Tersebutlah Nyi Usni di
rumahnya sebentar-sebentar turun naik ke rumah seperti ayam sedang bertelur,
lantaran khawatir sudah begitu lama Karnadi belum datang saja. Apalagi Si Arba,
anak kedua dari bawah, mendadak sakit. Badannya panas meruap. Tidurnya
tergeletak di lantai rumah panggung itu, bersandarkan bantal tipis lantaran
terlalu sering dipakai atau sedikit kapuknya, lagi kotor, sama sekali tanpa
selimut.
“Emak!” ucap Si Arba menahan
tangis. “Bapa sudah datang?”
“Belum, Ujang, kan sedang
mencari rezeki, berjuang untuk Emak, Ujang, dan saudara-saudaramu,” sahut Nyi
Usni dan duduklah ia di pinggir Si Arba sembari menyusui bungsunya yang
digendong.
Tidak sampai lama datanglah
anak yang sulung habis bermain, berjalan timpang sembari menangis keras.
Telapak kakinya mengeluarkan darah.
“Aduh, Emak, kakiku tertusuk beling!”
Ibunya sungguh terkejut
sekali, dan lalu anak itu dibawa ke tengah rumah. Lukanya dicuci dan diobati
dengan daun bandotan dan apu.
“Aduh, Abah! Aduh, Abah!
Tolong, Abah! Aku tertusuk!” kata anak itu, tak henti bersambat ke bapaknya.
“Ke mana Abah?”
Anak yang paling kecil yang
sedang digendong menangis terus-terusan, lantaran ibunya tak enak perasaan tak
keruan pikiran.
“Emak!” ucap Si Arba. “Ingin
makan.”
“Emh, Ujang!” sahut ibunya.
“Makan apa, kan nasi kemarin sudah habis.”
“Aduh, Emak!” ucap sulungnya.
“Ampun, sakit sekali.”
“Karnadi!” jerit Nyi Usni.
“Ke mana sih mencari rezeki, waktu sebegini masih belum datang saja!”
“Bapa!” teriak si tengah.
“Abah!” teriak si sulung.
“Ea!” teriak si bungsu.
“Diam, anak-anak!” tukas ibu
mereka. “Tak akan lama juga bapak kalian datang, bawa rezeki, perolehan mencari
nafkah.”
Langit mendung akan turun
hujan. Angin menjatuhkan benda-benda, menerjang pepohonan, mematahkan
dahan-dahan. Hujan angin lebat sekali, halilintar menggelegar.
Nyi Usni dan anak-anaknya
kebocoran sampai basah kuyup sekujur badan, bergeming di pojok. Rumah
keriang-keriut seperti akan runtuh. Dari kiri Nyi Usni mendekap yang bungsu,
dari kanan kakaknya, sembari memangku si sulung yang merintih lantaran lukanya
makin nyeri saja.
“Karnadi ampuuun!” Nyi Usni
bersambat.
“Usni! Usni!” seru seseorang
di luar.
Nyi Usni terperanjat lantaran
girang, rasa-rasanya sudah mengharap saja menerima uang pembeli beras,
perolehan suami dari mencari rezeki.
“Syukur alhamdulillah!” ucap
Nyi Usni. Wajahnya gembira. “Nah, anak-anak, abah kalian datang walaupun hujan.
Sabarlah, Emak mau membeli beras untuk kalian, kan belum makan dari pagi tadi.”
Lalu Nyi Usni membukakan
pintu. Ketika terang pintunya dibuka, ternyata bukan Karnadi, tapi Marjum,
basah kuyup kehujanan. Wajahnya pucat. Matanya merah penuh air mata.
“Laillaha illalloh, rupanya
Enjum. Mana Karnadi?” ucap Nyi Usni, agak terkejut.
Marjum: “Itulah makanya!”
Nyi Usni: “Itulah bagaimana,
Jum?” Romannya seperti ingin segera tahu. Napasnya sesak. Hatinya berdebar.
“Itu dia!” kata Marjum,
sembari duduk memeluk lutut.
“Segera katakan, Jum!” sahut
Nyi Usni, menyerbu cepat. Kakinya lemah lunglai.
“Begini, Karnadi dan aku lagi
dagang di sisi jalan. Dari seberang, ada babah memanggil, sedang Karnadi mulai
berlari menyeberang jalan. Tahu-tahu, di sebelah selatan, mobil melaju kencang.
Ringseklah Karnadi … tergilas tepat di bagian dadanya."
“Tergilas … tergilas …
Karnadi tergilas?” Nyi Usni duduknya makin maju.
“Iya, di bagian dadanya.”
Marjum mengusap mata.
Gelap hati Nyi Usni.
Penglihatannya kekuningan, yang jauh terasa dekat. Anggota-anggota badannya
lesu, tiada daya. Gebrak jatuhlah ia ke lantai rumah panggung, nyaris menindih
anak bayinya. Anak-anak berjeritan. Dua anak yang sedang sakit beringsut
menghampiri ibu mereka sembari merangkul.
“Emak, abah kenapa?” tanya si
sulung.
“Emak, aku ikut mati saja!”
ucap si tengah.
Anak bayi yang dari tadi
menangis itu lalu oleh Marjum diambil, serta di dalam hatinya berkata begini,
“Aduh, Karnadi, kenapa kamu teramat menyiksakan anak istri! Beberkan sajakah
bahwa Karnadi kelakuannya seperti itu? Tentu boleh jadi menghancurkan
persahabatan yang sudah berpuluh tahun, bukan saja dengan aku jadi kusut, tapi
menyebabkan Karnadi dengan istrinya kusut pula. Karena kekusutan itu tentu
menambahkan kesusahan bagi anak bininya. Tapi kalau olehku tidak dibeberkan,
tentu tidak akan kusut jadinya, dan ada pengharapan beroleh untung lantaran
hendak menipu. Ah, siapa tahu saja iya mendapat keuntungan, boleh jadi
anak-bininya juga ikut senang.”
Tak sampai lama Nyi Usni
sadar dari pingsannya, dan menjerit kencang menangis pedih.
“Aduh, Karnadi! Kenapakah
mencari rezeki membela anak istri sampai membanting tulang setengah mati.
Bagaimana kalau sudah seperti ini, anak banyak harus diberi makan. Aduh,
anak-anak, mungkin kalian tak akan punya bapak yang mengasihi dan menyayangi!
Ampun, sedangkan sengsara bertambah-tambah!”
“Emak, bapa mati?” tanya Si
Arba. “Bagaimana mungkin aku tak punya bapak.”
“Enjum!” tangis Nyi Usni
sambil mondar-mandir. “Apakah dia mati tergilas?”
“Tadi masih bisa bicara,”
sahut Marjum. Hatinya kasihan melihat keadaan Nyi Usni beserta anak-anaknya.
“Sepertinya tidak sampai mati, lantaran tadi dibawa ke rumah sakit
Rancabadak. Kepadaku ada pesannya, ‘Ayam jago carambang serta dua danten
hadiah kelahiran anak-anak harus dijual. Uangnya berikan kepadaku, untuk
membesarkan hatinya atau kalau-kalau ingin jajan.”
“Jadi Karnadi belum mati?”
tanya Nyi Usni.
“Kalau mati sih belum,” kata
Enjum. “Hanya itulah pesannya, diulang-ulang terus."
“Emh, Enjum, jangankan minta
ayam lahiran anak-anak. Andaikata kepalaku sekalipun yang diminta akan
kuberikan, asalkan ia hidup lagi. Anak-anak, kalian masih ada punya, rupanya
abah kalian belum mati. Nanti, Jum, tunggulah, aku mau menangkap ayamnya dulu.
Titip anak-anak sebentar!”
Hujan-hujanan pun Nyi Usni ke
sana kemari mencari ayam. Lebih-lebih ayamnya pada lincah.
Hujan terus mengucur deras,
halilintar menggelegar. Nyi Usni basah kuyup.
“Emh, halilintar!” batin Nyi
Usni. “Aku sampai bertaruh nyawa, teramat pasrah, daripada ayam tak terjual
sekarang, lantaran membela suami.”
Akibat terus-menerus dikejar,
ayam yang sebegitu lincahnya pun ujungnya didapat.
“Emh, danten, carambang!”
ucap Nyi Usni, sembari mengusapi ayam dan air matanya bercucuran, “Sekarang
kalian akan berpisah bukan saja dengan aku, tapi juga dengan anak-anak sobat
kalian. Tapi sabar sajalah, danten, carambang, karena membela kakak
kalian yang sedang terkena kesusahan, dirundung bingung.”
Lalu itu ayam ditawarkan
kepada tetangganya, mudah-mudahan tidak disembelih, supaya masih berjumpa tiap
menit, bertemu tiap waktu.
Oleh tetangganya, itu ayam
yang tiga dibeli tiga perak, dan uangnya diberikan kepada Marjum untuk
suaminya.
Nyi Usni berpesan bahwa ia
tidak akan bisa menengok ke rumah sakit lantaran takut kepada Tuan. Hanya akan
mendoakan dari kejauhan saja, hendaklah hidup segar dan sehat.
Marjum pun tidak bisa lama di
rumah Nyi Usni, lantaran tidak kuat melihat kenelangsaannya. Dari sana ia
menuju ke rumah Mas Sumtama, anemer gedong dan jembatan, yang kaya itu.
Kebetulan sekali, Mas Sumtama sedang berada di rumahnya, lantaran sakit
ditinggal mati istrinya.
Berpanjang-lebar Marjum
menyampaikan maksudnya. Ceritanya direka-reka, dihias-hias, dan memelas, maklum
seterusnya bercampur dengan yang disuruhkan Karnadi.
Mas Sumtama merasa kasihan,
sehingga meminjamkan satu setel kidril[1]
yang sudah diseterika, sepasang sepatu putih yang boleh disemir hitam, serta
satu bendo citak yang sudah usang.
Marjum terburu-buru kembali,
malahan menyimpang ke istrinya pun hanya sebentar sekali, lalu ke saung, menuju
Karnadi.
Sesudah Karnadi menerima itu
pakaian, sangat girangnya, lalu mereka meringkuk tidur di saung lantaran
kepalang senja. Tapi Karnadi gedebak-gedebuk saja, lantaran memikirkan
kata-kata untuk besok.
.
Tersebutlah esoknya Karnadi dan Marjum sudah pada bangun, lalu mandi di pancuran air petak sawah. Malah Karnadi mandinya sampai menggosok-gosok badan.
Setelah mandi, Karnadi berdandan. Celananya terlalu panjang sampai menutupi tumit, sebab memang Karnadi pendek. Bajunya kedodoran sehingga lengannya dilipat ke dalam. Masuk ke sepatu, jari kakinya bertumpah-tindih lantaran lebar-lebar sehingga langkahnya pun timpang. Pakai bendo citak, ternyata besar kepala daripada bendo, sehingga barang itu bertengger hanya separuh kepalanya. Kalau sedikit menengadah, seakan-akan lebar dahi daripada kepala.
“Bagaimana, Jum, aduh?” Karnadi mematut diri, “Baguskah?”
Marjum: “Sederhana saja sebegitu sih.”
Karnadi: “Pantas jadi anemer, bukan?”
“Pantas,” sahut Marjum. Tapi pikirnya menggelikan lantaran Karnadi menyerupai bebegig.
“Nah, sekarang begini,” Karnadi melanjutkan rekaannya, “Aku pura-puranya majikanmu, sedang kamu bujangnya. Kamu harus bicara bahasa halus kepadaku, pakai adat tata krama, selayaknya ke majikan. Bersabarlah, kalau aku senang, kamu akan ikut senang. Ayo sekarang kita berangkat. Jalannya kita terobos galengan, supaya dekat!”
Berangkatlah Karnadi dan Marjum. Ketika berjalan, sepatunya dijinjing lantaran kagok dan nyeri, katanya.
Ketika sampai ke sisi jalan raya, kira-kira ada sepuluh kali jarak antara pohon johar yang ditanam di sisi jalan menuju rumahnya Mas Sura, Karnadi berdiri tegak di tengah jalan bertolak pinggang. Marjum berjongkok agak malu.
Lewatlah mobil sewaan.
“Mobil,” ucap Karnadi, berlagak gagah.
Berhentilah mobil.
“Kalau saya menumpang berdua ke rumah yang berderet dua itu, taksiran jauhnya dari sini ada sepuluh gawang johar, minta berapa?”
“Lima ketip?” kata sopir.
“Ah, kang kusir, lima belas sen saja, kan dekat.”
Dari situ lalu adu tawar. Jadilah dua ketip.
Naiklah Karnadi dan Marjum ke mobil. Tak sampai dua menit, sudah turun di depan rumah Eulis Awang. Klakson dibunyikan oleh sopir, bersahut-sahutan, sebab menuruti kemauan Karnadi.
Ayahnya Eulis Awang mudah terkejut, lalu melihat dari pintu sambil berjalan membungkuk-bungkuk tanda hormat. Malah Eulis Awang juga melihat dari jendela, sambil memperbaiki sanggul.
Oleh Karnadi sudah diperkirakan, bahwa itu adalah ayahnya Eulis Awang. Lalu Karnadi turun dari mobil, diiringi Marjum. Jalannya gagah, walau sambil menahan-nahankan nyeri kaki.
“Permisi!” kata Karnadi.
“Duduk, duduk!” sahut Mas Sura, sambil terbungkuk-bungkuk tampak malu, lantaran memperhatikan tindak-tanduk yang seperti itu, terlebih turun dari mobil, dan bujangnya pun sangat menghormat.
Duduklah Karnadi di kursi. Marjum bersila di bawah dengan membungkuk hormat. Karena Mas Sura termasuk kaum kuno, sehingga walaupun kaya, kursinya masih kursi goyang. Maka Karnadi duduk dengan badan rada tertarik ke belakang, kalau menengadah nyaris saja ia terjengkang. Hati berdebar-debar. Wajahnya sampai pucat.
Marjum menutupi mulutnya lantaran tak bisa menahan tawa. Karnadi melotot.
Mas Sura menyodorkan rokok Estminster yang menggunakan mondstuk (pipa pengisap dari jerami). Maklum, bagi yang kaya raya, sekalipun kaum kuno, sedia saja untuk tamu, serta duduk di kursi, tapi kursinya agak digeser ke belakang.
“Ke sinilah duduknya, Mama[2]!” ucap Karnadi. Lagak dan suara menurutkan menak, sembari mengambil sigaret. Menggeret-geretkan kayu api, tapi sigaretnya terbalik. Yang ada jeraminya yang disundut sebab tidak mau kena. Untung saja Mas Sura tidak memperhatikan. Marjum memberi tahu tapi susah.
“Ini Mama merasa agak ragu,” kata Mas Sura, memperlihatkan budi yang belum kenal.
Karnadi: “Mama belum kenal saya. Hanya kalau saya sudah mengenal Mama. Saya Sumtama, anemer gedong dan jembatan. Adapun bapak saja Haji Mulya, yang tinggal di Margasari.”
“Ooo, iya!” sahut Mas Sura, agak terkejut. Ia sudah mengetahui bahwa Sumtama Margasari adalah anemer yang termasyhur, kekayaannya tiada tara, hanya saja belum pernah melihat rupanya. “Mama juga sudah kenal kalau dengan nama itu.”
Karnadi: “Bisa jadi, sebab dulu saya memborong gedong halte Dayeuhkolot. Malah kalau lewat ke sini lebih dari sepuluh kali sehari, hanya selalu di mobil saja.”
Mas Sura: “Mama baru kali ini didatangi, jadi, bagaimana begitu, agak terkejut.”
“Ah, tak perlu terkejut!” Karnadi bicaranya sambil melengos dan mengebulkan asap sigaret. Kakinya ditumpangkan dan digoyang-goyangkan. “Saya pada waktu ini hendak membeli sawah, malah barusan kembali dari Pamoyanan, ada yang hendak menjual sepuluh bau. Kelas satu harusnya dua belas ribu, tapi saya hanya berani delapan ribu. Kabarnya Mama akan menjual sawah lagi.”
“Eheh, Mama tidak ada punya, Aden,” kata Mas Sura sambil mengusap mukanya, makin tampak malu. “Punya pun hanya sebidang kecil.”
“Saya pun membeli sawah tidak akan banyak, yang harganya delapan atau sembilan puluh ribuan saja.”
“Wah, itu bukan sedikit,” sahut Mas Sura. Pikirnya kini memercayai kabar bahwa Mas Sumtama kaya raya. “Eulis—Eulis, kemarilah bawa minuman!”
Tak sampai lama, datanglah Eulis Awang membawa baki marmer yang di atasnya dua cangkir Jepang kembang-kembang. Cangkir itu ditaruh di meja, yang satu di depan ayahnya, yang satu lagi di depan Karnadi.
Eulis Awang menunduk, terbungkus dalam kehalusan lagak lagu, sepantasnya keturunan ulama, roman orang pesantren, tanda pemikat hati, alamat perayu rasa, pemetik berahi. Mata Karnadi mengerling, bagai kucing melihat tikus, sudah ingin merangkul saja.
Datang lagi Eulis Awang membawa tiga toples yang meruncing jangkung-jangkung, isinya mari, sultana[3], dan afternoon, diwadahi baki marmer yang tadi itu. Datang lagi membawa agar susu dua piring, untuk ayahnya serta juragan anemer, dan garpunya ditumpangkan di atas piring.
“Ah, kenapa repot-repot segala, Eulis,” ucap Karnadi alias Mas Sumtama anemer palsu. Matanya mengamat-amati Eulis Awang, dan melirik ke agar susu yang seumur hidupnya belum pernah merasakan.
“Tidak apa-apa, tidak menyusahkan,” kata Eulis Awang, tersenyum lembut.
Oleh senyumannya pun, hampir saja Karnadi terguling dari kursi.
Datang lagi Eulis Awang membawa cangkir tanpa pisin dan sepiring wajik untuk Marjum.
“Silakan!” kata Mas Sura. “Seadanya saja.”
“Baik,” sahut Karnadi. Matanya terus mengawasi agar susu. “Bukan seadanya saja ini.” Terbawa oleh nafsu, Karnadi mengambil garpu dan menusukkannya ke agar. Tapi agarnya tidak mau diam, sampai lama terus saja ia berusaha menusuk.
“Kalau itu sawah siapa?” kata Karnadi menunjuk dengan ibu jari ke kiri.
“Yang Mama,” sahut Mas Sura sembari menoleh.
Sementara Mas Sura menoleh, Karnadi meraup agar itu dengan tangannya dan menyuapkan ke mulutnya.
Marjum sampai sakit perut menahan tawa.
Karnadi: “Kalau kepunyaannya mau dijual?”
Mas Sura: “Kalau Mama bukannya tidak membutuhkan uang, tapi sawah itu seperti celengan.”
“Iya, harus seperti itu,” sahut Karnadi, sembari mengunyah sultana. “Sewaktu saya memborong di Merdika, penghasilan yang sepuluh ribu semuanya dibelikan sawah saja. Yang tujuh ribu dari Cicendo untuk sawah lagi. Kalau yang tujuh belas ribu dari Cikudapateuh dipakai membuat rumah di Margasari. Hanya ya itu, rumah tembok sudah, istri saya meninggal dunia.”
Bicara begitu, Karnadi tampak susah.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun!” ucap Mas Sura. Wajahnya tampak ikut sedih. “Jadi istri wafat?”
“Iya, baru seratus hari,” sahut Karnadi. “Jadi rumah bagus-bagus yang empunya kosong saja, tidak ada yang mengisi.”
“Benar, benar,” kata Mas Sura mengangguk-angguk.
“Umpama saya dikehendaki Tuhan punya istri lagi yang sesuai, segala harta benda akan diubah atas nama istri saya,” ucap Karnadi sembari mengambil sigaret lagi, kembali merokok agak lama hampir tiada berhenti. “Oleh karena mengingat tidak punya anak.”
“Mufakat, mufakat,” sambut Mas Sura. “Hanya sekarang ini mencari istri harus sangat berhati-hati.”
“Iya, karena banyak istri yang membela hanya sebatas bibir saja. Banyak istri yang boleh dicoba dengan sedikit uang, padahal kalau pasrah nantinya juga buat siapa, bukan?”
“Benar,” sahut Mas Sura, dan pikirannya membayangkan begini, “Seandainya Den Sumtama mau memperistri anakku, barangkali segala harta bendanya diserahkan ke Eulis. Barangkali aku jadi memiliki keluarga orang kaya. Selayaknya kekayaanku juga, punya anak sedemikian kayanya. Kesenangan dunia yang teramat sangat. Tapi bagaimana akalnya supaya jadi dengan Eulis?”
Karnadi sudah memiliki rasa bahwa omongannya masuk ke Mas Sura, dan tampaknya sudah menyimpan kepercayaan.
“Ah, sekarang sudah waktunya,” batin Karnadi. “Aku harus menyampaikan maksudku itu.”
Berkatalah ia, “Sesungguhnya, membeli sawah hanya sambilan, sebab dengan yang sudah ada pun, rasanya sudah cukup. Tapi yang sebenarnya, maka saya menghadap punya maksud menanyakan, apa Eulis belum ada yang mendampingi dan mengiringi? Umpama belum ada, yang datang bermufakat dengan orangnya, begitu pula diizinkan oleh para sesepuh semuanya, ada maksud Eulis hendak dimohon akan diperistri. Akan tetapi, harap Mama jangan jadi gusar hati, sebab saya memberanikan diri.”
“Wah, kalau cara Mama, lebih dari mengizinkan, walaupun baru bertemu dengan Aden, Mama sudah sering mendengar namanya. Hanya Mama bermaksud memohon izin, hendak menanyai orangnya dulu. Kalau ke Mama, belum ada yang datang. Hanya bagaimana, anak saya buruk rupanya, bodoh tanpa pengetahuan, maklum orang dusun, orang kampung bau lesung. Apalagi yang jadi orang tuanya pun tidak punya apa-apa.”
“Kalau soal rupa, atau kepintaran serta kekayaan, saya tidak berpamrih,” ucap Karnadi. Hatinya gelisah, lantaran naga-naganya seperti akan berhasil. “Yang dipamrih hanyalah kebaikannya, kesetiaannya, kehematannya terhadap rezeki.”
“O, kalau mengenai hal itu, Mama menanggungnya,” sambut Mas Sura. Perasannya lega lantaran anaknya akan memperoleh satu anemer yang termasyhur kekayaannya. “Silakan saja si Eulis dicoba.”
Karnadi: “Terima kasih, terima kasih, mudah-mudahan saja, semoga mufakat semuanya, harapannya putra bisa menjadi pemberi nafkah, barangkali sawah yang satu-dua petak diserahkan.”
Mas Sura: “Mudah-mudahan saja, semoga mufakat. Mama hanya meminta diberi waktu saja datang nanti sore, pukul lima Aden mendapat kabar.”
Karnadi: “Barangkali saya saja akan menghadap kembali.”
Selekasnya Karnadi berpamitan. Ujug-ujug datang lagi mobil sewaan. Naiklah Karnadi ke mobil, Marjum duduknya di depan, tapi kira-kira dua menit, mereka sudah turun lagi, lalu menyusuri galengan.
“Kelihatannya bakal diberikan.” Karnadi celingukan dan mengeluarkan sultana serta afternoon dari sakunya, amat banyaknya, diberikannya kepada Marjum. “Kamu tadi tidak makan kue yang ini, ya?”
“Tidak, kan tidak disuguhi,” sahut Marjum. Mulutnya penuh kue yang akan ditelan. “Wah, iya ternyata enak sekali. Kue apa ini namanya?”
“Kalau kamu mau tahu, yang begini kue aspirin namanya. Di tokonya sana juga sepikul, banyak bertumpuk-tumpuk di keranjang.”
“Emh, kalau bawa untuk anak-anak, pasti teramat senangnya.”
“Hus, jangan dulu ingat anak-anak. Ini baru yang kecil. Nanti kalau ada yang besar, bawa ke rumah. Sebab naga-naganya selain dari aku bakal memiliki istri cantik, juga akan mendapat hasil mutlak. Sekarang kita balik lagi ke saung, sebab nanti sore kita harus datang lagi ke rumah calon mertua.”
Singkat cerita, Karnadi dan Marjum mengonggok lagi saja di saung, dan Karnadi tak henti-hentinya membicarakan kecantikan Eulis Awang, yang terbayang-bayang di matanya, serta mengkhayalkan bakal keuntungannya.
Karnadi asal bicara saja kepada Marjum berulang-ulang dan sekarang namanya diganti jadi Sumtama anemer gedong yang kesohor.
[1] Baju kampret
untuk laki-laki dari kain tipis putih pakaian sehari-hari
[2] Panggilan kepada bapak-bapak atau lelaki yang lebih tua
[3] Kue kering sejenis nastar ditambah kismis
JOEHANA
Diceritakan (oleh Joehana),
Soekria adalah pengarang Rasiah Nu Goreng Patut (Rahasia Si Buruk Rupa),
adapun Joehana yang menyadurnya. Tidak ada catatan mengenai jati diri Soekria.
Bisa jadi Soekria adalah nama imajinernya Joehana, tetapi sejatinya masih
Joehana. Tapi andaikata benar ada orangnya, besar kemungkinan bahwa Soekria adalah
empunya ide cerita, sedang yang menuliskannya tentu saja Joehana.
Joehana adalah sandi asma
Achmad Bassach: pengarang, penerjemah, pemimpin grup sandiwara dan tembang
Cianjuran, serta aktivis pergerakan. Tidak ada catatan mengenai kapan
dilahirkannya, tapi ada catatan mengenai wafatnya. Joehana meninggal dunia di
Tasikmalaya tahun 1930, waktu rombongan yang dipimpinnya mengadakan pertunjukan
di kota itu, tapi dikuburkannya di Bandung.
Setamatnya sekolah di MULO, Joehana bekerja di lingkungan perusahaan kereta di Padalarang. Tahun 1923, lantaran ikut pemogokan buruh kereta, ia dikeluarkan dari pekerjaannya. Seterusnya, Joehana memusatkan kegiatannya pada mengarang. Dari olah pikirnya banyak buku ditulis yang lalu diterbitkan, di antaranya yaitu: Carios Eulis Acih (Kisah Eulis Acih) (1923), Neng Yaya (1923), Carios Agan Permas (Kisah Agan Permas) (1926), Kalepatan Putra Dosana Ibu Rama (Kesalahan Anak Dosanya Ibu Bapak) (1927), Lalampahan Pangeran Nampabaya sareng Pangeran Lirbaya (Perjalanan Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya) (1930), dan lain-lain. Semua buku karya Joehana tidak ada yang diterbitkan oleh Balai Pustaka lantaran bahasanya dianggap kurang estetis dan temanya jauh dari misi Balai Pustaka. Lebih-lebih lagi ia dianggap dekat dengan pergerakan buruh yang kerap kali melawan kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda.
Rasiah Nu Goreng Patut oleh Soekria/Joehana, diterbitkan PT Dunia Pustaka Jaya bekerja sama dengan PT Kiblat Buku Utama, Edisi elektronik, 2018 (tersedia di iPusnas).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar