III
Karena lagu malam ini adalah “Musim Cinta”, yang perlu
ditetapkan hanyalah posisi pertama (penyanyi utama), posisi terakhir (sopir),
dan posisi kelima (pengurus peralatan). Tentu saja, kalau lagu utamanya seperti
yang dibawakan oleh Hiroshi Uchiyamada
& Cool Five atau Danny Iida & Paradise King atau Three Funkys atau
Three Graces, sistem pengurutannya akan lain lagi.
Saking bergairah karena telah memperoleh posisi pertama, ia menjerit dan mulai menampilkan tarian yang oleh lain-lainnya disebut “Tari Ishihara”. Kecemasan yang tak dapat dimengerti itu masih ada, tetapi terpikir olehnya bahwa jika ia menggerakkan badannya barangkali segalanya akan beres sendiri. Ada binatang pengerat yang dikenal sebagai tremuggia yang berumah di Gurun Kalahari dan terlihat seperti persilangan antara tupai dan tikus, dan kendati tak ada alasan untuk percaya bahwa Ishihara mengetahui fakta tersebut, tariannya mirip sekali dengan ritual kawin makhluk itu. Ia menekuk lututnya sedikit, menonjolkan bokongnya, mengangkat pergelangan tangannya lemas setinggi dada, dan berguncang naik turun sembari menyuarakan jeritan khas: Kuun! Kuun! Kuun!
.
Mereka semua membawa barang-barang ke minibus HiAce dan
menaikinya. Yano, orang kedua yang tereliminasi, menginventarisasi peralatan,
dan begitu ia mengacungkan kedua jempol, Nobue menyetir si HiAce ke jalan dan
mempercepat lajunya. Dalam ketegangan mengantisipasi ritual itu, semua
penumpang berkomat-kamit sendiri—kebanyakan menyangkut striptis singkat yang
baru saja mereka saksikan dipersembahkan oleh wanita bertubuh bukan main itu.
Di bagian belakang minibus yang gelap, Sugiyama menyipitkan matanya yang sudah
sipit itu, sampai-sampai tampak tinggal segaris saja di balik kacamatanya.
“Tadi itu mengagumkan, mengagumkan,” gumamnya. “Mengagumkan, tadi itu.” Kato
menyentuh lembut titik di belakang kepalanya di mana rambutnya menipis. “Waw,
tadi itu penuh sensasi,” gumamnya, “tetapi ujian yang sebenarnya masih ada di
depan.” Bahkan ia sendiri belum tentu memahami apa maksudnya itu.
Dipiloti Nobue,
HiAce itu menyeberangi Sungai Tama, melaju melewati Taman Hiburan Yomiuri Land,
memasuki Jalan Tol Tomei di Simpang Susun Kawasaki, lalu berbelok ke Jalan
Odawara-Atsugi menuju Ninomiya, dari situ keluar via Jalan Tol Seisho dan
akhirnya bergulir ke perhentian di tempat sepi sisi pantai yang telah ditemukan
oleh Yano dan Kato. Nobue yang posisinya terakhir itu diutus untuk menaksir lokasi dengan
memancang satu titik pada pantai itu selama dua puluh menit pol, sebagaimana
yang ditetapkan dalam pengarahan. Ia harus memastikan tempat itu benar-benar
sepi.
Pernah, tanah kosong yang ditemukan Yano di suatu jalan yang berbatasan dengan
gudang di sekitar Teluk Tokyo ternyata sewaktu-waktu menjadi tempat bagi
semacam transaksi gelap, sehingga mereka diserang oleh sepasang pemuda bermotor
yang menghancurkan jendela mobil mereka. Nobue, Ishihara, dan yang lain-lain semuanya membenci
hal semacam itu. Tapi, bukan kekerasannya yang mereka tidak sukai. Sugiyama sudah belajar
karate dan tinju tendang sejak SMP dan biasa melampiaskan pada lawan yang
jelas-jelas sanggup menjatuhkannya, alhasil tengkoraknya pernah retak pada
empat kejadian terpisah; Yano pernah tak sengaja bergabung dengan organisasi
pemuda fasis sewaktu usianya delapan belas tahun yang sebagai bagian dari
pelatihannya berburu tikus sawah dengan busur silang di pegunungan terpencil
Nagano; Nobue dan Ishihara keduanya pernah mencetak sejumlah pukulan
melumpuhkan dalam perkelahian waktu mabuk—biarpun, yang sebenarnya, hanya
ketika ada kesempatan menyerang lawan yang tak waspada dari belakang; Sugioka,
yang memiliki koleksi lebih dari seratus senjata tajam, mulai dari pemotong dus
sampai pedang-pedang khas Jepang, selalu membawa-bawa satu atau dua golok dan
suka menusuki dinding, batang pohon, serta kantung kulit berisi serbuk gergaji,
dan terutama bila jengkel malah diketahui pernah mencabik-cabik kulit berkilau
boneka tiup bekas; dan Kato menderita delusi obsesif kronis bahwa cepat atau
lambat ia akan membunuh—secara perlahan-lahan dan metodis—bayi atau batita atau
makhluk lain yang lemah tanpa daya, dan baru-baru ini mulai meyakini bahwa
satu-satunya cara untuk mengenyahkan obsesi ini adalah melangsungkan perbuatan
tersebut. Bukan,
bukan kekerasan yang mereka tidak suka: melainkan persinggungan dengan orang
tak dikenal.
Yang para pemuda ini takuti dan benci lebih daripada apa pun adalah diajak
bicara oleh orang yang baru mereka jumpai, atau harus menerangkan tentang diri
mereka kepada orang yang mereka tidak kenal.
“Seperti kata Kato,
tidak ada siapa-siapa. Ada anjing liar berkeluyuran sambil memagut kepala ikan,
tapi aku lempari dia batu. Sasarannya ke biji dia, tapi tidak kena, tapi toh
kabur juga.”
Kelima orang lain
menyambut pengumuman Nobue dengan sorak yang terdengar lebih seperti erangan
berjamaah, lantas mengambili barang-barang mereka dan menumpuknya di luar
mobil. Nobue
dan Yano, yang jadi bawahan pada malam itu, harus membawa semua peralatan berat
itu: golongan kabel sambungan tebal, tripod serta kamera video 3CCCD Hi8, lampu-lampu sorot untuk panggung berdaya 500
watt berikut penyangganya, stereo portabel raksasa, pelantang suara Bose, serta satu set mikrofon
Sennheiser.
Mereka mendengus dan mendesah selagi menyeret segala barang melalui tangga
beton yang sempit ke pantai, sementara Ishihara dan yang lain-lain berganti
kostum: pantalon beludru yang berkobar-kobar, sepatu kulit perlak, kemeja sutra
berumbai-rumbai, ikat pinggang lebar untuk tuksedo, dasi pita, jas tuksedo
dengan lapel beludru, disusul topi tinggi, kumis palsu, tongkat hitam, dan
sarung tangan putih—untuk yang lain-lain, kostumnya itu saja. Ishihara sendiri mengenakan
lipstik merah terang, bulu mata palsu, serta wig bergaya Cleopatra, sambil
terkikih-kikih bak maniak: Hi hi hi hi hi hi hi hi! Akhirnya, setelah
berdandan persis seperti Pinky the Killers dulu pada masanya, para penampil itu
menjangkah ke pantai dan berdiri menghadap laut serta kerlip cahaya dari
kapal-kapal nelayan jauh di lepas pantai. Ishihara maju dan mengangkat jari
kelingkingnya saat mengambil mik dan mendekut, “Siap, sayang.” Yano, ke satu
sisi, menyalakan lampu-lampu sorot, kemudian intro “Musim Cinta” meledak keluar
dari sistem pelantang suara Bose 501 dan bergaung sampai ke langit dan laut
yang gelap. Saat bait pertama lirik—Aku
tak bisa lupa—bergema ke arah ombak dalam suara memualkan Ishihara, semua
kepiting di pantai serentak tergesa-gesa masuk ke lubang mereka. Adapun
Ishihara sendiri, ia benar-benar sedang terlupa—setidaknya selama
bernyanyi—akan kecemasan yang tumbuh di dalam dirinya.
.
Pada hari setelah ritual itu, kecemasan tersebut
mengungkapkan jati dirinya.
Katalisnya adalah
Sugioka yang pengar parah. Setelah menjadi penyanyi latar Ishihara untuk lagu “Musim
Cinta” lebih dari empat puluh kali kemudian berjalan pulang dari apartemen
Nobue yang berjarak dekat, Sugioka masih terlalu bergairah untuk tidur,
sehingga ia mengunyah pil tidur oval yang dibelinya dari gadis berwajah pucat selagi berkeluyuran di
Shibuya suatu hari lalu mengguyurnya dengan bir. Ini menumbangkan dia pada
akhirnya, tetapi ketika bangun pada pukul sepuluh pagi, ia merasakan tubuhnya
seaolah-olah terbuat dari sejenis semen
kental. Ia kesal dan bersungut-sungut, selazimnya orang dalam situasi itu, dan
setiap bagian tubuhnya terasa seperti diganduli kecuali saraf gatal menggeliat
yang menghubungkan bagian bawahnya—dengan kata lain, penisnya—langsung ke
bagian otak yang mengurus hal itu. Sugioka telah mengalami sensasi ini
berkali-kali, tetapi hari ini parahnya tiada terbandingkan dengan yang
sebelum-sebelumnya, sehingga bermenit-menit lamanya ia memikirkan apakah hendak
menonton video dewasa dan bermasturbasi sampai kepala organnya lecet, atau
mengunjungi Pink Salon persis di sebelah luar
pintu selatan Stasiun Chofu, atau mencari kepuasan dengan Eriko, boneka tiup
yang belum jadi ia tusuk dengan pisau dan konon katanya, menurut brosurnya,
memberikan Sensasi Anal Super-Ketat; hingga menimbang untung rugi dari
tiap-tiap alternatif ini dengan sendirinya menimbulkan nyeri yang teramat
pedih, ia pun mengiris-iris bantal isi kulit gandum yang teramat bagus dengan
pisau komando gunung Swedia berbilah dua puluh sentimeter kemudian
mengendap-endap keluar ke jalanan Chofu, menyipitkan mata dalam terang siang.
Telah mengamankan pisau di antara ikat pinggang dan jin, di balik jas hujan
vinil, ia berjalan menyusuri jalan sempit di belakang pusat belanja Ito Yokado
ketika ia memperhatikan seorang wanita pendek gemuk berusia tiga puluhan
akhir—tipikal, kalau bukan stereotipikal, “Tante” atau Oba-san—tampaknya
mau pulang belanja. Si Oba-san mengenakan gaun putih model lawas yang menyerupai kasa
dan bergelantung kantung plastik belanjanya yang berjejal oleh remis, tahu
telur, seledri, lumpia kari, dan sebagainya. Keringat memanik-maniki dahinya dan
membasahkan ketiaknya, merembeskan campuran bau yang aneh, dan ia berjalan
dengan pantat bergeol. Di mata
Sugioka yang merah, tampak seolah-olah pantat itu mengatakan, GARAP AKU—atau
dalam bahasa Jepang, SHI-TE[1]. Malah
kerut di punggung gaun wanita itu tampak membentuk kata tersebut dalam
hiragana.
Jadi kamu mau
kugarap, ya?
pikir Sugioka, dan mempercepat lajunya hingga ia berada tepat di belakang Oba-san
itu dan dapat melihat lebih dekat. Dari belakang jarak dekat, wanita itu
makhluk dengan penampakan paling menggelikan yang pernah Sugioka lihat. Hingga
waktu itu, makhluk paling menggelikan yang pernah dilihatnya adalah kuda nil
yang sedang mengosongkan kandung kemihnya, pemandangan yang dengan sendirinya
telah menghiasi kenangan masa kecil kala berkaryawisata ke kebun binatang,
tetapi betis Oba-san itu menggelembung dengan urat-urat merah dan biru
dan ditumbuhi pula oleh sejumlah tunggul rambut hitam tegak. Ngeri,
batin Sugioka. Saat ia berada dalam jarak barangkali lima puluh sentimeter,
hidungnya mendeteksi remis itu dan tampaklah beberapa helai rambut panjang
serupa kawat tumbuh dari tompel hitam besar di belakang leher Oba-san
itu. Kasihan! batinnya, dan air mata pun menggenang. Ia masih menyeret
kaki sekitar setengah langkah dari belakang wanita itu ketika sampai di sisi
lapangan atletik sekolah dasar di mana beberapa anak lelaki kecil sedang
bermain sepak bola, dan tepat ketika anak yang jangkung dengan nomor enam pada
jerseinya mencetak gol dengan sundulan melayang, Sugioka menyorongkan pinggangnya
untuk menyodok pantat si Oba-san dengan anggota badannya yang menonjol.
Tatapan di wajah
wanita itu saat ia berbalik.
Keringat melelehkan
riasannya, kebengisan melebarkan lubang hidungnya, alisnya yang dibuat dengan
pensil tapi tak bagus itu berkedut-kedut marah, dan ia terlihat hampir-hampir
menjebrolkan busa hijau. Sugioka tak menyadari dirinya menyeringai; yang disadarinya
cuma organnya mengeras bagai sebatang pohon. Ia menyorongkan pinggangnya
beberapa kali lagi, dan si Oba-san pun mulai meraung seperti mobil
pemadam kebakaran. “Aaaooooooooooh! Orang mesum! Aaaoooooh! Apa-apaan kamu ini?
Aku panggil orang lo!” Sugioka, yang tak ada respek terhadap apa yang
menurutnya merupakan bentuk kehidupan terendah di bumi, kini mencium bau
teramat kuat dari remis matang yang terembus dari bagian bawah si Oba-san.
Tercengkam oleh ketakutan tak bernama, ia menghunus pisau komando, mendesakkan
bilahnya pada sirene tenggorokan wanita yang masih meraung itu, dan menyayatnya
secara horisontal. Lehernya membuka seakan-akan merupakan mulut kedua, lalu ada
bunyi mendesing yang segera disusul oleh semburan darah. Sugioka terkekeh-kekeh
sendiri seraya kabur. Sekilas ia menoleh ke belakang tepat pada waktunya untuk
melihat si Oba-san roboh ke aspal.
Tak ada siapa-siapa lagi di jalan itu.
[1] "Shi-te"
adalah bentuk TE dari kata kerja "shimasu" yang berarti
"melakukan" dalam bahasa Jepang (bentuk
hiragana: して)
Popular Hits of the Showa Era karya Ryu Murakami (1994) diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Ralph McCarthy (2011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar