I
Ishihara mendapat firasat, dari sejak pesta semalam, bahwa
suatu hal seperti ini akan terjadi. Ia mendapat firasat ini jelas bukan karena
lebih cerdas daripada yang lain, atau lebih terampil dalam menganalisis
situasi, atau berbakat cenayang atau apa pun. Ishihara memiliki kecenderungan
untuk meledakkan tawa tanpa alasan dan tanpa kendali kapan saja, dan
kecenderungan itu ada pula pada semua anggota lain dalam kelompok itu. Bedanya
hanyalah, pada jeda antara satu ronde tawa dan ronde berikutnya, di dalam
kepalanya sesekali meletup suatu bayangan—kalau bukan gagasan yang aktual.
Pesta itu dimulai seperti biasanya pada pukul tujuh malam, dan kurang lebih semua orang telah hadir di sana—Ishihara, Nobue, Yano, Sugiyama, Kato, dan Sugioka. “Kurang lebih” sebab tidak ada seorang pun yang memperhatikan, tetapi senyatanya keenam orang itu mewakili sesamanya. Mereka berkumpul seperti biasanya di apartemen Nobue di Kota Chofu, tepi barat Tokyo Raya. Tiap orang membawa makanan atau minuman dalam wadah plastik atau kantong kertas, ada juga yang menggunakan kain pembungkus furoshiki model lama. Yano lah yang menggunakan furoshiki. Ia juga mengalungkan Leica M6 kesayangannya di leher.
“Dengar, baru-baru ini aku ketemu Karinaka Rie—si aktris
video dewasa itu?—di bazar di Shinjuku, lalu aku memotret dia beberapa kali,
tapi percaya tidak? Fotonya tidak ada yang jadi. Entah kenapa. Maksudnya, aku
enggak mengerti. Kok bisa begitu ya? Aku memikirkannya terus, tapi ….”
Sambil mengelus Leica dengan jari telunjuk kanannya, Yano
mengurai misteri ini panjang lebar, tetapi, cukup biasa tak seorang pun dari
yang lain-lainnya itu menanggapi atau bereaksi dengan cara apa pun juga.
Perkumpulan ini atmosfernya tidak seperti “pesta” pada umumnya. Apartemen
Nobuo, sebelah utara Stasiun Chofu, adalah bangunan stuko berangka kayu dan
berlantai dua yang sudah tua dengan lahan parkir yang cukup besar di belakang.
Keenam anggota grup ini biasanya berkumpul di sini pada Sabtu malam, tetapi
tanpa tujuan yang jelas, dan yang satu bahkan ragu memanggil para partisipan
sebagai “teman”, sebab mereka tidak punya cita-cita atau minat yang sama. Nobue
dan Ishihara teman sekelas waktu SMA; Yano bertemu Ishihara di segmen komputer
di toko buku, di mana mereka bertukar kata mengenai Macintosh baru yang begini
atau begitu kemudian, karena tidak tahu mau apa lagi, melayap ke kedai kopi
lalu duduk berhadap-hadapan selama beberapa jam, tak seorang pun bicara banyak
tetapi sama-sama menyimpulkan bahwa orang satunya itu agak mirip dirinya, alhasil
mereka bertukar nomor telepon dan menjadi semacam kamerad; Sugiyama,
satu-satunya yang berusia di atas tiga puluh tahun, berjumpa Yano sementara
bekerja di lokasi pembangunan di luar kota dekat Chiba; Kato semacam anak buah
atau karibnya Sugiyama; sedangkan Sugioka kenal Nobuo entah dari mana.
Nobuo lah yang mula-mula mengusulkan pesta. Sekarang sudah
sekitar satu tahun sejak pertama kali mereka berkumpul di apartemen ini. Tidak
ada persiapan macam apa pun juga untuk acara kumpul yang pertama, dan tak seorang
pun membawa apa-apa untuk makan minum. Tentu mereka semua sudah pernah ke
pesta-pesta, tetapi tak pernah terpikir oleh satu pun dari mereka mengenai
caranya menjadi tuan rumah atau mempersiapkannya, kurang lebih untuk
menyemarakkannya. Pada pesta yang pertama itu mereka hanya berlima—Nobue,
Ishihara, Yano, Sugiyama, dan Kato. Kato, yang kalah dalam bentrokan singkat
suit batu-gunting-kertas, diutus turun ke mesin penjual otomatis di jalan untuk
membeli sekantong minuman Sake Gelas[1], dan setelah ia
kembali mereka semua duduk melingkar dengan tenang menyesap isi wadah gelas
kecil itu. Sesekali salah satu dari mereka tertawa tanpa sebab atau secara
terpotong-potong menyambungkannya dengan anekdot pribadi, biarpun sepenuhnya
sadar bahwa yang lain tidak ada yang mendengarkan, dan setelah sekitar lima jam
seperti ini pesta itu menguap begitu saja.
Baru setelah berkumpul yang keempat kali, pesta itu mulai ada
bentuknya. Malam itu bulan purnama. Sugiyama membawa serangkulan cakra laser
karaoke, dan biarpun tak seorang pun di grup itu pandai menyanyi, beberapa
turut bersenandung dengan sangsi. Mereka sedang menyenandungkan sepotong lagu ketika ada
cahaya menyala di jendela apartemen seberang lahan parkir, dan di sana,
terpampang jelas dari tempat mereka duduk, seorang wanita muda dengan betis
teramat jenjang dan tubuh luar biasa menanggalkan pakaiannya. Sembari menyesap sake dalam
senyap terpesona, diterangi bulan purnama, keenamnya menonton striptis nan
bersahaja.
Si wanita muda dengan tubuh luar biasa itu segera saja terangkat statusnya
menjadi idola istimewa mereka semua, sehingga peralatan karaoke (yang tampaknya
menyebabkan kemunculan wanita itu) menjadi suatu mesin ajaib yang lebih layak
dihormati daripada komputer berharga sekalipun. Karaoke menjadi elemen esensial pada tiap pesta mulai malam
itu, dan mereka semua mulai menghafalkan lirik serta malu-malu mencoba
bernyanyi. Akan tetapi, bulan-bulan berlalu tanpa si wanita muda dengan tubuh
luar biasa itu muncul kembali. Pada pesta keenam, manakala wanita itu lalai
menjelma untuk kedua kali berturut-turut, Nobue mengusulkan ritual usai pesta
yang kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Adanya orang dalam grup
ini yang sampai pada suatu ide dan mengusulkannya, dan yang lainnya pun
sungguh-sungguh mendengarkannya, mempertimbangkannya, menyuarakan pendapat
mereka, mencapai kesepakatan, dan menindaklanjutinya, adalah suatu peristiwa
yang baru kali ini terjadi—peristiwa yang memiliki arti bersejarah yang
menandingi momen tujuh atau delapan juta tahun lalu ketika leluhur manusia
untuk pertama kali berdiri tegak dengan kagok maju di atas dua kaki.
Evolusi dari pesta ini lambat tapi mantap. Pada pesta ketiga, Ishihara datang membawa eihire
(sirip ikan pari kering), kusamochi (kue beras hia), serta piisen
(kacang-kacangan dicampur dengan biskuit beras mungil), dan sejak itulah
semuanya mulai membawa makanan atau minuman. Pada pesta kesembilan, gelombang
kecil panik menyapu ruangan ketika Sugioka muncul tidak dengan camilan kering
yang biasanya seperti sirip ikan pari atau kacang-kacangan atau cokelat, tetapi
selada makaroni kemasan semacam yang dijual di toko makanan siap saji dan
supermarket. Nobue
melihat selada makaroni itu sepintas lalu dan, setelah berondongan tawa tak
beraturan yang tak terelakkan, menghidangkan piring dan garpu buat semua orang. Orang dapat meneliti
setiap sel otak dalam kepala Nobue—juga kepala semua yang lainnya, dalam hal
ini—tanpa menemukan petunjuk satu pun akan terdapatnya konsep menyediakan
peralatan makan buat orang lain, tetapi itulah yang terjadi, sehingga momen itu
amatlah mengharukan. Sugioka, yang telah membeli selada makaroni itu di toko
daging ujung jalan, dekat apartemennya sendiri, sungguh-sungguh menitikkan air
mata karena melihat belanjaannya itu menimbulkan sukacita dan memberikan
pengaruh yang di luar dugaan. Pada pesta kesepuluh, giliran Yano menggemparkan yang
lain-lain hingga lubuk hati yang terdalam dengan membawakan enam porsi Nagasaki
Chanmen, hidangan mi instan yang tinggal diseduh air mendidih. Mutasi yang
sangat mencengangkan dalam pembawaan pesta itu, menurut Nobue, Ishihara, dan
yang lainnya, secara langsung disebabkan oleh karaoke; dan skala ritual usai
pesta yang sangat penting itu terus meluas.
Selagi pesta pada Sabtu kedua Juni, malam musim hujan yang
panas lembap manakala hawa, pakaian dalam, dan segala rasa mencapai titik
jenuhnya, Ishihara menjadi peka akan terbentuknya kecemasan tak biasa di dalam
dirinya.
Semua anggota dalam grup ini sama-sama tak karib dengan
cemas. Akan tetapi, dalam berbagai
hal lain, mereka tidaklah begitu sama. Kecuali beberapa, semuanya berasal dari
daerah yang berbeda-beda, begitu pula dengan latar belakang sosial dan keadaan
ekonomi amatlah bervariasi. Lebih
ruwetnya lagi, mereka tak dapat dinilai hanya berdasarkan tampangnya saja. Misalnya saja Nobue,
kelihatannya seperti keturunan orang kaya lama, padahal sebetulnya anak laki-laki nomor tiga dari buruh harian
di perkebunan mikan di Shizuoka; sementara Yano, bila dipandang dalam
pencahayaan tertentu dan dari sudut tertentu, selayaknya lulusan universitas
elite, sesungguhnya pernah mencandu toluena toksik yang sudah lama ketinggalan
zaman, asap yang dihirupnya sehari-hari bersama kawan-kawan SMA, yang alhasil
semua kena sakit gangguan lemah saraf, sedangkan Yano sendiri, kendati sedikit
tahan, tetap sehat tetapi tepergok mengembuskan barang itu sewaktu
tumben-tumbenan masuk sekolah dan ringkasnya dikeluarkan, yang artinya secara
resmi ia hanya lulusan SMP; adapun Sugiyama, menilai dari wajahnya yang
pemurung serta ronanya yang tidak sehat, tampak berada di ambang menggorok
pergelangan tangannya sendiri, kenyataannya cenderung mendadak tertawa lebih
kerap lagi tak terduga daripada yang lain-lainnya, sampai-sampai kadang mereka
memandanginya curiga atau tak suka. Dengan kata lain, para pemuda ini mewakili beragam tipe,
tetapi satu kesamaan mereka adalah semuanya telah menyerah untuk melakukan hal
positif apa pun dalam hidup. Akan tetapi, ini bukanlah kesalahan mereka. Salahnya ada pada suatu jiwa
zaman yang hadir di mana-mana, dipancarkan kepada mereka oleh ibu
masing-masing. Dan barangkali tak perlu dikatakan lagi bahwa “jiwa zaman” itu
senyatanya adalah suatu sistem nilai yang menindas terutama berdasarkan pada
kepastian mutlak bahwa di dunia ini tidak akan ada yang berubah.
Jika ada kesamaan lain pada keenam pemuda ini, agak sulit
menjelaskannya, kecuali mungkin yang berupa semacam kekuatan tertentu yang
boleh dikatakan ada pada derajat sel. Dan kekuatan inilah yang memberi mereka
semua, sekalipun dalam ketiadaan guyonan lucu atau permainan kata-kata yang
cerdas atau peristiwa menggelikan, kemampuan untuk tertawa hingga taraf yang
kurang lebih abnormal.
Bukan berarti mereka suka tertawa bersama-sama. Mereka
tertawa sendiri-sendiri, pada saat yang berbeda-beda, dan tidak mesti karena
sesuatu hal. Tiap orang tertawa dengan cara yang khas, tetapi tiap-tiapnya
tertawa keras, tak terkendali, sampai terkejang, umpama bersin atau serdawa.
Pengamat yang netral akan dapat memperhatikan bahwa sewaktu-waktu sedikitnya
satu dari enam orang itu akan tertawa—yang begitu tawa yang satu surut, tawa
yang lain akan dimulai, sehingga dapat dikatakan selalu ada tawa—tetapi
pengamat tersebut juga tidak akan mendapat kesan bahwa mereka memang sedang
bersenang-senang. Barangkali bagi para pemuda ini, yang semuanya lahir pada
paruh terakhir Era Showa, tidak pernah ada hubungannya antara kesenangan dan
tawa.
Maka demikianlah suasana pesta dalam mana Ishihara mulai
mengalami firasat mencemaskan. Malam itu berjalan lamban seperti biasa.
Beberapa anggota dari grup itu menceritakan kejadian-kejadian dalam kehidupan
mereka dan tak seorang pun mendengarkan, sementara kotek idiot terus-menerus
menggema di dinding; namun biarpun sekarang tiba waktunya mereka berlatih
teknik batu-kertas-gunting, kecemasan Ishihara melaun-laun. Potongan lagu pokok
untuk ritual malam ini, “Musim Cinta”[2] Pinky the
Killers, mengalun lembut dari pelantang suara, dan semua mulai mencoba
menirukan vokal utama, tiap-tiapnya membayangkan diri berperan sebagai Pinky[3] nan elok
memesona.
[1] One Cup Sake, sake yang dijual dalam gelas kecil
(https://ikidane-nippon.com/id/features/a00270)
[2] “Koi no Kisetsu”, 1968
[3] Vokalis utama Pinky the Killers, satu-satunya wanita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar