Firasatku ternyata benar.
Seperti yang sudah kuduga,
firasat itu memberitahuku akan adanya “dinas pulau” sampai-sampai Manajer
Departemen tergesa memanggilku ke Ruang Rapat.
Biasanya, “dinas pulau”
diberikan kepada peneliti yang belum kawin. Sedangkan aku punya istri dan
seorang anak berumur tiga tahun.
Mengapa pula mesti Manajer
Departemen sendiri yang memberitahuku. Karena Kepala Bagian tidak bisa. Inilah
gelagat dari kebencian Kepala Bagian kepadaku. Dia lah orangnya yang merancang “dinas
pulau” ini. Aku yakin itu.
Aku akan ditempatkan di Pulau
Delima, sebuah pulau kecil di tengah-tengah Laut Jepang. Jaraknya kira-kira 30
meter dari pesisir yang paling terpencil di Prefektur Shimane.
“Apa ada telepon di pulau itu?” tanyaku kepada Manajer Departemen sembari memindai petanya.
“Istri kepala desa di sana
operator weselbor. Akan saya pasang satu di kantor Anda,” jawabnya disertai
senyuman.
“Maksud Bapak, kabel
teleponnya sampai ke pulau?”
“Oh, tidak! Telepon radio,
maksudnya.”
“Apa mesti sampai sebegitu
jauhnya menguji kualitas air di Laut Jepang? Di pantai juga bisa. Bagaimana
dengan tempat ini, Tanjung Ichizen? Apa di sana saja tidak bisa?”
“Level citroxin di
pantai tidak dapat diandailkan. Lebih baik dilakukan pengukuran di laut. Anda
mestinya tahu itu.”
“Masih ada lima-enam bujangan
di Bagian Pengembangan. Kan tidak harus saya yang dikirim.”
“Ah, tapi mereka itu tidak
biasa kerja sendiri. Anda mestinya tahu itu.”
Aku bersikukuh. “Saya punya
penyakit kronis.”
“Ya, saya tahu. Masalah jantung.”
“Kalau begitu, Kepala Bagian
sudah kasih tahu Anda.”
Manajer Departemen menatapku
penuh tipu daya.
“Bukan. Tapi Dokter Masui.”
Ia dokter perusahaan.
“Dia tidak tahu apa pun
tentang penyakit saya. Apa dia bilang?”
“Katanya itu gangguan
syaraf.”
“Bukan penyakit jantung?”
“Katanya Anda sendiri yang
mengeklaim itu penyakit jantung,” ucap Manajer Departemen diiringi seringai.
“Dengan kata lain, menurutnya
saya cuma mengada-ada.” Aku berdesah. “Tukang obat tak bermutu.”
“Memang dokter Anda sendiri
bilang apa?”
Aku mulai menjelaskan
penyakitku kepada si Manajer Departemen. Karena aku sudah memberi tahu banyak
orang mengenai itu, kata-kata meluncur keluar dengan lancarnya. Dengan
sendirinya, aku cenderung menjadi agak menggebu-gebu saat membicarakannya.
“Memang itu gangguan syaraf. Namun ini bukan gangguan syaraf yang seperti itu,
ataupun penyakit jantung biasa. Namanya adalah cardio-angio-neurosis.
Ini penyakit yang sangat pelik. Dokter Masui tidak tahu apa-apa mengenai
obat-obatan neurologis. Makanya pernyataannya itu tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Dokter saya adalah Dokter Kawashita. Ia tahu semuanya
baik psikoneurologi maupun obat-obatan untuk penyakit dalam. Saya beruntung
berjumpa dokter hebat seperti dia. Kalau tidak, mungkin sudah lama saya
meninggal karena gagal jantung. Tidak—saya pasti sudah meninggal. Malah, sebelum
saya bernasib baik bertemu Dokter Kawashita, saya sudah mengunjungi banyak
rumah sakit dan berselisih dengan banyak dokter, sebab mereka semua bilang itu
gangguan syaraf. Maksudnya, jantung saya memang berdebar-debar dan nyeri
menyesakkan. Kadang-kadang saya bahkan tidak dapat benapas. Mana mungkin itu
cuma gangguan syaraf?! Dokter Kawashita satu-satunya yang dengan benar
mendiagnosisnya sebagai cardio-angio-neurosis.”
Manajer Departemen
mendengarkan kisahku dengan tampang bosan, tetapi kini mengangkat tangannya
untuk menyetopku di tengah-tengah. “Baiklah, baiklah. Kita sebut saja itu cardio-angio-neurosis.
Jadi, penyebabnya apa?”
“Dalam kasus saya, tampaknya
karena terlalu banyak stres.”
“Nah, kalau begitu sempurna!”
Tangannya menampar permukaan meja, wajahnya menampakkan persetujuan yang
sepenuh hati. “Kalau Anda pindah ke pulau terpencil, Anda akan jauh dari stres
atau kekesalan dari perhubungan dengan manusia. Anda bisa kerja dengan
santai—cuma menguji air laut saja beberapa kali sehari. Jadinya kan seperti
pemulihan dari sakit! Eh? Bagaimana menurut Anda? Hahahaha!”
Aku kehilangan kata-kata.
Ya sudah, sepertinya aku bisa
menganggapnya begitu. Namun bagaimana dengan penyebab lainnya dari
penyakitku—ketidakharmonisan rumah tangga? Istriku itu dari sananya gampang
kalut. Sudah begitu, seleranya suka pamer, suka berpesta dan bersosialisasi.
Mana betah dia di pulau nelayan yang penghuninya cuma sekitar belasan nelayan.
Kalau dipaksa tinggal di sana, bisa-bisa dia jadi makin gampang kalut dan
menyiksaku siang malam.
Namun tentu saja, tidak
jantan kalau aku berdalih karena masalah rumah tangga kepada atasanku, si
Manajer Departemen ini.
“Anu …” ucapku gugup. “Untuk
berapa lama, ya?”
“Delapan bulan?”
“Bisa dipersingkat?”
“Biasanya sampai satu tahun
untuk mengamati perubahan level citroxin. Anda mestinya tahu itu. Sudah
saya kurangi khusus buat Anda. Soalnya nanti Anda mesti tinggal jauh dari anak
istri.”
“Tinggal jauh?” tanyaku
dengan mata membelalak. “Mereka tidak bisa ikut saya?”
Sekarang dia yang
membelalakkan matanya. “Anda maunya begitu?”
“Ah, yang benar saja. Kalau
saya sendirian, siapa yang bakal menolong kalau saya mengalami serangan?”
“Wah, baiklah, sepertinya
mereka bisa ikut.” Ia tersenyum lagi. “Saya dengar istri Anda wanita yang
sangat menarik, ya.”
Yang tersirat padanya aku
khawatir meninggalkan istriku seorang diri. Sampai taraf tertentu, dia benar
adanya.
“Tahun depan, Bagian
Pengembangan akan dipisahkan dari Departemen Riset dan menjadi departemen
tersendiri,” kata Manajer Departemen, mendadak tampak serius. “Kepala Bagian
yang sekarang ini akan menjadi Manajer Departemen Pengembangan. Selanjutnya
akan ada dua bagian baru di bawahnya.”
“Begitu, ya.” Aku menelan
ludah.
“Saya bisa janjikan,” ucap
Manajer Departemen, seraya mengangguk khidmat. “Sepulangnya Anda dari pulau,
Anda akan diangkat jadi kepala dari salah satu bagian yang baru itu.”
.
“Hei. Aku dapat dinas pulau
lagi,” laporku kepada istri setiba di rumah hari itu. “Dikira tidak akan dapat
lagi setelah menikah. Tapi ternyata dapat giliran lagi.”
Beberapa saat, istriku
menatapku hampa.
“Mengapa tidak kamu tolak?”
tanyanya panjang lebar.
“Yah, mana bisa, kan. Manajer
Departemen berjanji akan mempromosikanku jadi Kepala Bagian nantinya.”
“Betul kamu akan dipromosikan,
ya? Lainnya yang bergabung ke perusahaan berbarengan dengan kamu semuanya sudah
pada dipromosikan dari lama. Malah ada yang tidak pernah dapat dinas pulau!”
“Itu karena mereka kerjanya
bukan bagian teknis.”
“Tapi kamu lo satu-satunya!
Kamu satu-satunya yang sudah empat kali dapat dinas pulau sebelum menikah. Jadi
kenapa kamu harus dapat lagi, padahal sekarang sudah berkeluarga? Demi apa kamu
terima? Kenapa sih kamu ini orangnya kok penurut banget?!” Nada suaranya
berangsur-angsur memuncak sementara kata-katanya bertambah cepat. “Payah benar
perusahaan tempat kerjamu itu. Paham enggak sih? Mereka cuma memanfaatkan kamu!
Istri-istri lain bakal pada menertawaiku lagi. Mau dikemanakan muka ini!”
Putra kami yang berusia tiga
tahun, berdiri dengan mata terbelalak di samping ibunya, menatap perempuan itu
dengan sorot kebingungan.
“Aku sudah berusaha
menolaknya,” kataku. “Aku sudah jelaskan tentang penyakitku.”
“Ah, ya ampun!” Istriku
mendongak ke langit-langit, melepaskan desahan panjang dan menggeleng-geleng
tak percaya. “Kamu bahkan cerita ke Manajer Departemen tentang
penyakit-penyakitanmu itu. Pasti kamu cerita panjang lebar. Pasti kamu sampai
menggerak-gerakkan tanganmu ke mana-mana, mengocehkan tentang jantungmu,
jantungmu yang lemah itu, melebih-lebihkan semuanya!” Ia membelalakkan mata dan
mengernyihkan bibir menirukanku.
“Maksudmu apa,
melebih-lebihkan? Aku selalu berkata yang jujur mengenai penyakitku itu,”
cetusku mendongkol. “Bagaimana dia bisa paham kalau aku tidak jelaskan?”
“Berapa kali aku harus kasih
tahu kamu sih? Tidak usah kasih tahu orang tentang itu! Kasih tahu aku saja,
kalau mau. Tapi demi Tuhan, tidak usah bilang-bilang ke orang! Kamu pikir apa
sebabnya Kepala Bagian tidak menyukaimu? Soalnya kamu selalu menceracau tentang
penyakit sialanmu itu! Dia pasti sudah enek mendengarnya. Tiap kali kamu
dimintanya melakukan apa, ‘ah, jantungku, jantungku’. Kapan saja kamu kira
jantungmu detaknya rada aneh, mau kamu lagi melakukan apa pun, pasti kamu rusuh
dan buru-buru ke rumah sakit terdekat!”
“Kok kamu tahu?”
“Tahu lah, gampang saja! Kamu
itu bahan tertawaan di perusahaan, paham tidak? Tidak heran kamu tidak pernah
dipromosikan! Dinas pulau yang sekarang ini semata karena saking bencinya
Kepala Bidang sama kamu makanya dia pengin menyingkirkanmu! Jelas begitu!”
“Kalau begitu, kamu tak
peduli kalau aku mati?” seruku marah. “Mungkin kamu benar, mungkin Kepala
Bidang tidak suka aku. Tapi haruskah bicaramu seperti itu juga? Penyakit jantung
itu dapat membunuh, tahu. Memang, orang sehat itu sukanya mengolok-olok yang
sakit. Tapi aku tak peduli! Aku menjaga kesehatanku sebab tak lucu kalau aku
sampai mati. Kamu pikir kenapa aku terus berobat ke dokter? Itu demi kamu dan
bocah itu, tahu!”
“JANGAN MENGGURUIKU SIALAN!”
“Maksudmu apa?” Aku
menghantamkan bogemku ke meja makan dan berdiri.
“Kalau kamu memang punya
sakit jantung, kenapa kamu tidak kasih tahu aku sebelum kita menikah?” Ia balas
berdiri dan memelototiku. “Begitu ya! Kamu menjebakku, ya kan?!”
“Maksudmu apa, menjebak
kamu?! Waktu itu aku belum sakit! Sakitnya baru ada setelah kita menikah! Aku
bisa apa?”
“Jadi sekarang kamu pikir itu
salahku! Pasti orang-orang di kantormu bilang begitu juga ya! Keparat!”
Sekarang ia memekik-mekik.
“Tahan, tahan. Tahan.”
Cepat-cepat aku berusaha mengalihkan ke bahasan semula. “Jangan kita bertengkar
lagi! Selalu saja arahnya ke situ. Aku kan belum kasih tahu ditugaskannya ke
mana.”
“Peduli amat kamu mau ke
mana?!” Sesaat ia berhenti dan menatap tajam ke wajahku. “Tentu, kamu bakal
pergi sendiri, iya kan.”
Aku terperanjat. “Sungguh
teganya dirimu? Kamu mau mengusirku ke pulau terpencil sendirian, dengan
keadaanku ini, tanpa dokter?!”
Ia tertawa dingin. “Yah,
kalau kamu tidak suka, ya tidak usah pergi.”
“Aku bakal dipromosikan jadi
Kepala Bagian sepulangnya nanti. Kamu tidak senang?”
Sekarang ia sungguh merasa
ngeri. “SENANG? TIDAK! Aku sama sekali tidak senang! Mungkin kalau kamu
bilangnya ‘Manajer Departemen’, ya! Sejauh ini, kamu yang terakhir dipromosikan.
Kenapa pula aku harus senang karena itu?!”
“Jangan konyol! Bagaimana
bisa aku loncat langsung ke Manajer Departemen tanpa jadi Kepala Bagian dulu?! Aku
bahkan tidak akan mendapatkan posisi itu kalau tidak dinas ke pulau itu dulu!”
“Gusti, kamu itu bodoh sekali
sih!”
“Maksudnya apa, bodoh?”
kutendang kursi.
Anak lelaki kami sudah
terbiasa dengan percekcokan kami sehingga ia tidak menangis lagi. Ia mulai
bermain sendiri.
“Pokoknya, kita semua akan
pergi ke pulau itu. Mengerti?” kataku, napasku terengah-engah.
Ia menatapku kaget. “Kamu
ingin anak kita jadi orang barbar?!” katanya, seperti biasa logikanya jingkrak.
“Apa maksudnya bicara
begitu?!”
“Kamu ini tidak memikirkan
keluarga sendiri, ya. Dia kan baru masuk ke taman kanak-kanak swasta, bukan?!
Kamu tahu tidak, aku itu sudah berupaya keras supaya dia bisa masuk ke sekolah
itu!?”
“Itu kan buat gengsimu saja!”
“Baik. Jadi menurutmu lebih
baik kalau anak kita tidak punya teman, jadi orang imbesil kayak anak nelayan,
di pulau kumuh menyedihkan antah-berantah, ya?! Padahal dia baru saja mulai
belajar membaca?” Tangisnya meledak. Ia berlari memeluk bocah itu. “Maafkan
Ibu, sayang! Ini semua akibat ayahmu yang busuk tiada guna itu.”
“Mana yang lebih penting? TK
dia atau pekerjaanku?!” aku damprat dia. “Satu-satunya alasan kamu tidak mau
pergi karena kamu tidak akan bisa beli pakaian seronok dan memamerkannya di
depan orang-orang!”
“Oh, kamu tidak suka, ya,”
katanya, menatapku. “Makanya kamu mau menyeretku ke sana bersamamu. Kamu hanya
mau menyusahkan aku!” Ia mengentak-entakkan kaki. “Tidak. Aku tidak mau pergi
bersamamu! Bisa-bisa aku menggila, terjebak di pulau terpencil tanpa teman
mengobrol, hanya bertemankan penderita cacat macam kamu! Aku sudah pasti tidak
akan berangkat, oke? Enyahlah sendiri. Kejang-kejanglah. Sudah sepantasnya
bagimu. Menderita saja sendiri, aku tak peduli!”
“Hah … hah … hah …” aku ingin
balas berteriak, tetapi tahu-tahu tak sanggup bernapas. Mataku melotot dan aku
megap-megap mencari udara.
Rasa nyeri yang tajam menusuk
jantungku. Wajahku menggerenyot dan tubuhku terbungkuk di lantai, tanganku
mencengkeram dada. Debar jantungku terdengar begitu jelasnya. Aku mengerang
tanpa daya dan merasakan keringat dingin melanda.
“Oh, lihat, dia berulah
lagi.” Istriku menjulang di atasku mengernyihkan senyuman. “Lucu ya, selalu
saja terjadi ketika dia kalah berantem. Enak benar sakit jantung.”
Dengan napas masih
menciut-ciut, aku mengulurkan tanganku ke arahnya. “O—obatku, b-bisakah kamu
ambilkan o—obatku.”
“Ambil saja sendiri,”
katanya, dan mulai membereskan makan malam.
Aku berguling-guling di
sepanjang karpet. “Di k—kantong jasku. B—bisakah kamu ambilkan buatku.”
Putra kami bangkit dan
memandang ke bawah padaku. “Ayah sakit!”
“Ah, biar saja. Cuma cari
perhatian.” Istriku mengentak-entakkan kaki dengan kerasnya masuk ke dapur.
Ketakutan oleh rasa nyeri
yang tajam dan ngeri akan mati, aku merangkak di lantai dan berusaha menjangkau
gantungan baju sementara bunyi menciut-ciut masih keluar dari tenggorokanku.
“Baiklah, baiklah. Bagus
sekali.” Sambil mendesah, istriku kembali dari dapur, mengambil sebotol obat
dari jasku, dan melemparkannya ke depan mukaku. “Penampilan yang bagus. Hampir
saja aku percaya kamu.”
.
“Jadi, Anda paham kan, saya
butuh obat untuk delapan bulan,” kataku kepada Dokter Kawashita keesokan
harinya, setelah mengambil cuti pagi itu untuk mendatangi kliniknya.
“Baiklah, ya.” Wajah Dokter Kawashita merengut masam. “Saya
bisa memberikannya untuk Anda, tetapi ….”
“Anda harus memberikannya!”
aku memohon. “Obat itu satu-satunya harapan saya di pulau terpencil tanpa
dokter seorang pun!”
“Tapi Anda tidak akan meminum
semuanya sekaligus, ya kan.” Ia menggaruki kepalanya keras-keras. “Masalahnya
Anda ini tidak ada usaha untuk menghilangkan penyebabnya, tapi hanya minum
obatnya saja terus. Itu tidak baik sama sekali.”
“Tidak, itu tidak benar. Saya
sedang berusaha. Saya sudah berhenti merokok dan minum kopi, sebagaimana yang
Anda anjurkan. Saya menghindari olahraga berat dan hanya melakukan pekerjaan
yang sangat mendesak dan menuntut tanggung jawab,” kataku sambil menundukkan
kepala. “Dan tentu, saya sudah berhenti melakukan hubungan seksual dengan istri
saya.”
“Apa?” Ia mengangkat wajahnya
dan menatapku. “Sama sekali?!”
“Ya, sama sekali. Yah, itu
termasuk olahraga berat, bukankah begitu?”
“Sudah sering saya katakan,
tidak ada gejala kentara yang teramati dalam kasus Anda,” kata dokter itu
disertai desahan panjang. “Tak baik untuk memikirkan kondisi Anda sampai
berkepanjangan. Apalagi sampai ada perselisihan rumah tangga. Kalau Anda
berhenti berhubungan dengan istri Anda sama sekali, itu bisa menambah penyebab
perselisihan rumah tangga.”
“Anda tak menuduh saya hanya
mengada-ada juga, bukan?!”
“Saya bukannya bilang begitu.
Anda memang sakit. Namun kecemasan hanya akan memperparah kondisi Anda.
Akibatnya Anda hanya akan semakin cemas. Ini lingkaran setan. Saya bukannya mau
menakuti Anda, tapi kalau sampai demikian, terapi dengan istirahat total dan
ganti suasana tidak akan berhasil. Anda perlu relaks, dan coba jangan
marah-marah. Itu obat yang terbaik.”
(Bersambung)
“Bad for the Heart” dalam kumpulan cerpen Yasutaka Tsutsui Salmonella men on Planet Porno, terjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Andrew Driver, Vintage Books, 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar