Halimun merahasiakan kejadian ini. Birunya Gunung Galunggung yang sebenarnya palsu, ketika itu belum tampak. Ia bersembunyi di balik selimut alam, yang putih, basah, lagi dingin. Bayang-bayang yang biasanya setia belum tergelar ke alam dunia. Dadap cangkring di sisi Cikunir tanpa bayang-bayang, semua tanpa bayang-bayang, bagai Batara Guru dalam dunia wayang. Putih. Putih. Tapi gelap. Dan ini bukan suatu keanehan.
Air embun yang bercokol di
dedaunan belum saatnya dipuja bagai permata, lantaran cahaya belum datang. Ah,
cahaya segeralah datang! Begitu harapannya, supaya di sini penuh oleh
bayang-bayang mentari. Supaya nyata, bahwa pagi baru telah datang benderang. Tapi
ini sekadar pinta. Buktinya halimun tetap menyaput. Bumi tak tampak rupawan.
Selain itu air dari kamalir mengalir terus ke Cikunir tanda kenyataan hukum dunia. Bukan, bukan di bulan. Bukan di akhirat pula. Demikian lakonnya sedari awal hingga kini.