Teng
… teng … teng … jam bandul yang ada di kamar
tengah telah berbunyi tujuh kali, tandanya sudah jam tujuh malam. Bapak dan Ibu
sudah bersiap-siap akan pergi ke resepsi.
“Agam,
cepat selesaikan PR-mu lalu tidur, ya,” Ibu memperingati Agam.
“Siap,
Komandan!” jawab Agam menirukan pak polisi bila menjawab perintah komandannya.
“Yu,
jangan lupa kunci pintu gerbang,” Bapak memperingati Yu Watik.
Setelah
Bapak dan Ibu pergi, Yu Watik cepat-cepat menutup pagar dan mengunci gerbang
depan. Yu Watik lalu ke ruang tengah menyetel TV.
TV
menyala. Yu Watik lalu duduk di karpet. Ceklik … ceklik, Yu Wati memijat remote
control mencari stasiun TV yang
memutar acara kesenangannya.
“Asyik … film hantu.” Yu Watik senang sekali lalu mengambil bantal yang ada di atas sofa. Bantal didekapnya erat untuk berjaga-jaga bila hantunya keluar.
“Weee … senang menonton film
hantu kok takut,” Agam meledek Yu Watik.
“Pengin saja,” sahut Yu
Watik. “Mas Agam, ayo PR-nya digarap. Sudah diingatkan Ibu, kan?”
Agam lalu masuk ke kamar.
Sambil bermalas-malasan, Agam mencoba menyelesaikan PR-nya. Namun, tawa dan
jeritan Yu Watik membuat Agam kepengin menonton TV. Agam keluar kamar sambil
mengendap-endap. Agam duduk perlahan-lahan di sofa yang ada di belakang Yu
Watik. Sama sekali tidak bersuara.
Diam-diam Agam ikut menonton
film hantu. Agam seperti kena sihir. Agam ingin terus mengikuti cerita film
itu. Tetapi, tiba-tiba ada kejadian mengerikan. Ada pocong mengejar-ngejar
bocah cilik seumuran Agam. “Tolong … tolong …” teriak anak kecil itu.
“Hiiih ….” Agam menahan ngeri
dan takut. Agam tak menyangka, pocong itu menoleh dan memandang Agam yang
bersembunyi di balik pagar teh-tehan[1]
“Hihihi …” pocong itu tertawa
lalu mendekati Agam. “Anak nakal, kamu sudah mengganggu makan malamku.” Setelah
berkata begitu, pocong itu lalu menghilang.
“Pergi ke mana pocong itu,”
batin Agam ketakutan.
“Tenang … aman … Pocongnya
mesti sudah pergi mengejar anak kecil tadi. Jadi, tak ada alasan untuk takut,”
batin Agam menenangkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, ada bayang-bayang
putih terbang tinggi sekali. Agam memandang bayang-bayang itu. Seketika pocong
itu sudah berdiri tegak di hadapan Agam.
“Hah!” Agam gemetar, sampai
tidak bisa bergerak dan berkata-kata.
“Poc … poc … poc …” suara
Agam tercekat di leher. “To … to … tol …. Ibu, tolong, tolong ….”
Ketika rasa takut Agam tak
bisa ditahan lagi, tiba-tiba Agam mendengar suara ibu memanggil dirinya. Suara
Ibu itu menguatkan dan memberanikan Agam.
“Sekarang, aku tidak takut. Ayo,
pocong, kutantang kau!” Agam berdiri memasang kuda-kuda siap-siap menjotos
pocong yang akan mendekati dirinya.
Tingtong …. Tingtong …. Suara
bel rumah sudah berbunyi dua kali. Yu Watik kaget, terbirit-birit ke pintu
depan. Bapak dan Ibu telah datang.
“Ketiduran, ya, Yu,” sindir
Ibu. Yu Wati membukakan pintu sambil masih mengucek-ucek mata.
Yu Wati mengangguk
kemalu-maluan.
“Ciat … ciat … rasakan
tinjuku!”
“Suara apa itu? Agam?” tanya
Ibu seraya memandang Yu Watik.
Ibu lalu cepat-cepat memasuki
rumah. Ibu kaget dan terheran-heran.
“Lo, Agam kok tidur di sofa?
Agam, bangun, Nak,” kata Ibu seraya menggerak-gerakkan badan Agam.
“Jangan lari kamu, Pocong!
Ini rasakan bogem mentahku dulu,” Agam teriak lalu bangun. Tangan Agam masih
meninju-ninju.
“Pocong? Agam bermimpi buruk,
ya?” tanya Ibu.
“Habis menonton film hantu,
ya?” Ibu menoleh ke Yu Watik serta TV yang masih hidup.
“Mohon maaf, Bu. Saya tidak
tahu kalau Mas Agam ikut menonton TV, sebab tadi itu Mas Agam ada di kamarnya
mengerjakan PR,” Yu Watik merasa bersalah.
“Makanya, anak kecil itu
jangan suka menonton film-film hantu begitu. Jadi takut sendiri, kan?” sahut Bapak
yang baru tuntas memasukkan mobil ke garasi lalu ikut duduk di sofa mendekati
Agam.
“Agam tidak takut kok, Pak.
Malah tadi itu Agam berhasil meninju pocongnya,” balas Agam. “Coba tadi Ibu tidak
membangunkan Agam. Hmmm, pocong tadi bakal babak belur kena bogem mentahku,”
sesumbar Agam lucu sekali karena bicara sambil terangguk-angguk masih
mengantuk.
“Wah, berani sekali anaknya
Bapak. Ayo, jagoan, tidur di kamar, sana,” kata Bapak sembari mesem memaklumi
polah Agam.
Dengan terlihat agak malu,
Agam berkata, “Malam ini Agam tidur sama Bapak dan Ibu, ya?”
***
[1] Acaplypha siamensis
atau teh hutan adalah spesies tumbuhan hias pemagar, bercabang banyak membentuk
semak.
“Jagoan Cilik” dalam Jagoan Cilik: Kumpulan Cerita Anak Basa Jawa penyusun Nur Laili M., penerbit Javalitera, cetakan pertama, 2011, dapat dibaca di Ipusnas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar