Wanita dalam karangan Ángela Pradelli ini mendadak kehilangan pekerjaan sehingga beralih menjadi juru mandi.
Selama lebih dari sepuluh tahun, Olga memandikan orang di rumah mereka. Ia tidak menjadi kaya, tapi hidupnya nyaman. Ia bisa membayar pajak dan mengisi penuh kulkasnya. Bahkan ia punya cukup uang untuk menonton di bioskop sekali sampai dua kali seminggu, dan tiap musim panas, ia punya uang untuk berlibur dua minggu mengunjungi saudarinya di Entre Ríos. Yang terpenting: ia tidak harus khawatir dengan persaingan kerja. Tak ada orang lainnya yang mau ambil bagian dalam bisnis memandikan orang di rumah. Ia tahu sebagian orang menganggap itu pekerjaan yang tidak menyenangkan: membersihkan kotoran orang lain.
Ia tak sengaja mendapat pekerjaan itu. Ketika itu Olga sedang menganggur; ia di-PHK dari firma akuntansi tempat sebelumnya ia telah bekerja selama bertahun-tahun sebagai asisten administrasi. Pemilik firma tersebut menjanjikan pesangon kepadanya tapi tidak pernah menepati. Olga menyewa pengacara dan berusaha untuk menuntut, tapi pengacaranya mengatur kesepakatan dengan si pemilik firma akuntansi. Mereka memberi dia beberapa peso, yang tidak cukup untuk bertahan sampai tiga bulan. Tak lama setelah itu, ia mendapat pekerjaan di pabrik porselen. Ia tidak begitu suka pekerjaan itu, tapi berencana untuk bertahan sampai ada pekerjaan lain. Ia hampir-hampir tidak dibayar, sementara ia bekerja delapan jam sehari melukis bunga-bunga kuning dan biru kecil pada cangkir-cangkir putih serta menambahkan garis pembatas emas pada piring-piring ceper. Ia pulang tiap malam dengan sakit punggung. Setelah tiga atau empat bulan, ia tidak tahan lagi sehingga berhenti.
Tiap pagi ia pergi dari rumah membawa iklan baris dan pulang sekitar pukul tiga. Lapar, lelah, tidak ada pekerjaan.
Pada suatu pagi, sebelum Olga pergi, tetangga di pojok membunyikan bel rumahnya. Tetangga itu pria berusia 40-an tahun yang tinggal berdua saja dengan ibunya. Pria itu menjelaskan bahwa ibunya mengalami patah pinggang dan tidak bisa ke mana-mana, di kasur saja. Ibunya akan menjalani operasi sepuluh hari lagi dan setelah itu memerlukan tirah baring dan rehabilitasi. Pria itu bisa merawat dan menyuapi ibunya dengan cukup baik, tapi ia perlu orang lain untuk memandikan ibunya. Tidak, kata Olga, ia belum pernah memandikan orang dan sepertinya lebih baik mencari orang yang sudah berpengalaman, misalnya perawat.
"Masalahnya saya tidak kenal siapa-siapa," kata pria itu, "dan ibu saya ingin dengan orang yang sudah dikenal. Karena itu kami pikir kamu ..." pria itu melembutkan nada suaranya, sungguh ia tahu caranya. "Ini gagasan ibu saya. Coba tanya Olga, kata Ibu. Dia tidak akan menolak."
Pria itu sepertinya bertekad tidak akan beranjak dari pintu hingga dapat meyakinkan Olga.
"Pertimbangkanlah," kata pria itu.
"Tapi saya belum pernah memandikan siapa-siapa," ulang Olga, "bayi saja belum pernah."
"Dua puluh peso sekali mandi," pria itu merayu.
"Dua puluh?"
"Dua puluh. Dua kali seminggu."
Olga bimbang.
"Lagi pula, ini hanya untuk sementara." Pria itu menambahkan. "Katakanlah sebulan saja, atau mungkin lebih beberapa hari, hanya sampai rehabnya selesai."
Olga menghitung cepat dalam kepalanya. Seratus enam puluh peso sebulan untuk kerja dua kali seminggu lumayan juga. Ia mulai sore itu juga, dan tidak lagi hirau jika rehab itu memerlukan waktu beberapa hari lebih lama. Justru sebaliknya. Sebulan kemudian ia mendapat klien kedua. Tetangga yang di pojok itu telah memberikan nomor telepon Olga kepada klien tersebut. Bagi Olga, ini menjadi prinsip dasar untuk pekerjaan barunya: rekomendasi pribadi. Setiap orang yang memanggilnya menyebutkan nama kenalannya atau semacam itu. Prinsip yang kedua: selalu kunjungi calon klien terlebih dahulu sebelum menerima pekerjaan.
*
Cara Olga memandikan amat saksama. Seluruh tubuh. Ia tidak melewatkan satu pun celah tanpa tersentuh oleh sabun dan spons. Setelah itu: talk, parfum, deodoran. Ia memotong kuku jari tangan dan kuku jari kaki, serta merapikan rambut hidung, juga rambut yang mencuat dari telinga. Ia bisa tiga-empat kali memandikan dalam sehari selama beberapa minggu. Bayarannya besar, sekitar seribu peso per bulan, bahkan bisa lebih.
Olga mempunyai buku janji temu berisi jadwal dengan setiap klien serta kartu informasi pribadi yang dia isi pada hari pertama untuk memastikan, antara lain, kalau-kalau klien memiliki alergi, diabetes, asma, masalah jantung, atau tekanan darah tinggi.
Sebagian klien lebih mudah ditangani, contohnya mereka yang masih mampu bergerak sendiri. Olga dapat membawa mereka ke kamar mandi. Umumnya, begini yang dia lakukan: ia meletakkan kursi plastik, yang warnanya putih biasa untuk di halaman itu, di bawah nozel pancuran. Ia mendudukkan klien di kursi itu dan memandikannya dengan tenang, tanpa khawatir akan ada yang terpeleset atau terjatuh.
Dengan klien-klien selainnya yang lumpuh lebih sulit karena otomatis ia tidak bisa memindahkan mereka dari ranjang. Namun, ia memikirkan semuanya dengan sungguh cermat. Segera Olga belajar bahwa sebagaimana segala hal lain, mandi juga ada tekniknya.
*
Ketika Olga pergi ke Entre Ríos untuk mengunjungi saudarinya, kedua wanita itu duduk di gazebo yang dirambati tanaman anggur hampir setiap sore sambil minum mate[1]. Rambatan anggur itu luar biasa menyejukkan pada hari-hari musim panas, dan kedua bersaudari itu bersantai-santai di sana sampai agak larut, sambil mengobrol tentang kehidupan mereka. Carilah pekerjaan lain, Olga, kata saudarinya di bawah naungan anggur itu, pekerjaan yang wajar-wajar saja. Di rumahnya di Buenos Aires, Olga dapat membayangkan saudarinya di Entre Ríos itu sedang memikirkan, Kapan dia akan mendapatkan pekerjaan yang normal?
Namun Olga setiap hari bersyukur kepada Tuhan atas pekerjaannya itu. Tidak selalu setiap hari, tetapi hampir setiap hari.
Dua tahun lalu Olga diminta memandikan pria gemuk yang tidak dapat bangkit dari ranjangnya. Pria itu tetangga juga. Olga mengenal putranya, Walter, yang seusia dengan dia dan waktu kecil mereka sering bermain bersama. Klien yang ini sulit. Berat badannya sekitar 200 kilogram. Awal-awalnya sukar. Badan klien yang 200 kg itu terhampar di tengah ranjang ukuran dobel. Pertama-tama Olga membasuh seluruh tubuh bagian depan klien. Kemudian Olga memiringkan tubuh pria itu. Walter telah memasang sistem tali penahan yang efisien. Tali itu diikat ke kait yang kuat yang secara cermat disekrup ke dinding sisi ranjang. Pria itu memegangi tali erat-erat. Olga membalikkan tubuh pria itu dengan mendorong punggungnya. Mereka harus ekstra berhati-hati karena kondisi jantung si klien. Ia punya masalah koroner, tapi dengan berat badannya itu, dokter bilang, mustahil untuk dioperasi karena risikonya. Setelah Olga berhasil membalikkan tubuhnya, pria itu berpegangan pada tali untuk menahan tubuhnya pada satu sisi sementara Olga membasuh bagian punggung yang terpampang itu. Kemudian Olga berlari ke sisi lainnya dari ranjang itu, menyerahkan tali lainnya kepada pria itu, dan membantunya berbalik lagi, dengan mendorong punggungnya sekali lagi. Olga bergerak cepat agar pria itu tidak terlalu kebat-kebit akibat kondsi jantungnya. Istri klien memanfaatkan hari pemandian untuk mengganti seprai. Prosedurnya cukup sederhana. Sementara klien berbalik pada satu sisi, mereka melipat seprai yang kotor ke tengah kasur, kemudian menggantinya dengan yang bersih, juga dengan dilipat ke tengah. Setelah itu, ketika klien dibalikkan ke sisi lain, mereka lakukan hal yang sama. Pertama-tama, mereka ambil separuh seprai yang kotor, lalu menggelar yang baru sedapat-sedapatnya hingga menutupi seluruh kasur. Mereka bergegas supaya klien tidak sampai kepayahan. Awal-awalnya Olga kelelahan karena itu, sampai-sampai esoknya ketika bangun ia merasa sakit di lengan dan punggung. Namun kemudian ia belajar cara menangani badan yang terlalu berat itu.
Akan tetapi, memandikan klien tersebut bukan bagian yang paling sulit bagi Olga. Yang paling susah bagi Olga adalah memotong kuku si klien. Ia dapat menggerakkan bobot 200 kg ke satu sisi dan ke sisi lainnya tanpa banyak rusuh, tapi tidak dapat memotong kukunya. Aneh, Olga memberi tahu saudarinya di Entre Ríos pada musim panas itu. Saking gemuk jari-jarinya, dagingnya menempel ke kuku sehingga sulit memasukkan ujung alat pemotong kuku ke antara kulit dan kuku. Harus sangat berhati-hati.
Pernah tak sengaja Olga membuat klien itu kesakitan. Ia menekan alat pemotong kuku tanpa menyadari bahwa itu memotong ujung jari klien. Itu kejadian parah sebab ujung jari klien mengeluarkan banyak darah. Sakitkah? Olga menanyai pria itu seraya membungkus jarinya dengan tepi handuk untuk menghentikan pendarahan. Tidak sakit kok, kata pria itu. Sekalipun ia berusaha keras menahan tangis, dagu dan bibir bawahnya gemetar saat menjawab. Tidak, Olga, tidak sakit sama sekali, ia berkata, sambil mengusap mata dengan tangannya yang bebas.
*
Sekitar waktu itu, Olga juga memandikan seorang pria tua, usianya hampir seratus tahun. Valentín Viau. Seorang pianis yang pernah tampil di Paris dan menyimpan potongan-potongan koran yang mengumumkan konsernya di bawah kaca meja rias di kamarnya. Lelaki tua ini juga tidak dapat bangkit dari ranjang. Ia hampir tidak punya tenaga untuk menelan. Ia harus disuapi; segala makanan harus dihaluskan: labu, Swiss chard, telur rebus, hati. Semuanya diblender sampai jadi bubur. Lelaki itu jangkung, walaupun karena Olga selalu melihat dia sedang rebah, menurutnya lelaki itu panjang--panjang dan amat kurus. Olga selalu memperhatikan jemari tangan pria itu yang halus terus bergerak-gerak, seakan-akan senantiasa memainkan piano. Pria tua itu seringkih bulu. Olga mendudukkan pria itu dengan lembut, mengaturnya di atas handuk mandi yang telah ia rentangkan pada seprai. Pria itu berpegangan pada batangan di tempat tidurnya supaya tetap tegak. Pria tua itu terlihat menyerupai burung kecil. Olga bahkan berbicara kepadanya dengan berbisik supaya suaranya tidak sampai membuat pria itu jatuh terguling dari kasur. Dan Olga memperlakukan pria itu dengan lembut, kelembutan sebagaimana yang orang pergunakan kepada bayi baru lahir. Setelah Olga selesai mengeringkan pria itu, ia berlutut di kasur dan, dengan memegangi lengan pria itu, membantunya berbaring lagi di kasur. Mandi melelahkan pria itu. Segera sesudah itu, begitu kepalanya beralaskan bantal, pria itu memejamkan mata. Ia pun bergeming di sana, dengan amat tenangnya, seperti yang tidur. Tapi ia terus menggerak-gerakkan jemarinya yang panjang halus seakan-akan sedang bermain piano. Entah apakah dia memang tidur, cerita Olga kepada saudarinya. Mungkin saja. Olga menyelimuti pria itu dan sebelum pergi, ia mengecup dahinya. Kecupan tanpa bunyi, agar tak membangunkan. Kadang ia berdiri saja beberapa jenak, mendengarkan napas pria itu untuk merasakan gumpalan udara seperti bayangan berkibar keluar masuk dari mulutnya.
*
Meski semua klien berasal dari rekomendasi pribadi, adakalanya Olga mendapat kejutan. Contohnya seorang pria di Temperley menelepon Olga pada satu sore untuk memandikan istrinya. Pria gila. Ia tinggal bersama sebuah manekin dan menyebutnya istri. Di telepon, pria itu memberi tahu Olga bahwa istrinya bernama Alicia, dan ketika Olga menanyakan apakah Alicia memiliki masalah kesehatan, pria itu tidak menjawab. Sore pada waktu wawancara itu terjadi, Olga melihat pria itu telah mengatur garam mandi, busa, dan gel berparfum di meja ruang makan. Pria itu mengatakan telah membeli barang-barang tersebut khusus untuk memandikan Alicia. Ia meminta Olga supaya jangan mengeramasi rambut Alicia di pancuran, tapi lebih baik secara terpisah supaya lebih berkilau. Ia telah membeli sampo aroma almon dan krim bilas jojoba, serta produk untuk menangani ujung rambut yang bercabang. Pria itu memberi tahu Olga bahwa di lemari obat ada jepit dan pita penahan rambut untuk menyisiri rambut Alicia nanti.
"Boleh saya melihat dia?" tanya Olga. "Apa dia di tempat tidur?"
"Tidak, tidak," kata pria itu. "Dia tidak di tempat tidur. Dia di dapur." Ia pun berjalan ke arah situ, seraya mengisyaratkan supaya Olga mengikutinya. "Kami baru akan minum kopi."
Saat Olga mencapai dapur, ia melihat, disandarkan pada satu kursi yang menghadap secangkir kecil kopi yang masih beruap, ada manekin yang biasa dipajang di jendela toko baju.
"Ini Alicia," kata pria itu. "Istri saya."
Kelihatannya normal, pria ini ternyata sinting. Ia tersinggung ketika Olga bilang tidak hendak memandikan manekin. Dan pria itu melakukan suatu hal yang Olga tidak akan lupa. Sementara ia dan Olga beradu pendapat di dekat meja dapur, Alicia duduk diam di kursi. Pria itu mengusap kepala Alicia, seolah-olah melindunginya dari penolakan Olga. Pria itu bahkan menutup kuping Alicia dengan kedua tangannya saat Olga dengan tegas mempermaklumkan bahwa ia tidak memandikan boneka. Seketika itu, tatkala pria itu menutupi telinga Alicia, kepala boneka itu agak miring ke arah Olga. Sepasang mata hijau tanpa ekspresi memancangkan tatapannya pada Olga. Olga merasa ada yang janggal pada mata itu, atau bisa jadi bukan pada matanya. Mungkin senyumannya yang dipulas dengan cat itu yang menguatkan segi-segi pada wajahnya.
Hari itu ia turun dari kereta bawah tanah di Stasiun San Martín dan berjalan menyusuri Calle Florida ke arah Córdoba. Ia suka berjalan di sepanjang Florida atau Lavalle. Jalan pedestrian mana pun, sebetulnya. Berjalan di antara orang-orang tanpa harus khawatir akan mobil atau bis, menyeberang dari satu etalase ke etalase lain tanpa memikirkan ada sepeda motor atau tidak. Atau lengkingan klakson yang selalu mengagetkan dia. Ia cinta jalan pedestrian. Ia bayangkan jalanan itu merupakan patio dari rumah-rumah besar, yang tenang dan luas, di mana orang dapat berjalan-jalan tanpa risau.
Ia memasukkan kedua tangannya ke saku mantel dan memainkan secarik kertas di mana ia mencatat alamat. Selembar kertas yang disobeknya dari buku janji temu, yang jemarinya renyukkan begitu sering di dasar saku kiri mantelnya.
Dunkan Parodi, tulis Olga siang itu saat pria itu meneleponnya dan, sementara mencatatnya, Olga berpikir itu nama keluarga Italia yang tidak biasa. Atau itu memang nama yang tidak biasa. Nama yang baru dikenal Olga. Pakai huruf K, kata Parodi di telepon, dan Olga pun memperbaiki catatannya. Oh, pakai K, ulangnya sembari meninjau huruf C yang telah ia tuliskan pada nama Dunkan. Ya, pakai K, sahut Parodi, seraya membuka ruang di belakang langit-langit mulutnya dan terdengar bunyi mengertak dari ruang kosong itu.
Setelah menutup telepon, Olga menulis ulang nama itu di buku janji temu.
Dunkan Parodi.
*
(bersambung)
[1] Minuman teh khas Amerika Selatan dari tumbuhan yerba mate-Ilex paraguanensis--kaya akan kafein.
"The Bather" karya Ángela Pradelli diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris oleh Andrea G. Labinger, dalam situs Words Without Borders edisi Januari 2011 "The Work Force".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar