang lincahnya dari perkataan Abah Emuh tadi: “Manusia yang tak punya rasa, miskin hidupnya. Di antaranya Abah (sembari menunjuk ke dada Bah Emuh seperti akan memistol) tandas sekali menyatakan, bahwa rasa harus dibuang pada urusan ini.”