Selamat Datang

Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.

Pengarang/Penerjemah

Agus Kurniawan (1) Aimee Bender (2) Ajip Rosidi (1) Alan Gratz (1) Alberto Manguel (1) Alejandro Zambra (1) Alex Patterson (1) Alexa Firat (1) Alexandre Najjar (1) Alice Guthrie (1) Alice Walker (1) Aliza Shevrin (1) Ambika Rao (1) Ambrose Bierce (1) Amelia Gray (1) Amy Hempel (1) Anders Widmark (2) Andrea G. Labinger (1) Andrew Driver (10) Ann Beattie (1) Anna Sophie Gross (1) Anne McLean (1) Aoi Matsushima (1) Ariel Urquiza (1) Behnam Dayani (3) Bel Kaufman (1) Brandon Geist (5) Catherine Rose Torres (1) César Aira (1) Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato (1) Chiba Mikio (1) Chikako Kobayashi (1) Chimamanda Ngozi Adichie (1) Chris Andrews (1) Christopher Moseley (1) Clark M. Zlotchew (6) Cynthia Ozick (1) David Herbert Lawrence (2) David Karashima (1) Dayeuh (2) Donald A. Yates (1) Dorothy Parker (1) Dorthe Nors (1) Ed Park (1) Elizabeth Harris (1) Estelle Gilson (1) Fernando Sorrentino (15) FiFadila (1) Fiona Barton (1) Francis Marion Crawford (2) Fumiko Enchi (1) Gabriel Gárcia Márquez (1) Giulio Mozzi (1) Grace Paley (1) Gregory Conti (1) Gregory Rabassa (1) Guillermo Fadanelli (1) Guillermo Martínez (1) Hari Kumar Nair (1) Haruki Murakami (24) Hector Hugh Munro (Saki) (2) Helena Maria Viramontes (1) Herbert Ernest Bates (1) Hitomi Yoshio (1) Ian MacDonald (1) Iris Maria Mielonen (1) Isaac Bashevis Singer (1) Italo Calvino (1) Jack Kerouac (2) Jacob dan Wilhelm Grimm (1) James Patterson (1) James Thurber (5) Jay Rubin (13) Jean Rhys (1) Joehana (1) John Cheever (1) John Clare (1) John Updike (1) Jonas Karlsson (1) Jonathan Safran Foer (1) Jonathan Wright (1) Jorge Luis Borges (1) Juan José Millás (1) Julia Sherwood (1) K. S. Sivakumaran (1) Kader Abdolah (1) Kalaivaathy Kaleel (1) Karunia Sylviany Sambas (1) Kate Chopin (1) Katherine Mansfield (1) Keiichiro Hirano (5) Kevin Canty (1) Khaled Hosseini (1) Khan Mohammad Sind (1) Kurahashi Yumiko (1) László Krasznahorkai (1) Laura Wyrick (27) Laurie Thompson (1) Laurie Wilson (1) Lawrence Venuti (1) Liliana Heker (1) Lindsey Akashi (27) Liza Dalby (1) Lorrie Moore (5) Louise George Kittaka (1) Lynne E. Riggs (1) Mahmud Marhun (1) Malika Moustadraf (1) Marek Vadas (1) Marina Harss (1) Mark Boyle (32) Mark Sundeen (1) Mark Twain (2) Marshall Karp (1) Martin Aitken (1) Massimo Bontempelli (1) Megan McDowell (1) Megumi Fujino (1) Mehis Heinsaar (1) Michael Emmerich (1) Michele Aynesworth (3) Mieko Kawakami (1) Mihkel Mutt (1) Mildred Hernández (1) Mitsuyo Kakuta (1) Morgan Giles (1) Na’am al-Baz (1) Nahid Mozaffari (3) Naoko Awa (1) Naomi Lindstrom (1) Norman Thomas di Giovanni (1) Novianita (1) Nur Laili M. (2) O. Henry (1) Ottilie Mulzet (1) Pamela Taylor (1) Paul Murray (54) Paul O'Neill (1) Pere Calders (1) Peter Matthiessen (1) Peter Sherwood (1) Philip Gabriel (11) Polly Barton (1) Ralph McCarthy (3) Ramona Ausubel (1) Ray Bradbury (3) Raymond Carver (2) Raymond Chandler (2) Rhett A. Butler (1) Robert Coover (3) Rokelle Lerner (359) Ruqayyah Kareem (1) Ryu Murakami (3) Ryuichiro Utsumi (1) S. Yumiko Hulvey (1) Sam Garrett (1) Sam Malissa (1) Samantha Schnee (1) Saud Alsanousi (1) Sebastiano Vassalli (1) Selina Hossain (1) Sergey Terentyevich Semyonov (1) Shabnam Nadiya (1) Sherwood Anderson (1) Shirin Nezammafi (1) Shun Medoruma (1) Soekria (1) Sophie Lewis (1) Stephen Chbosky (10) Stephen Leacock (1) Susan Wilson (1) Suzumo Sakurai (1) Tatsuhiko Takimoto (27) Thomas C. Meehan (2) Tobias Hecht (1) Tobias Wolff (1) Tomi Astikainen (40) Toni Morisson (1) Toshiya Kamei (2) Ursula K. Le Guin (1) Vina Maria Agustina (2) Virginia Woolf (1) W. H. Hudson (1) Wahyu Wibisana (3) Wajahat Ali (1) Widya Suwarna (1) William Saroyan (1) William Somerset Maugham (1) Yasutaka Tsutsui (10) Yu Miri (1)

20260720

Rasiah Nu Goreng Patut (1 - 2) (Soekria/Joehana, 1927)

Pada suatu pagi, gunung-gunung di sekeliling Kota Bandung tampak diselimuti kabut hingga keputih-putihan, sungguh membuat haru, membangkitkan perasaan permai penduduk desa yang sedang bertani, pertanda akan musim hujan.

Esoknya kebetulan Jumat. Sinar mentari meredup suram, bagai kalah nyali oleh mega yang digdaya sakti tiada tara.

Makin lama mega makin mendung hingga membentang hitam. Bianglala yang sedang turun ke lubuk bagaikan sutra merah kekuningan. Kata orang bohong, itu tangga bidadari yang sedang mandi. Tak sampai lama, hujan angin begitu lebat. Halilintar menyambar-nyambar. Makin lama hujan makin besar, seakan-akan hendak menumpahkan air dari langit.

Tukang tani bersukacita lantaran setelah musim kemarau yang begitu mengkhawatirkan panas teriknya, sekarang turun hujan teramat lebatnya. Terlebih Jumat katanya memang banyak turun hujan. Akibatnya yang bersawah merasa tenteram, yang bertani jadi kaya.

Esok-esoknya sawah pada penuh oleh air, menggenang luas teramat jernih, senang memandangnya, bagaikan lukisan. Sungai meluap sampai jauh. Hewan-hewan bersukacita. Jangkrik berderik. Bancet merecet. Bangkong mengongkong. Burung-burung berkicau sembari mengembangkan sayapnya.

Orang kampung berduyun-duyun memanggul pacul. Orang desa menyebar bersambung-sambung, berusaha demi anak orang yang menjadi tali kasih.

Tersebutlah di Kampung Cijawura Desa Buahbatu, ada dua orang bersahabat sangat erat, tak pernah berselisih—saling menolong, senasib sepenanggungan. Yang satu bernama Karnadi, yang satu lagi Marjum.

Yang menjadi tali hidup kedua orang itu agak lain daripada yang lain, lantaran enggan memacul, ogah menyawah, ujungnya mencari sesuatu penghasilan yang tanpa modal, sekadar tenaga, serta mudah, yaitu tukang mengambili … bangkong. Oleh mereka bangkong itu dijual kepada babah-babah di kota.

Karnadi asal-muasalnya orang kota, tadinya tukang mengored di pelataran sekolah. Lantaran setiap hari mendengar anak-anak di sekolah itu berbicara, Karnadi mengetahui bahasa halus sedikit-sedikit, bisa mengarang cerita, malah mengikuti cara menak berkata-kata segala.

Lama-lama Karnadi dilepas dari pekerjaannya itu, lalu terlunta-lunta ke Cijawura. Bertemulah ia dengan Marjum, tukang mencari bangkong, sahabat karibnya pula. Ujungnya Karnadi berdagang di Cijawura, sampai beranak.

Potongan tubuh Karnadi pendek besar, gemuk. Kulitnya hitam kucel. Wajahnya beruntusan. Kata orang bohong, beruntusnya sebesar-besar kemiri. Matanya melotot. Hidungnya penyek, ujungnya bertumpuk tak beraturan. Alisnya pitak sebelah. Mulutnya lebar. Kedua belah bibirnya tebal. Giginya besar-besar. Telinganya lebar hampir separuh kepalanya. Ditambah lagi, ketika berjalan, kedua kakinya bengkok ke dalam, sudah begitu, pincang pula. Pendeknya, susah ditandingi keburukan rupanya itu di alam dunia.

Adapun sifat Karnadi kerap kali berani dengan hal yang tidak pasti, menuruti hawa nafsu, menginginkan hal yang tidak selayaknya, dan mencintai yang tidak sepadan.

Tapi, namanya manusia, walaupun buruk rupa dan kurang kepandaian, kadang ada saja kelebihannya. Begitu pula Karnadi. Selain bisa mengarang cerita, ia juga bisa menyanyi, cepat memahami geguritan. Suaranya lumayan merdu.

“Jum!” kata Karnadi, masih berselimutkan kain, tidak lekas bangkit setelah bangun tidur, “Sepertinya nanti sudah waktunya kita ke kantor, karena hujan sudah turun.”

Marjum: “Ya, seperti biasanya saja kita, setelah turun hujan di mana-mana, baru ke kantor.”

Karnadi: “Maklum, kantornya lompat-lompat. Listrik, pensil, dan tas, hati-hati lupa!”

Yang dimaksud Karnadi dengan listrik, pensil, dan tas yaitu obor, tongkat untuk memukul kalau-kalau bertemu ular atau belut, serta keranjang untuk wadah bangkong. Marjum sudah tabah dengan karangan Karnadi semacam itu.

“Amboi, aku baru saja mau bermimpi lagi,” Karnadi terus mengarang seakan-akan ada yang sedang dikhayalkannya.

Marjum: “Mimpi apa, Di?”

“Mimpi yang bukan-bukan, seperti biasa.” Karnadi celingukan, menoleh berulang-ulang ke istrinya. “Mimpi men ….”

“Biasa, biasa!” ucap Nyi Usni istri Karnadi, sambil membolak-balik ubi yang sedang dibakar. “Kalau sudah memimpi-mimpikan menikah lagi. Sudah tahu, ‘men’ itu menikah lagi. Ada orang sama sekali tidak punya perasaan, tidak tahu diri. Makan saja masih sulit, tuh kasih makan dulu anak-anak. Ayo, kalau mau menikah lagi. Wajah buruk rupa tak punya malu!”

“Apanya yang biasa?” Karnadi mendelik. “’Men’ itu maksudnya mencaplok, bukan menikah lagi. Lantaran ingat terus sama usaha, membela anak istri, sampai termimpikan dicaplok bangkong. Pikir saja olehmu, masak orang yang sebegini susah terpikir mau menikah lagi? Mari, Jum, kita mencari rezeki!”

Marjum sudah tahu bahwa ‘men’ itu memang menikah lagi, lantaran Karnadi sering sekali bercerita bahwa ia ingin menikah lagi dengan yang cantik.

Kira-kira pukul enam sore, waktu hujan rintik-rintik kecil, Karnadi dan Marjum berangkat, menggulung pakaian bersiap untuk bekerja.

Sepanjang jalan, Karnadi mencerocos tak putus-putus akan maksudnya menikah lagi itu.

“Coba kamu perhatikan!” ucap Karnadi sembari melongok-longok ke petak sawah. “Haji Sirad istrinya empat cantik-cantik sekali, sudah begitu masih pada belia. Makanya aku tertarik juga. Terlebih kemarin sewaktu ia pergi ke kota, istrinya yang empat itu dibawa semua. Lagaknya sudah seperti Raja Astina diiringkan permaisuri.”

Sahut Marjum sembari meliuk-liuk menyuluhi petak sawah, “Kamu ini, itu kan Haji Sirad, sedang kamu Karnadi, beda kedudukan.”

“Apa bedanya?” ujar Karnadi sembari menangkapi bangkong. “Dia manusia, aku juga manusia. Malah aku lebih muda daripada Haji Sirad. Cuma karena dia kaya. Maka yang miskin juga bisa saja menikah lagi dengan yang cantik.”

“Kalau melamun jangan terlalu tinggi, nanti kena tulah dari Yang Maha Suci,” ucap Marjum sembari memasukkan bangkong ke dalam keranjang. “Kita itu tukang bangkong. Keinginannya pun tetap pada bangkong.”

“Wah, kenapa pula Yang Maha Suci menulahi kita? Manusia itu jangan pasrah dengan satu pekerjaan hina, tapi harus ikhtiar mencari gantinya yang tidak hina. Itulah yang disebut dengan kemajuan.”

Marjum tak menyahut lagi, sebab tahu, Karnadi tak mau kalah bicara.

Setelah Karnadi dan Marjum mendapat hasil banyak, keranjang yang sebegitu besarnya penuh sesak oleh bangkong, mereka pulang dengan hati sangat gembira.

Esoknya bangkong itu mereka jual ke pasar. Begitulah seterusnya kehidupan dua orang itu; lumayan menghidupi bila dibandingkan dengan musim kemarau. Hanya Karnadi amat tak berterus terang. Jika mendapatkan f1,50, kepada istrinya diberikan f0,75. Yang setengahnya lagi disembunyikan di sisi kopiah, sampai penuh sesak oleh duit kertas seperak-seperak. Karena itulah, kopiah itu tidak pernah dilepaskan atau ditinggalkan. Hidup mati bersama kopiah. Malah, bila mengobrol dengan istrinya pun ia sambil menengadah karena takut kopiahnya jatuh.

.

Kita tunda dulu perkara Karnadi. Tersebutlah di Desa Cigereleng, sebelah selatan Kota Bandung, ada seorang bernama Mas Sura. Pekerjaannya tani, berkecukupan, sawahnya lega, dombanya beranak-pinak, kerbaunya banyak. Boleh dikata ia paling kaya di Cigereleng. Mas Sura punya anak perempuan satu-satunya, namanya Nawangsih, panggilannya Awang, tapi sering disebut dengan Eulis[1] oleh semua orang, sebab pantas dengan perawakannya, kena dengan rupanya: badannya lampai, akibatnya banyak yang dibuat pusing, kulitnya bening kehijau-hijauan, sehingga merawankan hati, rambutnya hitam ujungnya mengikal, membuat ingin bolak-balik melihatnya, bibir merah agak berlekuk-lekuk, sehingga ingin melumatnya, matanya bulat lebar, menimbulkan cinta yang memandang, gigi putih tanpa dipotong[2]. Pendeknya, ia bintangnya Cigereleng.

Pada suatu waktu, Eulis Awang berbelanja ke pasar kota, diiringi oleh bujang perempuan. Belanjanya tidak seberapa banyak, sebetulnya di Cigereleng pun bisa. Hanya dasarnya janda yang masih muda dikuasai perangai, tidak sepantasnya sendiri. Kiranya belanja ke pasar kota itu seolah-olah tidak sengaja mengedarkan programnya.

Eulis Awang mengenakan pakaian pilihan, setengah jam pun tak cukup untuk mematut diri. Ia kenakan baju batis dari Paris berkain tipis dan halus menerawang, terlihat lengannya yang kuning. Sabuknya model sekarang yang besar lebar terpampang jelas untuk memperlihatkan pinggangnya yang kecil. Ia kenakan kain panjang sinjang kopi susu yang kemanisan. Selopnya berjingkat beludru merah, kakinya yang kuning jadi bersinar merah, mendekati putih terang, berkelebat menaiki delman. Seandainya bantalan delman bisa bicara barangkali begini katanya, “Aduh bahagia teramat sangat, aku diduduki Eulis Awang. Terima kasih Eulis, kuingin diduduki seharian.”

Nyi Inem bujangnya Eulis Awang duduk di depan berdampingan dengan kusir, berdesakan, sebab kusirnya lumayan juga.

Singkat cerita, tibalah Eulis Awang di pasar. Kebetulan Karnadi dan Marjum sedang berada di pasar, menjual dagangan mereka. Berbarengan dengan turunnya Eulis Awang dari delman, Karnadi terbelalak menatap, tercengang heran akan kecantikannya.

“Wah, aduh, Di!” ucap Enjum, sembari mendepak Karnadi. “Lihat apa kamu sampai melotot begitu?”

Karnadi asyik saja bengong, ditanya begitu oleh Enjum, tak terdengar sama sekali.

“Wah, Di!” Enjum membalikkan badan Karnadi. “Lihat apa kamu?”

Barulah Karnadi sadar sembari menunjuk ke perempuan itu.

“Coba, Jum, lihat yang turun dari delman itu! Manusia, bukan?”

Sahut Marjum sembari memandang perempuan itu, “Tentu saja manusia, tidak salah lagi itu perempuan.”

“Kukira bidadari yang baru turun dari surga.” Karnadi tak putusnya memandang sehabis masuknya Eulis Awang ke pasar. “Emh, sungguh beruntung yang jadi suaminya, punya istri sebegitu cantiknya. Tapi, wah, sangat mungkin sudah janda.”

Kata Marjum, “Sepenglihatanku, cantiknya lumrah saja seperti perempuan lainnya, tidak berlebih-lebihan.”

“Buat kamu seperti itu,” kata Karnadi. “Walau melotot, tetap tidak kelihatan. Aku tiba-tiba saja melihat dia di antara perempuan yang sebegini bertebaran. Biarlah usiaku dikurangi lima tahun asal terlaksana menikah lagi dengan yang barusan.”

“Di!” Enjum bicara pelan, “Walaupun itu perempuan tidak lebih dari biasa saja, tapi kalau dimadu olehmu, dia jauh dari sepadan. Bukan hanya itu, aku tidak hentinya merasa heran kamu bersikeras ingin menikah lagi. Kalau mau menikah lagi itu harus ada bekalnya, sedang kamu itu tidak beda daripada aku, anak banyak harus disuapi, makan sulit. Hanya waktu musim hujan ada hasil lumayan, sementara waktu kemarau kamu sendiri merasakan, makan ketela atau jagung gantinya nasi, kadang makan tumbuh-tumbuhan yang masih muda, adakalanya sama sekali tidak makan sedang anak berisik pada ingin makan. Coba bagaimana sebab-musababnya kamu mau menikah lagi, apalagi dengan yang tidak sebanding?”

Jawab Karnadi, “Aku merasa kalau sandang pangan sangat kurang. Tapi kalau mencari jalan untuk menikah lagi, aku lebih pintar daripada kamu. Dan lagi, martabatku bukanlah harus mencari makan untuk anak istri, tapi harus diberi dari perempuan. Artinya, harus mengakali.”

“Harus mengakali?” Enjum tertawa agak ditahan, memegangi kulit perutnya lantaran terlalu enak tertawa. “Bukan, apa kamu merasa dirimu ini lelaki perlente yang tegap perawakannya? Sepenglihatanku, mukamu tak ubahnya dengan bangkong hitam yang berbintul-bintul itu.” Enjum tak hentinya terkekeh, air matanya sampai merebak.

“Ingat ya!” Karnadi mengacungkan telunjuknya. “Kalau bicara tidak boleh keluar dari garis kesopanan. Asal kamu tahu, manusia tidak tergantung dari rupanya, tapi tergantung dari akalnya, kemauannya, keteguhannya, keberaniannya, serta perbuatannya. Kalau kelima perkara itu ada pada dirimu, mau apa pun akan terlaksanakan, asal munasabah. Seperti aku, ingin menikah lagi dengan yang cantik, serta diberikan apa saja yang menyenangkan hati, toh munasabah. Sedari permulaan hari ini aku akan mulai mencari akal supaya terkabul maksud, terlaksana kemauan.”

“Ya, segera saja jalankan!” Enjum agak kehabisan kata. “Kalau kamu senang, barangkali aku turut senang, bukan!”

“Tentu saja,” ucap Karnadi, sembari melihat-lihat, mencari Eulis Awang. “Asal kamu menuruti kemauanku, sebab bisa jadi aku meminjam tenagamu untuk melaksanakan kemauan ini. Tuh rupanya perempuan tadi keluar dari dalam pasar, aku akan mengikutinya, sebab harus tahu dulu di mana rumahnya.”

Eulis Awang keluar dari pasar, diiringi Nyi Inem yang menggendong keranjang belanja, dan naiklah ke delman.

“Apa boleh buat, kamu pulang sendiri, Jum!” kata Karnadi. “Aku mau mengikuti perempuan itu, tapi kalau kamu sampai di kampung, jangan dulu bertemu ibunya anak-anak. Tunggu saja di jalan persimpangan ke Babakan Jati, yang ada penjual loteknya!”

Dari sana, Karnadi lalu memanggil delman, dan mendadak jalannya gagah, suaranya dibesarkan. Katanya, “Delmaaan, coba turut itu delman, yang dinaiki wanita cantik itu, ya! Bayaran bagus, sewajarnya en seadanya.”

Naiklah Karnadi ke delman. Duduknya tegap, sembari manyun merokok cerutu buatan Kedu. Asapnya bau kain terbakar. Kusir pun celingukan, sangkanya bajunya yang terbakar.

Delman yang dikendarai Eulis Awang berlalu ke selatan, sekitar sekolah menak membelok ke timur sedikit, dari sana ke selatan lagi, tibalah ke Cigereleng. Di hadapan dua rumah yang sepasang, yang dicat kekuning-kuningan menghadap ke timur, berhentilah delman.

Delman Karnadi pun berhenti di sekitar situ. Turunlah ia. Lengannya yang sebelah ditumpangkan ke sayap delman, yang sebelah lagi bertolak pinggang. Kakinya dikaitkan.

Eulis Awang masuk ke rumahnya diiringi Nyi Inem, sama sekali tidak menoleh ke Karnadi.

Sesudah Karnadi membayar delman enam ketip, lalu menghampiri delman bekas Eulis Awang, sembari menanya begini, “Seberapa bayarnya itu wanita cantik?”

Jawab kusir, “lima ketip lima sen kawula.”

“Nah ini ditambah lagi, oleh juragan anemer!” ucap Karnadi, sembari mengais ke dalam sakunya, memberikan enam sen sepeser.

“Terima kasih,” sahut kusir, sembari memutar balik kudanya.

Di jalan, kusir yang dinaiki Karnadi menanya ke kusir satu lagi, “Siapa itu?”

Jawabnya, “Katanya sih anemer.”

Sahut yang menanya, “Kukira si Cepot lepas dari kotaknya.” Mereka tertawa bersama.

Sesudah Karnadi mengetahui rumah Eulis Awang, lalu pulang menerobos pematang ke timur, supaya dekat.

.

Tersebutlah Marjum sepanjang jalan tak henti berpikir. Nyata Karnadi memiliki maksud ingin menikah lagi. Terlebih, bukan dengan yang sepantasnya. Padahal ia sebegitu miskin, serta memberi makan banyak anak. Tapi, kata batin Marjum, “Penasaran, turutkan saja kemauan Karnadi. Sebab, bukan saja sobat sebegitu erat, tapi juga mau tahu ujungnya.”

Tidak sampai lama, sampailah Marjum ke persimpangan Babakan Jati, lalu berteduh sambil mengelap keringat. Marjum melihat-lihat lotek dan cendol, sangat mengidamkan. Lubang kerongkongannya mau lari secepatnya, tapi ditahannya, lantaran akan jajan mengingatkannya pada anak istrinya, apalagi uangnya tinggal sedikit lagi.

Tidak sampai lama, datanglah Karnadi. Air mukanya gembira. Jalannya digagah-gagahkan. Dari kejauhan, ia sudah mesem saja.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Marjum.

Karnadi: “Akalku tak akan datang tanpa hasil, lantaran sifat pemberani. Sudah terang, kita bakal untung, berjumpa kesenangan.”

Marjum: “Senang bagaimana?”

“Senang,” sahut Karnadi, bicara sambil duduk tegak. “Harta punya, duit banyak, istri cantik, mau mengharap apa lagi. Terang sekali perempuan yang tadi anak orang kaya. Rumahnya saja beda, indah, bagus dan besar. Di sana ada dua rumah berderet, catnya sepasang. Bisa jadi rumah yang satu lagi masih punyanya. Oleh karena itu, tentu kamu ikut senang, asal menuruti kemauanku.”

Marjum: “Harus menurut bagaimana aku?”

“Kamu harus datang ke Raden Sumtama anemer gedong dan jembatan, serta harus bilang bahwa anakmu yang bungsu sakit keras sekali, sekarang sudah sehat, tapi kamu punya nazar. Kalau itu anak sehat kembali, itu anak akan dibawa ke kota, tapi kamu akan kenakan setelan, bersepatu, dan berbendo citak. Katakan, karena itulah, saya mengerahkan keberanian, meminjam setelan, sepatu, dan bendo citak, begitu. Kesanggupan tidak lain hanya kepada juragan. Karena khawatir saja kepada anak, takut uzur lagi, begitu.

“Kalau sudah dapat, itu pakaian taruh ke saung. Aku tidak akan pulang ke rumah, tapi ke saung tengah sawah, tempat bernaung waktu mengambil bangkong itu.

“Dari sana, kamu lalu ke istriku dan datangnya harus terlihat sangat kesusahan. Malah kalau bisa kamu harus sambil menangis. Segera katakan, sambil tahan tangis, sampaikan aku ada di rumah sakit Rancabadak, lantaran tergilas mobil tepat di bagian dada. Entah hidup entah mati, dan tidak ada yang menengok selain kamu. Katakan, Karnadi berpesan, itu ayam yang jago carambang[3] beserta danten[4] yang dua, hadiah kelahiran[5] anak-anak itu harus dijual, kalau-kalau aku mau merokok, dan duitnya olehmu harus dibawa. Ingat, ingat, jangan sampai tidak terbawa!”

Marjum: “Lah, rada susah kalau sampai harus menangis.”

Karnadi: “Ah, gampang, gosok saja kelopak mata dengan bawang merah, lekas keluar air mata.”

Marjum: “Bagaimana kalau istrimu mau menengok ke rumah sakit?”

Karnadi: “Tak akan mau, sebab istriku takut sama Tuan. Eh, itu duit kamu hasil jual bangkong yang tadi kemarikan kepadaku, mau dipakai dulu.”

Marjum: “Kenapa, cuma tujuh ketip kurang sebenggol.”

“Iya, kesinikan, buat tambahan!”

“Bagaimana kalau aku ditanya istri, dari mana pula untuk beli beras?”

“Kalau ditanya, katakan, dipakai bayar denda, lantaran kita dagang bangkong di sisi jalan. Kalau untuk beli beras, bukankah istrimu berjualan daun waru. Itu saja dulu pakai. Toh dua tiga hari juga sudah pasti terganti, lebih dari seratus kalinya.”

Marjum memberikan uangnya.

“Bagaimana ajaranku, apa sudah dimengerti?” tanya Karnadi, sembari memasukkan uang ke sakunya.

Marjum: “Mengerti.”

“Kalau sudah mengerti, segeralah berangkat. Sekarang aku mau ke saung itu.”

Karnadi lalu berangkat menuju ke saung, sedang Marjum hendak menjalankan suruhan Karnadi ….



[1] Dari geulis = cantik

[2] Tradisi gusaran meratakan gigi anak perempuan yang berusia tujuh tahun dengan alat khusus supaya rata.

[3] Berbulu hitam campur putih

[4] Betina yang belum bertelur

[5] “Hayam hurip” yaitu ayam yang diberikan oleh bidan setelah bayi lahir supaya sehat dan segar


JOEHANA

Diceritakan (oleh Joehana), Soekria adalah pengarang Rasiah Nu Goreng Patut (Rahasia Si Buruk Rupa), adapun Joehana yang menyadurnya. Tidak ada catatan mengenai jati diri Soekria. Bisa jadi Soekria adalah nama imajinernya Joehana, tetapi sejatinya masih Joehana. Tapi andaikata benar ada orangnya, besar kemungkinan bahwa Soekria adalah empunya ide cerita, sedang yang menuliskannya tentu saja Joehana.

Joehana adalah sandi asma Achmad Bassach: pengarang, penerjemah, pemimpin grup sandiwara dan tembang Cianjuran, serta aktivis pergerakan. Tidak ada catatan mengenai kapan dilahirkannya, tapi ada catatan mengenai wafatnya. Joehana meninggal dunia di Tasikmalaya tahun 1930, waktu rombongan yang dipimpinnya mengadakan pertunjukan di kota itu, tapi dikuburkannya di Bandung.

Setamatnya sekolah di MULO, Joehana bekerja di lingkungan perusahaan kereta di Padalarang. Tahun 1923, lantaran ikut pemogokan buruh kereta, ia dikeluarkan dari pekerjaannya. Seterusnya, Joehana memusatkan kegiatannya pada mengarang. Dari olah pikirnya banyak buku ditulis yang lalu diterbitkan, di antaranya yaitu: Carios Eulis Acih (Kisah Eulis Acih) (1923), Neng Yaya (1923), Carios Agan Permas (Kisah Agan Permas) (1926), Kalepatan Putra Dosana Ibu Rama (Kesalahan Anak Dosanya Ibu Bapak) (1927), Lalampahan Pangeran Nampabaya sareng Pangeran Lirbaya (Perjalanan Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya) (1930), dan lain-lain. Semua buku karya Joehana tidak ada yang diterbitkan oleh Balai Pustaka lantaran bahasanya dianggap kurang estetis dan temanya jauh dari misi Balai Pustaka. Lebih-lebih lagi ia dianggap dekat dengan pergerakan buruh yang kerap kali melawan kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda.


Rasiah Nu Goreng Patut oleh Soekria/Joehana, diterbitkan PT Dunia Pustaka Jaya bekerja sama dengan PT Kiblat Buku Utama, Edisi elektronik, 2018 (tersedia di iPusnas). 

Tidak ada komentar: