Awalnya
bahan makanan yang tersedia tampak menyulitkan. Ikan mesti dikeluarkan isi
perutnya, daging dipotong, sayuran dikupas, diiris, ditumis. Tapi kemudian
tahu-tahu aku melihat stoples berisi kacang-kacangan. Sambil memikirkan apa
salahnya makan kacang, aku menaruhnya dalam panci beserta secangkir beras.
Kutunggu sampai airnya mulai mendidih, lalu kutiriskan dan kuletakkan di
piring. Kubawa makananku ke ruang makan. Hasilnya cukup layak dimakan kalau
dilahap cepat-cepat diselingi beberapa teguk anggur, dan aku cukup bangga pada
diriku sendiri. Aku makan sendirian, diawasi jam yang berdetak jemu serta
seekor ngengat yang menggelepar dengan eloknya dalam naungan lampu di dekat
meja panjang dari kayu mahoni. Setelah itu aku meracik gimlet lalu balik ke
ruang duduk serta kursi malas yang kini telah pulih.
Film
pertama yang ditayangkan yaitu Heaven Can
Wait yang tidak begitu penting. Di situ Tierney hanya mendapat peran kecil
sebagai istri-Don-Ameche[1] yang suci bak
malaikat. Tapi tayangan sesudahnya yaitu film Whirlpool yang cemerlang karya sutradara Otto Preminger. Di situ
gabungan yang memikat antara daya tarik dan kehampaan pada diri Tierney
dieksploitasi habis-habisan. Perpaduan itu sangatlah sesuai dengan tujuan-tujuan
Hollywood yang barangkali telah digemblengnya di kaveling Burbank[2]. Pemirsa pun
tersedot seiring dengan surutnya Tierney dari jalan cerita, sayup-sayup memudar
bagai sirene hingga kau terenggut ke dalam film tepat ketika ia menghilang. Kau
pun mendapati dirimu berada sendirian dalam ruang tempat ia semestinya berada,
dalam bayang-bayang dan jeratan efek panggung Preminger yang minta ampun.