Selamat Datang

Blog ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi proses belajar saya dalam penulisan karya kreatif sekalian pemahaman bahasa asing, yaitu dengan menerjemahkan. Hasil terjemahan dalam blog ini semata untuk kepentingan belajar dan tidak dikomersialkan. Terima kasih sudah berkunjung.

Pengarang/Penerjemah

Agus Kurniawan (1) Aimee Bender (2) Alan Gratz (1) Alberto Manguel (1) Alejandro Zambra (1) Alex Patterson (1) Alexa Firat (1) Alexandre Najjar (1) Alice Guthrie (1) Alice Walker (1) Aliza Shevrin (1) Ambika Rao (1) Ambrose Bierce (1) Amelia Gray (1) Amy Hempel (1) Anders Widmark (2) Andrea G. Labinger (1) Andrew Driver (8) Ann Beattie (1) Anna Sophie Gross (1) Anne McLean (1) Aoi Matsushima (1) Ariel Urquiza (1) Behnam Dayani (3) Bel Kaufman (1) Brandon Geist (5) Catherine Rose Torres (1) César Aira (1) Charlotte-Arrisoa Rafenomanjato (1) Chiba Mikio (1) Chikako Kobayashi (1) Chimamanda Ngozi Adichie (1) Chris Andrews (1) Christopher Moseley (1) Clark M. Zlotchew (6) Cynthia Ozick (1) David Herbert Lawrence (2) David Karashima (1) Dayeuh (2) Donald A. Yates (1) Dorothy Parker (1) Dorthe Nors (1) Ed Park (1) Elizabeth Harris (1) Estelle Gilson (1) Fernando Sorrentino (15) FiFadila (1) Fiona Barton (1) Francis Marion Crawford (2) Fumiko Enchi (1) Gabriel Gárcia Márquez (1) Giulio Mozzi (1) Grace Paley (1) Gregory Conti (1) Gregory Rabassa (1) Guillermo Fadanelli (1) Guillermo Martínez (1) Hari Kumar Nair (1) Haruki Murakami (24) Hector Hugh Munro (Saki) (2) Helena Maria Viramontes (1) Herbert Ernest Bates (1) Hitomi Yoshio (1) Ian MacDonald (1) Iris Maria Mielonen (1) Isaac Bashevis Singer (1) Italo Calvino (1) Jack Kerouac (2) Jacob dan Wilhelm Grimm (1) James Patterson (1) James Thurber (5) Jay Rubin (13) Jean Rhys (1) John Cheever (1) John Clare (1) John Updike (1) Jonas Karlsson (1) Jonathan Safran Foer (1) Jonathan Wright (1) Jorge Luis Borges (1) Juan José Millás (1) Julia Sherwood (1) K. S. Sivakumaran (1) Kader Abdolah (1) Kalaivaathy Kaleel (1) Karunia Sylviany Sambas (1) Kate Chopin (1) Katherine Mansfield (1) Keiichiro Hirano (5) Kevin Canty (1) Khaled Hosseini (1) Khan Mohammad Sind (1) Kurahashi Yumiko (1) László Krasznahorkai (1) Laura Wyrick (27) Laurie Thompson (1) Laurie Wilson (1) Lawrence Venuti (1) Liliana Heker (1) Lindsey Akashi (27) Liza Dalby (1) Lorrie Moore (5) Louise George Kittaka (1) Lynne E. Riggs (1) Mahmud Marhun (1) Malika Moustadraf (1) Marek Vadas (1) Marina Harss (1) Mark Boyle (30) Mark Sundeen (1) Mark Twain (2) Marshall Karp (1) Martin Aitken (1) Massimo Bontempelli (1) Megan McDowell (1) Megumi Fujino (1) Mehis Heinsaar (1) Michael Emmerich (1) Michele Aynesworth (3) Mieko Kawakami (1) Mihkel Mutt (1) Mildred Hernández (1) Mitsuyo Kakuta (1) Morgan Giles (1) Na’am al-Baz (1) Nahid Mozaffari (3) Naoko Awa (1) Naomi Lindstrom (1) Norman Thomas di Giovanni (1) Novianita (1) O. Henry (1) Ottilie Mulzet (1) Pamela Taylor (1) Paul Murray (54) Paul O'Neill (1) Pere Calders (1) Peter Matthiessen (1) Peter Sherwood (1) Philip Gabriel (11) Polly Barton (1) Ralph McCarthy (3) Ramona Ausubel (1) Ray Bradbury (3) Raymond Carver (2) Raymond Chandler (2) Rhett A. Butler (1) Robert Coover (3) Rokelle Lerner (359) Ruqayyah Kareem (1) Ryu Murakami (3) Ryuichiro Utsumi (1) S. Yumiko Hulvey (1) Sam Garrett (1) Sam Malissa (1) Samantha Schnee (1) Saud Alsanousi (1) Sebastiano Vassalli (1) Selina Hossain (1) Sergey Terentyevich Semyonov (1) Shabnam Nadiya (1) Sherwood Anderson (1) Shirin Nezammafi (1) Shun Medoruma (1) Sophie Lewis (1) Stephen Chbosky (10) Stephen Leacock (1) Susan Wilson (1) Suzumo Sakurai (1) Tatsuhiko Takimoto (27) Thomas C. Meehan (2) Tobias Hecht (1) Tobias Wolff (1) Tomi Astikainen (40) Toni Morisson (1) Toshiya Kamei (2) Ursula K. Le Guin (1) Vina Maria Agustina (2) Virginia Woolf (1) W. H. Hudson (1) Wahyu Wibisana (1) Wajahat Ali (1) Widya Suwarna (1) William Saroyan (1) William Somerset Maugham (1) Yasutaka Tsutsui (8) Yu Miri (1)

Bongkar Arsip

An Evening of Long Goodbyes, Bab 7 (1/2) (Paul Murray, 2003)

“Kamu benar-benar sangat baik sekali.” “Enggak usah sungkan-sungkan, Charlie.” “Maksudku, ini cuma untuk sekitar seminggu, sampai ...

20260220

Buruk untuk Jantung (1/3) (Yasutaka Tsutsui, 1979)

Firasatku ternyata benar.

Seperti yang sudah kuduga, firasat itu memberitahuku akan adanya “dinas pulau” sampai-sampai Manajer Departemen tergesa memanggilku ke Ruang Rapat.

Biasanya, “dinas pulau” diberikan kepada peneliti yang belum kawin. Sedangkan aku punya istri dan seorang anak berumur tiga tahun.

Mengapa pula mesti Manajer Departemen sendiri yang memberitahuku. Karena Kepala Bagian tidak bisa. Inilah gelagat dari kebencian Kepala Bagian kepadaku. Dia lah orangnya yang merancang “dinas pulau” ini. Aku yakin itu.

Aku akan ditempatkan di Pulau Delima, sebuah pulau kecil di tengah-tengah Laut Jepang. Jaraknya kira-kira 30 meter dari pesisir yang paling terpencil di Prefektur Shimane.

“Apa ada telepon di pulau itu?” tanyaku kepada Manajer Departemen sembari memindai petanya.

“Istri kepala desa di sana operator weselbor. Akan saya pasang satu di kantor Anda,” jawabnya disertai senyuman.

“Maksud Bapak, kabel teleponnya sampai ke pulau?”

“Oh, tidak! Telepon radio, maksudnya.”

“Apa mesti sampai sebegitu jauhnya menguji kualitas air di Laut Jepang? Di pantai juga bisa. Bagaimana dengan tempat ini, Tanjung Ichizen? Apa di sana saja tidak bisa?”

“Level citroxin di pantai tidak dapat diandailkan. Lebih baik dilakukan pengukuran di laut. Anda mestinya tahu itu.”

“Masih ada lima-enam bujangan di Bagian Pengembangan. Kan tidak harus saya yang dikirim.”

“Ah, tapi mereka itu tidak biasa kerja sendiri. Anda mestinya tahu itu.”

Aku bersikukuh. “Saya punya penyakit kronis.”

“Ya, saya tahu. Masalah jantung.”

“Kalau begitu, Kepala Bagian sudah kasih tahu Anda.”

Manajer Departemen menatapku penuh tipu daya.

“Bukan. Tapi Dokter Masui.” Ia dokter perusahaan.

“Dia tidak tahu apa pun tentang penyakit saya. Apa dia bilang?”

“Katanya itu gangguan syaraf.”

“Bukan penyakit jantung?”

“Katanya Anda sendiri yang mengeklaim itu penyakit jantung,” ucap Manajer Departemen diiringi seringai.

“Dengan kata lain, menurutnya saya cuma mengada-ada.” Aku berdesah. “Tukang obat tak bermutu.”

“Memang dokter Anda sendiri bilang apa?”

Aku mulai menjelaskan penyakitku kepada si Manajer Departemen. Karena aku sudah memberi tahu banyak orang mengenai itu, kata-kata meluncur keluar dengan lancarnya. Dengan sendirinya, aku cenderung menjadi agak menggebu-gebu saat membicarakannya. “Memang itu gangguan syaraf. Namun ini bukan gangguan syaraf yang seperti itu, ataupun penyakit jantung biasa. Namanya adalah cardio-angio-neurosis. Ini penyakit yang sangat pelik. Dokter Masui tidak tahu apa-apa mengenai obat-obatan neurologis. Makanya pernyataannya itu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dokter saya adalah Dokter Kawashita. Ia tahu semuanya baik psikoneurologi maupun obat-obatan untuk penyakit dalam. Saya beruntung berjumpa dokter hebat seperti dia. Kalau tidak, mungkin sudah lama saya meninggal karena gagal jantung. Tidak—saya pasti sudah meninggal. Malah, sebelum saya bernasib baik bertemu Dokter Kawashita, saya sudah mengunjungi banyak rumah sakit dan berselisih dengan banyak dokter, sebab mereka semua bilang itu gangguan syaraf. Maksudnya, jantung saya memang berdebar-debar dan nyeri menyesakkan. Kadang-kadang saya bahkan tidak dapat benapas. Mana mungkin itu cuma gangguan syaraf?! Dokter Kawashita satu-satunya yang dengan benar mendiagnosisnya sebagai cardio-angio-neurosis.”

Manajer Departemen mendengarkan kisahku dengan tampang bosan, tetapi kini mengangkat tangannya untuk menyetopku di tengah-tengah. “Baiklah, baiklah. Kita sebut saja itu cardio-angio-neurosis. Jadi, penyebabnya apa?”

“Dalam kasus saya, tampaknya karena terlalu banyak stres.”

“Nah, kalau begitu sempurna!” Tangannya menampar permukaan meja, wajahnya menampakkan persetujuan yang sepenuh hati. “Kalau Anda pindah ke pulau terpencil, Anda akan jauh dari stres atau kekesalan dari perhubungan dengan manusia. Anda bisa kerja dengan santai—cuma menguji air laut saja beberapa kali sehari. Jadinya kan seperti pemulihan dari sakit! Eh? Bagaimana menurut Anda? Hahahaha!”

Aku kehilangan kata-kata.

Ya sudah, sepertinya aku bisa menganggapnya begitu. Namun bagaimana dengan penyebab lainnya dari penyakitku—ketidakharmonisan rumah tangga? Istriku itu dari sananya gampang kalut. Sudah begitu, seleranya suka pamer, suka berpesta dan bersosialisasi. Mana betah dia di pulau nelayan yang penghuninya cuma sekitar belasan nelayan. Kalau dipaksa tinggal di sana, bisa-bisa dia jadi makin gampang kalut dan menyiksaku siang malam.

Namun tentu saja, tidak jantan kalau aku berdalih karena masalah rumah tangga kepada atasanku, si Manajer Departemen ini.

“Anu …” ucapku gugup. “Untuk berapa lama, ya?”

“Delapan bulan?”

“Bisa dipersingkat?”

“Biasanya sampai satu tahun untuk mengamati perubahan level citroxin. Anda mestinya tahu itu. Sudah saya kurangi khusus buat Anda. Soalnya nanti Anda mesti tinggal jauh dari anak istri.”

“Tinggal jauh?” tanyaku dengan mata membelalak. “Mereka tidak bisa ikut saya?”

Sekarang dia yang membelalakkan matanya. “Anda maunya begitu?”

“Ah, yang benar saja. Kalau saya sendirian, siapa yang bakal menolong kalau saya mengalami serangan?”

“Wah, baiklah, sepertinya mereka bisa ikut.” Ia tersenyum lagi. “Saya dengar istri Anda wanita yang sangat menarik, ya.”

Yang tersirat padanya aku khawatir meninggalkan istriku seorang diri. Sampai taraf tertentu, dia benar adanya.

“Tahun depan, Bagian Pengembangan akan dipisahkan dari Departemen Riset dan menjadi departemen tersendiri,” kata Manajer Departemen, mendadak tampak serius. “Kepala Bagian yang sekarang ini akan menjadi Manajer Departemen Pengembangan. Selanjutnya akan ada dua bagian baru di bawahnya.”

“Begitu, ya.” Aku menelan ludah.

“Saya bisa janjikan,” ucap Manajer Departemen, seraya mengangguk khidmat. “Sepulangnya Anda dari pulau, Anda akan diangkat jadi kepala dari salah satu bagian yang baru itu.”

.

“Hei. Aku dapat dinas pulau lagi,” laporku kepada istri setiba di rumah hari itu. “Dikira tidak akan dapat lagi setelah menikah. Tapi ternyata dapat giliran lagi.”

Beberapa saat, istriku menatapku hampa.

“Mengapa tidak kamu tolak?” tanyanya panjang lebar.

“Yah, mana bisa, kan. Manajer Departemen berjanji akan mempromosikanku jadi Kepala Bagian nantinya.”

“Betul kamu akan dipromosikan, ya? Lainnya yang bergabung ke perusahaan berbarengan dengan kamu semuanya sudah pada dipromosikan dari lama. Malah ada yang tidak pernah dapat dinas pulau!”

“Itu karena mereka kerjanya bukan bagian teknis.”

“Tapi kamu lo satu-satunya! Kamu satu-satunya yang sudah empat kali dapat dinas pulau sebelum menikah. Jadi kenapa kamu harus dapat lagi, padahal sekarang sudah berkeluarga? Demi apa kamu terima? Kenapa sih kamu ini orangnya kok penurut banget?!” Nada suaranya berangsur-angsur memuncak sementara kata-katanya bertambah cepat. “Payah benar perusahaan tempat kerjamu itu. Paham enggak sih? Mereka cuma memanfaatkan kamu! Istri-istri lain bakal pada menertawaiku lagi. Mau dikemanakan muka ini!”

Putra kami yang berusia tiga tahun, berdiri dengan mata terbelalak di samping ibunya, menatap perempuan itu dengan sorot kebingungan.

“Aku sudah berusaha menolaknya,” kataku. “Aku sudah jelaskan tentang penyakitku.”

“Ah, ya ampun!” Istriku mendongak ke langit-langit, melepaskan desahan panjang dan menggeleng-geleng tak percaya. “Kamu bahkan cerita ke Manajer Departemen tentang penyakit-penyakitanmu itu. Pasti kamu cerita panjang lebar. Pasti kamu sampai menggerak-gerakkan tanganmu ke mana-mana, mengocehkan tentang jantungmu, jantungmu yang lemah itu, melebih-lebihkan semuanya!” Ia membelalakkan mata dan mengernyihkan bibir menirukanku.

“Maksudmu apa, melebih-lebihkan? Aku selalu berkata yang jujur mengenai penyakitku itu,” cetusku mendongkol. “Bagaimana dia bisa paham kalau aku tidak jelaskan?”

“Berapa kali aku harus kasih tahu kamu sih? Tidak usah kasih tahu orang tentang itu! Kasih tahu aku saja, kalau mau. Tapi demi Tuhan, tidak usah bilang-bilang ke orang! Kamu pikir apa sebabnya Kepala Bagian tidak menyukaimu? Soalnya kamu selalu menceracau tentang penyakit sialanmu itu! Dia pasti sudah enek mendengarnya. Tiap kali kamu dimintanya melakukan apa, ‘ah, jantungku, jantungku’. Kapan saja kamu kira jantungmu detaknya rada aneh, mau kamu lagi melakukan apa pun, pasti kamu rusuh dan buru-buru ke rumah sakit terdekat!”

“Kok kamu tahu?”

“Tahu lah, gampang saja! Kamu itu bahan tertawaan di perusahaan, paham tidak? Tidak heran kamu tidak pernah dipromosikan! Dinas pulau yang sekarang ini semata karena saking bencinya Kepala Bidang sama kamu makanya dia pengin menyingkirkanmu! Jelas begitu!”

“Kalau begitu, kamu tak peduli kalau aku mati?” seruku marah. “Mungkin kamu benar, mungkin Kepala Bidang tidak suka aku. Tapi haruskah bicaramu seperti itu juga? Penyakit jantung itu dapat membunuh, tahu. Memang, orang sehat itu sukanya mengolok-olok yang sakit. Tapi aku tak peduli! Aku menjaga kesehatanku sebab tak lucu kalau aku sampai mati. Kamu pikir kenapa aku terus berobat ke dokter? Itu demi kamu dan bocah itu, tahu!”

“JANGAN MENGGURUIKU SIALAN!”

“Maksudmu apa?” Aku menghantamkan bogemku ke meja makan dan berdiri.

“Kalau kamu memang punya sakit jantung, kenapa kamu tidak kasih tahu aku sebelum kita menikah?” Ia balas berdiri dan memelototiku. “Begitu ya! Kamu menjebakku, ya kan?!”

“Maksudmu apa, menjebak kamu?! Waktu itu aku belum sakit! Sakitnya baru ada setelah kita menikah! Aku bisa apa?”

“Jadi sekarang kamu pikir itu salahku! Pasti orang-orang di kantormu bilang begitu juga ya! Keparat!” Sekarang ia memekik-mekik.

“Tahan, tahan. Tahan.” Cepat-cepat aku berusaha mengalihkan ke bahasan semula. “Jangan kita bertengkar lagi! Selalu saja arahnya ke situ. Aku kan belum kasih tahu ditugaskannya ke mana.”

“Peduli amat kamu mau ke mana?!” Sesaat ia berhenti dan menatap tajam ke wajahku. “Tentu, kamu bakal pergi sendiri, iya kan.”

Aku terperanjat. “Sungguh teganya dirimu? Kamu mau mengusirku ke pulau terpencil sendirian, dengan keadaanku ini, tanpa dokter?!”

Ia tertawa dingin. “Yah, kalau kamu tidak suka, ya tidak usah pergi.”

“Aku bakal dipromosikan jadi Kepala Bagian sepulangnya nanti. Kamu tidak senang?”

Sekarang ia sungguh merasa ngeri. “SENANG? TIDAK! Aku sama sekali tidak senang! Mungkin kalau kamu bilangnya ‘Manajer Departemen’, ya! Sejauh ini, kamu yang terakhir dipromosikan. Kenapa pula aku harus senang karena itu?!”

“Jangan konyol! Bagaimana bisa aku loncat langsung ke Manajer Departemen tanpa jadi Kepala Bagian dulu?! Aku bahkan tidak akan mendapatkan posisi itu kalau tidak dinas ke pulau itu dulu!”

“Gusti, kamu itu bodoh sekali sih!”

“Maksudnya apa, bodoh?” kutendang kursi.

Anak lelaki kami sudah terbiasa dengan percekcokan kami sehingga ia tidak menangis lagi. Ia mulai bermain sendiri.

“Pokoknya, kita semua akan pergi ke pulau itu. Mengerti?” kataku, napasku terengah-engah.

Ia menatapku kaget. “Kamu ingin anak kita jadi orang barbar?!” katanya, seperti biasa logikanya jingkrak.

“Apa maksudnya bicara begitu?!”

“Kamu ini tidak memikirkan keluarga sendiri, ya. Dia kan baru masuk ke taman kanak-kanak swasta, bukan?! Kamu tahu tidak, aku itu sudah berupaya keras supaya dia bisa masuk ke sekolah itu!?”

“Itu kan buat gengsimu saja!”

“Baik. Jadi menurutmu lebih baik kalau anak kita tidak punya teman, jadi orang imbesil kayak anak nelayan, di pulau kumuh menyedihkan antah-berantah, ya?! Padahal dia baru saja mulai belajar membaca?” Tangisnya meledak. Ia berlari memeluk bocah itu. “Maafkan Ibu, sayang! Ini semua akibat ayahmu yang busuk tiada guna itu.”

“Mana yang lebih penting? TK dia atau pekerjaanku?!” aku damprat dia. “Satu-satunya alasan kamu tidak mau pergi karena kamu tidak akan bisa beli pakaian seronok dan memamerkannya di depan orang-orang!”

“Oh, kamu tidak suka, ya,” katanya, menatapku. “Makanya kamu mau menyeretku ke sana bersamamu. Kamu hanya mau menyusahkan aku!” Ia mengentak-entakkan kaki. “Tidak. Aku tidak mau pergi bersamamu! Bisa-bisa aku menggila, terjebak di pulau terpencil tanpa teman mengobrol, hanya bertemankan penderita cacat macam kamu! Aku sudah pasti tidak akan berangkat, oke? Enyahlah sendiri. Kejang-kejanglah. Sudah sepantasnya bagimu. Menderita saja sendiri, aku tak peduli!”

“Hah … hah … hah …” aku ingin balas berteriak, tetapi tahu-tahu tak sanggup bernapas. Mataku melotot dan aku megap-megap mencari udara.

Rasa nyeri yang tajam menusuk jantungku. Wajahku menggerenyot dan tubuhku terbungkuk di lantai, tanganku mencengkeram dada. Debar jantungku terdengar begitu jelasnya. Aku mengerang tanpa daya dan merasakan keringat dingin melanda.

“Oh, lihat, dia berulah lagi.” Istriku menjulang di atasku mengernyihkan senyuman. “Lucu ya, selalu saja terjadi ketika dia kalah berantem. Enak benar sakit jantung.”

Dengan napas masih menciut-ciut, aku mengulurkan tanganku ke arahnya. “O—obatku, b-bisakah kamu ambilkan o—obatku.”

“Ambil saja sendiri,” katanya, dan mulai membereskan makan malam.

Aku berguling-guling di sepanjang karpet. “Di k—kantong jasku. B—bisakah kamu ambilkan buatku.”

Putra kami bangkit dan memandang ke bawah padaku. “Ayah sakit!”

“Ah, biar saja. Cuma cari perhatian.” Istriku mengentak-entakkan kaki dengan kerasnya masuk ke dapur.

Ketakutan oleh rasa nyeri yang tajam dan ngeri akan mati, aku merangkak di lantai dan berusaha menjangkau gantungan baju sementara bunyi menciut-ciut masih keluar dari tenggorokanku.

“Baiklah, baiklah. Bagus sekali.” Sambil mendesah, istriku kembali dari dapur, mengambil sebotol obat dari jasku, dan melemparkannya ke depan mukaku. “Penampilan yang bagus. Hampir saja aku percaya kamu.”

.

“Jadi, Anda paham kan, saya butuh obat untuk delapan bulan,” kataku kepada Dokter Kawashita keesokan harinya, setelah mengambil cuti pagi itu untuk mendatangi kliniknya.

“Baiklah, ya.”  Wajah Dokter Kawashita merengut masam. “Saya bisa memberikannya untuk Anda, tetapi ….”

“Anda harus memberikannya!” aku memohon. “Obat itu satu-satunya harapan saya di pulau terpencil tanpa dokter seorang pun!”

“Tapi Anda tidak akan meminum semuanya sekaligus, ya kan.” Ia menggaruki kepalanya keras-keras. “Masalahnya Anda ini tidak ada usaha untuk menghilangkan penyebabnya, tapi hanya minum obatnya saja terus. Itu tidak baik sama sekali.”

“Tidak, itu tidak benar. Saya sedang berusaha. Saya sudah berhenti merokok dan minum kopi, sebagaimana yang Anda anjurkan. Saya menghindari olahraga berat dan hanya melakukan pekerjaan yang sangat mendesak dan menuntut tanggung jawab,” kataku sambil menundukkan kepala. “Dan tentu, saya sudah berhenti melakukan hubungan seksual dengan istri saya.”

“Apa?” Ia mengangkat wajahnya dan menatapku. “Sama sekali?!”

“Ya, sama sekali. Yah, itu termasuk olahraga berat, bukankah begitu?”

“Sudah sering saya katakan, tidak ada gejala kentara yang teramati dalam kasus Anda,” kata dokter itu disertai desahan panjang. “Tak baik untuk memikirkan kondisi Anda sampai berkepanjangan. Apalagi sampai ada perselisihan rumah tangga. Kalau Anda berhenti berhubungan dengan istri Anda sama sekali, itu bisa menambah penyebab perselisihan rumah tangga.”

“Anda tak menuduh saya hanya mengada-ada juga, bukan?!”

“Saya bukannya bilang begitu. Anda memang sakit. Namun kecemasan hanya akan memperparah kondisi Anda. Akibatnya Anda hanya akan semakin cemas. Ini lingkaran setan. Saya bukannya mau menakuti Anda, tapi kalau sampai demikian, terapi dengan istirahat total dan ganti suasana tidak akan berhasil. Anda perlu relaks, dan coba jangan marah-marah. Itu obat yang terbaik.”


(Bersambung)


“Bad for the Heart” dalam kumpulan cerpen Yasutaka Tsutsui Salmonella men on Planet Porno, terjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Andrew Driver, Vintage Books, 2010.

Tidak ada komentar: