Pa
Camat mengangguk-angguk sambil mengusap-usap kumisnya. Pa Lurah, memelototi Bah
Emuh, berkata: “Betul! Abah sudah memenangkan urusan ini, tapi Abah bisanya
berkata-kata saja. Itu saya mengerti, karena Abah memang ahlinya. Tapi, di
samping itu, Abah tidak membaca perasaan yang Abah juga tentu mempunyai ….”
Abah
Emuh yang mengenakan ikat kepala itu agak melotot. Hidungnya merah seperti
tomat masak karena kepanasan. Jawabnya gigih: “Ah, Pa Lurah suka begitu. Kalau
begini kan mengubah putusan yang tadi? Soal rasa memang adakalanya harus
dibuang, kalau kebenaran lebih penting daripada rasa.”
Pa Lurah melotot lagi. Sembari merogoh handuk kecil “good morning” dari saku celananya, lalu dipakai mengelap keringatnya, ia menambahkan tak kurang lincahnya dari perkataan Abah Emuh tadi: “Manusia yang tak punya rasa, miskin hidupnya. Di antaranya Abah (sembari menunjuk ke dada Bah Emuh seperti akan memistol) tandas sekali menyatakan, bahwa rasa harus dibuang pada urusan ini.”
“Heeh,”
sambung Bah Emuh, “hakim, umpama memikirkan rasa kasihan saja tidak akan ada
putusan, hasilnya pun bisa jadi tidak adil. Begitu bukan, Pa Camat?” sembari
melirik ke Pa Camat minta bantuan.
“Sebentar,
bagaimana jadinya ini?” Pa Camat bertanya tampak bingung. Pertanyaan itu
disambung dengan lancarnya omongan Pa Lurah:
“Umpama
Abah atau siapa saja sudah memiliki putra, tentu bisa mengerti hati Bi Empat. Betapa
amat sakitnya, bukan, umpama terjadi seperti ini?
Abah tidak mengerti pengorbanan yang sudah didarmabaktikan oleh Bi Empat. Tapi
saya—”
Datang
delman melewati mereka. Penumpangnya perempuan bertiga. Yang seorang memangku
anak kecil, sepertinya anaknya. Anak di delman itu bertanya kepada perempuan
yang agak hitam:
“Kenapa, Bi Ucu, itu?” sembari menunjuk dengan lucunya kepada yang lagi menangis di pagar tembok.
“Tah!”
Pa Lurah agak menyentak, “kenapakah suara anak
itu tidak mengetuk pintu rasa semuanya? Di sini adanya kebahagiaan yang menjadi
ibu bapaknya. Anak diurus dari waktu lahirnya. Betapa amat nelangsa umpama pada
satu waktu harus berpisah.”
Mega
maju terus ke barat. Terasa panas meradang lagi. Elang kelak-kelik dari
kejauhan tanpa kelihatan wujudnya hanya kedengaran suaranya. Bi Empat masih
terisak-isak tanpa lepas merangkul si anak. Sebentar-sebentar
berteriak-teriak lagi:
“Ini
anakku! Ini anakku! Tak peduli yang lainnya tak percaya, tapi si Endang tetap
anakku. Yang benar saja dari dulu dipelihara, sekarang sudah besar mau diculik
orang?”
Pa
Maskur menyentak mendengarkan hal tadi, katanya: “Anak Bibi? Bibi merasa
melahirkan anak ini?”
Bi
Empat bangkit. Berdiri. Katanya tersendat-sendat tapi cukup keras: “Kalau
begitu si Endang anak siapa? Anak Anda? Anda merasa memiara anak ini dari waktu
lahir? Anda tidak ingat waktu mengeluarkan ucap dahulu? Bukankah katanya anak
ini sudah diberikan kepada saya? Waktu itu Anda tidak mengaku-aku memiliki.
Tapi sekarang …?
“Ah,
yang dulu, ya, dulu. Lagi pula mana
buktinya, mana saksinya, bahwa saya sudah memasrahkan anak ini ke Anda?”
Bi
Empat tertunduk sewaktu ditanyai saksi dan bukti. Tapi kemudian membantah:
“Memang air susu dibalas air tuba. Waktu itu Anda dibantu keluar dari kesusahan
hidup, anak dipiara, tapi inikah balasannya? Amal saya tak dianggap. Anak
diminta. Bukannya pamer karena sudah bisa menolong Anda, tapi saya ingin tahu
bagaimana penghargaan Anda pada amal tadi. Saya hidup bersama dengan dia sudah
tujuh tahun. Kasih sayang saya tidak beda daripada ke anak yang dilahirkan
sendiri. Rabalah hati Anda, umpama Anda jadi saya!”
Dari
kejauhan terdengar suara ole-ole di tengah sawah. Anak-anak berteriak-teriak
memuji-muji ole-olenya. Yang seorang tidak mau kalah dari yang lainnya. Di sana
sini nyaring suara mereka, Endang celingukan seperti akan berlari, ingin
bermain dengan anak-anak itu.
“Ndang,
di Bandung ramai lo, tidak seperti di sini. Apa-apa ada banyak di sana. Endang
mau ke sana bukan, sekarang?” Pa Maskur merayu.
“Mending
di sini, Ndang,” Bi Empat menyambung. “Sebentar lagi kan kita mau memanen padi.
Endang suka telur di nasi tumpeng kan. Yuk bikin ole-ole seperti anak-anak
itu,” sembari menunjuk ke tengah sawah yang ramai oleh suara ole-ole.
“Di
sini sih sepi.”
“Di
Bandung ramai?” anak itu membelalak bertanya.
“Ramai.”
“Seperti
waktu panen padi?”
“Lebih
ramai.”
“Seperti
waktu imtihan[1], eh, samen[2], mungkin.”
“Heeh,
tapi lebih ramai lagi.”
“Tidak
capek orang ramai-ramai terus?”
“Tidak,
karena orangnya banyak.”
“Seperti
di pasar?”
“Heeh,
tapi di Bandung lega.”
“Euh,
seperti di sawah Haji Abdullah mungkin.”
Yang
mendengarnya mesem, kecuali Bi Empat yang sibuk mengelap air matanya.
“Kan
Ndang segera akan samen
di desa.
Nanti Ema belikan baju yang bagus, sepatu
segala rupa.”
“Benar, ya, Ma, sepatunya
seperti yang punya Koko putra Pa Adi itu.”
“Heeh.”
“Bajunya yang putih
setrip-setrip kerahnya ke belakang.”
“Heeh, kita beli.”
Sepertinya Pa Maskur agak
panas. Katanya merayu lagi: “Nanti kalau sudah sampai ke Bandung, kita beli
baju koboi.”
“Koboi, apa itu koboi?”
“Eh, pokoknya gagah. Pakai
pistol segala.”
“Seperti Pa Unu KD?”
“Heeh, tapi kecil.”
“Euh KD kecil mungkin.”
“Heeh, pistolnya juga bisa
ditembakkan segala rupa. Dar! Dar! Begitu suaranya.”
“Haaah, seperti di
pertempuran dong. Tidak bakal dimatikan oleh Pagar Desa?”
“Tidak bakal, karena
pistolnya juga tidak ada pelurunya.”
“Kenapa bisa bersuara?”
“Ada obatnya.”
“Euh seperti bedil Mang Daha
yang macet itu mungkin.”
“Eh, bukan.”
“Haaah, seperti apa dong?”
Pa Maskur tertawa. Yang
lainnya mesem. Tapi Bi Empat cemberut. Katanya lagi: “Bukannya Endang suka ikut
ke Pa Jamhari? Nah, nanti, kalau meluku lagi, ikut.”
“Iya, ya, Ma, Pa Jamhari itu
baik. Belutnya sering dikasihkan ke Endang semuanya. Dibikin dendeng, ya, Ma?”
“Apalagi di Bandung bakal
senang naik kereta api.”
“Api?”
“Heeh.”
“Kereta ada apinya. Aneh,
aneh, Ma!”
“Bunyinya kong! Kong!”
“Seperti bangkong?”
“Heeh, tapi suka menguik
pula.”
“Euh bunyi anjing dipukul mungkin.”
“Heeh, badannya panjang.”
“Seperti ular?”
“Kecil panjang, dari sini
sampai ke sana tuh ke petak sawah yang terjauh itu.”
“Wah! Seperti naga di dongeng
Ibu Tiktik itu mungkin.”
“Heeh,” jawab Pa Maskur
sembari tertawa.
Setelah Bi Empat hendak lagi berangkat,
berjalanlah mereka. Bi Empat terus terisak. Jalannya lambat-lambat seperti
teramat sungkan. Singaparna baginya ibarat singa yang harus didekati. Di sana
ia bakal berpisah dengan “anaknya”. Dari sejak itu tentu berjauhan, tidak
seperti yang sudah lewat. Keceriwisan dari mulut anak itu tidak akan terdengar
lagi. Rumahnya tentu hilang semaraknya. Hatinya sepi.
Tapi Singaparna sudah
dipijak. Tempat yang ditakuti itu sudah terlihat. Sudah tersedia opelet yang
akan membawa Endang ke Bandung. Sebentar lagi tentu berangkat.
Bah Emuh bertolak pinggang,
hatinya bersorak gembira lantaran menang berbantah. Ia seorang pokrol. Bisa
jadi pokrol bambu. Oleh kepintarannya berbicara sampai lawannya tidak bisa
berjeda.
Begitu pula Pa Maskur,
hatinya gembira lantaran anaknya yang dahulu hilang dapat dibawanya lagi. Siapa
yang tidak gembira berjumpa kembali dengan anak? Ia merasa bahwa pendiriannya
benar. Meminta hak yang sudah tentu haknya. Ialah yang menyebabkan adanya
Endang. Umpama tidak begitu, anak itu tidak akan ada. Oleh karena itu,
alasannya kuat.
Tapi Bi Empat sebaliknya.
Terlihat bahwa hatinya terluka dan akan terus terlukai. Endang yang telah
dipiara dari waktu jabang bayi, diasuh oleh kasihnya, dijaga oleh sayangnya,
sudah besar diculik orang lain. Siapakah yang tidak bersedih umpama terjadi
demikian? Sebenarnya ia punyak hak menyebut Endang “anak Ema”, lantaran
seandainya tidak dipiara olehnya belum tentu hidup. Belum tentu berwujud
seperti sekarang.
Tapi Bi Empat kalah bantah.
Kesuksesan “digondol” oleh Pa Maskur yang dibantu oleh pokrol pilihan: Bah
Emuh. Walaupun Pa Lurah bersikap membela, walaupun Pa Camat agak berada di
pihak Bi Empat, tapi karena pengaruh Bah Emuh, semuanya bagaikan yang pasrah.
Semua tidak berdaya.
Sekarang keberhasilan mereka
akan dibuktikan. Endang akan dibawa ke Bandung. Sebentar lagi. Sekarang juga.
Tapi Bi Empat masih memegangi
Endang sementara air matanya terus menggenang. Hanya menangis. Bisa jadi air
mata penghabisan yang terlihat oleh anaknya. Begitu pula wajahnya.
Bah Emuh sudah masuk ke
opelet.
Pa Maskur berdiri diam di
luar menunggui Endang yang belum dilepaskan oleh ibunya.
“Ayo, Endang!” kata Pa Maskur
sembari merebut lengan anak itu, sekarang terlepas dari pegangan ibunya.
Menjerit Bi Empat sembari menyebut-nyebut anaknya, supaya kembali lagi
kepadanya.
“Ke sini, Endang! Masak kamu
tega ke Ema?”
“Ayolah,” Pa Maskur memaksa.
“Tidak mau! Endang tidak mau
ke Bandung! Kasihan Ema,” ucap anak itu sambil seperti akan meloncat-loncat mau
melepaskan diri. Berlarilah lagi ke ibunya, merangkul sembari menangis.
“Ema … Ema …!”
Ibunya menangkapnya,
berkata-kata sambil menangis.
“Iya Endang lebih baik di
Ciawang saja bersama Ema. Jangan, jangan pergi. Ema tiada kawan. Bukankah dari
dahulu juga kita hidup berdua.”
Pa Maskur menghampiri. Anak
itu direbutnya lagi, setengah diseret akan dimasukkan ke dalam opelet. Tapi
anak itu lepas lagi karena menggeliat. Berlari ke ibunya. Lekas dirangkulnya
lagi. Hatinya bersukacita lagi.
Semua yang ada di situ tampak
seakan ikut kasihan. Baik ke ibunya. Baik ke anaknya. Kejam nian yang berani
memisahkan jiwa manusia. Antara hati Bi Empat dan hati anak itu sudah ada
pertalian yang kuat tak akan mudah diputuskan. Oleh sebab itu tak heran bila
anak itu mengintil saja.
“Yang sabar saja, Bi,” Pa
Camat menghibur, “anak itu mau di sana atau di sini kan sama-sama diurus.”
“Gara-gara si pokrol goblok,”
Pa Lurah berapi-api.
Terkena hati Bah Emuh.
Bertengkarlah mereka berbanyak-banyak omong beradu pendapat. Pa Lurah agak
terpepet. Pun anak itu ditarik lagi dari rangkulan ibunya.
“Ayo kita ke Bandung.”
“Endang ke sini, kita pulang
ke Ciawang, ayo … ayo …! Ayo ….!” (opelet sudah dibunyikan) ke sini … (bruk
pintunya ditutup) … kembalilah ke Ema, Endang …! (majunya makin kencang,
lalu dikejar oleh Bi Empat).”
Dari opelet terdengar suara anak
menangis memanggili emaknya: “Emaaa …!”
Berhenti opelet itu. Pintunya
terbuka. Ada lelaki keluar. Kenek hendak mengambil wadah bensin. Masuk lagi.
Gerung lagi. Bi Empat sudah dekat mengejar. Dari opelet masih terdengar anak
menangis.
“Ema …!”
Dijawab dari luar: “Endang …!”
Opelet maju perlahan-lahan.
“Endang … ke sini …!”
Dijawab dari dalam, “Ema …
tak mau ke Bandung!”
Opelet maju makin kencang. Di
sudut alun-alun berbelok ke barat. Terus ke barat ke arah Bandung.
Bi Empat masih memanggili
Endang. Air matanya masih basah. Masih deras. Kepada anaknya masih sayang dan
sesungguhnya akan terus sayang. Tapi … tak ditakdirkan hidup bersama seterusnya.
Anak itu akan kembali kepada ibunya yang sejati. Bi Empat sekadar berbuat darma
yang pada akhirnya tersiksa oleh aniaya.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar