Pada suatu pagi, gunung-gunung di sekeliling Kota Bandung tampak diselimuti kabut hingga keputih-putihan, sungguh membuat haru, membangkitkan perasaan permai penduduk desa yang sedang bertani, pertanda akan musim hujan.
Esoknya kebetulan Jumat.
Sinar mentari meredup suram, bagai kalah nyali oleh mega yang digdaya sakti
tiada tara.
Makin lama mega makin mendung
hingga membentang hitam. Bianglala yang sedang turun ke lubuk bagaikan sutra
merah kekuningan. Kata orang bohong, itu tangga bidadari yang sedang mandi. Tak
sampai lama, hujan angin begitu lebat. Halilintar menyambar-nyambar. Makin lama
hujan makin besar, seakan-akan hendak menumpahkan air dari langit.
Tukang tani bersukacita lantaran setelah musim kemarau yang begitu mengkhawatirkan panas teriknya, sekarang turun hujan teramat lebatnya. Terlebih Jumat katanya memang banyak turun hujan. Akibatnya yang bersawah merasa tenteram, yang bertani jadi kaya.
Esok-esoknya sawah pada penuh
oleh air, menggenang luas teramat jernih, senang memandangnya, bagaikan
lukisan. Sungai meluap sampai jauh. Hewan-hewan bersukacita. Jangkrik berderik.
Bancet merecet. Bangkong mengongkong. Burung-burung berkicau sembari
mengembangkan sayapnya.
Orang kampung berduyun-duyun
memanggul pacul. Orang desa menyebar bersambung-sambung, berusaha demi anak
orang yang menjadi tali kasih.
Tersebutlah di Kampung
Cijawura Desa Buahbatu, ada dua orang bersahabat sangat erat, tak pernah
berselisih—saling menolong, senasib sepenanggungan. Yang satu bernama Karnadi,
yang satu lagi Marjum.
Yang menjadi tali hidup kedua
orang itu agak lain daripada yang lain, lantaran enggan memacul, ogah menyawah,
ujungnya mencari sesuatu penghasilan yang tanpa modal, sekadar tenaga, serta
mudah, yaitu tukang mengambili … bangkong. Oleh mereka bangkong itu dijual
kepada babah-babah di kota.
Karnadi asal-muasalnya orang
kota, tadinya tukang mengored di pelataran sekolah. Lantaran setiap hari
mendengar anak-anak di sekolah itu berbicara, Karnadi mengetahui bahasa halus
sedikit-sedikit, bisa mengarang cerita, malah mengikuti cara menak berkata-kata
segala.
Lama-lama Karnadi dilepas dari
pekerjaannya itu, lalu terlunta-lunta ke Cijawura. Bertemulah ia dengan Marjum,
tukang mencari bangkong, sahabat karibnya pula. Ujungnya Karnadi berdagang di
Cijawura, sampai beranak.
Potongan tubuh Karnadi pendek
besar, gemuk. Kulitnya hitam kucel. Wajahnya beruntusan. Kata orang bohong,
beruntusnya sebesar-besar kemiri. Matanya melotot. Hidungnya penyek, ujungnya
bertumpuk tak beraturan. Alisnya pitak sebelah. Mulutnya lebar. Kedua belah
bibirnya tebal. Giginya besar-besar. Telinganya lebar hampir separuh kepalanya.
Ditambah lagi, ketika berjalan, kedua kakinya bengkok ke dalam, sudah begitu,
pincang pula. Pendeknya, susah ditandingi keburukan rupanya itu di alam dunia.
Adapun sifat Karnadi kerap
kali berani dengan hal yang tidak pasti, menuruti hawa nafsu, menginginkan hal
yang tidak selayaknya, dan mencintai yang tidak sepadan.
Tapi, namanya manusia,
walaupun buruk rupa dan kurang kepandaian, kadang ada saja kelebihannya. Begitu
pula Karnadi. Selain bisa mengarang cerita, ia juga bisa menyanyi, cepat memahami
geguritan. Suaranya lumayan merdu.
“Jum!” kata Karnadi, masih
berselimutkan kain, tidak lekas bangkit setelah bangun tidur, “Sepertinya nanti
sudah waktunya kita ke kantor, karena hujan sudah turun.”
Marjum: “Ya, seperti biasanya
saja kita, setelah turun hujan di mana-mana, baru ke kantor.”
Karnadi: “Maklum, kantornya
lompat-lompat. Listrik, pensil, dan tas, hati-hati lupa!”
Yang dimaksud Karnadi dengan
listrik, pensil, dan tas yaitu obor, tongkat untuk memukul kalau-kalau bertemu
ular atau belut, serta keranjang untuk wadah bangkong. Marjum sudah tabah
dengan karangan Karnadi semacam itu.
“Amboi, aku baru saja mau
bermimpi lagi,” Karnadi terus mengarang seakan-akan ada yang sedang
dikhayalkannya.
Marjum: “Mimpi apa, Di?”
“Mimpi yang bukan-bukan, seperti
biasa.” Karnadi celingukan, menoleh berulang-ulang ke istrinya. “Mimpi men ….”
“Biasa, biasa!” ucap Nyi Usni
istri Karnadi, sambil membolak-balik ubi yang sedang dibakar. “Kalau sudah
memimpi-mimpikan menikah lagi. Sudah tahu, ‘men’ itu menikah lagi. Ada orang
sama sekali tidak punya perasaan, tidak tahu diri. Makan saja masih sulit, tuh
kasih makan dulu anak-anak. Ayo, kalau mau menikah lagi. Wajah buruk rupa tak
punya malu!”
“Apanya yang biasa?” Karnadi
mendelik. “’Men’ itu maksudnya mencaplok, bukan menikah lagi. Lantaran ingat
terus sama usaha, membela anak istri, sampai termimpikan dicaplok bangkong.
Pikir saja olehmu, masak orang yang sebegini susah terpikir mau menikah lagi?
Mari, Jum, kita mencari rezeki!”
Marjum sudah tahu bahwa ‘men’
itu memang menikah lagi, lantaran Karnadi sering sekali bercerita bahwa ia
ingin menikah lagi dengan yang cantik.
Kira-kira pukul enam sore,
waktu hujan rintik-rintik kecil, Karnadi dan Marjum berangkat, menggulung
pakaian bersiap untuk bekerja.
Sepanjang jalan, Karnadi
mencerocos tak putus-putus akan maksudnya menikah lagi itu.
“Coba kamu perhatikan!” ucap
Karnadi sembari melongok-longok ke petak sawah. “Haji Sirad istrinya empat
cantik-cantik sekali, sudah begitu masih pada belia. Makanya aku tertarik juga.
Terlebih kemarin sewaktu ia pergi ke kota, istrinya yang empat itu dibawa
semua. Lagaknya sudah seperti Raja Astina diiringkan permaisuri.”
Sahut Marjum sembari
meliuk-liuk menyuluhi petak sawah, “Kamu ini, itu kan Haji Sirad, sedang kamu
Karnadi, beda kedudukan.”
“Apa bedanya?” ujar Karnadi
sembari menangkapi bangkong. “Dia manusia, aku juga manusia. Malah aku lebih
muda daripada Haji Sirad. Cuma karena dia kaya. Maka yang miskin juga bisa saja
menikah lagi dengan yang cantik.”
“Kalau melamun jangan terlalu
tinggi, nanti kena tulah dari Yang Maha Suci,” ucap Marjum sembari memasukkan
bangkong ke dalam keranjang. “Kita itu tukang bangkong. Keinginannya pun tetap
pada bangkong.”
“Wah, kenapa pula Yang Maha
Suci menulahi kita? Manusia itu jangan pasrah dengan satu pekerjaan hina, tapi
harus ikhtiar mencari gantinya yang tidak hina. Itulah yang disebut dengan
kemajuan.”
Marjum tak menyahut lagi,
sebab tahu, Karnadi tak mau kalah bicara.
Setelah Karnadi dan Marjum
mendapat hasil banyak, keranjang yang sebegitu besarnya penuh sesak oleh
bangkong, mereka pulang dengan hati sangat gembira.
Esoknya bangkong itu mereka
jual ke pasar. Begitulah seterusnya kehidupan dua orang itu; lumayan menghidupi
bila dibandingkan dengan musim kemarau. Hanya Karnadi amat tak berterus terang.
Jika mendapatkan f1,50, kepada istrinya diberikan f0,75. Yang setengahnya lagi
disembunyikan di sisi kopiah, sampai penuh sesak oleh duit kertas
seperak-seperak. Karena itulah, kopiah itu tidak pernah dilepaskan atau
ditinggalkan. Hidup mati bersama kopiah. Malah, bila mengobrol dengan istrinya
pun ia sambil menengadah karena takut kopiahnya jatuh.
.
Kita tunda dulu perkara
Karnadi. Tersebutlah di Desa Cigereleng, sebelah selatan Kota Bandung, ada
seorang bernama Mas Sura. Pekerjaannya tani, berkecukupan, sawahnya lega,
dombanya beranak-pinak, kerbaunya banyak. Boleh dikata ia paling kaya di
Cigereleng. Mas Sura punya anak perempuan satu-satunya, namanya Nawangsih,
panggilannya Awang, tapi sering disebut dengan Eulis[1]
oleh semua orang, sebab pantas dengan perawakannya, kena dengan rupanya:
badannya lampai, akibatnya banyak yang dibuat pusing, kulitnya bening
kehijau-hijauan, sehingga merawankan hati, rambutnya hitam ujungnya mengikal,
membuat ingin bolak-balik melihatnya, bibir merah agak berlekuk-lekuk, sehingga
ingin melumatnya, matanya bulat lebar, menimbulkan cinta yang memandang, gigi
putih tanpa dipotong[2].
Pendeknya, ia bintangnya Cigereleng.
Pada suatu waktu, Eulis Awang
berbelanja ke pasar kota, diiringi oleh bujang perempuan. Belanjanya tidak
seberapa banyak, sebetulnya di Cigereleng pun bisa. Hanya dasarnya janda yang
masih muda dikuasai perangai, tidak sepantasnya sendiri. Kiranya belanja ke
pasar kota itu seolah-olah tidak sengaja mengedarkan programnya.
Eulis Awang mengenakan
pakaian pilihan, setengah jam pun tak cukup untuk mematut diri. Ia kenakan baju
batis dari Paris berkain tipis dan halus menerawang, terlihat lengannya yang
kuning. Sabuknya model sekarang yang besar lebar terpampang jelas untuk
memperlihatkan pinggangnya yang kecil. Ia kenakan kain panjang sinjang kopi
susu yang kemanisan. Selopnya berjingkat beludru merah, kakinya yang kuning
jadi bersinar merah, mendekati putih terang, berkelebat menaiki delman.
Seandainya bantalan delman bisa bicara barangkali begini katanya, “Aduh bahagia
teramat sangat, aku diduduki Eulis Awang. Terima kasih Eulis, kuingin diduduki
seharian.”
Nyi Inem bujangnya Eulis
Awang duduk di depan berdampingan dengan kusir, berdesakan, sebab kusirnya
lumayan juga.
Singkat cerita, tibalah Eulis
Awang di pasar. Kebetulan Karnadi dan Marjum sedang berada di pasar, menjual
dagangan mereka. Berbarengan dengan turunnya Eulis Awang dari delman, Karnadi
terbelalak menatap, tercengang heran akan kecantikannya.
“Wah, aduh, Di!” ucap Enjum,
sembari mendepak Karnadi. “Lihat apa kamu sampai melotot begitu?”
Karnadi asyik saja bengong,
ditanya begitu oleh Enjum, tak terdengar sama sekali.
“Wah, Di!” Enjum membalikkan
badan Karnadi. “Lihat apa kamu?”
Barulah Karnadi sadar sembari
menunjuk ke perempuan itu.
“Coba, Jum, lihat yang turun
dari delman itu! Manusia, bukan?”
Sahut Marjum sembari
memandang perempuan itu, “Tentu saja manusia, tidak salah lagi itu perempuan.”
“Kukira bidadari yang baru
turun dari surga.” Karnadi tak putusnya memandang sehabis masuknya Eulis Awang
ke pasar. “Emh, sungguh beruntung yang jadi suaminya, punya istri sebegitu
cantiknya. Tapi, wah, sangat mungkin sudah janda.”
Kata Marjum,
“Sepenglihatanku, cantiknya lumrah saja seperti perempuan lainnya, tidak
berlebih-lebihan.”
“Buat kamu seperti itu,” kata
Karnadi. “Walau melotot, tetap tidak kelihatan. Aku tiba-tiba saja melihat dia
di antara perempuan yang sebegini bertebaran. Biarlah usiaku dikurangi lima
tahun asal terlaksana menikah lagi dengan yang barusan.”
“Di!” Enjum bicara pelan,
“Walaupun itu perempuan tidak lebih dari biasa saja, tapi kalau dimadu olehmu,
dia jauh dari sepadan. Bukan hanya itu, aku tidak hentinya merasa heran kamu
bersikeras ingin menikah lagi. Kalau mau menikah lagi itu harus ada bekalnya,
sedang kamu itu tidak beda daripada aku, anak banyak harus disuapi, makan
sulit. Hanya waktu musim hujan ada hasil lumayan, sementara waktu kemarau kamu
sendiri merasakan, makan ketela atau jagung gantinya nasi, kadang makan
tumbuh-tumbuhan yang masih muda, adakalanya sama sekali tidak makan sedang anak
berisik pada ingin makan. Coba bagaimana sebab-musababnya kamu mau menikah
lagi, apalagi dengan yang tidak sebanding?”
Jawab Karnadi, “Aku merasa
kalau sandang pangan sangat kurang. Tapi kalau mencari jalan untuk menikah
lagi, aku lebih pintar daripada kamu. Dan lagi, martabatku bukanlah harus
mencari makan untuk anak istri, tapi harus diberi dari perempuan. Artinya,
harus mengakali.”
“Harus mengakali?” Enjum
tertawa agak ditahan, memegangi kulit perutnya lantaran terlalu enak tertawa.
“Bukan, apa kamu merasa dirimu ini lelaki perlente yang tegap perawakannya?
Sepenglihatanku, mukamu tak ubahnya dengan bangkong hitam yang berbintul-bintul
itu.” Enjum tak hentinya terkekeh, air matanya sampai merebak.
“Ingat ya!” Karnadi
mengacungkan telunjuknya. “Kalau bicara tidak boleh keluar dari garis kesopanan.
Asal kamu tahu, manusia tidak tergantung dari rupanya, tapi tergantung dari
akalnya, kemauannya, keteguhannya, keberaniannya, serta perbuatannya. Kalau
kelima perkara itu ada pada dirimu, mau apa pun akan terlaksanakan, asal
munasabah. Seperti aku, ingin menikah lagi dengan yang cantik, serta diberikan
apa saja yang menyenangkan hati, toh munasabah. Sedari permulaan hari ini aku
akan mulai mencari akal supaya terkabul maksud, terlaksana kemauan.”
“Ya, segera saja jalankan!”
Enjum agak kehabisan kata. “Kalau kamu senang, barangkali aku turut senang,
bukan!”
“Tentu saja,” ucap Karnadi,
sembari melihat-lihat, mencari Eulis Awang. “Asal kamu menuruti kemauanku,
sebab bisa jadi aku meminjam tenagamu untuk melaksanakan kemauan ini. Tuh
rupanya perempuan tadi keluar dari dalam pasar, aku akan mengikutinya, sebab
harus tahu dulu di mana rumahnya.”
Eulis Awang keluar dari
pasar, diiringi Nyi Inem yang menggendong keranjang belanja, dan naiklah ke
delman.
“Apa boleh buat, kamu pulang
sendiri, Jum!” kata Karnadi. “Aku mau mengikuti perempuan itu, tapi kalau kamu
sampai di kampung, jangan dulu bertemu ibunya anak-anak. Tunggu saja di jalan
persimpangan ke Babakan Jati, yang ada penjual loteknya!”
Dari sana, Karnadi lalu
memanggil delman, dan mendadak jalannya gagah, suaranya dibesarkan. Katanya,
“Delmaaan, coba turut itu delman, yang dinaiki wanita cantik itu, ya! Bayaran
bagus, sewajarnya en seadanya.”
Naiklah Karnadi ke delman.
Duduknya tegap, sembari manyun merokok cerutu buatan Kedu. Asapnya bau kain
terbakar. Kusir pun celingukan, sangkanya bajunya yang terbakar.
Delman yang dikendarai Eulis
Awang berlalu ke selatan, sekitar sekolah menak membelok ke timur sedikit, dari
sana ke selatan lagi, tibalah ke Cigereleng. Di hadapan dua rumah yang
sepasang, yang dicat kekuning-kuningan menghadap ke timur, berhentilah delman.
Delman Karnadi pun berhenti
di sekitar situ. Turunlah ia. Lengannya yang sebelah ditumpangkan ke sayap
delman, yang sebelah lagi bertolak pinggang. Kakinya dikaitkan.
Eulis Awang masuk ke rumahnya
diiringi Nyi Inem, sama sekali tidak menoleh ke Karnadi.
Sesudah Karnadi membayar
delman enam ketip, lalu menghampiri delman bekas Eulis Awang, sembari menanya
begini, “Seberapa bayarnya itu wanita cantik?”
Jawab kusir, “lima ketip lima
sen kawula.”
“Nah ini ditambah lagi, oleh
juragan anemer!” ucap Karnadi, sembari mengais ke dalam sakunya, memberikan
enam sen sepeser.
“Terima kasih,” sahut kusir,
sembari memutar balik kudanya.
Di jalan, kusir yang dinaiki
Karnadi menanya ke kusir satu lagi, “Siapa itu?”
Jawabnya, “Katanya sih
anemer.”
Sahut yang menanya, “Kukira
si Cepot lepas dari kotaknya.” Mereka tertawa bersama.
Sesudah Karnadi mengetahui
rumah Eulis Awang, lalu pulang menerobos pematang ke timur, supaya dekat.
.
Tersebutlah Marjum sepanjang jalan tak henti berpikir. Nyata Karnadi memiliki maksud ingin menikah lagi. Terlebih, bukan dengan yang sepantasnya. Padahal ia sebegitu miskin, serta memberi makan banyak anak. Tapi, kata batin Marjum, “Penasaran, turutkan saja kemauan Karnadi. Sebab, bukan saja sobat sebegitu erat, tapi juga mau tahu ujungnya.”
Tidak sampai lama, sampailah Marjum ke persimpangan Babakan Jati, lalu berteduh sambil mengelap keringat. Marjum melihat-lihat lotek dan cendol, sangat mengidamkan. Lubang kerongkongannya mau lari secepatnya, tapi ditahannya, lantaran akan jajan mengingatkannya pada anak istrinya, apalagi uangnya tinggal sedikit lagi.
Tidak sampai lama, datanglah Karnadi. Air mukanya gembira. Jalannya digagah-gagahkan. Dari kejauhan, ia sudah mesem saja.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Marjum.
Karnadi: “Akalku tak akan datang tanpa hasil, lantaran sifat pemberani. Sudah terang, kita bakal untung, berjumpa kesenangan.”
Marjum: “Senang bagaimana?”
“Senang,” sahut Karnadi, bicara sambil duduk tegak. “Harta punya, duit banyak, istri cantik, mau mengharap apa lagi. Terang sekali perempuan yang tadi anak orang kaya. Rumahnya saja beda, indah, bagus dan besar. Di sana ada dua rumah berderet, catnya sepasang. Bisa jadi rumah yang satu lagi masih punyanya. Oleh karena itu, tentu kamu ikut senang, asal menuruti kemauanku.”
Marjum: “Harus menurut bagaimana aku?”
“Kamu harus datang ke Raden Sumtama anemer gedong dan jembatan, serta harus bilang bahwa anakmu yang bungsu sakit keras sekali, sekarang sudah sehat, tapi kamu punya nazar. Kalau itu anak sehat kembali, itu anak akan dibawa ke kota, tapi kamu akan kenakan setelan, bersepatu, dan berbendo citak. Katakan, karena itulah, saya mengerahkan keberanian, meminjam setelan, sepatu, dan bendo citak, begitu. Kesanggupan tidak lain hanya kepada juragan. Karena khawatir saja kepada anak, takut uzur lagi, begitu.
“Kalau sudah dapat, itu pakaian taruh ke saung. Aku tidak akan pulang ke rumah, tapi ke saung tengah sawah, tempat bernaung waktu mengambil bangkong itu.
“Dari sana, kamu lalu ke istriku dan datangnya harus terlihat sangat kesusahan. Malah kalau bisa kamu harus sambil menangis. Segera katakan, sambil tahan tangis, sampaikan aku ada di rumah sakit Rancabadak, lantaran tergilas mobil tepat di bagian dada. Entah hidup entah mati, dan tidak ada yang menengok selain kamu. Katakan, Karnadi berpesan, itu ayam yang jago carambang[3] beserta danten[4] yang dua, hadiah kelahiran[5] anak-anak itu harus dijual, kalau-kalau aku mau merokok, dan duitnya olehmu harus dibawa. Ingat, ingat, jangan sampai tidak terbawa!”
Marjum: “Lah, rada susah kalau sampai harus menangis.”
Karnadi: “Ah, gampang, gosok saja kelopak mata dengan bawang merah, lekas keluar air mata.”
Marjum: “Bagaimana kalau istrimu mau menengok ke rumah sakit?”
Karnadi: “Tak akan mau, sebab istriku takut sama Tuan. Eh, itu duit kamu hasil jual bangkong yang tadi kemarikan kepadaku, mau dipakai dulu.”
Marjum: “Kenapa, cuma tujuh ketip kurang sebenggol.”
“Iya, kesinikan, buat tambahan!”
“Bagaimana kalau aku ditanya istri, dari mana pula untuk beli beras?”
“Kalau ditanya, katakan, dipakai bayar denda, lantaran kita dagang bangkong di sisi jalan. Kalau untuk beli beras, bukankah istrimu berjualan daun waru. Itu saja dulu pakai. Toh dua tiga hari juga sudah pasti terganti, lebih dari seratus kalinya.”
Marjum memberikan uangnya.
“Bagaimana ajaranku, apa sudah dimengerti?” tanya Karnadi, sembari memasukkan uang ke sakunya.
Marjum: “Mengerti.”
“Kalau sudah mengerti, segeralah berangkat. Sekarang aku mau ke saung itu.”
Karnadi lalu berangkat menuju ke saung, sedang Marjum hendak menjalankan suruhan Karnadi ….
[1] Dari geulis =
cantik
[2] Tradisi gusaran meratakan gigi anak perempuan yang
berusia tujuh tahun dengan alat khusus supaya rata.
[3] Berbulu hitam campur putih
[4] Betina yang belum bertelur
[5] “Hayam hurip” yaitu ayam yang diberikan oleh bidan setelah bayi lahir supaya sehat dan segar
JOEHANA
Diceritakan (oleh Joehana),
Soekria adalah pengarang Rasiah Nu Goreng Patut (Rahasia Si Buruk Rupa),
adapun Joehana yang menyadurnya. Tidak ada catatan mengenai jati diri Soekria.
Bisa jadi Soekria adalah nama imajinernya Joehana, tetapi sejatinya masih
Joehana. Tapi andaikata benar ada orangnya, besar kemungkinan bahwa Soekria adalah
empunya ide cerita, sedang yang menuliskannya tentu saja Joehana.
Joehana adalah sandi asma
Achmad Bassach: pengarang, penerjemah, pemimpin grup sandiwara dan tembang
Cianjuran, serta aktivis pergerakan. Tidak ada catatan mengenai kapan
dilahirkannya, tapi ada catatan mengenai wafatnya. Joehana meninggal dunia di
Tasikmalaya tahun 1930, waktu rombongan yang dipimpinnya mengadakan pertunjukan
di kota itu, tapi dikuburkannya di Bandung.
Setamatnya sekolah di MULO, Joehana bekerja di lingkungan perusahaan kereta di Padalarang. Tahun 1923, lantaran ikut pemogokan buruh kereta, ia dikeluarkan dari pekerjaannya. Seterusnya, Joehana memusatkan kegiatannya pada mengarang. Dari olah pikirnya banyak buku ditulis yang lalu diterbitkan, di antaranya yaitu: Carios Eulis Acih (Kisah Eulis Acih) (1923), Neng Yaya (1923), Carios Agan Permas (Kisah Agan Permas) (1926), Kalepatan Putra Dosana Ibu Rama (Kesalahan Anak Dosanya Ibu Bapak) (1927), Lalampahan Pangeran Nampabaya sareng Pangeran Lirbaya (Perjalanan Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya) (1930), dan lain-lain. Semua buku karya Joehana tidak ada yang diterbitkan oleh Balai Pustaka lantaran bahasanya dianggap kurang estetis dan temanya jauh dari misi Balai Pustaka. Lebih-lebih lagi ia dianggap dekat dengan pergerakan buruh yang kerap kali melawan kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda.
Rasiah Nu Goreng Patut oleh Soekria/Joehana, diterbitkan PT Dunia Pustaka Jaya bekerja sama dengan PT Kiblat Buku Utama, Edisi elektronik, 2018 (tersedia di iPusnas).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar